Navigasi Bisnis Terpercaya

Kamis 23 Februari 2017

ANALISIS EKONOMI: Kiamat kecil industri minuman ringan dimulai

Tusrisep Jum'at, 14/09/2012 07:42 WIB

ANDA penyuka minuman ringan? Mungkin dalam waktu dekat siap-siap saja merasakan sulitnya membeli minuman bergula, berperisa atau bersoda ini di supermarket dan minimarket di sekitar Anda.

Wali Kota New York Michael Bloomberg dengan restu dewan kota mulai hari ini telah memberlakukan larangan parsial bagi minuman ringan. Dengan regulasi ini, minuman ringan hanya boleh dijual di gerai makanan cepat saji, tempat olahraga, dan bioskop, tapi tidak di supermarket atau toko-toko.

Meski boleh dijual di sejumlah titik, itupun terdapat pembatasan. Porsi minuman soda maksimum 16 ons atau setara 453 mililiter atau satu cangkir di restoran cepat saji dan lainnya dan tempat-tempat hiburan umum seperti stadion.

Alasan aturan ini semata-mata urusan kesehatan. Menurut statistik resmi, sekitar 6.000 orang di kota berjuluk Big Apple itu meninggal setiap tahun akibat kegemukan (obesitas) dan penyakit-penyakit turunan akibat gula (diabetes).

"New York akan segera mengurangi konsumsi kalori dan akhirnya mulai mengubah gelombang epidemi obesitas yang menghancurkan kesehatan banyak warga kami," kata kepala kesehatan kota New York Thomas Farley seperti dikutip dari ABC, hari ini.

Jelas keputusan ini ditentang presiden industri makanan dan minuman AS, Liz Berman yang menilai aturan itu bersifat diskriminasi. “Ini menyedihkan bahwa dewan ingin membatasi pilihan kita. Kami cukup cerdas untuk membuat keputusan sendiri tentang apa yang harus makan dan minum."

Berman menilai putusan ini diskriminasi karena meski jumlah porsi dibatasi, tidak ada aturan yang menghentikan orang dari membeli minuman sebanyak yang mereka suka dengan mengisi wadah yang lebih kecil.

Larangan tersebut juga tidak mencakup minuman yang dijual di supermarket atau minuman susu atau buah yang kenyataannya banyak juga yang mengandung sejumlah besar gula.

Jika Amerika sudah memulai membatasi minuman ringan, bukan tidak mungkin segera terjadi di Indonesia seperti halnya nasib rokok. Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menemukan pola obesitas dan diabetes antara Amerika dan Indonesia mirip.

Bahkan jika dibandingkan beberapa negara Eropa seperti Portugal, Spanyol dan Jerman, tingkat obesitas masyarakat di Indonesia cenderung lebih tinggi. Hal tersebut disebabkan pengaruh lifestyle, tingkat aktivitas yang cenderung sedentary (tidak aktif) dan asupan makanan yang berubah  dari menu tradisional ke makanan siap saji.

Dalam catatan Rabobank International hingga 2010, pasar minuman ringan di Indonesia senilai US$6,5 miliar dengan total penjualan mencapai 17,5 miliar liter. Secara volume, minuman dalam botol menguasai 83% dari total penjualan sekitar 17,5 miliar liter. Diprediksi pertumbuhan minuman ringan di Indonesia mencapai 4,5% per tahun untuk lima tahun mendatang. (Bsi)

More From Makro Ekonomi

  • The Magnificent Seven Kini Terdiskon

    11:05 WIB

    Tujuh saham yang membukukan return fantastis (magnificent) pada tahun lalu, kini terjerembab ke zona merah sepanjang tahun berjalan (year to date)

  • Berharap Properti Bangkit Lagi

    11:00 WIB

    Pertumbuhan pasar properti yang melempem dalam dua tahun terakhir menjadi salah satu faktor penekan kinerja produsen semen. Apakah tren ini akan terus berlanjut pada tahun ini?

  • Reksa Dana Syariah Offshore Layak Dilirik

    14:16 WIB

    Mayoritas bursa global sepanjang tahun berjalan membukukan kinerja yang lebih kinclong dibandingkan dengan kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG). Produk reksa dana syariah offshore pun layak untuk dilirik.

  • Satu Hela Nafas Lega UNSP

    14:13 WIB

    Setelah mengantongi izin pemegang saham untuk menggelar reverse stock, emiten perkebunan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. segera menggelar restrukturisasi utang yang ditargetkan mampu mencapai titik temu dengan para kreditur pada semester I/2017.

News Feed

  • MA Memilih Tak Berfatwa

    Rabu, 22 Februari 2017 - 12:10 WIB

    Mahkamah Agung memilih sikap netral dan enggan mengeluarkan fatwa terkait dengan pandangan hukum atas status Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang dimohonkan pemerintah melalui Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.

  • TLKM Terganjal KPPU

    Rabu, 22 Februari 2017 - 11:45 WIB

    Investigator KPPU mengklaim telah menemukan bukti kuat bahwa PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. melakukan pelanggaran monopoli, dengan mengambil keuntungan posisi dominan hingga menerapkan perjanjian tertutup.

  • Bank Menengah Tergiur Infrastruktur

    Rabu, 22 Februari 2017 - 11:45 WIB

    Bank papan tengah tertarik untuk menyalurkan kredit ke sektor infrastruktur yang saat ini gencar dijalankan pemerintah. Terlebih lagi ketersediaan likuiditas mereka dinilai berlebih setelah kredit tahun lalu melambat

  • Berlomba-Lomba Tawarkan KTA

    Rabu, 22 Februari 2017 - 11:40 WIB

    Kredit tanpa agunan menjadi primadona tersendiri saat kebutuhan dana jangka pendek mendekat. Merespons kebutuhan itu, beberapa bank menjadikan salah satu produk konsumer tersebut sebagai penyokong kinerja kredit konsumsi

  • Kebutuhan Dana Tunai Jadi Pemicu

    Rabu, 22 Februari 2017 - 11:36 WIB

    Setelah sempat menurun 2,8% pada akhir 2015, nilai klaim dan manfaat yang dibayar indusri asuransi jiwa melonjak 32,4% pada akhir tahun lalu yang diperkirakan sejalan dengan meningkatnya kebutuhan uang tunai oleh masyarakat

Load More