Navigasi Bisnis Terpercaya

Minggu 31 Juli 2016

EDITORIAL BISNIS: Menuntaskan Masalah BBM

Editor Kamis, 13/09/2012 16:35 WIB

Masalah bahan bakar bersubsidi sepertinya tidak ada solusinya di negeri ini. Setelah DPR menolak penaikan harga BBM ter­­­sebut beberapa waktu lalu, seperti yang sudah di­­­duga sebelumnya, kini kuotanya kian menipis.Akibatnya, apabila tidak ada tambahan kuota, masyarakat akan kesulitan untuk mendapatkan komoditas tersebut. Untuk di Ibu Kota, Wakil Men­­­teri Energi dan Sumber Daya Mineral Rudi Rubiandini sudah mengingatkan kuotanya bakal habis pada 15 September.Hingga per 30 Agustus, konsumsi BBM subsidi DKI Jakarta sudah mencapai 1,41 juta kiloliter dari jatah 1,03 juta kiloliter atau sudah melampaui kuota 37,4%.Borosnya konsumsi BBM bersubsidi ini akibat perbedaan harga yang terlalu tinggi antara Premium yang mendapat subsidi dengan Pertamax. Harga BBM bersubsidi adalah Rp 4.500 per liter, sementara BBM nonsubsidi sekitar Rp 9.900 per liter.Selain itu, upaya penghematan pemerintah akan sumber energi tersebut juga gagal. Larangan kendaraan pelat merah menggunakan Premium ternyata tidak mampu menekan konsumsi. Demikian juga dengan rencana mendorong penggunaan bahan bakar gas hingga kini juga tidak jalan, bahkan langkah yang disiapkan pun belum jelas.Sulit dibayangkan bagaimana masyarakat luas bisa menerima penjelasan  pemerintah apabila tidak ada penambahan kuota sehingga benar-benar terjadi kelangkaan BBM bersubsidi.Menambah kuota pun sebenarnya bukan jawaban yang tepat. Anggaran negara bakal kian ter­­sedot un­­­tuk menyubsidi BBM yang kenyataannya juga banyak dikonsumsi masyarakat mampu, bahkan perusahaan-perusahaan besar yang mobil ope­­­rasinya ju­ga meng­­­gunakan Premium.Pemerintah menetapkan subsidi untuk BBM tahun depan se­­­­kitar Rp 360 triliun. Ini adalah subsidi untuk kepentingan transportasi dan juga nontransportasi seperti listrik.Sebagai perban­ding­an, total kebutuhan investasi mass rapid transit di Ja­­­karta, termasuk pembangunan fisik atau kons­truk­si, kereta, elektrikal, mekanikal, dan biaya konsultan mencapai Rp40 triliun. Artinya, kita se­­­benarnya bisa membangun sembilan MRT per tahun bila tidak ada subsidi BBM.Sejumlah langkah pemerintah untuk membatasi konsumsi BBM bersubsidi masih diragukan ke­­­efek­tifannya. Misalnya, tidak mudah untuk meng­awasi pembatasan pembelian sebesar 10 liter per hari per mobil. Bisa saja satu mobil membeli Pre­­mium di beberapa SPBU dalam 1 hari.Demikian juga dengan larangan SPBU di jalan tol menjual BBM bersubsidi. Hal ini hanya akan mengalihkan konsumsi Premium dari lokasi itu ke tempat lain.Pemerintah dan DPR harus berani melakukan langkah tidak populer. Kenaikan harga BBM bersubsidi menjadi pilihan logis untuk tidak selalu ‘membakar’ uang negara menjadi asap di jalanan.Kenaikan harga BBM bersubsidi juga akan me­­­rangsang investasi di BBG yang diyakini sebagai sumber energi lebih bersih dan murah, serta per­­sediaannya cukup besar di Indonesia.Semoga pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengambil kebijakan yang ti­­­dak populer juga memikirkan hal ini. Berat me­­­mang bagi masyarakat untuk menghadapi kenaikan BBM tersebut. Namun, hal ini jauh lebih baik selama pengalihan subsidi ini benar-benar tepat sasaran dan tanpa dikorupsi.

More From Makro Ekonomi

  • Pefindo Raih Mandat Rp30,4 Triliun

    11:18 WIB

    Bergulirnya kebijakan amnesti pajak diyakini akan memotivasi korporasi untuk menerbitkan instrumen surat utang pada semester II/2016. Di sisi lain, mandat penerbitan surat utang yang dikantongi PT Pemeringkat Efek Indonesia saat ini mencapai Rp30,45 triliun

  • Persaingan Sengit Para Manajer Investasi

    08:47 WIB

    Manajer Investasi siap menggulirkan jurus untuk menarik dana deklarasi dan repatriasi hasil tax amnesty yang diproyeksi hingga ribuan triliun rupiah.

  • HMSP & UNVR Tumbuh Dua Digit

    08:40 WIB

    ua raksasa sektor konsumer PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. dan PT Unilever Indonesia Tbk. membukukan pertumbuhan laba double digit pada semester I/2016, masing-masing 22,7% dan 12,28% secara tahunan.

  • BEI Batal Lakukan Revisi

    09:35 WIB

    Bursa Efek Indonesia batal mengubah aturan batas bawah harga saham Rp50 di pasar reguler.

News Feed

  • Semakin Unik Semakin Diburu

    Minggu, 31 Juli 2016 - 04:30 WIB

    Awalnya, pada 2014, Sekar Ayu Kustantiningtyas hanya mencari bingkisan untuk acara perayaan ulang tahun anaknya. Namun, akhirnya dia memutuskan untuk membuat sendiri bingkisan untuk acara tersebut.

  • Membungkus Untung Bisnis

    Minggu, 31 Juli 2016 - 04:20 WIB

    Bingkisan sepertinya sudah menjadi bagian dari tradisi, begitu pula di Indonesia. Bahkan, kini semakin banyak momen yang membutuhkan kehadiran bingkisan sebagai wujud rasa terima kasih pada keluarga, kerabat, dan sahabat.

  • Ketika Cemburu Buta Jadi Racun Mematikan

    Minggu, 31 Juli 2016 - 04:00 WIB

    Pada suatu hari Rinda tampak gelisah. Saat ditanya, perempuan 30 tahun itu mengaku baru saja dibombardir teror melalui surat elektronik (surel) dari orang tak dikenal. Dia pun menunjukkan beberapa pesan panjang dengan nada melecehkan yang diterimanya.

  • Kenali Manajemen Keuangan ala Nabi Yusuf

    Minggu, 31 Juli 2016 - 03:57 WIB

    Belajar soal ekonomi dan perencanaan keuangan seyogianya bisa dari mana saja, tak harus dari ahli keuangan yang mengenyam pendidikan khusus. Kisah-kisah menarik dari para nabi dan rasul, seperti kisah Nabi Yusuf yang diceritakan dalam kitab suci juga bisa menjadi inspirasi, termasuk soal manajemen keuangan.

  • RAISA: Senang Berbusana Praktis

    Minggu, 31 Juli 2016 - 03:50 WIB

    Kesibukan yang sangat padat membuat penyanyi Raisa Andriana mengaku suka busana yang praktis, sederhana tetapi tetap feminin. Saya suka mengekspresikan kepribadian lewat baju, kata Raisa.

Load More