Navigasi Bisnis Terpercaya

Jum'at 27 Mei 2016

EDITORIAL BISNIS: Menuntaskan Masalah BBM

Editor Kamis, 13/09/2012 16:35 WIB

Masalah bahan bakar bersubsidi sepertinya tidak ada solusinya di negeri ini. Setelah DPR menolak penaikan harga BBM ter­­­sebut beberapa waktu lalu, seperti yang sudah di­­­duga sebelumnya, kini kuotanya kian menipis.Akibatnya, apabila tidak ada tambahan kuota, masyarakat akan kesulitan untuk mendapatkan komoditas tersebut. Untuk di Ibu Kota, Wakil Men­­­teri Energi dan Sumber Daya Mineral Rudi Rubiandini sudah mengingatkan kuotanya bakal habis pada 15 September.Hingga per 30 Agustus, konsumsi BBM subsidi DKI Jakarta sudah mencapai 1,41 juta kiloliter dari jatah 1,03 juta kiloliter atau sudah melampaui kuota 37,4%.Borosnya konsumsi BBM bersubsidi ini akibat perbedaan harga yang terlalu tinggi antara Premium yang mendapat subsidi dengan Pertamax. Harga BBM bersubsidi adalah Rp 4.500 per liter, sementara BBM nonsubsidi sekitar Rp 9.900 per liter.Selain itu, upaya penghematan pemerintah akan sumber energi tersebut juga gagal. Larangan kendaraan pelat merah menggunakan Premium ternyata tidak mampu menekan konsumsi. Demikian juga dengan rencana mendorong penggunaan bahan bakar gas hingga kini juga tidak jalan, bahkan langkah yang disiapkan pun belum jelas.Sulit dibayangkan bagaimana masyarakat luas bisa menerima penjelasan  pemerintah apabila tidak ada penambahan kuota sehingga benar-benar terjadi kelangkaan BBM bersubsidi.Menambah kuota pun sebenarnya bukan jawaban yang tepat. Anggaran negara bakal kian ter­­sedot un­­­tuk menyubsidi BBM yang kenyataannya juga banyak dikonsumsi masyarakat mampu, bahkan perusahaan-perusahaan besar yang mobil ope­­­rasinya ju­ga meng­­­gunakan Premium.Pemerintah menetapkan subsidi untuk BBM tahun depan se­­­­kitar Rp 360 triliun. Ini adalah subsidi untuk kepentingan transportasi dan juga nontransportasi seperti listrik.Sebagai perban­ding­an, total kebutuhan investasi mass rapid transit di Ja­­­karta, termasuk pembangunan fisik atau kons­truk­si, kereta, elektrikal, mekanikal, dan biaya konsultan mencapai Rp40 triliun. Artinya, kita se­­­benarnya bisa membangun sembilan MRT per tahun bila tidak ada subsidi BBM.Sejumlah langkah pemerintah untuk membatasi konsumsi BBM bersubsidi masih diragukan ke­­­efek­tifannya. Misalnya, tidak mudah untuk meng­awasi pembatasan pembelian sebesar 10 liter per hari per mobil. Bisa saja satu mobil membeli Pre­­mium di beberapa SPBU dalam 1 hari.Demikian juga dengan larangan SPBU di jalan tol menjual BBM bersubsidi. Hal ini hanya akan mengalihkan konsumsi Premium dari lokasi itu ke tempat lain.Pemerintah dan DPR harus berani melakukan langkah tidak populer. Kenaikan harga BBM bersubsidi menjadi pilihan logis untuk tidak selalu ‘membakar’ uang negara menjadi asap di jalanan.Kenaikan harga BBM bersubsidi juga akan me­­­rangsang investasi di BBG yang diyakini sebagai sumber energi lebih bersih dan murah, serta per­­sediaannya cukup besar di Indonesia.Semoga pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengambil kebijakan yang ti­­­dak populer juga memikirkan hal ini. Berat me­­­mang bagi masyarakat untuk menghadapi kenaikan BBM tersebut. Namun, hal ini jauh lebih baik selama pengalihan subsidi ini benar-benar tepat sasaran dan tanpa dikorupsi.

More From Makro Ekonomi

  • Emiten Tetap Ekspansif

    07:55 WIB

    Alokasi belanja modal dari sejumlah emiten pada tahun ini terlihat cukup ekspansif seiring dengan ekspektasi membaiknya perekonomian Tanah Air.

  • Consumer Goods Jadi Primadona

    07:50 WIB

    Momentum puasa dan lebaran diproyeksi membuat sektor consumer goods bakal menjadi primadona saat Indeks harga saham gabungan menghadapi kemungkinan tekanan kenaikan suku bunga Federal Reserve.

  • Investor Belum Antusias

    06:12 WIB

    Meski otoritas gencar menyosialisasikan dan memberikan insentif investasi di instrumen syariah, investor masih belum antusias berinvestasi dalam instrumen reksa dana syariah.

  • Obligasi BUMN Siap Banjiri Pasar

    06:01 WIB

    Sejumlah badan usaha milik negara mulai menyiapkan aksi korporasi mencari dana alternatif dari penerbitan obligasi selain pola lama mengandalkan pinjaman dari perbankan.

News Feed

  • Leadership Minus Followership?

    Jum'at, 27 Mei 2016 - 13:57 WIB

    Kepemimpinan mendapat perhatian besar dalam kajian manajemen, organisasi, dan demokrasi. Sebaliknya, kepengikutan jarang dibahas. Kalaupun dibahas, sering hanya merupakan bagian atau chapter dari bahasan mengenai kepemimpinan.

  • UMKM Kian Menjamur

    Jum'at, 27 Mei 2016 - 10:16 WIB

    UMKM baru di Kabupaten Kediri terus bermunculan, terlihat dari realisasi investasi nonfasilitas pada kuartal I/2016 yang mencapai Rp60,9 miliar atau tumbuh 33,2% dari pencapaian periode sama tahun lalu.

  • Mengurai Benang Kusut Kemacetan DKI

    Jum'at, 27 Mei 2016 - 09:58 WIB

    Upaya memecah kemacetan di daerah padat penduduk seperti Jabodetabek memang seperti mengurai benang kusut. Permasalahannya kompleks. Sulit dipecahkan, tetapi harus segera dilakukan atas nama pelayanan publik.

  • Nama Besar, Penggemar, dan Uang

    Jum'at, 27 Mei 2016 - 09:53 WIB

    Peralihan orientasi ekonomi China dari industri ke jasa dan konsumsi, rupanya dimanfaatkan betul oleh sejumlah kalangan, tak terkecuali tim-tim sepakbola papan atas dari Eropa.

  • Skema Pengadaan Satelit Disiapkan

    Jum'at, 27 Mei 2016 - 09:51 WIB

    Pemerintah tengah menggodok rencana implementasi akses broadband menggunakan satelit disamping penggunaan jaringan tulang punggung serat optik.

Load More