Navigasi Bisnis Terpercaya

Senin 30 Mei 2016

PROSTITUSI SOLO: Mahasiswi pun menjajakan diri (1)

Editor Senin, 27/08/2012 00:05 WIB

Awal bulan  lalu, sebuah situs terlarang mengunggah foto seorang gadis berstatus mahasiswi. Posenya cukup menantang. Wajahnya disensor.

 

Sejumlah data terkait gadis itu diumbar. Mulai tarifnya, kelebihannya, hingga ukuran kemolekan tubuhnya disajikan secara detail. Dan satu lagi, nomor telepon yang bisa dihubungi juga disajikan di situs yang menasbihkan diri sebagai penyedia informasi dunia syahwat itu.

 
“Dia kuliah di Solo. Sekarang lagi ramai dibicarakan,” kata salah satu pengguna situs tersebut saat berbincang dengan Solopos  beberapa waktu lalu.
 
Tak butuh waktu lama untuk menguak informasi seputar mahasiswi itu. Dalam hitungan jam dan hari, komentar dan testimoni mengalir seiring bertambahnya para member yang aktif di situs itu.
 
“Mereka yang sudah pernah ‘memakai’, akan memberikan FR di laman sub forum. FR ini berisi informasi apa saja terkait TO ,” jelasnya.
 
Situs tersebut memang baru aktif sekitar dua tahun lalu. Namun, jumlah anggotanya  telah melampaui 322.000 orang. Datanya tertata rapi. Semua postingan terklasifikasikan berdasarkan daerah yang bersangkutan. Seperti organisasi bawah tanah, percakapan mereka pun tertutup. Banyak bahasa sandi dan singkatan bertebaran. Account mereka pun disamarkan.
 
“Semua pakai nick name untuk menjaga kerahasiaan,” katanya sambil menunjukkan sejumlah bahasa sandi situs itu.
 
Untuk membuktikan kebenaran informasi di situs terlarang itu, wartawan Solopos  pun mengunduh DNS jumper, sebuah software yang bisa membuka situs itu. Dalam hitungan menit, Solopos  sudah bisa registrasi dan membikin account baru tanpa verifikasi. Berbekal data dari situs itu, terlacaklah siapa saja orang-orang yang pernah menjual diri di situs itu. 
 
Selanjutnya, Solopos  mencoba menghubungi salah satu target yang biasa dilabeli ayam kampus itu melalui aplikasi chatting MIRC(internet relay chatting). Tak mudah memang untuk memancing, apalagi meyakinkan pelaku. Dari sekian calon yang terhubung selama beberapa hari, hanya beberapa target saja yang bersedia bertemu langsung. Itu pun setelah melalui nego cukup alot.
 
Satu di antara target itu ialah seorang gadis yang mengaku masih kuliah semester awal di perguruan tinggi swasta di Surakarta. “Kita tukeran nomor HP yuk,” ajak wartawan Solopos sebelum membikin perjanjian pertemuan.
 
Di sebuah mal di Kota Solo, gadis berambut sebahu itu datang tepat waktu pukul 13.00 WIB. Ia sendirian tanpa canggung. Celananya jins pensil ketat dan bersepatu hak tinggi. Kepada Solopos  yang kala itu berpura-pura  sebagai calon pengguna, ia pun bicara banyak hal. Mulai alasannya memilih bergelut di dunia prostitusi tersembunyi, hingga hal-hal remeh temeh seputar kebiasannya di kos-kosan.
 
“Banyak kok anak kuliahan yang nyambi seperti saya begini,” aku mahasiswi yang tak mau menyebutkan alamat asalnya ini.
 
Sambil sesekali menyeruput minuman ringan, mahasiswi itu juga tanpa canggung menceritakan pengalamannya tidur bersama sejumlah lelaki hidung belang berkantong tebal. Soal tarif, ia terbiasa membanderol Rp500.000-Rp800.000/ sekali booking.
 
Semua ia lakukan semata-mata untuk mereguk hasrat ragawi, meski kerapkali bermotif ekonomi. “Ya, kadang untuk bayar kos-kosan, SPP, dan shopping,” akunya sambil tertawa cekikan.
 
Setelah hampir satu jam ngobrol, ia pun meminta uang tranportasi Rp50.000. “Tadi kan, dah janji ngasih uang transport,” katanya setelah itu berlalu.
 
