Rabu, 20 Agustus 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

ANALISIS EKONOMI: Kiamat kecil industri minuman ringan dimulai

Tusrisep   -   Jum'at, 14 September 2012, 07:42 WIB

BERITA TERKAIT

ANDA penyuka minuman ringan? Mungkin dalam waktu dekat siap-siap saja merasakan sulitnya membeli minuman bergula, berperisa atau bersoda ini di supermarket dan minimarket di sekitar Anda.

Wali Kota New York Michael Bloomberg dengan restu dewan kota mulai hari ini telah memberlakukan larangan parsial bagi minuman ringan. Dengan regulasi ini, minuman ringan hanya boleh dijual di gerai makanan cepat saji, tempat olahraga, dan bioskop, tapi tidak di supermarket atau toko-toko.

Meski boleh dijual di sejumlah titik, itupun terdapat pembatasan. Porsi minuman soda maksimum 16 ons atau setara 453 mililiter atau satu cangkir di restoran cepat saji dan lainnya dan tempat-tempat hiburan umum seperti stadion.

Alasan aturan ini semata-mata urusan kesehatan. Menurut statistik resmi, sekitar 6.000 orang di kota berjuluk Big Apple itu meninggal setiap tahun akibat kegemukan (obesitas) dan penyakit-penyakit turunan akibat gula (diabetes).

"New York akan segera mengurangi konsumsi kalori dan akhirnya mulai mengubah gelombang epidemi obesitas yang menghancurkan kesehatan banyak warga kami," kata kepala kesehatan kota New York Thomas Farley seperti dikutip dari ABC, hari ini.

Jelas keputusan ini ditentang presiden industri makanan dan minuman AS, Liz Berman yang menilai aturan itu bersifat diskriminasi. “Ini menyedihkan bahwa dewan ingin membatasi pilihan kita. Kami cukup cerdas untuk membuat keputusan sendiri tentang apa yang harus makan dan minum."

Berman menilai putusan ini diskriminasi karena meski jumlah porsi dibatasi, tidak ada aturan yang menghentikan orang dari membeli minuman sebanyak yang mereka suka dengan mengisi wadah yang lebih kecil.

Larangan tersebut juga tidak mencakup minuman yang dijual di supermarket atau minuman susu atau buah yang kenyataannya banyak juga yang mengandung sejumlah besar gula.

Jika Amerika sudah memulai membatasi minuman ringan, bukan tidak mungkin segera terjadi di Indonesia seperti halnya nasib rokok. Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menemukan pola obesitas dan diabetes antara Amerika dan Indonesia mirip.

Bahkan jika dibandingkan beberapa negara Eropa seperti Portugal, Spanyol dan Jerman, tingkat obesitas masyarakat di Indonesia cenderung lebih tinggi. Hal tersebut disebabkan pengaruh lifestyle, tingkat aktivitas yang cenderung sedentary (tidak aktif) dan asupan makanan yang berubah  dari menu tradisional ke makanan siap saji.

Dalam catatan Rabobank International hingga 2010, pasar minuman ringan di Indonesia senilai US$6,5 miliar dengan total penjualan mencapai 17,5 miliar liter. Secara volume, minuman dalam botol menguasai 83% dari total penjualan sekitar 17,5 miliar liter. Diprediksi pertumbuhan minuman ringan di Indonesia mencapai 4,5% per tahun untuk lima tahun mendatang. (Bsi)


Editor :

 

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.