Navigasi Bisnis Terpercaya

Kamis 30 Maret 2017

EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Benahi Daya Saing Airline Kita

Administrator Selasa, 27/11/2012 00:58 WIB

Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa peroleh­­an omzet angkutan logistik di Indonesia yang diperkirakan tembus US$150 miliar se­­panjang tahun ini berdiri di atas landasan yang ra­­­puh.

Kemilau bisnis logistik nasional sejauh ini se­­­­ba­gian besar ternyata masih dinikmati perusahaan asing atau multinasional. Mereka unggul karena didukung sumber daya manusia (SDM) dan mo­­dal besar. Prasyarat utama dalam berkompetisi inilah yang mengganjal kalangan perusahaan logistik na­­­si­o­nal. Pasal­nya, pelaku usaha anak negeri yang ber­gerak di bidang jasa tersebut kekurangan SDM mumpuni di sektor logistik.

Kondisi ini, seperti diakui Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia Bandara Soekarno-Hatta, me­­­­­­­­­rupakan titik lemah pengusaha nasional dalam bersaing dengan asing. Padahal, pada saat yang sama pebisnis nasional harus menghadapi medan laga baru berupa pemberlakuan liberalisasi dan sekaligus integrasi sektor logistik Asean 2013.

Minimnya ketersediaan SDM andal bidang lo­­­gistik membuat perusahaan nasional hanya mam­pu menggarap proyek skala kecil dan mene­ngah, sementara pemain asing serta perusahaan multinasional le­­luasa melakoni jaringan regional serta global.

Kita patut prihatin terhadap masalah serius yang dihadapi perusahaan logistik nasional tersebut. Tahun 2012 tak lama lagi berakhir, di­­­­gantikan oleh era baru kompetisi di tingkat regional (Ase­­an). Dan, ter­nyata, Indo­nesia ja­­­uh dari siap! Apa­kah kita cukup puas ha­­nya sebagai pe­­­non­ton?

Tidak hanya menjelang liberalisasi sektor logistik Asean (2013) Indonesia terlihat keteteran. Ketika negara lain benar-benar fight untuk meng­antisipasi liberalisasi perdagangan atau pa­­­­sar bebas, yang ter­gam­­­bar dari soliditas antara pemerintah dan dunia usaha, kita justru menghadapinya dengan bersikap ‘biasa-biasa saja’.

Se­­­olah semuanya sudah berjalan sebagaimana lazimnya. Seolah tidak ada lagi yang perlu dikha­wa­tir­kan.

Sadarlah, lomba sesungguhnya sudah di depan mata. Tak ada pilihan lain, dunia usaha nasional bidang logistik harus tancap gas dalam sisa waktu yang ada untuk memacu efisiensi bisnis agar ke­­­mam­puan daya saingnya membaik.

Pada saat yang sama, pemerintah juga dituntut untuk mendukung sepenuhnya kesiapan perusahaan nasional dalam menghadapi liberalisasi di segala sektor. Bila sampai kesulitan mendapatkan ide baru, apa susahnya mencontek terobosan yang dilakukan negara tetangga.

Di Singapura dan Thailand misalnya, upaya yang ditempuh sangat membumi. Pemerintah memberikan subsidi kepada institusi yang menyediakan mata pelajaran tentang logistik. Alhasil, da­­­­­­­­­­­­lam tempo yang tidak terlalu lama, ketersediaan tenaga profesional bidang logistik bertumbuh. Si­­ngapura jauh lebih maju lagi, karena menggratiskan semua kursus di bidang tersebut.

Strategi menyerang seperti ini harus segera di­­­jalankan mengingat kita terlambat mengantisipasi liberalisasi. Pemerintah dan dunia usaha logistik hendaknya berjalan beriringan untuk menjawab tantangan nyata yang sudah di depan mata.

Be­­­nahi berbagai kelemahan, pacu profesionalisme dan daya saing!

More From Makro Ekonomi

  • Ambisi Tito Lampaui Aset Perbankan

    13:34 WIB

    "Hidup itu harus ada target. Setelah tembus Rp6.000 triliun, kami harap market cap bisa melampaui aset perbankan," ucap Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Kamis (23/3).

  • PPRO Garap Kertajati

    13:28 WIB

    PT PP Properti Tbk. melalui kerja sama dengan PT BIJB Aerocity Development akan mengembangkan kawasan bisnis seluas 300 hektare di kawasan Bandar Udara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat

  • Bisnis Indonesia Edisi Cetak Senin, 27 Maret 2017 Seksi Market

    01:48 WIB

    Berikut ini adalah ringkasan headlines BISNIS INDONESIA edisi cetak Senin, 27 Maret 2017. Untuk menyimak lebih lanjut, silahkan kunjungi http://epaper.bisnis.com/

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

News Feed

  • Gubernur BI Siap Bersaksi

    Rabu, 29 Maret 2017 - 16:42 WIB

    Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardoo dijadwalkan hadir dalam persidangan kasus korupsi pengadaan KTP elektronik, Kamis (30/3), dalam kapasitasnya sebagai saksi terhadap terdakwa Irman dan Sugoharto, mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri.

  • Asia Paper Diberi Tenggat 45 Hari

    Rabu, 29 Maret 2017 - 14:05 WIB

    Masa penundaan kewajiban pembayaran utang PT Asia Paper Mills akhirnya disepakati selama 45 hari, jauh dari harapan perseroan selaku debitur, yang mengajukan perpanjangan waktu 180 hari.

  • RI Bersiap Hadapi AS

    Rabu, 29 Maret 2017 - 12:11 WIB

    Indonesia bersiap menghadapi tudingan dumping dan subsidi dari Amerika Serikat atas produk biodiesel Tanah Air, setelah sebelumnya Uni Eropa menyampaikan tuduhan serupa

  • “Koperasi Bisa Menjadi Kekuatan Dahsyat”

    Rabu, 29 Maret 2017 - 11:52 WIB

    Pemerintah sejak awal sepakat menjadikan koperasi dan usaha kecil menengah (UKM) sebagai salah satu tulang punggung pertumbuhan ekonomi, dan berupaya terus menumbuhkan pelaku usahanya dengan berbagai kebijakan. Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Menteri Koperasi dan UKM menjelaskan upaya yang selama ini dilakukan pemerintah untuk koperasi dan UKM. Berikut ini petikan wawancaranya.

  • KKP Bidik Pemilik Kapal Jumbo

    Rabu, 29 Maret 2017 - 10:02 WIB

    Kementerian Kelautan dan Perikanan membidik perusahaan-perusahaan yang menjadi pemilik 16.000 kapal perikanan di atas 30 gros ton lulus sertifikasi hak asasi manusia sebagai parameter penilaian perpanjangan izin usaha.

Load More