Taktik mahasiswi itu mungkin hanyalah sekelumit dari sekian modus bisnis syahwat di era teknologi. Potret tersebut juga menunjukkan betapa praktik prostitusi saat ini mulai bergeser dari cara-cara konvensional ke cara-cara lebih canggih, rapi, dan susah terendus.
 
Mereka tak lagi mangkal di tempat-tempat tertentu untuk menanti lelaki hidung belang. Melainkan, cukup melalui jejaring sosial facebook, twitter, tagged ataupun aplikasi chatting seperti MIRC, omegle, mig33 dan situs-situs terlarang lainnya.
 
“Ada sekitar 100 WP di Soloraya yang bergiat di prostitusi tersembunyi ini. Mereka rata-rata siswi SMA, mahasiswi, dan SPG. Tapi, kadang juga ada yang SMP,” ujar sumber Solopos  itu.
 
Menyikapi prostitusi di jejaring sosial ini, Koordinator Penanganan Kasus Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (Spekham) Solo, Nila Ayu Puspaningrum tak menampik adanya praktik prostitusi berbasis teknologi ini.
 
Meski sulit untuk mendata apalagi membinanya, ia mengakui bahwa korban terbesar dari kebebasan arus informasi dan teknologi adalah anak-anak seusia SMP-SMA. “Mereka itulah yang sangat rentan terjebak pada dunia eksploitasi seksual, karena masih labil emosinya,” paparnya.(Solopos/Aries Susanto/ybw)
 

More From Makro Ekonomi

  • Emiten Tetap Ekspansif

    07:55 WIB

    Alokasi belanja modal dari sejumlah emiten pada tahun ini terlihat cukup ekspansif seiring dengan ekspektasi membaiknya perekonomian Tanah Air.

  • Consumer Goods Jadi Primadona

    07:50 WIB

    Momentum puasa dan lebaran diproyeksi membuat sektor consumer goods bakal menjadi primadona saat Indeks harga saham gabungan menghadapi kemungkinan tekanan kenaikan suku bunga Federal Reserve.

  • Investor Belum Antusias

    06:12 WIB

    Meski otoritas gencar menyosialisasikan dan memberikan insentif investasi di instrumen syariah, investor masih belum antusias berinvestasi dalam instrumen reksa dana syariah.

  • Obligasi BUMN Siap Banjiri Pasar

    06:01 WIB

    Sejumlah badan usaha milik negara mulai menyiapkan aksi korporasi mencari dana alternatif dari penerbitan obligasi selain pola lama mengandalkan pinjaman dari perbankan.

News Feed

  • Sedia Payung Sebelum ‘Hujan’

    Senin, 30 Mei 2016 - 05:32 WIB

    Praktik penggalangan dana publik untuk memodali suatu proyek melalui Internet atau crowdfunding kian menjamur. Namun, be lum ada kejelasan payung hukum guna membe rikan kepastian usaha dan perlindungan bagi konsumen.

  • Monkey & Mimpi Generasi Muda Vietnam

    Sabtu, 28 Mei 2016 - 21:00 WIB

    Dermaga Ha Long, siang itu penuh sesak. Belasan kapal wisata bersandar menunggu tamu. Ini adalah pintu masuk menuju kawasan Halong Bay, destinasi wisata populer di Vietnam.

  • Menjalin Mimpi Lewat Batik Bersama Koperasi

    Sabtu, 28 Mei 2016 - 20:20 WIB

    Sejak bergabung sebagai anggota Koperasi Gemah Sumilir, Jumilah kini bisa memasarkan kain-kain batik tulis hasil goresan tangannya kepada para penikmat batik.

  • Produsen Susu Dituntut Genjot Mutu

    Sabtu, 28 Mei 2016 - 14:10 WIB

    Industri peternakan sapi dan pengolahan susu di Tanah Air dituntut mampu mengisi peluang sekaligus menjawab tantangan produksi, peningkatan bahan baku dan mutu secara signifikan untuk dapat menekan angka impor.

  • Jambi Usulkan Bentuk Pertambangan Rakyat

    Sabtu, 28 Mei 2016 - 13:43 WIB

    Pembentukan wilayah pertambangan rakyat dinilai bisa menjadi solusi untuk menanggulangi penambangan emas tanpa izin yang marak terjadi di sejumlah daerah salah satunya Provinsi Jambi.

Load More