Navigasi Bisnis Terpercaya

Minggu 11 Desember 2016

EDITORIAL BISNIS: Mengkapitalisasi Kuliner Indonesia

Redaksi Senin, 20/05/2013 11:11 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA—Tiga restoran Indonesia, yakni Mozaic di Bali (peringkat 64), restoran padang Garuda di Hayam Wuruk Jakarta (peringkat 79) dan Baan Aarya di Bintan (peringkat 101), masuk daftar restoran terbaik di Asia.

Peringkat restoran Indonesia, berdasarkan survei The Daily Meal, situs kuliner yang menjadi acuan para traveller, itu menggeser ribuan restoran lainnya yang tersebar di Asia, merujuk laporan Bloomberg yang mengutip situs tersebut.

Peringkat tersebut dinilai berdasarkan inovasi penyajian makanan, kesegaran makanan, kualitas, dan rasa masakan. Selain itu juga dinilai seluruh pengalaman bersantap, dari desain interior restoran, suasana ruang makan hingga keterampilan dan efisiensi layanan.

Tentu, laporan tersebut menambah keyakinan, bahwa industri kuliner Indonesia patut diperhitungkan. Selain itu, laporan itu menambah catatan positif atas industri kuliner Indonesia, setelah beberapa waktu lalu rendang Padang dan nasi goreng masuk dalam kategori citarasa terbaik dunia berdasarkan survei CNN News.

Tentu, tergantung bagaimana memanfaatkannya, implikasinya tidak hanya bagi perkembangan industri kuliner itu sendiri,  tetapi juga bagi industri pariwisata domestik sekaligus globalisasi industri kuliner Indonesia dalam persaingan di kancah turisme global.

Mengapa begitu? Kita tahu, geliat industri pariwisata kini sedang didorong oleh banyak negara, sebagai penyelamat setelah krisis ekonomi mendera sejumlah negara di Eropa dan Amerika.

Di beberapa negara Eropa, termasuk Inggris, Prancis dan Swiss, pariwisata bahkan sangat diandalkan sebagai dewa penyelamat, setelah tingkat pengangguran di negara-negara itu memasuki angka dua digit.

Sebagai contoh Inggris, dengan tingkat pengangguran mencapai 26%, pariwisata menjadi andalan untuk menyelamatkan ekonomi, sehingga kini sedang berbaik-baik dengan para turis dari luar Inggris untuk datang dan berbelanja, agar membantu geliat perekonomian domestik mereka kembali berputar.

Dalam konteks tersebut, industri kuliner menempati posisi yang sangat penting. Sayangnya, selama ini posisi kuliner Indonesia, jika dibandingkan dengan makanan Jepang atau China --dan Thailand-- masih tertinggal di banyak negara terutama di Eropa atau Amerika.

Hampir di semua negara Eropa dan Amerika, makanan China, Jepang dan Thailand lebih dominan, sehingga alternatif para turis dari Asia adalah makanan dari ketiga negara tersebut manakala tidak ingin bersantap dengan menu kuliner lokal di negara yang dikunjungi.

Apalagi, saat ini semakin banyak orang Indonesia yang bepergian ke luar negeri, tidak hanya ke Singapura atau negara Asia lainnya. Makin banyak orang Indonesia bepergian ke Eropa dan Amerika, sejalan dengan pertumbuhan kelas menengah baru yang berdaya beli tinggi dan memiliki uang.

Di situlah relevansinya. Maka, dalam konteks tersebut, kuliner Indonesia, yang semakin dikenal di kalanan traveller dunia, perlu dikapitalisasi untuk menambahkan benefit bagi perekonomian nasional.

Apalagi, menurut catatan Kementerian Pariwisata, Indonesia memiliki lebih dari 5.000 makanan lokal yang terdaftar. Artinya, bukan cuma promosi semata yang perlu dilakukan, melainkan banyak lagi upaya lain yang lebih agresif.

