Navigasi Bisnis Terpercaya

Selasa 28 Maret 2017

Selain emas, investasi apa yang menarik saat ini?

Editor Kamis, 25/08/2011 21:26 WIB

 

Semua investasi mengandung risiko termasuk emas yang pekan ini menyentuh rekor tertinggi di atas US$1.900 per ounce dan kemudian turun tajam. Lalu, apa pilihan investasi lain yang tetap menguntungkan saat ini?
 
Di tengah tingginya volatilitas harga emas, investor seharusnya bisa memburu alternatif lain dalam berinvestasi. Properti adalah pilihan konservatif yang menguntungkan karena pertumbuhannya yang dinilai bagus dan didukung bunga rendah.
 
"Semua investasi tetap mengandung resiko, nah tergantung masing-masing individu bagaimana mengendalikan resikonya," kata Ariston Tjandra, Kepala Riset Monex Investindo. Dia menilai memilih investasi properti adalah alternatif yang bagus selain emas dan saham.  
 
Hal tersebut didukung kebijakan pemerintah Indonesia yang tidak menaikkan bunga sehingga membantu pertumbuhan properti Tanah Air. Bahkan, properti yang menarik bukan hanya yang di kota besar. "Perumahan kan sekarang tumbuh di kota kecil dan satelit," ujarnya kepada Bisnis, Kamis malam, 25 Agustus 2011.
 
"Aktivitas investasi di sektor properti meningkat secara perlahan sepanjang tahun ini. Secara global Asia Pasifik masih menjadi pemimpin dalam pertumbuhan ekonomi. Pada tahun ini diperkirakan volume investasi properti di Asia Pasifik sebanyak 430,0% dibandingkan Amerika 134,8% dan Eropa 202,4%," kata Sigrid Zialcita, Managing Director Research Asia Pacific Cushman & Wakefield beberapa waktu lalu.
 
Selain properti, Ariston menyebutkan bahwa mata uang safe haven seperti yen juga memiliki daya tarik. Menurutnya yen biasanya digunakan sebagai alat pembiayaan investasi. 
 
"Investor meminjam dana yen yang berbunga rendah sekali untuk diinvestasikan ke instrumen invetasi yang imbal hasilnya lebih besar," katanya.
 
Sementara itu para analis menilai kenaikan harga emas kali ini karena kekhawatiran investor global atas melambatnya perekonomian dunia, ancaman krisis utang eropa, dan gejolak penurunan peringkat utang AS oleh Standard & Poor beberapa waktu lalu.  
 
Investor berupaya melindungi kekayaannya dari pelemahan di pasar saham dan instrumen finansial berisiko tinggi lainnya dengan memburu aset safe haven. (sut)
 

More From Makro Ekonomi

  • Ambisi Tito Lampaui Aset Perbankan

    13:34 WIB

    "Hidup itu harus ada target. Setelah tembus Rp6.000 triliun, kami harap market cap bisa melampaui aset perbankan," ucap Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Kamis (23/3).

  • PPRO Garap Kertajati

    13:28 WIB

    PT PP Properti Tbk. melalui kerja sama dengan PT BIJB Aerocity Development akan mengembangkan kawasan bisnis seluas 300 hektare di kawasan Bandar Udara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat

  • Bisnis Indonesia Edisi Cetak Senin, 27 Maret 2017 Seksi Market

    01:48 WIB

    Berikut ini adalah ringkasan headlines BISNIS INDONESIA edisi cetak Senin, 27 Maret 2017. Untuk menyimak lebih lanjut, silahkan kunjungi http://epaper.bisnis.com/

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

News Feed

  • Asuransi Pelat Merah Makin Pede

    Senin, 27 Maret 2017 - 14:59 WIB

    Sejumlah BUMN di sektor jasa keuangan nonbank mematok target pertumbuhan laba bersih signifikan pada tahun ini lantaran disokong strategi ekspansi yang agresif

  • Harga Tembaga Sulit Naik

    Senin, 27 Maret 2017 - 14:01 WIB

    Harga tembaga diperkirakan sulit terdorong untuk menembus level US$6.000 per ton seiring dengan proyeksi bertumbuhnya suplai dari tambang terbesar di dunia

  • Memprediksi Pundi -Pundi AALI

    Senin, 27 Maret 2017 - 13:54 WIB

    Sebagai emiten pemasok minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia, pemasukan PT Astra Agro Lestari Tbk. diprediksi semakin menggemuk seiring dengan membaiknya produksi perkebunan.

  • Ambisi Tito Lampaui Aset Perbankan

    Senin, 27 Maret 2017 - 13:34 WIB

    "Hidup itu harus ada target. Setelah tembus Rp6.000 triliun, kami harap market cap bisa melampaui aset perbankan," ucap Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Kamis (23/3).

  • PPRO Garap Kertajati

    Senin, 27 Maret 2017 - 13:28 WIB

    PT PP Properti Tbk. melalui kerja sama dengan PT BIJB Aerocity Development akan mengembangkan kawasan bisnis seluas 300 hektare di kawasan Bandar Udara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat

Load More