Navigasi Bisnis Terpercaya

Minggu 26 Februari 2017

BBM: Kebijakan Benar Dengan Cara Salah

Editor Senin, 29/04/2013 00:03 WIB

Kebijakan pengurangan subsidi harga bahan bakar minyak atau BBM, yang telah berulangkali dinyatakan oleh para pejabat pemerintah adalah langkah yang benar. 

Ada sejumlah alasan yang mendasari argumen tersebut. Pertama, membiarkan subsidi BBM terus membengkak merupakan langkah tidak bijak di tengah banyak kebutuhan anggaran lain yang lebih prioritas untuk membantu perekonomian, menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan. 

Kedua, membiarkan pemborosan uang ratusan triliun rupiah setiap tahun merupakan contoh mismanajemen fiskal yang tidak perlu terjadi, mengingat pemerintah kesulitan membiayai pembangunan infrastruktur yang lebih penting bagi landasan perekonomian jangka panjang. 

Ketiga, membiarkan subsidi BBM berarti membiarkan masyarakat Indonesia, yang saat ini sudah naik kelas dengan semakin banyak kelas menengah baru, berperilaku boros energi yang murah karena disubsidi. Ini tidak adil bagi generasi mendatang. Apalagi, sebagian besar subsidi dinikmati kelompok masyarakat yang mampu. 

Maka langkah pengurangan subsidi BBM menjadi sangat benar, karena dengan begitu pemerintah memiliki kesempatan untuk mengalokasikan anggaran bagi kebutuhan prioritas yang lebih mendesak. Sebut saja antara lain untuk memperbaiki infrastruktur yang lebih diperlukan sebagai landasan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. 

Namun, sayangnya kebijakan yang benar dengan tujuan yang baik tersebut dilakukan dengan cara yang salah. Betapa tidak. Sejumlah menteri, jauh-jauh hari menyampaikan pernyataan bahwa harga BBM bersubsidi akan dinaikkan, atau akan menerapkan dua harga. 

Bahkan, disebutkan besaran angka kenaikan harga yang eksplisit, antara Rp2.000 hingga Rp2.500, sementara waktu pelaksanaan masih belum ditetapkan. Hanya diberikan patokan waktu pelaksanaan kebijakan subsidi BBM pada awal Mei. 

Inilah pangkal persoalan. Dalam ekonomi, kebijakan harga (administered price) adalah komponen utama yang kerap menjadi ajang spekulasi, dengan dampak ikutan mengerek ekspektasi inflasi. 

Maka, begitu pertengahan April lalu pemerintah menyatakan akan menerapkan dual price harga BBM mulai Mei, aksi spekulasi terjadi di mana-mana. Para pedagang BBM, dapat dipastikan, berupaya mengambil manfaat dari celah kebijakan tersebut untuk mengambil keuntungan bisnis pribadi.

Maka tidak perlu heran jika kita mendengar kelangkaan BBM, terutama solar, terjadi di banyak daerah. Dampak ikutan kelangkaan BBM tersebut tak terhindarkan, serta merta menyebar ke sektor transportasi, sehingga mendorong kenaikan biaya angkutan.

Dalam konteks tersebut, harian ini menyayangkan langkah pemerintah yang tidak prudent dalam mengelola wacana dan rencana kebijakan mengenai subsidi bahan bakar minyak tersebut.

Kebijakan yang baik, amat disayangkan, telah memberikan dampak  yang tidak baik, karena cara yang tidak patut alias tidak proper. Strategi komunikasi atas kebijakan pemerintah yang berdampak publik luas, dengan demikian, patut dipertanyakan.

Lebih dari itu, kesungguhan pemerintah mengelola kebijakan strategis itu sendiri juga patut dipertanyakan. Ini memberikan kesan bahwa pemerintah seolah tidak paham akan dampak psikologis maupun dampak bisnis atas teka-teki kebijakan harga yang maju mundur dan spekulatif. 