Beberapa tahun silam, misalnya, pemerintah China mendorong usahawan mereka untuk ekspansi restoran ke sejumlah negara Eropa, dan hasilnya terlihat kini. Banyak restoran China yang terkenal menjadi tujuan santap bagi turis Asia, manakala bepergian ke negara-negara Eropa.

Maka tiada lain, melalui sinergi Indonesian Incorporated, restoran Indonesia, industri pariwisata Indonesia, pelaku bisnis dan pemerintah perlu terus berbenah.

Tujuannya jelas, agar kuliner Indonesia dan restoran Indonesia semakin menancapkan kaki dalam industri pariwisata dunia. Bukan tidak mungkin, jika dilakukan dengan upaya yang sungguh-sungguh, restoran Indonesia akan mampu menjadi alternatif tujuan singgah bagi turis Indonesia atau Asia, yang sedang bepergian ke Eropa atau Amerika; bukan hanya restoran China, Jepang atau Thailand.

Dan tentu saja sebaliknya, keunggulan itu juga menjadi daya tarik di pasar turisme domestik, yang juga sangat menjanjikan. Kekhasan kuliner dan keunggulan citarasa masakan Indonesia itu dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan mancanegara, untuk berkunjung ke Indonesia.

Maka, dengan cara tersebut, kuliner Indonesia dapat dikapitalisasi lebih jauh, dan memberi benefit luas bagi perekonomian nasional. Tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru yang lebih luas, tetapi juga menambah pundi-pundi devisa bagi negara.

More From Makro Ekonomi

  • Galang Dana Abadi Via Reksa Dana

    09:42 WIB

    Reksa dana semakin dilirik untuk menggalang dana abadi institusi sosial, kesehatan, keagamaan, hingga pendidikan. Sepanjang tahun ini saja, setidaknya ada empat produk endowment fund baru yang diluncurkan

  • Atraksi yang Belum Kelar

    01:00 WIB

    PT Bumi Resources Tbk. tak pernah berhenti menjadi buah bibir. Ibarat kereta halilintar di Dunia Fantasy Ancol, mungkin begitu gambaran pergerakan harga saham BUMI sejak go public.

  • Emiten Masih Konservatif

    08:30 WIB

    Meski harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) mulai rebound, sejumlah emiten masih memasang target konservatif pada 2017

  • Trump Effect Hanya Sementara

    08:45 WIB

    Bursa Efek Indonesia yakin kondisi tertekannya indeks harga saham gabungan akibat Trump Effect tidak akan berlangsung lama

News Feed

  • Data China Terus Membaik

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 05:47 WIB

    China kembali membukukan perbaikan dalam data ekonomi terbarunya. Kondisi itu meredakan kekhawatiran terjadinya penurunan ekonomi negara tersebut.

  • Tak Ragu Kejar WP Kakap

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 03:42 WIB

    Pemerintah tidak ragu mengejar wajib pajak besar yang belum memanfaatkan program pengampunan pajak. Para wajib pajak kelas kakap atau prominen yang belum mengikuti tax amnesty diminta untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebe lum berakhir pada Maret 2017.

  • Mendambakan Industri Kreatif Kian Kinclong

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 01:01 WIB

    Data perkembangan industri kreatif yang dirilis Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Badan Pusat Statistik, pekan ini, semakin memberi keyakinan bahwa industri ini layak dijadikan sebagai salah satu penyokong perekonomian nasional.

  • Indonesia Menang Atas Churchill

    Jum'at, 09 Desember 2016 - 11:00 WIB

    Pemerintah berhasil menyelamatkan uang negara senilai US$1,31 miliar setelah International Centre for Settlement of Investments Disputes (ICSID) menolak gugatan arbitrase Churchill Mining Plc. dan Planet Mining Pty Ltd.

  • CPGT Cari Suntikan Dana Segar

    Jum'at, 09 Desember 2016 - 10:53 WIB

    PT Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk. memasukkan klausul investor baru dalam rencana perdamaian sebagai sumber pembiayaan dalam proses restrukturisasi utang.

Load More