Navigasi Bisnis Terpercaya

Kamis 30 Maret 2017

EDITORIAL BISNIS: Mengkapitalisasi Kuliner Indonesia

Redaksi Senin, 20/05/2013 11:11 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA—Tiga restoran Indonesia, yakni Mozaic di Bali (peringkat 64), restoran padang Garuda di Hayam Wuruk Jakarta (peringkat 79) dan Baan Aarya di Bintan (peringkat 101), masuk daftar restoran terbaik di Asia.

Peringkat restoran Indonesia, berdasarkan survei The Daily Meal, situs kuliner yang menjadi acuan para traveller, itu menggeser ribuan restoran lainnya yang tersebar di Asia, merujuk laporan Bloomberg yang mengutip situs tersebut.

Peringkat tersebut dinilai berdasarkan inovasi penyajian makanan, kesegaran makanan, kualitas, dan rasa masakan. Selain itu juga dinilai seluruh pengalaman bersantap, dari desain interior restoran, suasana ruang makan hingga keterampilan dan efisiensi layanan.

Tentu, laporan tersebut menambah keyakinan, bahwa industri kuliner Indonesia patut diperhitungkan. Selain itu, laporan itu menambah catatan positif atas industri kuliner Indonesia, setelah beberapa waktu lalu rendang Padang dan nasi goreng masuk dalam kategori citarasa terbaik dunia berdasarkan survei CNN News.

Tentu, tergantung bagaimana memanfaatkannya, implikasinya tidak hanya bagi perkembangan industri kuliner itu sendiri,  tetapi juga bagi industri pariwisata domestik sekaligus globalisasi industri kuliner Indonesia dalam persaingan di kancah turisme global.

Mengapa begitu? Kita tahu, geliat industri pariwisata kini sedang didorong oleh banyak negara, sebagai penyelamat setelah krisis ekonomi mendera sejumlah negara di Eropa dan Amerika.

Di beberapa negara Eropa, termasuk Inggris, Prancis dan Swiss, pariwisata bahkan sangat diandalkan sebagai dewa penyelamat, setelah tingkat pengangguran di negara-negara itu memasuki angka dua digit.

Sebagai contoh Inggris, dengan tingkat pengangguran mencapai 26%, pariwisata menjadi andalan untuk menyelamatkan ekonomi, sehingga kini sedang berbaik-baik dengan para turis dari luar Inggris untuk datang dan berbelanja, agar membantu geliat perekonomian domestik mereka kembali berputar.

Dalam konteks tersebut, industri kuliner menempati posisi yang sangat penting. Sayangnya, selama ini posisi kuliner Indonesia, jika dibandingkan dengan makanan Jepang atau China --dan Thailand-- masih tertinggal di banyak negara terutama di Eropa atau Amerika.

Hampir di semua negara Eropa dan Amerika, makanan China, Jepang dan Thailand lebih dominan, sehingga alternatif para turis dari Asia adalah makanan dari ketiga negara tersebut manakala tidak ingin bersantap dengan menu kuliner lokal di negara yang dikunjungi.

Apalagi, saat ini semakin banyak orang Indonesia yang bepergian ke luar negeri, tidak hanya ke Singapura atau negara Asia lainnya. Makin banyak orang Indonesia bepergian ke Eropa dan Amerika, sejalan dengan pertumbuhan kelas menengah baru yang berdaya beli tinggi dan memiliki uang.

Di situlah relevansinya. Maka, dalam konteks tersebut, kuliner Indonesia, yang semakin dikenal di kalanan traveller dunia, perlu dikapitalisasi untuk menambahkan benefit bagi perekonomian nasional.

Apalagi, menurut catatan Kementerian Pariwisata, Indonesia memiliki lebih dari 5.000 makanan lokal yang terdaftar. Artinya, bukan cuma promosi semata yang perlu dilakukan, melainkan banyak lagi upaya lain yang lebih agresif.

Beberapa tahun silam, misalnya, pemerintah China mendorong usahawan mereka untuk ekspansi restoran ke sejumlah negara Eropa, dan hasilnya terlihat kini. Banyak restoran China yang terkenal menjadi tujuan santap bagi turis Asia, manakala bepergian ke negara-negara Eropa.

