Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Juni 2016

PROSTITUSI SOLO: Mahasiswi pun menjajakan diri (1)

Editor Senin, 27/08/2012 00:05 WIB

Awal bulan  lalu, sebuah situs terlarang mengunggah foto seorang gadis berstatus mahasiswi. Posenya cukup menantang. Wajahnya disensor.

 

Sejumlah data terkait gadis itu diumbar. Mulai tarifnya, kelebihannya, hingga ukuran kemolekan tubuhnya disajikan secara detail. Dan satu lagi, nomor telepon yang bisa dihubungi juga disajikan di situs yang menasbihkan diri sebagai penyedia informasi dunia syahwat itu.

 
“Dia kuliah di Solo. Sekarang lagi ramai dibicarakan,” kata salah satu pengguna situs tersebut saat berbincang dengan Solopos  beberapa waktu lalu.
 
Tak butuh waktu lama untuk menguak informasi seputar mahasiswi itu. Dalam hitungan jam dan hari, komentar dan testimoni mengalir seiring bertambahnya para member yang aktif di situs itu.
 
“Mereka yang sudah pernah ‘memakai’, akan memberikan FR di laman sub forum. FR ini berisi informasi apa saja terkait TO ,” jelasnya.
 
Situs tersebut memang baru aktif sekitar dua tahun lalu. Namun, jumlah anggotanya  telah melampaui 322.000 orang. Datanya tertata rapi. Semua postingan terklasifikasikan berdasarkan daerah yang bersangkutan. Seperti organisasi bawah tanah, percakapan mereka pun tertutup. Banyak bahasa sandi dan singkatan bertebaran. Account mereka pun disamarkan.
 
“Semua pakai nick name untuk menjaga kerahasiaan,” katanya sambil menunjukkan sejumlah bahasa sandi situs itu.
 
Untuk membuktikan kebenaran informasi di situs terlarang itu, wartawan Solopos  pun mengunduh DNS jumper, sebuah software yang bisa membuka situs itu. Dalam hitungan menit, Solopos  sudah bisa registrasi dan membikin account baru tanpa verifikasi. Berbekal data dari situs itu, terlacaklah siapa saja orang-orang yang pernah menjual diri di situs itu. 
 
Selanjutnya, Solopos  mencoba menghubungi salah satu target yang biasa dilabeli ayam kampus itu melalui aplikasi chatting MIRC(internet relay chatting). Tak mudah memang untuk memancing, apalagi meyakinkan pelaku. Dari sekian calon yang terhubung selama beberapa hari, hanya beberapa target saja yang bersedia bertemu langsung. Itu pun setelah melalui nego cukup alot.
 
Satu di antara target itu ialah seorang gadis yang mengaku masih kuliah semester awal di perguruan tinggi swasta di Surakarta. “Kita tukeran nomor HP yuk,” ajak wartawan Solopos sebelum membikin perjanjian pertemuan.
 
Di sebuah mal di Kota Solo, gadis berambut sebahu itu datang tepat waktu pukul 13.00 WIB. Ia sendirian tanpa canggung. Celananya jins pensil ketat dan bersepatu hak tinggi. Kepada Solopos  yang kala itu berpura-pura  sebagai calon pengguna, ia pun bicara banyak hal. Mulai alasannya memilih bergelut di dunia prostitusi tersembunyi, hingga hal-hal remeh temeh seputar kebiasannya di kos-kosan.
 
“Banyak kok anak kuliahan yang nyambi seperti saya begini,” aku mahasiswi yang tak mau menyebutkan alamat asalnya ini.
 
Sambil sesekali menyeruput minuman ringan, mahasiswi itu juga tanpa canggung menceritakan pengalamannya tidur bersama sejumlah lelaki hidung belang berkantong tebal. Soal tarif, ia terbiasa membanderol Rp500.000-Rp800.000/ sekali booking.
 
Semua ia lakukan semata-mata untuk mereguk hasrat ragawi, meski kerapkali bermotif ekonomi. “Ya, kadang untuk bayar kos-kosan, SPP, dan shopping,” akunya sambil tertawa cekikan.
 
Setelah hampir satu jam ngobrol, ia pun meminta uang tranportasi Rp50.000. “Tadi kan, dah janji ngasih uang transport,” katanya setelah itu berlalu.
 
