Navigasi Bisnis Terpercaya

Kamis 23 Februari 2017

EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Benahi Daya Saing Airline Kita

Administrator Selasa, 27/11/2012 00:58 WIB

Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa peroleh­­an omzet angkutan logistik di Indonesia yang diperkirakan tembus US$150 miliar se­­panjang tahun ini berdiri di atas landasan yang ra­­­puh.

Kemilau bisnis logistik nasional sejauh ini se­­­­ba­gian besar ternyata masih dinikmati perusahaan asing atau multinasional. Mereka unggul karena didukung sumber daya manusia (SDM) dan mo­­dal besar. Prasyarat utama dalam berkompetisi inilah yang mengganjal kalangan perusahaan logistik na­­­si­o­nal. Pasal­nya, pelaku usaha anak negeri yang ber­gerak di bidang jasa tersebut kekurangan SDM mumpuni di sektor logistik.

Kondisi ini, seperti diakui Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia Bandara Soekarno-Hatta, me­­­­­­­­­rupakan titik lemah pengusaha nasional dalam bersaing dengan asing. Padahal, pada saat yang sama pebisnis nasional harus menghadapi medan laga baru berupa pemberlakuan liberalisasi dan sekaligus integrasi sektor logistik Asean 2013.

Minimnya ketersediaan SDM andal bidang lo­­­gistik membuat perusahaan nasional hanya mam­pu menggarap proyek skala kecil dan mene­ngah, sementara pemain asing serta perusahaan multinasional le­­luasa melakoni jaringan regional serta global.

Kita patut prihatin terhadap masalah serius yang dihadapi perusahaan logistik nasional tersebut. Tahun 2012 tak lama lagi berakhir, di­­­­gantikan oleh era baru kompetisi di tingkat regional (Ase­­an). Dan, ter­nyata, Indo­nesia ja­­­uh dari siap! Apa­kah kita cukup puas ha­­nya sebagai pe­­­non­ton?

Tidak hanya menjelang liberalisasi sektor logistik Asean (2013) Indonesia terlihat keteteran. Ketika negara lain benar-benar fight untuk meng­antisipasi liberalisasi perdagangan atau pa­­­­sar bebas, yang ter­gam­­­bar dari soliditas antara pemerintah dan dunia usaha, kita justru menghadapinya dengan bersikap ‘biasa-biasa saja’.

Se­­­olah semuanya sudah berjalan sebagaimana lazimnya. Seolah tidak ada lagi yang perlu dikha­wa­tir­kan.

Sadarlah, lomba sesungguhnya sudah di depan mata. Tak ada pilihan lain, dunia usaha nasional bidang logistik harus tancap gas dalam sisa waktu yang ada untuk memacu efisiensi bisnis agar ke­­­mam­puan daya saingnya membaik.

Pada saat yang sama, pemerintah juga dituntut untuk mendukung sepenuhnya kesiapan perusahaan nasional dalam menghadapi liberalisasi di segala sektor. Bila sampai kesulitan mendapatkan ide baru, apa susahnya mencontek terobosan yang dilakukan negara tetangga.

Di Singapura dan Thailand misalnya, upaya yang ditempuh sangat membumi. Pemerintah memberikan subsidi kepada institusi yang menyediakan mata pelajaran tentang logistik. Alhasil, da­­­­­­­­­­­­lam tempo yang tidak terlalu lama, ketersediaan tenaga profesional bidang logistik bertumbuh. Si­­ngapura jauh lebih maju lagi, karena menggratiskan semua kursus di bidang tersebut.

Strategi menyerang seperti ini harus segera di­­­jalankan mengingat kita terlambat mengantisipasi liberalisasi. Pemerintah dan dunia usaha logistik hendaknya berjalan beriringan untuk menjawab tantangan nyata yang sudah di depan mata.

Be­­­nahi berbagai kelemahan, pacu profesionalisme dan daya saing!

More From Makro Ekonomi

  • The Magnificent Seven Kini Terdiskon

    11:05 WIB

    Tujuh saham yang membukukan return fantastis (magnificent) pada tahun lalu, kini terjerembab ke zona merah sepanjang tahun berjalan (year to date)

  • Berharap Properti Bangkit Lagi

    11:00 WIB

    Pertumbuhan pasar properti yang melempem dalam dua tahun terakhir menjadi salah satu faktor penekan kinerja produsen semen. Apakah tren ini akan terus berlanjut pada tahun ini?

  • Reksa Dana Syariah Offshore Layak Dilirik

    14:16 WIB

    Mayoritas bursa global sepanjang tahun berjalan membukukan kinerja yang lebih kinclong dibandingkan dengan kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG). Produk reksa dana syariah offshore pun layak untuk dilirik.

  • Satu Hela Nafas Lega UNSP

    14:13 WIB

    Setelah mengantongi izin pemegang saham untuk menggelar reverse stock, emiten perkebunan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. segera menggelar restrukturisasi utang yang ditargetkan mampu mencapai titik temu dengan para kreditur pada semester I/2017.

News Feed

  • MA Memilih Tak Berfatwa

    Rabu, 22 Februari 2017 - 12:10 WIB

    Mahkamah Agung memilih sikap netral dan enggan mengeluarkan fatwa terkait dengan pandangan hukum atas status Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang dimohonkan pemerintah melalui Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.

  • TLKM Terganjal KPPU

    Rabu, 22 Februari 2017 - 11:45 WIB

    Investigator KPPU mengklaim telah menemukan bukti kuat bahwa PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. melakukan pelanggaran monopoli, dengan mengambil keuntungan posisi dominan hingga menerapkan perjanjian tertutup.

  • Bank Menengah Tergiur Infrastruktur

    Rabu, 22 Februari 2017 - 11:45 WIB

    Bank papan tengah tertarik untuk menyalurkan kredit ke sektor infrastruktur yang saat ini gencar dijalankan pemerintah. Terlebih lagi ketersediaan likuiditas mereka dinilai berlebih setelah kredit tahun lalu melambat

  • Berlomba-Lomba Tawarkan KTA

    Rabu, 22 Februari 2017 - 11:40 WIB

    Kredit tanpa agunan menjadi primadona tersendiri saat kebutuhan dana jangka pendek mendekat. Merespons kebutuhan itu, beberapa bank menjadikan salah satu produk konsumer tersebut sebagai penyokong kinerja kredit konsumsi

  • Kebutuhan Dana Tunai Jadi Pemicu

    Rabu, 22 Februari 2017 - 11:36 WIB

    Setelah sempat menurun 2,8% pada akhir 2015, nilai klaim dan manfaat yang dibayar indusri asuransi jiwa melonjak 32,4% pada akhir tahun lalu yang diperkirakan sejalan dengan meningkatnya kebutuhan uang tunai oleh masyarakat

Load More