Navigasi Bisnis Terpercaya

Selasa 26 Juli 2016

EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Benahi Daya Saing Airline Kita

Administrator Selasa, 27/11/2012 00:58 WIB

Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa peroleh­­an omzet angkutan logistik di Indonesia yang diperkirakan tembus US$150 miliar se­­panjang tahun ini berdiri di atas landasan yang ra­­­puh.

Kemilau bisnis logistik nasional sejauh ini se­­­­ba­gian besar ternyata masih dinikmati perusahaan asing atau multinasional. Mereka unggul karena didukung sumber daya manusia (SDM) dan mo­­dal besar. Prasyarat utama dalam berkompetisi inilah yang mengganjal kalangan perusahaan logistik na­­­si­o­nal. Pasal­nya, pelaku usaha anak negeri yang ber­gerak di bidang jasa tersebut kekurangan SDM mumpuni di sektor logistik.

Kondisi ini, seperti diakui Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia Bandara Soekarno-Hatta, me­­­­­­­­­rupakan titik lemah pengusaha nasional dalam bersaing dengan asing. Padahal, pada saat yang sama pebisnis nasional harus menghadapi medan laga baru berupa pemberlakuan liberalisasi dan sekaligus integrasi sektor logistik Asean 2013.

Minimnya ketersediaan SDM andal bidang lo­­­gistik membuat perusahaan nasional hanya mam­pu menggarap proyek skala kecil dan mene­ngah, sementara pemain asing serta perusahaan multinasional le­­luasa melakoni jaringan regional serta global.

Kita patut prihatin terhadap masalah serius yang dihadapi perusahaan logistik nasional tersebut. Tahun 2012 tak lama lagi berakhir, di­­­­gantikan oleh era baru kompetisi di tingkat regional (Ase­­an). Dan, ter­nyata, Indo­nesia ja­­­uh dari siap! Apa­kah kita cukup puas ha­­nya sebagai pe­­­non­ton?

Tidak hanya menjelang liberalisasi sektor logistik Asean (2013) Indonesia terlihat keteteran. Ketika negara lain benar-benar fight untuk meng­antisipasi liberalisasi perdagangan atau pa­­­­sar bebas, yang ter­gam­­­bar dari soliditas antara pemerintah dan dunia usaha, kita justru menghadapinya dengan bersikap ‘biasa-biasa saja’.

Se­­­olah semuanya sudah berjalan sebagaimana lazimnya. Seolah tidak ada lagi yang perlu dikha­wa­tir­kan.

Sadarlah, lomba sesungguhnya sudah di depan mata. Tak ada pilihan lain, dunia usaha nasional bidang logistik harus tancap gas dalam sisa waktu yang ada untuk memacu efisiensi bisnis agar ke­­­mam­puan daya saingnya membaik.

Pada saat yang sama, pemerintah juga dituntut untuk mendukung sepenuhnya kesiapan perusahaan nasional dalam menghadapi liberalisasi di segala sektor. Bila sampai kesulitan mendapatkan ide baru, apa susahnya mencontek terobosan yang dilakukan negara tetangga.

Di Singapura dan Thailand misalnya, upaya yang ditempuh sangat membumi. Pemerintah memberikan subsidi kepada institusi yang menyediakan mata pelajaran tentang logistik. Alhasil, da­­­­­­­­­­­­lam tempo yang tidak terlalu lama, ketersediaan tenaga profesional bidang logistik bertumbuh. Si­­ngapura jauh lebih maju lagi, karena menggratiskan semua kursus di bidang tersebut.

Strategi menyerang seperti ini harus segera di­­­jalankan mengingat kita terlambat mengantisipasi liberalisasi. Pemerintah dan dunia usaha logistik hendaknya berjalan beriringan untuk menjawab tantangan nyata yang sudah di depan mata.

Be­­­nahi berbagai kelemahan, pacu profesionalisme dan daya saing!

More From Makro Ekonomi

  • Rupiah Stabil di Kisaran Rp13.100/US$

    09:08 WIB

    Mata uang Garuda stabil di bawah level 13.100 per dolar AS pada penutupan perdagangan akhir pekan seiring dengan ekspektasi masuknya dana repatriasi tax amnesty. Sentimen ini diperkirakan berlanjut menopang penguatan rupiah minggu depan.

  • Stock Split Kian Ramai

    08:58 WIB

    Belasan emiten melakukan stock split untuk meningkatkan likuiditas dan transaksi saham serta mengundang investor ritel.

  • Kompetisi Jadi Lebih Sehat

    10:23 WIB

    Persaingan antarperusahaan sekuritas diharapkan menjadi lebih sehat setelah adanya kesepakatan penetapan batas minimum fee dalam jasa perantara perdagangan efek sebesar 0,2% dari total nilai transaksi.

  • Emiten Menanti Efek Tax Amnesty

    09:56 WIB

    Sejumlah emiten memproyeksi kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty belum akan berdampak signifikan terhadap penjualan properti pada paruh kedua 2016.

News Feed

  • Skema Hukuman untuk Pemda Mulai Berbuah

    Selasa, 26 Juli 2016 - 02:40 WIB

    Skema penalti yang diberlakukan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah yang memilih memarkir dananya di perbankan mulai menunjukkan hasil. Hingga paruh pertama tahun ini, nilai simpanan pemda di perbankan turun 21,5% menjadi Rp214,5 triliun

  • Seleksi Pemekaran Ketat

    Selasa, 26 Juli 2016 - 02:30 WIB

    Pemerintah pusat mulai galak dengan keinginan daerah membentuk otonomi baru dengan kian selektif mengkaji permintaan tersebut agar keuangan negara tak makin kedodoran. Apalagi, pemerintah menilai pembentukan daerah otonomi baru (DOB) tak selalu berujung pada peningkatan pembangunan serta kesejahteraan rakyat.

  • Menjaga Efektivitas Arbitrase

    Selasa, 26 Juli 2016 - 02:00 WIB

    Faktor kelancaran kegiatan komersial di suatu negara tidak lepas dari keefektifan mekanisme penyelesaian sengketanya. Arbitrase, sebagai mekanisme penyelesaian sengketa di luar pengadilan, berkembang berkat keunggulannya dibanding pengadilan karena proses beracaranya bersifat rahasia dan lebih efektif dalam hal jangka waktu dan biaya.

  • Negosiasi Nyaris Buntu

    Selasa, 26 Juli 2016 - 00:50 WIB

    Negosiasi divestasi saham PT Freeport Indonesia sebesar 10,64% nyaris buntu setelah perseroan berkukuh menggunakan metode penghitungan nilai saham dengan harga wajar pasar atau senilai US$1,7 miliar.

  • Investor Lokal Kian Agresif

    Selasa, 26 Juli 2016 - 00:40 WIB

    Aliran dana repatriasi diprediksi mendongkrak kepemilikan efek investor domestik di pasar modal Indonesia. Bila itu terjadi, pasar modal kian kokoh terhadap guncangan arus keluar dana investor asing.

Load More