Taktik mahasiswi itu mungkin hanyalah sekelumit dari sekian modus bisnis syahwat di era teknologi. Potret tersebut juga menunjukkan betapa praktik prostitusi saat ini mulai bergeser dari cara-cara konvensional ke cara-cara lebih canggih, rapi, dan susah terendus.
 
Mereka tak lagi mangkal di tempat-tempat tertentu untuk menanti lelaki hidung belang. Melainkan, cukup melalui jejaring sosial facebook, twitter, tagged ataupun aplikasi chatting seperti MIRC, omegle, mig33 dan situs-situs terlarang lainnya.
 
“Ada sekitar 100 WP di Soloraya yang bergiat di prostitusi tersembunyi ini. Mereka rata-rata siswi SMA, mahasiswi, dan SPG. Tapi, kadang juga ada yang SMP,” ujar sumber Solopos  itu.
 
Menyikapi prostitusi di jejaring sosial ini, Koordinator Penanganan Kasus Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (Spekham) Solo, Nila Ayu Puspaningrum tak menampik adanya praktik prostitusi berbasis teknologi ini.
 
Meski sulit untuk mendata apalagi membinanya, ia mengakui bahwa korban terbesar dari kebebasan arus informasi dan teknologi adalah anak-anak seusia SMP-SMA. “Mereka itulah yang sangat rentan terjebak pada dunia eksploitasi seksual, karena masih labil emosinya,” paparnya.(Solopos/Aries Susanto/ybw)
 

More From Makro Ekonomi

  • Yield Turun Lebih Dalam

    09:49 WIB

    Harga surat utang negara diprediksi naik dan menekan pergerakan imbal hasilnya pada semester II/2016 akibat pasokan obligasi negara yang terbatas.

  • Emiten Naikkan Harga Lahan

    09:41 WIB

    Sejumlah emiten pengembang kawasan industri mulai menaikkan harga jual untuk mengimbangi tren penjualan lahan yang melandai.

  • MKBD Baru Segera Berlaku

    09:28 WIB

    Mengadaptasi klasifikasi perbankan berdasarkan modal inti, Bursa Efek Indonesia segera membagi anggota bursa ke dalam dua kategori, yakni modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) Rp250 miliar dan MKBD di bawah Rp250 miliar.

  • Pelindo I Jajaki Investasi Rp4 Triliun

    09:22 WIB

    Pengelola jasa pelabuhan Indonesia bagian barat, PT Pelabuhan Indonesia I (Persero), berencana membangun pembangkit listrik tenaga gas di Pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatra Utara, dengan estimasi nilai investasi Rp4 triliun.

News Feed

  • KPPU Bongkar Persekongkolan Tender di Bandung

    Sabtu, 25 Juni 2016 - 18:17 WIB

    Komisi Pengawas Persaingan Usaha kembali memutus adanya pelanggaran Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 dalam persekongkolan tender di Bandung.

  • Modal dan Teknologi Jadi Kunci

    Jum'at, 24 Juni 2016 - 10:26 WIB

    PT Fitch Ratings Indonesia menyatakan industri asuransi dapat terus tumbuh positif di Indonesia asal memiliki sumber daya besar yang meliputi modal, sumber daya manusia, dan teknologi.

  • Dampak pada KPR Syariah Terasa Tahun Depan

    Jum'at, 24 Juni 2016 - 10:17 WIB

    Penyaluran pembiayaan perumahan bank syariah diproyeksikan bisa naik signifikan pada tahun depan setelah ada pelonggaran rasio pembiayaan terhadap nilai agunan (financing to value/FTV) oleh Bank Indonesia.

  • OJK Siap Longgarkan LTV

    Jum'at, 24 Juni 2016 - 10:09 WIB

    Otoritas Jasa Keuangan kembali menjajaki penyesuaian besaran loan to value bagi pembiayaan kendaraan bermotor guna menggairahkan penyaluran pembiayaan.

  • Premi Tambahan Bebani Bank

    Jum'at, 24 Juni 2016 - 10:01 WIB

    Rencana Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menambah premi bagi bank berdampak sistemik bakal menambah beban perbankan dari aneka pungutan yang selama ini dikenakan kepada industri tersebut

Load More