Navigasi Bisnis Terpercaya

Minggu 02 Oktober 2016

EDITORIAL BISNIS: Mengkapitalisasi Kuliner Indonesia

Redaksi Senin, 20/05/2013 11:11 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA—Tiga restoran Indonesia, yakni Mozaic di Bali (peringkat 64), restoran padang Garuda di Hayam Wuruk Jakarta (peringkat 79) dan Baan Aarya di Bintan (peringkat 101), masuk daftar restoran terbaik di Asia.

Peringkat restoran Indonesia, berdasarkan survei The Daily Meal, situs kuliner yang menjadi acuan para traveller, itu menggeser ribuan restoran lainnya yang tersebar di Asia, merujuk laporan Bloomberg yang mengutip situs tersebut.

Peringkat tersebut dinilai berdasarkan inovasi penyajian makanan, kesegaran makanan, kualitas, dan rasa masakan. Selain itu juga dinilai seluruh pengalaman bersantap, dari desain interior restoran, suasana ruang makan hingga keterampilan dan efisiensi layanan.

Tentu, laporan tersebut menambah keyakinan, bahwa industri kuliner Indonesia patut diperhitungkan. Selain itu, laporan itu menambah catatan positif atas industri kuliner Indonesia, setelah beberapa waktu lalu rendang Padang dan nasi goreng masuk dalam kategori citarasa terbaik dunia berdasarkan survei CNN News.

Tentu, tergantung bagaimana memanfaatkannya, implikasinya tidak hanya bagi perkembangan industri kuliner itu sendiri,  tetapi juga bagi industri pariwisata domestik sekaligus globalisasi industri kuliner Indonesia dalam persaingan di kancah turisme global.

Mengapa begitu? Kita tahu, geliat industri pariwisata kini sedang didorong oleh banyak negara, sebagai penyelamat setelah krisis ekonomi mendera sejumlah negara di Eropa dan Amerika.

Di beberapa negara Eropa, termasuk Inggris, Prancis dan Swiss, pariwisata bahkan sangat diandalkan sebagai dewa penyelamat, setelah tingkat pengangguran di negara-negara itu memasuki angka dua digit.

Sebagai contoh Inggris, dengan tingkat pengangguran mencapai 26%, pariwisata menjadi andalan untuk menyelamatkan ekonomi, sehingga kini sedang berbaik-baik dengan para turis dari luar Inggris untuk datang dan berbelanja, agar membantu geliat perekonomian domestik mereka kembali berputar.

Dalam konteks tersebut, industri kuliner menempati posisi yang sangat penting. Sayangnya, selama ini posisi kuliner Indonesia, jika dibandingkan dengan makanan Jepang atau China --dan Thailand-- masih tertinggal di banyak negara terutama di Eropa atau Amerika.

Hampir di semua negara Eropa dan Amerika, makanan China, Jepang dan Thailand lebih dominan, sehingga alternatif para turis dari Asia adalah makanan dari ketiga negara tersebut manakala tidak ingin bersantap dengan menu kuliner lokal di negara yang dikunjungi.

Apalagi, saat ini semakin banyak orang Indonesia yang bepergian ke luar negeri, tidak hanya ke Singapura atau negara Asia lainnya. Makin banyak orang Indonesia bepergian ke Eropa dan Amerika, sejalan dengan pertumbuhan kelas menengah baru yang berdaya beli tinggi dan memiliki uang.

Di situlah relevansinya. Maka, dalam konteks tersebut, kuliner Indonesia, yang semakin dikenal di kalanan traveller dunia, perlu dikapitalisasi untuk menambahkan benefit bagi perekonomian nasional.

Apalagi, menurut catatan Kementerian Pariwisata, Indonesia memiliki lebih dari 5.000 makanan lokal yang terdaftar. Artinya, bukan cuma promosi semata yang perlu dilakukan, melainkan banyak lagi upaya lain yang lebih agresif.

Beberapa tahun silam, misalnya, pemerintah China mendorong usahawan mereka untuk ekspansi restoran ke sejumlah negara Eropa, dan hasilnya terlihat kini. Banyak restoran China yang terkenal menjadi tujuan santap bagi turis Asia, manakala bepergian ke negara-negara Eropa.