Terlebih pada pekan lalu mulai berkembang lagi pernyataan baru dari pemerintah, termasuk instruksi presiden agar dikaji ulang rencana kebijakan harga BBM. Ini menimbulkan sinyal dan spekulasi, bahwa pemerintah belum yakin dengan opsi menaikkan harga atau memangkas subsidi BBM. 

Tentu saja, pernyataan tersebut dapat menimbulkan penafsiran baru dan spekulasi baru. Dan sayangnya, selalu banyak interpretasi atau penafsiran yang muncul atas setiap rencana kebijakan pemerintah, yang dampak ekonominya tidak bisa dianggap enteng. 

Maka, seyogianyalah pemerintah lebih berhati-hati dan bijak dalam mengelola kebijakan strategis yang berdampak luas dan memiliki magnitude ekonomi yang besar. Bukan justru terkesan main-main. 

Jika begini, maka pertaruhannya adalah kredibilitas kebijakan. Dan yang dapat cepat mengambil manfaat atau keuntungan dari cara pengelolaan kebijakan seperti itu tidak lain adalah para spekulan. Merekalah yang menari-nari di atas penderitaan sebagian konsumen yang harus membayar lebih mahal. 

Apabila kredibilitas kebijakan ini terus dipermainkan, maka taruhannya bisa jauh lebih mahal lagi: jangan-jangan memang ada pihak-pihak di dalam tubuh pemerintahan sendiri yang sengaja membuat situasi ketidakpastian, untuk turut mengambil untung di tengah aksi spekulasi yang dimainkan para pedagang?  

More From Makro Ekonomi

  • Tren Cost of Fund Turun

    07:49 WIB

    Tren penurunan yield surat utang global yang terjadi saat ini dinilai menjadi momentum yang tepat untuk merilis surat utang berdenominasi valas. Penurunan yield tersebut akan berdampak pada penurunan biaya dana alias cost of fund emisi global bond.

  • Pendapatan Berulang Jadi Penopang

    07:35 WIB

    Sejumlah emiten properti berupaya menggenjot porsi pendapatan berulang sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas pendapatan di tengah penjualan yang cenderung fluktuatif.

  • Asing Tak Gubris Polemik Freeport

    07:53 WIB

    Meski terjadi gesekan antara pemerintah dan Freeport McMoran, faktor politik dalam negeri dinilai lebih dominan menjadi sentimen negatif di mata investor asing dalam berinvestasi di pasar modal Tanah Air.

  • DMAS Jual Lahan 28 Hektare

    07:41 WIB

    Pengelola lahan industri di bawah Grup Sinarmas, PT Puradeltas Lestari Tbk., telah menjual 28 hektare lahan pada awal tahun ini sehingga target penjualan yang ditetapkan pada tahun ini kian realistis.

News Feed

  • Rasa dan Estetika Kudapan Sehat

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 14:22 WIB

    Beberapa tahun belakangan, semakin banyak kaum urban yang mengalihkan kebiasaan makan mereka ke diet sehat dari bahanbahan nabati organik atau yang lebih ngetren disebut sebagai metode clean eating.

  • Menikmati Fuji dari Kawaguchi

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 14:21 WIB

    Gunung Fuji atau Fujiyama merupakan salah satu simbol dan ikon Jepang, selain bunga Sakura.

  • Mengukir Waktu dari Jam Tangan Kayu

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 13:34 WIB

    Aplikasi kayu-kayuan kini tak lagi terbatas pada furnitur rumah tangga. Di tangan orang-orang kreatif, material kayu bisa dimodifikasi menjadi jam tangan unik dengan tetap memberikan kesan eksklusif.

  • Napas Romantis Busana Pengantin Retro

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 13:27 WIB

    Dari masa ke masa, busana pengantin bergaya internasional terus mengalami evolusi tren, mulai dari potongan yang megar dan penuh detail rumit ala putri negeri dongeng, hingga siluet press body nan simpel dan minim aksen.

  • Penularan Demam Kuning

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 12:50 WIB

    Nyamuk yang terinfeksi dapat menularkan virus dari manusia ke manusiaNyamuk boleh jadi merupakan salah satu musuh utama manusia di bidang kesehatan.

Load More