Navigasi Bisnis Terpercaya

Selasa 24 Januari 2017

BISNIS INDONESIA MINGGU: Berebut Pasar Penerbangan Murah

Redaksi Minggu, 19/05/2013 06:13 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA - Maskapai bersaing ketat memberikan layanan penerbangan untuk semua kalangan seiring dengan bertumbuhnya pendapatan masyarakat. Harga tiket semakin murah, menjangkau masyarakat kelas menengah.

Penumpang yang dulunya mengandalkan moda transportasi bus dan kereta api beralih ke pesawat berbiaya murah. Bagaimana mereka tidak pindah, bila harga tiket kereta api hampir sama dengan harga tiket pesawat.

Misalnya saja, tiket pesawat terbang Jakarta-Semarang pada 14 Mei 2013 untuk maskapai penerbangan Lion Air dan Air Asia masing-masing dipatok Rp395.000 dan Rp318.000 dengan waktu tempuh 1 jam.

Bandingkan dengan tiket kereta api Sembrani seharga Rp230.000-Rp280.000 dengan waktu tempuh 6,5 jam.

Bagaimana dengan bus? Harga tiket berkisar Rp110.000-Rp170.000 dengan waktu tempuh 10 jam. Selisih harga tiket yang tidak terlalu jauh dengan waktu tempuh yang berbeda jauh tentunya akan membuat sebagian besar penumpang memilih perjalanan
dengan pesawat.

Bermula dari ambisi Rusdi Kirana, si pemilik maskapai penerbangan Lion Air. Dengan mengusung slogan We Make People Fly, Lion Air yang didirikan pada Oktober 1999 dan mulai terbang pada Juni 2000 ini meruntuhkan anggapan bahwa yang bisa terbang hanya orang-orang kaya.

Dengan kehadiran Lion Air sebagai maskapai low cost carrier (LCC), menjadi awal era baru penerbangan dengan persaingan ketat di Tanah Air.

LCC atau sering juga disebut sebagai budget airlines atau no frills fl ight atau penerbangan tanpa makanan. Hal ini diberlakukan untuk menghemat biaya operasional yang mendorong harga tiketnya lebih murah.

Gayung bersambut, pada saat Lion Air mulai terbang perdana pada Juni 2000, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tengah elok-eloknya.

Pada awal tahun milenium tersebut, masyarakat kelas menengah di Indonesia tengah bertumbuh. Konsumsi kelas menengah ini berkontribusi 70% dari pertumbuhan ekonomi di Tanah Air.

Kementerian Perhubungan, selaku regulator penerbangan sipil, mencatat saat ini ada delapan maskapai yang melayani penerbangan bertarif rendah dan mampu menguasai 70% dari total penumpang udara nasional.

Direktur Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Djoko Murjatmodjo mengatakan kedelapan maskapai yang
tercatat melayani penerbangan LCC yakni Citilink, Mandala Airlines, Lion Air, Wings Air, Travira Air, Indonesia AirAsia,
Pelita Air, dan Susi Air.

“Sebelumnya ada sembilan, yakni Dirgantara Air Services, tetapi sekarang sudah tidak beroperasi lagi.”

Dia menjelaskan untuk kategori lainnya, yakni maskapai pelayanan kelas menengah tercatat ada 10 perusahaan yakni Sriwijaya Air, Batavia Air (kini sudah dinyatakan pailit), Merpati Nusantara Airlines, Trans Nusa, Kalstar Aviation, Trigana Air, Travel Express, Sky Aviation, Aviastar, dan Indonesia Air Transport.

Kategori lainnya yakni maskapai dengan pelayanan premium atau full services, hanya ada dua yakni Garuda Indonesia dan Pacific Royale.

Kementerian Perhubungan mencatat total penumpang udara sepanjang 2012 sebesar 72,46 juta atau naik hampir 10% dari 2011 dengan penumpang tertinggi dicatat Lion Air.

Total penumpang udara domestik sebanyak 63,62 juta orang dan internasional 8,85 juta. “Data ini masih belum fi nal, karena
belum semua maskapai melaporkan datanya. Namun untuk sementara, jumlah penumpang udara naik 10%,” kata Djoko.

