Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 23 Juli 2016

EDITORIAL BISNIS: Mengkapitalisasi Kuliner Indonesia

Redaksi Senin, 20/05/2013 11:11 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA—Tiga restoran Indonesia, yakni Mozaic di Bali (peringkat 64), restoran padang Garuda di Hayam Wuruk Jakarta (peringkat 79) dan Baan Aarya di Bintan (peringkat 101), masuk daftar restoran terbaik di Asia.

Peringkat restoran Indonesia, berdasarkan survei The Daily Meal, situs kuliner yang menjadi acuan para traveller, itu menggeser ribuan restoran lainnya yang tersebar di Asia, merujuk laporan Bloomberg yang mengutip situs tersebut.

Peringkat tersebut dinilai berdasarkan inovasi penyajian makanan, kesegaran makanan, kualitas, dan rasa masakan. Selain itu juga dinilai seluruh pengalaman bersantap, dari desain interior restoran, suasana ruang makan hingga keterampilan dan efisiensi layanan.

Tentu, laporan tersebut menambah keyakinan, bahwa industri kuliner Indonesia patut diperhitungkan. Selain itu, laporan itu menambah catatan positif atas industri kuliner Indonesia, setelah beberapa waktu lalu rendang Padang dan nasi goreng masuk dalam kategori citarasa terbaik dunia berdasarkan survei CNN News.

Tentu, tergantung bagaimana memanfaatkannya, implikasinya tidak hanya bagi perkembangan industri kuliner itu sendiri,  tetapi juga bagi industri pariwisata domestik sekaligus globalisasi industri kuliner Indonesia dalam persaingan di kancah turisme global.

Mengapa begitu? Kita tahu, geliat industri pariwisata kini sedang didorong oleh banyak negara, sebagai penyelamat setelah krisis ekonomi mendera sejumlah negara di Eropa dan Amerika.

Di beberapa negara Eropa, termasuk Inggris, Prancis dan Swiss, pariwisata bahkan sangat diandalkan sebagai dewa penyelamat, setelah tingkat pengangguran di negara-negara itu memasuki angka dua digit.

Sebagai contoh Inggris, dengan tingkat pengangguran mencapai 26%, pariwisata menjadi andalan untuk menyelamatkan ekonomi, sehingga kini sedang berbaik-baik dengan para turis dari luar Inggris untuk datang dan berbelanja, agar membantu geliat perekonomian domestik mereka kembali berputar.

Dalam konteks tersebut, industri kuliner menempati posisi yang sangat penting. Sayangnya, selama ini posisi kuliner Indonesia, jika dibandingkan dengan makanan Jepang atau China --dan Thailand-- masih tertinggal di banyak negara terutama di Eropa atau Amerika.

Hampir di semua negara Eropa dan Amerika, makanan China, Jepang dan Thailand lebih dominan, sehingga alternatif para turis dari Asia adalah makanan dari ketiga negara tersebut manakala tidak ingin bersantap dengan menu kuliner lokal di negara yang dikunjungi.

Apalagi, saat ini semakin banyak orang Indonesia yang bepergian ke luar negeri, tidak hanya ke Singapura atau negara Asia lainnya. Makin banyak orang Indonesia bepergian ke Eropa dan Amerika, sejalan dengan pertumbuhan kelas menengah baru yang berdaya beli tinggi dan memiliki uang.

Di situlah relevansinya. Maka, dalam konteks tersebut, kuliner Indonesia, yang semakin dikenal di kalanan traveller dunia, perlu dikapitalisasi untuk menambahkan benefit bagi perekonomian nasional.

Apalagi, menurut catatan Kementerian Pariwisata, Indonesia memiliki lebih dari 5.000 makanan lokal yang terdaftar. Artinya, bukan cuma promosi semata yang perlu dilakukan, melainkan banyak lagi upaya lain yang lebih agresif.

Beberapa tahun silam, misalnya, pemerintah China mendorong usahawan mereka untuk ekspansi restoran ke sejumlah negara Eropa, dan hasilnya terlihat kini. Banyak restoran China yang terkenal menjadi tujuan santap bagi turis Asia, manakala bepergian ke negara-negara Eropa.