Maka tiada lain, melalui sinergi Indonesian Incorporated, restoran Indonesia, industri pariwisata Indonesia, pelaku bisnis dan pemerintah perlu terus berbenah.

Tujuannya jelas, agar kuliner Indonesia dan restoran Indonesia semakin menancapkan kaki dalam industri pariwisata dunia. Bukan tidak mungkin, jika dilakukan dengan upaya yang sungguh-sungguh, restoran Indonesia akan mampu menjadi alternatif tujuan singgah bagi turis Indonesia atau Asia, yang sedang bepergian ke Eropa atau Amerika; bukan hanya restoran China, Jepang atau Thailand.

Dan tentu saja sebaliknya, keunggulan itu juga menjadi daya tarik di pasar turisme domestik, yang juga sangat menjanjikan. Kekhasan kuliner dan keunggulan citarasa masakan Indonesia itu dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan mancanegara, untuk berkunjung ke Indonesia.

Maka, dengan cara tersebut, kuliner Indonesia dapat dikapitalisasi lebih jauh, dan memberi benefit luas bagi perekonomian nasional. Tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru yang lebih luas, tetapi juga menambah pundi-pundi devisa bagi negara.

More From Makro Ekonomi

  • Ambisi Tito Lampaui Aset Perbankan

    13:34 WIB

    "Hidup itu harus ada target. Setelah tembus Rp6.000 triliun, kami harap market cap bisa melampaui aset perbankan," ucap Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Kamis (23/3).

  • PPRO Garap Kertajati

    13:28 WIB

    PT PP Properti Tbk. melalui kerja sama dengan PT BIJB Aerocity Development akan mengembangkan kawasan bisnis seluas 300 hektare di kawasan Bandar Udara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat

  • Bisnis Indonesia Edisi Cetak Senin, 27 Maret 2017 Seksi Market

    01:48 WIB

    Berikut ini adalah ringkasan headlines BISNIS INDONESIA edisi cetak Senin, 27 Maret 2017. Untuk menyimak lebih lanjut, silahkan kunjungi http://epaper.bisnis.com/

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

News Feed

  • Gubernur BI Siap Bersaksi

    Rabu, 29 Maret 2017 - 16:42 WIB

    Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardoo dijadwalkan hadir dalam persidangan kasus korupsi pengadaan KTP elektronik, Kamis (30/3), dalam kapasitasnya sebagai saksi terhadap terdakwa Irman dan Sugoharto, mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri.

  • Asia Paper Diberi Tenggat 45 Hari

    Rabu, 29 Maret 2017 - 14:05 WIB

    Masa penundaan kewajiban pembayaran utang PT Asia Paper Mills akhirnya disepakati selama 45 hari, jauh dari harapan perseroan selaku debitur, yang mengajukan perpanjangan waktu 180 hari.

  • RI Bersiap Hadapi AS

    Rabu, 29 Maret 2017 - 12:11 WIB

    Indonesia bersiap menghadapi tudingan dumping dan subsidi dari Amerika Serikat atas produk biodiesel Tanah Air, setelah sebelumnya Uni Eropa menyampaikan tuduhan serupa

  • “Koperasi Bisa Menjadi Kekuatan Dahsyat”

    Rabu, 29 Maret 2017 - 11:52 WIB

    Pemerintah sejak awal sepakat menjadikan koperasi dan usaha kecil menengah (UKM) sebagai salah satu tulang punggung pertumbuhan ekonomi, dan berupaya terus menumbuhkan pelaku usahanya dengan berbagai kebijakan. Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Menteri Koperasi dan UKM menjelaskan upaya yang selama ini dilakukan pemerintah untuk koperasi dan UKM. Berikut ini petikan wawancaranya.

  • KKP Bidik Pemilik Kapal Jumbo

    Rabu, 29 Maret 2017 - 10:02 WIB

    Kementerian Kelautan dan Perikanan membidik perusahaan-perusahaan yang menjadi pemilik 16.000 kapal perikanan di atas 30 gros ton lulus sertifikasi hak asasi manusia sebagai parameter penilaian perpanjangan izin usaha.

Load More