Kamis, 24 April 2014 RSS Feed Videos Photos ePaper English Version

Inovasi & Godaan Diversifikasi Bisnis

Endy Subiantoro   -   Rabu, 08 Mei 2013, 11:55 WIB

BERITA TERKAIT

Perusahaan harus tetap tumbuh agar bisa berkelanjutan (going concern).

Namun ambisi inovasi, dilema opsi strategi masuk pasar baru, dan godaan diversifikasi usaha di luar bisnis inti terkadang membelokkan korporat dari jalur bisnis.

Ancaman dari pesaing lewat distrupted innovation menambah beban korporat untuk tetap tumbuh stabil.

 Secara konsep, kapan sebetulnya kebutuhan korporat untuk melakukan diversikasi?

Menurut Thompson, Strickland III dan Gamble,  ada empat alasan. Pertama, ketika ada peluang untuk melakukan ekspansi usaha dengan produk dan teknologi dari bisnis saat ini.  

Kedua, ketika hal itu bisa meleverage kompetensi dan kapabilitas bisnis saat ini. Ketiga, ada peluang mereduksi biaya.  Keempat, memiliki brand yang kuat dan terkenal yang bisa ditransfer ke produk dan bisnis baru.

 Jika kebutuhan yang di atas ada, maka pilihan strategi untuk masuk ke pasar baru ada tiga yaitu (1) akuisisi atas usaha yang ada.

Pendekatan yang paling populer dan lebih cepat untuk mengatasi sejumlah kendala seperti teknologi, pengetahuan, dan membangun brand. (2) Internal star-up (3) Joint venture (usaha patungan).

Inovasi di luar core

Namun upaya diversifikasi usaha melalui ambisi inovasi produk /layanan tidak selalu berbuah manis. Fenomena ini juga terjadi di perusahaan raksasa.

Google, dengan kapitalisasinya kini terbesar ketiga di dunia (US$278 miliar), melakukan kombinasi strategi.

Seperti, mengakuisisi YouTube senilai US$1,65 miliar 2008 dari 3 serangkai yang nyaris tidak terdengar sebelumnya yaitu Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim.  

Langkah lain, mendiversifikasi usaha lewat internal venture. Namun tidak semua sukes. Google + dan Google Reader (akan dipensiunkan) dinilai kurang berhasil.

Sistem OS desktop Google juga kalah bersaing dengan Mac OS dan Windows dari Microsoft. Telpon genggam Nexus, juga kalah bersaing dengan iPhone dan Samsung Galaxy.  

Namun Google sukses sebagai perusahaan periklanan dan kurator berita. Sebagai mesin penjelajah internet, Google sudah berada di puncak.

Yahoo memiliki opsi strategi akuisisi (terbaru mereka mengakusisi Summly) dan tetap di jalur sebagai pabrik berita unik.

 Upaya Apple meniru Samsung, untuk meluncurkan Ipad mini juga  kurang berhasil di pasar.

Kasus serupa, Nokia pada tahun 2002 adalah raksasa bisnis seluler global.

Pada era itu korporat asal Finlandia ini di tengah kebimbangan memilih strategi tetap konglomerasi atau pasar yang lebih sempit. Namun disrupted innovator (Apple ,Samsung, dan Blackberry) menghancurkan ambisi  global mereka.

 Virgin Group, Richard Branson (melalui Virgin Money) pernah ditolak mengelola bank Northern Rock pada 2007 karena semasa remaja (19 tahun) pernah ditahan Bea & Cukai karena menjual CD rekaman tanpa membayar pajak .

Starbucks pernah surut pamornya sehingga menuntut kembalinya Howard Schultz. Logo Starbucks pun berubah 2011 sejalan dengan reposisi bisnis dan inovasi produk mereka (tidak hanya menjual kopi).

Pergantian logo yang sempat diprotes konsumen loyalnya karena menghilangkan kata coffee.

Singapore Airlines : mengalami penurunan kinerja pada kuartal III 2012 labanya anjlok 54% menjadi US$74 juta.

Penyebabnya, penurunan pendapatan di unit kargo karena krisis ekonomi global, dan adanya persaingan ketat dari kompetitornya di Timur Tengah.

Kodak, perintis kamera tangan—terakhir beralih ke cetak digital-- yang berusia 133 tahun ini, “tutup usia” pada 2012 karena terus mengalami kerugian hingga Rp4,5 triliun.

Disrupted innovation di teknologi cetak digital yang tidak cepat diantisipasi.

Belajar dari kegagalan

Dari contoh di atas, mengapa diversifikasi dan inovasi mereka gagal? Apakah karena diversifikasi usaha tidak sejalan dengan strategi kompetitif , atau  inovasi yang terlalu jauh dari kompetensi inti?

Diversifikasi usaha seharusnya memang sejalan dengan pilihan strategi kompetisi, apakah low cost, broad differentiation, best-cost provider, focused atau market niche.

Fakta di lapangan, antara eksekusi  dan intuisi bisnis (crafting &strategy)  sering tidak seimbang. Faktor leadership seperti di Google ikut menentukan.

Nagji & Tuff, 2012, mengatakan  tahapan inovasi  mencakup tiga hal   (1) Core: mengoptimalkan produk yang ada untuk pelanggan lama (2) Adjacent : perluasan dari bisnis yang ada menuju bisnis yang baru (3) Transformational: mengembangkan terobosan & inventing produk untuk pasar yang baru.

Datanya, mayoritas 70% perusahaa melakukan inovasi di tahap pertama (core) karena pertimbangan risiko.Merton menyebut perlunya pemahaman model yang pas untuk meminimal risiko. 

Namun yang menarik adalah  kemampuan korporat besar untuk keluar dengan cepat (escape) dari lingkaran kegagalan sebelum kerugian semakin parah (cut lose).

Mereka mampu mengatasi kegagalan dengan cepat dan belajar dari kegagalan itu (salah satu ciri kepemimpinan Genghis Khan).

Hal ini sejalan dengan DNA yang dimiliki entrepreneurs  yaitu persistent, tenacious, dan resilience.

Kelenturan (resilience) merupakan kemampuan untuk pulih dari kemunduran/kegagalan..  David Gladstone, pendiri Gladstone Capital Corp. percaya sukses korporat merupakan hasil 10% keberuntungan dan 90% karena kerja keras.

Faktor lain adalah budaya disiplin. Menurut Jim Collins (penulis Good to Great), semua perusahaan memiliki budaya, beberapa perusahaan memiliki disipllin.

Tapi hanya sedikit perusahaan yang memiliki budaya disiplin. Kalau Anda memiliki orang yang disiplin, Anda tidak memerlukan hirarki.

Kalau Anda mempunyai pikiran yang disiplin , Anda tidak memerlukan birokrasi. Kalau Anda memiliki tindakan yang disiplin, Anda tidak memerlukan pengendalian yang berlebihan.

 Kalau Anda menggabungkan budaya disiplin dengan etika kewirusahaan, Anda mendapatkan ramuan ajaib dari kinerja yang hebat.


Editor : Yoseph Pencawan

Berlangganan Epaper Bisnis Indonesia Cuma Rp10 Juta Seumur Hidup, Mau? Klik disini!
 

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

 

POPULER