Navigasi Bisnis Terpercaya

Selasa 24 Januari 2017

KAFE BISNIS: Menyogoklah dengan kejujuran

Aulia Bintang Pratama Senin, 10/09/2012 09:08 WIB

 

Mungkin Anda pernah dengar, ada seorang sopir taksi begitu gemetar ketika menemukan sekantung berlian senilai sekitar Rp2 miliar yang ditinggalkan secara tak sengaja oleh penumpangnya.

 

Anda barangkali akan mengira, di tengah lunturnya nilai-nilai etika dan moral yang banyak dikeluhkan akhir-akhir ini, si sopir akan menyimpan barang itu sebagai rejeki nomplok.

 

Dalam realitas kehidupan, mungkin komentar seperti ini yang akan muncul: "Ah, bego amat kalau dikembalikan."

 

"Hari gini," begitu kita-kira, "Kapan lagi bisa dapat duit sebanyak itu tanpa harus capek kerja, atau jadi menantu orang kaya."

 

Itulah probabilitas yang barangkali kerap terdengar dalam pembicaraan di sudut-sudut warung kopi pinggir jalan. Toh, banyak alasan yang bisa dibuat, jika penumpangnyma mencari kantung berlian itu.

 

Misalnya saja, si supir bisa berdalih kantung berlian diambil penumpang lain yang dilayani berikutnya.

 

Dan tahukah Anda, pengemudi taksi itu mengembalikan kantung berlian tersebut. Kebetulan ia bekerja di Blue Bird, operator taksi terbesar di Indonesia, yang kini mengelola lebih dari 25.000 armada, dengan lebih dari 28.000 sopir.

 

Kini bisnis Blue Bird terus bertumbuh dengan pesat. Bahkan manajemen mengaku kewalahan untuk merekrut tenaga kerja yang kompeten karena pesatnya pertumbuhan bisnis yang tidak seiring dengan ketersediaan tenaga kerja yang mumpuni.

 

Seperti dikisahkan Noni Purnomo, salah satu arsitek inovasi dan "otak perubahan" dalam manajemen Blue Bird, satu nilai dasar yang menjadi pondasi sukses perusahaan itu adalah Kejujuran.

 

Di Blue Bird, kisah sekantung berlian itu hanyalah sepenggal cerita yang bisa jadi memperkuat keyakinan pelangganannya, bahwa perusahaan itu mempekerjakan profesional, yang benar-benar jujur.

 

Sedikitnya 800 item barang yang tertinggal di taksi setiap bulan dalam berbagai bentuk, entah telepon genggam atau yang lain, dikembalikan sang pengemudi kepada penumpangnya. Maka, Jaya Suprana pernah menganugerahkan rekor Muri kepada operator taksi itu untuk rekor jumlah barang yang dikembalikan.

 

 

***

 

Dalam budaya organisasi, nilai dasar yang dipegang individu-individu anggota organisasi, akan membentuk agregat nilai perusahaan yang disebut sebagai budaya perusahaan.

 

Maka dalam industri jasa angkutan seperti taksi, hal itu tidak hanya termanifestasikan ke dalam kejujuran sang sopir dalam mengembalikan barang penumpang yang tertinggal, tetapi juga tercermin dalam seberapa akurat argometer mobil taksi yang dipasang oleh perusahaan.

 

Ilustrasinya sederhana saja. Jika Anda naik taksi, tetapi argometer atau alat ukur ongkos taksi bergerak terlalu cepat dalam menghitung nilai rupiah yang harus dibayar, Anda tentu akan komplain besar.

 

"Kok pakai "argo kuda" sih?" Begitu kira-kira. Dan cerita tentang argo kuda, sebagai olok-olok untuk sopir taksi --atau operator taksi-- yang memanipulasi mesin penghitung ongkos itu, beberapa tahun lalu kerap terdengar.

 

Taksi argo kuda pun kini telah tiada, dan terpaksa mati-matian berusaha memoles citra, karena ditinggalkan pelanggannya. Intinya jelas, kejujuran memiliki korelasi kuat dengan kelangsungan bisnis jangka panjang.

