Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 01 Oktober 2016

ANALISIS EKONOMI: Kiamat kecil industri minuman ringan dimulai

Tusrisep Jum'at, 14/09/2012 07:42 WIB

ANDA penyuka minuman ringan? Mungkin dalam waktu dekat siap-siap saja merasakan sulitnya membeli minuman bergula, berperisa atau bersoda ini di supermarket dan minimarket di sekitar Anda.

Wali Kota New York Michael Bloomberg dengan restu dewan kota mulai hari ini telah memberlakukan larangan parsial bagi minuman ringan. Dengan regulasi ini, minuman ringan hanya boleh dijual di gerai makanan cepat saji, tempat olahraga, dan bioskop, tapi tidak di supermarket atau toko-toko.

Meski boleh dijual di sejumlah titik, itupun terdapat pembatasan. Porsi minuman soda maksimum 16 ons atau setara 453 mililiter atau satu cangkir di restoran cepat saji dan lainnya dan tempat-tempat hiburan umum seperti stadion.

Alasan aturan ini semata-mata urusan kesehatan. Menurut statistik resmi, sekitar 6.000 orang di kota berjuluk Big Apple itu meninggal setiap tahun akibat kegemukan (obesitas) dan penyakit-penyakit turunan akibat gula (diabetes).

"New York akan segera mengurangi konsumsi kalori dan akhirnya mulai mengubah gelombang epidemi obesitas yang menghancurkan kesehatan banyak warga kami," kata kepala kesehatan kota New York Thomas Farley seperti dikutip dari ABC, hari ini.

Jelas keputusan ini ditentang presiden industri makanan dan minuman AS, Liz Berman yang menilai aturan itu bersifat diskriminasi. “Ini menyedihkan bahwa dewan ingin membatasi pilihan kita. Kami cukup cerdas untuk membuat keputusan sendiri tentang apa yang harus makan dan minum."

Berman menilai putusan ini diskriminasi karena meski jumlah porsi dibatasi, tidak ada aturan yang menghentikan orang dari membeli minuman sebanyak yang mereka suka dengan mengisi wadah yang lebih kecil.

Larangan tersebut juga tidak mencakup minuman yang dijual di supermarket atau minuman susu atau buah yang kenyataannya banyak juga yang mengandung sejumlah besar gula.

Jika Amerika sudah memulai membatasi minuman ringan, bukan tidak mungkin segera terjadi di Indonesia seperti halnya nasib rokok. Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menemukan pola obesitas dan diabetes antara Amerika dan Indonesia mirip.

Bahkan jika dibandingkan beberapa negara Eropa seperti Portugal, Spanyol dan Jerman, tingkat obesitas masyarakat di Indonesia cenderung lebih tinggi. Hal tersebut disebabkan pengaruh lifestyle, tingkat aktivitas yang cenderung sedentary (tidak aktif) dan asupan makanan yang berubah  dari menu tradisional ke makanan siap saji.

Dalam catatan Rabobank International hingga 2010, pasar minuman ringan di Indonesia senilai US$6,5 miliar dengan total penjualan mencapai 17,5 miliar liter. Secara volume, minuman dalam botol menguasai 83% dari total penjualan sekitar 17,5 miliar liter. Diprediksi pertumbuhan minuman ringan di Indonesia mencapai 4,5% per tahun untuk lima tahun mendatang. (Bsi)

More From Makro Ekonomi

  • Pefindo Cermati Sektor Properti & Komoditas

    10:17 WIB

    Prospek penjualan properti yang masih tertekan dan tantangan yang masih berat bagi sektor komoditas membuat PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencermati prospek utang kedua sektor tersebut

  • Memaknai 1 Dekade ORI

    08:44 WIB

    Sudah 10 tahun pemerintah menerbitkan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) sebagai instrumen menarik untuk pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pamor ORI kian melambung bahkan menjadi incaran para investor pasar modal

  • Emiten Dibayangi La Nina

    08:31 WIB

    Mayoritas saham emiten sawit tumbuh positif sepanjang tahun berjalan. Namun, prospek kinerja perkebunan dibayangi oleh fenomena La Nina yang diproyeksi terjadi pada periode Oktober 2016 hingga Maret 2017

  • 2 Perusahaan Urung IPO

    11:01 WIB

    Dua korporasi mengurungkan rencananya untuk menggelar IPO saham. Mereka adalah PT Anugerah Berkah Madani Tbk. dan PT Megapower Makmur. Anugerah Berkah Madani malah sudah sampai tahap penawaran awal setelah mendapat pernyataan praefektif dari Otoritas Jasa Keuangan pada 15 Agustus 2016

News Feed

  • Globalisasi untuk Semua

    Sabtu, 01 Oktober 2016 - 07:33 WIB

    Akhir-akhir ini, teriakan penentang globalisasi tampaknya semakin meredam suara pembelanya. Apabila seruan mereka mereka didengar, tatanan global pasca Perang Dunia IIyang bertujuan menjaga perdamaian dan kesejahteraan melalui pertukaran dan keterkaitanterancam gagal.

  • Tak Lagi Kucing-kucingan

    Sabtu, 01 Oktober 2016 - 06:47 WIB

    Kepercayaan yang luar biasa besar diberikan masyarakat Indonesia kepada negara. Harta sekitar 26% terhadap produk domestik brutoyang selama ini tidak terendus otoritassecara sukarela masuk ke dalam sistem perpajakan.

  • Menikmati Harmoni di Melbourne

    Jum'at, 30 September 2016 - 20:43 WIB

    Gerimis dalam dekapan suhu dingin 11 derajat celcius menusuk sendi tulang di pagi hari. Tullamarine International Airport, Melbourne sedang diguyur rinai hujan pertengahan September.

  • SUSNO DUADJI: KPPU Jangan Garuk Yang Tidak Gatal

    Jum'at, 30 September 2016 - 17:14 WIB

    ?KPPU jangan menggaruk yang tidak gatal,? ujar Ketua Komite Pemantau dan Pengawas Pertanian Indonesia Susno Duadji.\n\n

  • Kejagung Siap Sita Aset Supersemar

    Jum'at, 30 September 2016 - 13:20 WIB

    Kejaksaan Agung mengakui anggaran untuk mengeksekusi aset milik Yayasan Supersemar sudah disetujui Kementerian Keuangan, sehingga pelaksanaan eksekusi segera bisa dilakukan.

Load More