Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 27 Agustus 2016

EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Benahi Daya Saing Airline Kita

Administrator Selasa, 27/11/2012 00:58 WIB

Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa peroleh­­an omzet angkutan logistik di Indonesia yang diperkirakan tembus US$150 miliar se­­panjang tahun ini berdiri di atas landasan yang ra­­­puh.

Kemilau bisnis logistik nasional sejauh ini se­­­­ba­gian besar ternyata masih dinikmati perusahaan asing atau multinasional. Mereka unggul karena didukung sumber daya manusia (SDM) dan mo­­dal besar. Prasyarat utama dalam berkompetisi inilah yang mengganjal kalangan perusahaan logistik na­­­si­o­nal. Pasal­nya, pelaku usaha anak negeri yang ber­gerak di bidang jasa tersebut kekurangan SDM mumpuni di sektor logistik.

Kondisi ini, seperti diakui Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia Bandara Soekarno-Hatta, me­­­­­­­­­rupakan titik lemah pengusaha nasional dalam bersaing dengan asing. Padahal, pada saat yang sama pebisnis nasional harus menghadapi medan laga baru berupa pemberlakuan liberalisasi dan sekaligus integrasi sektor logistik Asean 2013.

Minimnya ketersediaan SDM andal bidang lo­­­gistik membuat perusahaan nasional hanya mam­pu menggarap proyek skala kecil dan mene­ngah, sementara pemain asing serta perusahaan multinasional le­­luasa melakoni jaringan regional serta global.

Kita patut prihatin terhadap masalah serius yang dihadapi perusahaan logistik nasional tersebut. Tahun 2012 tak lama lagi berakhir, di­­­­gantikan oleh era baru kompetisi di tingkat regional (Ase­­an). Dan, ter­nyata, Indo­nesia ja­­­uh dari siap! Apa­kah kita cukup puas ha­­nya sebagai pe­­­non­ton?

Tidak hanya menjelang liberalisasi sektor logistik Asean (2013) Indonesia terlihat keteteran. Ketika negara lain benar-benar fight untuk meng­antisipasi liberalisasi perdagangan atau pa­­­­sar bebas, yang ter­gam­­­bar dari soliditas antara pemerintah dan dunia usaha, kita justru menghadapinya dengan bersikap ‘biasa-biasa saja’.

Se­­­olah semuanya sudah berjalan sebagaimana lazimnya. Seolah tidak ada lagi yang perlu dikha­wa­tir­kan.

Sadarlah, lomba sesungguhnya sudah di depan mata. Tak ada pilihan lain, dunia usaha nasional bidang logistik harus tancap gas dalam sisa waktu yang ada untuk memacu efisiensi bisnis agar ke­­­mam­puan daya saingnya membaik.

Pada saat yang sama, pemerintah juga dituntut untuk mendukung sepenuhnya kesiapan perusahaan nasional dalam menghadapi liberalisasi di segala sektor. Bila sampai kesulitan mendapatkan ide baru, apa susahnya mencontek terobosan yang dilakukan negara tetangga.

Di Singapura dan Thailand misalnya, upaya yang ditempuh sangat membumi. Pemerintah memberikan subsidi kepada institusi yang menyediakan mata pelajaran tentang logistik. Alhasil, da­­­­­­­­­­­­lam tempo yang tidak terlalu lama, ketersediaan tenaga profesional bidang logistik bertumbuh. Si­­ngapura jauh lebih maju lagi, karena menggratiskan semua kursus di bidang tersebut.

Strategi menyerang seperti ini harus segera di­­­jalankan mengingat kita terlambat mengantisipasi liberalisasi. Pemerintah dan dunia usaha logistik hendaknya berjalan beriringan untuk menjawab tantangan nyata yang sudah di depan mata.

Be­­­nahi berbagai kelemahan, pacu profesionalisme dan daya saing!

More From Makro Ekonomi

  • 34 BUMN Masuk 6 Holding

    06:42 WIB

    Sebanyak 34 BUMN disiapkan oleh pemerintah untuk masuk ke dalam 6 investment holding sektor bank, energi, tambang, jalan tol dan konstruksi, perumahan serta pangan yang bakal dibentuk pada 2016

  • MEDC Turunkan Target Dana

    06:41 WIB

    Emiten minyak dan gas milik Arifin Panigoro, PT Medco Energi Internasional Tbk., menurunkan target peroleh an dana rights issue dari Rp4,65 triliun menjadi Rp1,94 triliun

  • Sektor Properti Bisa Kehilangan Momentum

    06:03 WIB

    Sejumlah kalangan menilai pelaku usaha di sektor properti bisa kehilangan momentum pasar jika penerbitan regulasi yang komprehensif terkait dana investasi real estate (DIRE) mandek

  • Saham Seri A Dipertahankan

    06:03 WIB

    Pemerintah berencana mempertahankan saham seri A atau saham dwiwarna di BUMN yang akan bergabung dalam holding, untuk mempertahankan hak istimewa pemerintah

News Feed

  • Kompromi Kecil Susi

    Sabtu, 27 Agustus 2016 - 10:38 WIB

    Seturut terbitnya Inpres No. 7/2016, Kementerian Kelautan dan Perikanan mengubah aturan frekuensi masuk kapal pengangkut ikan hidup bendera asing dari enam kali dalam setahun menjadi 12 kali

  • Menkeu: Inflasi Rendah Bukan Prestasi

    Sabtu, 27 Agustus 2016 - 10:04 WIB

    Pemerintah tidak sepenuhnya melihat capaian tingkat inflasi yang rendah saat ini sebagai suatu prestasi. Kondisi ini diharapkan dapat terus dijaga untuk kestabilan perekonomian nasional.

  • Pertumbuhan Bisa Dua Digit

    Sabtu, 27 Agustus 2016 - 09:11 WIB

    Pertumbuhan kredit konsumer perbankan sampai akhir semester II/2016 diprediksi mampu tembus dua digit seiring mulai menggeliatnya perekonomian nasional

  • Berharap Berkah Koreksi Harga Gandum

    Sabtu, 27 Agustus 2016 - 09:02 WIB

    Penurunan harga gandum impor membawa angin segar bagi kelompok perusahaan consumer goods sehingga berpotensi menggemukkan profitabilitas

  • Pemda Diminta Pangkas BPHTB Rumah Murah

    Sabtu, 27 Agustus 2016 - 08:13 WIB

    Kalangan pengembang meminta pemerintah daerah melonggarkan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan atau BPHTB untuk pembelian rumah bersubsidi

Load More