Belum finalnya data penumpang udara ini untuk periode November dan Desember 2012, padahal pada periode tersebut biasanya jumlahnya lebih tinggi karena banyak hari liburnya.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti S. Gumay mengatakan jumlah penumpang udara nasional rata-rata naik 15%-17% per tahun. Jika jumlah penumpang udara pada 2011 sebanyak 66,04 juta, pada 2012 totalnya mencapai 76 juta.

Corporate Secretary PT Angkasa Pura (AP) II Trisno Heryadi mengatakan, pihaknya selaku pengelola 13 bandara mencatat, total pergerakan penumpang sepanjang 2012 sebanyak 81,03 juta atau naik 12% dari posisi tahun sebelumnya yang masih 72,3 juta.
 
Penumpang internasional tercatat sebanyak 14,63 juta (18%) dan domestik 66,4 juta (82%).

Djoko Murjatmodjo mengatakan persaingan di industri penerbangan nasional sangat ketat. Maskapai berlombalomba memberikan tarif rendah, di samping itu maskapai harus tetap menjaga standar keselamatan penerbangan.

“Persaingan tinggi sekali, margin kecil. Maskapai bisa untung 3% saja sudah syukur.” (GLORIA N. DOLOROSA, BERLIANA ELISABETH S. & RAHAYUNINGSIH)    


More From Makro Ekonomi

  • OJK Rancang Instrumen Investasi Baru

    07:28 WIB

    Besarnya kebutuhan dana untuk mendorong pembangunan infrastruktur nasional mendorong Otoritas Jasa Keuangan menyusun produk investasi khusus yang diterbitkan oleh manajer investasi untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur publik.

  • Beban Emiten Properti Berpotensi Naik

    07:14 WIB

    Wacana pemerintah menerapkan kebijakan pajak progresif untuk objek lahan diperkirakan dapat mengerek beban emiten properti. Emiten menilai, penerapan pajak progresif bakal membuat biaya pengembangan menjadi lebih tinggi sehingga mengerek harga jual.

  • Reksa Dana Terproteksi Kian Seksi

    07:06 WIB

    Reksa dana terproteksi diproyeksi semakin menarik seiring dengan lampu hijau penggunaan surat utang jangka pendek (medium term notes/MTN) sebagai aset dasar produk investasi tersebut.

  • Jurus Menceker & Mematuk Cuan

    06:58 WIB

    Tahun Monyet Api segera berlalu dan berganti menjadi tahun Ayam Api. Kendati bisnis yang bakal diuntungkan tidak akan jauh berbeda, tetapi ayam merupakan elemen logam sehingga kewaspadaan juga harus ditingkatkan. Pasalnya, elemen logam dan api sering kali tidak harmonis.

News Feed

  • Mengejar Target 392 Kilometer

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:52 WIB

    Tahun lalu, realisasi pengoperasian jalan tol baru tergolong sangat rendah. Dari 136 kilometer jalan tol yang ditargetkan beroperasi, hanya sepanjang 44 kilometer yang terealisasi atau 32%. Itu pun semuanya berasal dari jalan tol yang dibangun swasta.

  • Infrastruktur Jadi Kunci

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:44 WIB

    Produsen semen berusaha menekan selisih harga lewat pembangunan pabrik-pabrik pengepakan baru. Namun, wacana semen satu harga hanya bisa terealisasi lewat pembangunan infrastruktur

  • Penjualan Turun 0,3%

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:34 WIB

    Penurunan pasar sepeda motor di dalam negeri menekan capaian di level regional. Penjualan roda dua di Asean sepanjang JanuariNovember 2016 menurun 0,3%.

  • Pelat Merah Turut Berkontribusi

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:25 WIB

    Sejumlah perusahaan pelat merah yang menjalankan bisnis logistik digandeng pemerintah untuk ikut mengembangkan sentra-sentra kelautan dan perikanan terpadu atau SKPT yang akan dibangun di 12 pulau terluar tahun ini.

  • Investasi Makin Tak Menarik

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:14 WIB

    Tarif listrik berbasis energi baru dan terbarukan di Tanah Air bakal turun signifikan setelah pemerintah dalam waktu dekat menetapkan harga listrik energi hijau itu maksimal 85% dari biaya pokok produksi atau BPP listrik regional PLN.

Load More