 

 

***

 

Saya ingat pesan ibu ketika minta doa restu hendak mencari pekerjaan begitu lepas kuliah sekitar tahun 1992 silam. "Mas, kowe kerja apa saja silahkan. Yang penting jujur."

 

Kakek saya serupa meski tak sama. "Mas, kamu jangan sekali-kali mencari pekerjaan dengan membayar ." Begitu kurang lebih pesan yang terngiang sampai sekarang.

 

Kakek saya benar. Apabila mencari kerja saja sudah nyogok, hampir dapat dipastikan akan sulit bekerja dengan jujur.

 

Saya memaknainya dengan lebih jauh lagi: ada hak orang terhadap pekerjaan yang seharusnya didapatkan, tetapi diambil orang lain dengan cara paksa lewat mekanisme "sogokan".

 

Anda tentu tahu, di musim rekrutmen pegawai negeri seperti bulan-bulan ini, mekanisme sogok-menyogok atau prinsip "orang terdekat" bukan "orang terbaik" masih marak terjadi.

 

Maka, bagi yang menyogok untuk mendapatkan pekerjaan, kurang lebih telah menghilangkan kesempatan orang lain mendapatkan pekerjaan, alias menafkahi keluarganya seumur hidup. Itu sama saja dengan merampas kemakmuran orang lain!

 

Itu filosofi moral, yang barangkali terdengar aneh bagi kebanyakan orang sekarang.

 

Repotnya, perilaku menghalalkan segala cara tidak hanya merasuki jiwa individu, tetapi juga banyak organisasi. Ini tidak hanya organisasi bisnis, tetapi juga organisasi politik; bahkan yang mengklaim sebagai organsasi keagamaan.

 

Maka, tidak heran jika "daftar tunggu" para tersangka di KPK atau komisi antikorupsi begitu panjang.

 

Ada pejabat pemerintah yang sedang menunggu menjadi tertuduh kasus korupsi, atau pejabat partai politik yang diadili karena menjadi mafia proyek. Lalu ada lagi anggota DPR yang menjadi bandar anggaran, dan ada pula pelaku bisnis yang menjadi calon terdakwa.

 

Sayangnya, itulah potret negeri ini. Kita belum sepenuhnya menjadi bangsa yang jujur.

 

Padahal nilai kunci (key values) jujur, kerja keras dan disiplin, telah mengantarkan sukses tak hanyma korporasi tetapi juga negara. Tak perusahaan yang sudah tercatat di lantai bursa tetapi juga perusahaan keluarga.

 

Di era modern sekarang, nilai dasar semacam itu banyak disebut sebagai prinsip good governance. Jiwanya adalah transparan dan akuntabel; patuh pada regulasi dan pajak, serta memiliki kepedulian dan tanggungjawab sosial yang tinggi

 

Seandainya governance yang baik bisa menjadi gerakan nyata, saya percaya bangsa ini akan jauh lebih makmur dibandingkan dengan tingkat kemakmuran yang selalu dibangga-banggakan sekarang.

 

Sebab masih banyak, dengan memakai analogi sopir taksi tadi, yang "tidak mengembalikan kantung berlian" kepada pemilik aslinya, atau bahkan "mengambil kantung berlian" milik orang lain secara sengaja.

 

Masih banyak praktik sogok dan suap untuk mendapatkan pekerjaan, jabatan, proyek bisnis, yang pada gilirannya hanya mempertebal kantung segelintir orang yang punya jabatan atau otoritas yang mengambil keputusan atau membuat aturan. Itulah yang sesungguhnya mengancam "sustainabilitas" kita.

 

Tentu tidak ada resep yang bisa menjadi penyembuh dengan cepat. Tetapi jika berkenan meresapi nasihat penggiat ekonomi syariah, Adiwarman A. Karim, barangkali ada manfaatnya.

 

Mumpung masih dalam suasana Syawal, izinkan saya mengutip tiga nasihat Karim sebagai pegangan profesional, birokrat ataupun pebisnis yang ingin sukses tanpa khawatir dicokok KPK.