Maka tiada lain, melalui sinergi Indonesian Incorporated, restoran Indonesia, industri pariwisata Indonesia, pelaku bisnis dan pemerintah perlu terus berbenah.

Tujuannya jelas, agar kuliner Indonesia dan restoran Indonesia semakin menancapkan kaki dalam industri pariwisata dunia. Bukan tidak mungkin, jika dilakukan dengan upaya yang sungguh-sungguh, restoran Indonesia akan mampu menjadi alternatif tujuan singgah bagi turis Indonesia atau Asia, yang sedang bepergian ke Eropa atau Amerika; bukan hanya restoran China, Jepang atau Thailand.

Dan tentu saja sebaliknya, keunggulan itu juga menjadi daya tarik di pasar turisme domestik, yang juga sangat menjanjikan. Kekhasan kuliner dan keunggulan citarasa masakan Indonesia itu dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan mancanegara, untuk berkunjung ke Indonesia.

Maka, dengan cara tersebut, kuliner Indonesia dapat dikapitalisasi lebih jauh, dan memberi benefit luas bagi perekonomian nasional. Tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru yang lebih luas, tetapi juga menambah pundi-pundi devisa bagi negara.

More From Makro Ekonomi

  • Pefindo Cermati Sektor Properti & Komoditas

    10:17 WIB

    Prospek penjualan properti yang masih tertekan dan tantangan yang masih berat bagi sektor komoditas membuat PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencermati prospek utang kedua sektor tersebut

  • Memaknai 1 Dekade ORI

    08:44 WIB

    Sudah 10 tahun pemerintah menerbitkan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) sebagai instrumen menarik untuk pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pamor ORI kian melambung bahkan menjadi incaran para investor pasar modal

  • Emiten Dibayangi La Nina

    08:31 WIB

    Mayoritas saham emiten sawit tumbuh positif sepanjang tahun berjalan. Namun, prospek kinerja perkebunan dibayangi oleh fenomena La Nina yang diproyeksi terjadi pada periode Oktober 2016 hingga Maret 2017

  • 2 Perusahaan Urung IPO

    11:01 WIB

    Dua korporasi mengurungkan rencananya untuk menggelar IPO saham. Mereka adalah PT Anugerah Berkah Madani Tbk. dan PT Megapower Makmur. Anugerah Berkah Madani malah sudah sampai tahap penawaran awal setelah mendapat pernyataan praefektif dari Otoritas Jasa Keuangan pada 15 Agustus 2016

News Feed

  • Perlukah Menyewa Perencana Keuangan?

    Minggu, 02 Oktober 2016 - 00:54 WIB

    Hampir semua orang mungkin sudah mengetahui dasar-dasar perencanaan keuangan

  • Belajar Sepanjang Hayat

    Minggu, 02 Oktober 2016 - 00:50 WIB

    Terlatih meneliti sejak dini, membuat Dosen dan Peneliti di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Catharina Badra Nawangpalupi senantiasa aktif dalam berbagai program penelitian, khususnya di bidang wirausaha, termasuk di dalamnya Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

  • Keyakinan

    Minggu, 02 Oktober 2016 - 00:49 WIB

    Satu lagi berita heboh mengenai dunia yang berbau mistik. Setelah nama Gatot Brajamusti yang kerap disapa Aa Gatot dengan bumbu-bumbu dari Reza Artamevia dan Elma Theana, sekarang muncul nama Kanjeng Dimas Taat Pribadi

  • Mencintai Pekerjaan, Serius Nih?

    Minggu, 02 Oktober 2016 - 00:47 WIB

    Ada kisah tentang seorang pemahat terkenal. Ternyata, raja pun menjadi sangat iri dengan ketenarannya. Patung karyanya dipasang di berbagai sudut kota dan banyak orang duduk berjam-jam mengagumi keindahan hasil karyanya

  • Kurir Sepeda di Belantara Jakarta

    Minggu, 02 Oktober 2016 - 00:44 WIB

    Berawal dari perkumpulan para penghobi aktivitas bersepeda, sejumlah komunitas gowes sepeda akhirnya menjelma menjadi unit bisnis jasa pengiriman barang yang keuntungannya cukup menggiurkan

Load More