Maka tiada lain, melalui sinergi Indonesian Incorporated, restoran Indonesia, industri pariwisata Indonesia, pelaku bisnis dan pemerintah perlu terus berbenah.

Tujuannya jelas, agar kuliner Indonesia dan restoran Indonesia semakin menancapkan kaki dalam industri pariwisata dunia. Bukan tidak mungkin, jika dilakukan dengan upaya yang sungguh-sungguh, restoran Indonesia akan mampu menjadi alternatif tujuan singgah bagi turis Indonesia atau Asia, yang sedang bepergian ke Eropa atau Amerika; bukan hanya restoran China, Jepang atau Thailand.

Dan tentu saja sebaliknya, keunggulan itu juga menjadi daya tarik di pasar turisme domestik, yang juga sangat menjanjikan. Kekhasan kuliner dan keunggulan citarasa masakan Indonesia itu dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan mancanegara, untuk berkunjung ke Indonesia.

Maka, dengan cara tersebut, kuliner Indonesia dapat dikapitalisasi lebih jauh, dan memberi benefit luas bagi perekonomian nasional. Tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru yang lebih luas, tetapi juga menambah pundi-pundi devisa bagi negara.

More From Makro Ekonomi

  • Kompetisi Jadi Lebih Sehat

    10:23 WIB

    Persaingan antarperusahaan sekuritas diharapkan menjadi lebih sehat setelah adanya kesepakatan penetapan batas minimum fee dalam jasa perantara perdagangan efek sebesar 0,2% dari total nilai transaksi.

  • Emiten Menanti Efek Tax Amnesty

    09:56 WIB

    Sejumlah emiten memproyeksi kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty belum akan berdampak signifikan terhadap penjualan properti pada paruh kedua 2016.

  • Meramal Nasib APLN di Teluk Jakarta

    10:25 WIB

    "Agung Podomoro untuk Harmoni", sepenggal kalimat itu barangkali akrab di telinga pemirsa stasiun televisi. Penggalan jingle perusahaan pengembang PT Agung Podomoro Land Tbk. itu memang kerap menyemarakkan pariwara di televisi, terutama di program Property in Harmony.

  • OJK Suntik Insentif

    10:18 WIB

    toritas Jasa Keuangan resmi menurunkan batas minimal dana kelolaan instrumen investasi kontrak pengelolaan dana (KPD) dari Rp10 miliar menjadi Rp5 miliar dan telah merestui rencana BEI memberikan insentif aksi tender offer di lantai bursa.

News Feed

  • Menakar Keindahan Suaka Pajak

    Jum'at, 22 Juli 2016 - 14:52 WIB

    RI semakin gencar menarik dana milik para pengusaha agar berputar di dalam negeri.

  • Shima Seiki Hong Kong & Jepang Protes

    Jum'at, 22 Juli 2016 - 14:43 WIB

    Sejumlah kreditur separatis mengajukan keberatan atas daftar pembagian harta pailit PT Jaba Garmindo dan Djoni Gunawan yang dinilai jauh lebih rendah dari jumlah tagihan.

  • Jabar Batalkan Perda Naker di 3 Daerah

    Jum'at, 22 Juli 2016 - 14:20 WIB

    Pemerintah Provinsi Jawa Barat membatalkan Peraturan Daerah terkait dengan ketenagakerjaan di Karawang, Kota Bekasi dan Kota Cimahi.

  • Kontrak Operator Direstrukturisasi 2017

    Jum'at, 22 Juli 2016 - 13:30 WIB

    Perusahaan Daerah Air Minum DKI Jakarta atau PAM Jaya menyiapkan skema restrukturisasi kontrak kerja sama pengelolaan air dengan dua operator yaitu Palyja dan Aetra.

  • Permohonan Belum Terdaftar

    Jum'at, 22 Juli 2016 - 12:11 WIB

    Pimpinan Mahkamah Konstitusi belum dapat memastikan kapan sidang perdana gugatan terhadap uji materi UU Pengampunan Pajak digelar. Tiga permohonan itu baru memiliki nomor pendaftaran dan belum teregistrasi.

Load More