 

Pertama, keluarkan hal-hal yang buruk/haram (jujur) dari kehidupan kita; lalu isi hidup dengan hal-hal yang baik alias proper dan ikuti aturan (cerdas), serta hiasi hidup dengan yang indah-indah (hubungan baik, jiwa besar, peduli).

 

Kedengarannya puitis memang. Tetapi nasihat itu aplicable alias sangat bisa diterapkan jika Anda ingin berhasil, termasuk dalam menjalankan bisnis. Intinya, jujur saja tidak cukup, tetapi juga perlu lebih cerdas dan berhubungan secara baik dengan relasi kita.

 

Maka seperti contoh kisah Blue Bird dan banyak perusahaan yang menjalankan filosofi itu, hasilnya Anda tidak hanya sukses "doing business", tetapi yang lebih penting adalah sukses "doing good business" yang berkesinambungan.

 

Jadi, bolehlah Anda menyogok, tetapi sogoklah dengan kejujuran, kecerdasan, dan hubungan baik. Bukan dengan uang. Bagaimana menurut Anda? (ab@bisnis.com)

More From Makro Ekonomi

  • OJK Rancang Instrumen Investasi Baru

    07:28 WIB

    Besarnya kebutuhan dana untuk mendorong pembangunan infrastruktur nasional mendorong Otoritas Jasa Keuangan menyusun produk investasi khusus yang diterbitkan oleh manajer investasi untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur publik.

  • Beban Emiten Properti Berpotensi Naik

    07:14 WIB

    Wacana pemerintah menerapkan kebijakan pajak progresif untuk objek lahan diperkirakan dapat mengerek beban emiten properti. Emiten menilai, penerapan pajak progresif bakal membuat biaya pengembangan menjadi lebih tinggi sehingga mengerek harga jual.

  • Reksa Dana Terproteksi Kian Seksi

    07:06 WIB

    Reksa dana terproteksi diproyeksi semakin menarik seiring dengan lampu hijau penggunaan surat utang jangka pendek (medium term notes/MTN) sebagai aset dasar produk investasi tersebut.

  • Jurus Menceker & Mematuk Cuan

    06:58 WIB

    Tahun Monyet Api segera berlalu dan berganti menjadi tahun Ayam Api. Kendati bisnis yang bakal diuntungkan tidak akan jauh berbeda, tetapi ayam merupakan elemen logam sehingga kewaspadaan juga harus ditingkatkan. Pasalnya, elemen logam dan api sering kali tidak harmonis.

News Feed

  • Mengejar Target 392 Kilometer

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:52 WIB

    Tahun lalu, realisasi pengoperasian jalan tol baru tergolong sangat rendah. Dari 136 kilometer jalan tol yang ditargetkan beroperasi, hanya sepanjang 44 kilometer yang terealisasi atau 32%. Itu pun semuanya berasal dari jalan tol yang dibangun swasta.

  • Infrastruktur Jadi Kunci

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:44 WIB

    Produsen semen berusaha menekan selisih harga lewat pembangunan pabrik-pabrik pengepakan baru. Namun, wacana semen satu harga hanya bisa terealisasi lewat pembangunan infrastruktur

  • Penjualan Turun 0,3%

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:34 WIB

    Penurunan pasar sepeda motor di dalam negeri menekan capaian di level regional. Penjualan roda dua di Asean sepanjang JanuariNovember 2016 menurun 0,3%.

  • Pelat Merah Turut Berkontribusi

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:25 WIB

    Sejumlah perusahaan pelat merah yang menjalankan bisnis logistik digandeng pemerintah untuk ikut mengembangkan sentra-sentra kelautan dan perikanan terpadu atau SKPT yang akan dibangun di 12 pulau terluar tahun ini.

  • Investasi Makin Tak Menarik

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:14 WIB

    Tarif listrik berbasis energi baru dan terbarukan di Tanah Air bakal turun signifikan setelah pemerintah dalam waktu dekat menetapkan harga listrik energi hijau itu maksimal 85% dari biaya pokok produksi atau BPP listrik regional PLN.

Load More