Navigasi Bisnis Terpercaya

Minggu 11 Desember 2016

ANALISIS EKONOMI: Kiamat kecil industri minuman ringan dimulai

Tusrisep Jum'at, 14/09/2012 07:42 WIB

ANDA penyuka minuman ringan? Mungkin dalam waktu dekat siap-siap saja merasakan sulitnya membeli minuman bergula, berperisa atau bersoda ini di supermarket dan minimarket di sekitar Anda.

Wali Kota New York Michael Bloomberg dengan restu dewan kota mulai hari ini telah memberlakukan larangan parsial bagi minuman ringan. Dengan regulasi ini, minuman ringan hanya boleh dijual di gerai makanan cepat saji, tempat olahraga, dan bioskop, tapi tidak di supermarket atau toko-toko.

Meski boleh dijual di sejumlah titik, itupun terdapat pembatasan. Porsi minuman soda maksimum 16 ons atau setara 453 mililiter atau satu cangkir di restoran cepat saji dan lainnya dan tempat-tempat hiburan umum seperti stadion.

Alasan aturan ini semata-mata urusan kesehatan. Menurut statistik resmi, sekitar 6.000 orang di kota berjuluk Big Apple itu meninggal setiap tahun akibat kegemukan (obesitas) dan penyakit-penyakit turunan akibat gula (diabetes).

"New York akan segera mengurangi konsumsi kalori dan akhirnya mulai mengubah gelombang epidemi obesitas yang menghancurkan kesehatan banyak warga kami," kata kepala kesehatan kota New York Thomas Farley seperti dikutip dari ABC, hari ini.

Jelas keputusan ini ditentang presiden industri makanan dan minuman AS, Liz Berman yang menilai aturan itu bersifat diskriminasi. “Ini menyedihkan bahwa dewan ingin membatasi pilihan kita. Kami cukup cerdas untuk membuat keputusan sendiri tentang apa yang harus makan dan minum."

Berman menilai putusan ini diskriminasi karena meski jumlah porsi dibatasi, tidak ada aturan yang menghentikan orang dari membeli minuman sebanyak yang mereka suka dengan mengisi wadah yang lebih kecil.

Larangan tersebut juga tidak mencakup minuman yang dijual di supermarket atau minuman susu atau buah yang kenyataannya banyak juga yang mengandung sejumlah besar gula.

Jika Amerika sudah memulai membatasi minuman ringan, bukan tidak mungkin segera terjadi di Indonesia seperti halnya nasib rokok. Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menemukan pola obesitas dan diabetes antara Amerika dan Indonesia mirip.

Bahkan jika dibandingkan beberapa negara Eropa seperti Portugal, Spanyol dan Jerman, tingkat obesitas masyarakat di Indonesia cenderung lebih tinggi. Hal tersebut disebabkan pengaruh lifestyle, tingkat aktivitas yang cenderung sedentary (tidak aktif) dan asupan makanan yang berubah  dari menu tradisional ke makanan siap saji.

Dalam catatan Rabobank International hingga 2010, pasar minuman ringan di Indonesia senilai US$6,5 miliar dengan total penjualan mencapai 17,5 miliar liter. Secara volume, minuman dalam botol menguasai 83% dari total penjualan sekitar 17,5 miliar liter. Diprediksi pertumbuhan minuman ringan di Indonesia mencapai 4,5% per tahun untuk lima tahun mendatang. (Bsi)

More From Makro Ekonomi

  • Galang Dana Abadi Via Reksa Dana

    09:42 WIB

    Reksa dana semakin dilirik untuk menggalang dana abadi institusi sosial, kesehatan, keagamaan, hingga pendidikan. Sepanjang tahun ini saja, setidaknya ada empat produk endowment fund baru yang diluncurkan

  • Atraksi yang Belum Kelar

    01:00 WIB

    PT Bumi Resources Tbk. tak pernah berhenti menjadi buah bibir. Ibarat kereta halilintar di Dunia Fantasy Ancol, mungkin begitu gambaran pergerakan harga saham BUMI sejak go public.

  • Emiten Masih Konservatif

    08:30 WIB

    Meski harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) mulai rebound, sejumlah emiten masih memasang target konservatif pada 2017

  • Trump Effect Hanya Sementara

    08:45 WIB

    Bursa Efek Indonesia yakin kondisi tertekannya indeks harga saham gabungan akibat Trump Effect tidak akan berlangsung lama

News Feed

  • Data China Terus Membaik

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 05:47 WIB

    China kembali membukukan perbaikan dalam data ekonomi terbarunya. Kondisi itu meredakan kekhawatiran terjadinya penurunan ekonomi negara tersebut.

  • Tak Ragu Kejar WP Kakap

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 03:42 WIB

    Pemerintah tidak ragu mengejar wajib pajak besar yang belum memanfaatkan program pengampunan pajak. Para wajib pajak kelas kakap atau prominen yang belum mengikuti tax amnesty diminta untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebe lum berakhir pada Maret 2017.

  • Mendambakan Industri Kreatif Kian Kinclong

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 01:01 WIB

    Data perkembangan industri kreatif yang dirilis Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Badan Pusat Statistik, pekan ini, semakin memberi keyakinan bahwa industri ini layak dijadikan sebagai salah satu penyokong perekonomian nasional.

  • Indonesia Menang Atas Churchill

    Jum'at, 09 Desember 2016 - 11:00 WIB

    Pemerintah berhasil menyelamatkan uang negara senilai US$1,31 miliar setelah International Centre for Settlement of Investments Disputes (ICSID) menolak gugatan arbitrase Churchill Mining Plc. dan Planet Mining Pty Ltd.

  • CPGT Cari Suntikan Dana Segar

    Jum'at, 09 Desember 2016 - 10:53 WIB

    PT Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk. memasukkan klausul investor baru dalam rencana perdamaian sebagai sumber pembiayaan dalam proses restrukturisasi utang.

Load More