Rabu, 23 April 2014 RSS Feed Videos Photos ePaper English Version

BISNIS INDONESIA MINGGU: Berebut Pasar Penerbangan Murah

Redaksi   -   Minggu, 19 Mei 2013, 06:13 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA - Maskapai bersaing ketat memberikan layanan penerbangan untuk semua kalangan seiring dengan bertumbuhnya pendapatan masyarakat. Harga tiket semakin murah, menjangkau masyarakat kelas menengah.

Penumpang yang dulunya mengandalkan moda transportasi bus dan kereta api beralih ke pesawat berbiaya murah. Bagaimana mereka tidak pindah, bila harga tiket kereta api hampir sama dengan harga tiket pesawat.

Misalnya saja, tiket pesawat terbang Jakarta-Semarang pada 14 Mei 2013 untuk maskapai penerbangan Lion Air dan Air Asia masing-masing dipatok Rp395.000 dan Rp318.000 dengan waktu tempuh 1 jam.

Bandingkan dengan tiket kereta api Sembrani seharga Rp230.000-Rp280.000 dengan waktu tempuh 6,5 jam.

Bagaimana dengan bus? Harga tiket berkisar Rp110.000-Rp170.000 dengan waktu tempuh 10 jam. Selisih harga tiket yang tidak terlalu jauh dengan waktu tempuh yang berbeda jauh tentunya akan membuat sebagian besar penumpang memilih perjalanan
dengan pesawat.

Bermula dari ambisi Rusdi Kirana, si pemilik maskapai penerbangan Lion Air. Dengan mengusung slogan We Make People Fly, Lion Air yang didirikan pada Oktober 1999 dan mulai terbang pada Juni 2000 ini meruntuhkan anggapan bahwa yang bisa terbang hanya orang-orang kaya.

Dengan kehadiran Lion Air sebagai maskapai low cost carrier (LCC), menjadi awal era baru penerbangan dengan persaingan ketat di Tanah Air.

LCC atau sering juga disebut sebagai budget airlines atau no frills fl ight atau penerbangan tanpa makanan. Hal ini diberlakukan untuk menghemat biaya operasional yang mendorong harga tiketnya lebih murah.

Gayung bersambut, pada saat Lion Air mulai terbang perdana pada Juni 2000, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tengah elok-eloknya.

Pada awal tahun milenium tersebut, masyarakat kelas menengah di Indonesia tengah bertumbuh. Konsumsi kelas menengah ini berkontribusi 70% dari pertumbuhan ekonomi di Tanah Air.

Kementerian Perhubungan, selaku regulator penerbangan sipil, mencatat saat ini ada delapan maskapai yang melayani penerbangan bertarif rendah dan mampu menguasai 70% dari total penumpang udara nasional.

Direktur Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Djoko Murjatmodjo mengatakan kedelapan maskapai yang
tercatat melayani penerbangan LCC yakni Citilink, Mandala Airlines, Lion Air, Wings Air, Travira Air, Indonesia AirAsia,
Pelita Air, dan Susi Air.

“Sebelumnya ada sembilan, yakni Dirgantara Air Services, tetapi sekarang sudah tidak beroperasi lagi.”

Dia menjelaskan untuk kategori lainnya, yakni maskapai pelayanan kelas menengah tercatat ada 10 perusahaan yakni Sriwijaya Air, Batavia Air (kini sudah dinyatakan pailit), Merpati Nusantara Airlines, Trans Nusa, Kalstar Aviation, Trigana Air, Travel Express, Sky Aviation, Aviastar, dan Indonesia Air Transport.

Kategori lainnya yakni maskapai dengan pelayanan premium atau full services, hanya ada dua yakni Garuda Indonesia dan Pacific Royale.

Kementerian Perhubungan mencatat total penumpang udara sepanjang 2012 sebesar 72,46 juta atau naik hampir 10% dari 2011 dengan penumpang tertinggi dicatat Lion Air.

Total penumpang udara domestik sebanyak 63,62 juta orang dan internasional 8,85 juta. “Data ini masih belum fi nal, karena
belum semua maskapai melaporkan datanya. Namun untuk sementara, jumlah penumpang udara naik 10%,” kata Djoko.

Belum finalnya data penumpang udara ini untuk periode November dan Desember 2012, padahal pada periode tersebut biasanya jumlahnya lebih tinggi karena banyak hari liburnya.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti S. Gumay mengatakan jumlah penumpang udara nasional rata-rata naik 15%-17% per tahun. Jika jumlah penumpang udara pada 2011 sebanyak 66,04 juta, pada 2012 totalnya mencapai 76 juta.

Corporate Secretary PT Angkasa Pura (AP) II Trisno Heryadi mengatakan, pihaknya selaku pengelola 13 bandara mencatat, total pergerakan penumpang sepanjang 2012 sebanyak 81,03 juta atau naik 12% dari posisi tahun sebelumnya yang masih 72,3 juta.
 
Penumpang internasional tercatat sebanyak 14,63 juta (18%) dan domestik 66,4 juta (82%).

Djoko Murjatmodjo mengatakan persaingan di industri penerbangan nasional sangat ketat. Maskapai berlombalomba memberikan tarif rendah, di samping itu maskapai harus tetap menjaga standar keselamatan penerbangan.

“Persaingan tinggi sekali, margin kecil. Maskapai bisa untung 3% saja sudah syukur.” (GLORIA N. DOLOROSA, BERLIANA ELISABETH S. & RAHAYUNINGSIH)    



Source : JIBI

Editor : Fajar Sidik

Berlangganan Epaper Bisnis Indonesia Cuma Rp10 Juta Seumur Hidup, Mau? Klik disini!
 

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.