Navigasi Bisnis Terpercaya

Selasa 24 Januari 2017

EDITORIAL BISNIS: Mengkapitalisasi Kuliner Indonesia

Redaksi Senin, 20/05/2013 11:11 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA—Tiga restoran Indonesia, yakni Mozaic di Bali (peringkat 64), restoran padang Garuda di Hayam Wuruk Jakarta (peringkat 79) dan Baan Aarya di Bintan (peringkat 101), masuk daftar restoran terbaik di Asia.

Peringkat restoran Indonesia, berdasarkan survei The Daily Meal, situs kuliner yang menjadi acuan para traveller, itu menggeser ribuan restoran lainnya yang tersebar di Asia, merujuk laporan Bloomberg yang mengutip situs tersebut.

Peringkat tersebut dinilai berdasarkan inovasi penyajian makanan, kesegaran makanan, kualitas, dan rasa masakan. Selain itu juga dinilai seluruh pengalaman bersantap, dari desain interior restoran, suasana ruang makan hingga keterampilan dan efisiensi layanan.

Tentu, laporan tersebut menambah keyakinan, bahwa industri kuliner Indonesia patut diperhitungkan. Selain itu, laporan itu menambah catatan positif atas industri kuliner Indonesia, setelah beberapa waktu lalu rendang Padang dan nasi goreng masuk dalam kategori citarasa terbaik dunia berdasarkan survei CNN News.

Tentu, tergantung bagaimana memanfaatkannya, implikasinya tidak hanya bagi perkembangan industri kuliner itu sendiri,  tetapi juga bagi industri pariwisata domestik sekaligus globalisasi industri kuliner Indonesia dalam persaingan di kancah turisme global.

Mengapa begitu? Kita tahu, geliat industri pariwisata kini sedang didorong oleh banyak negara, sebagai penyelamat setelah krisis ekonomi mendera sejumlah negara di Eropa dan Amerika.

Di beberapa negara Eropa, termasuk Inggris, Prancis dan Swiss, pariwisata bahkan sangat diandalkan sebagai dewa penyelamat, setelah tingkat pengangguran di negara-negara itu memasuki angka dua digit.

Sebagai contoh Inggris, dengan tingkat pengangguran mencapai 26%, pariwisata menjadi andalan untuk menyelamatkan ekonomi, sehingga kini sedang berbaik-baik dengan para turis dari luar Inggris untuk datang dan berbelanja, agar membantu geliat perekonomian domestik mereka kembali berputar.

Dalam konteks tersebut, industri kuliner menempati posisi yang sangat penting. Sayangnya, selama ini posisi kuliner Indonesia, jika dibandingkan dengan makanan Jepang atau China --dan Thailand-- masih tertinggal di banyak negara terutama di Eropa atau Amerika.

Hampir di semua negara Eropa dan Amerika, makanan China, Jepang dan Thailand lebih dominan, sehingga alternatif para turis dari Asia adalah makanan dari ketiga negara tersebut manakala tidak ingin bersantap dengan menu kuliner lokal di negara yang dikunjungi.

Apalagi, saat ini semakin banyak orang Indonesia yang bepergian ke luar negeri, tidak hanya ke Singapura atau negara Asia lainnya. Makin banyak orang Indonesia bepergian ke Eropa dan Amerika, sejalan dengan pertumbuhan kelas menengah baru yang berdaya beli tinggi dan memiliki uang.

Di situlah relevansinya. Maka, dalam konteks tersebut, kuliner Indonesia, yang semakin dikenal di kalanan traveller dunia, perlu dikapitalisasi untuk menambahkan benefit bagi perekonomian nasional.

Apalagi, menurut catatan Kementerian Pariwisata, Indonesia memiliki lebih dari 5.000 makanan lokal yang terdaftar. Artinya, bukan cuma promosi semata yang perlu dilakukan, melainkan banyak lagi upaya lain yang lebih agresif.

Beberapa tahun silam, misalnya, pemerintah China mendorong usahawan mereka untuk ekspansi restoran ke sejumlah negara Eropa, dan hasilnya terlihat kini. Banyak restoran China yang terkenal menjadi tujuan santap bagi turis Asia, manakala bepergian ke negara-negara Eropa.

Maka tiada lain, melalui sinergi Indonesian Incorporated, restoran Indonesia, industri pariwisata Indonesia, pelaku bisnis dan pemerintah perlu terus berbenah.

Tujuannya jelas, agar kuliner Indonesia dan restoran Indonesia semakin menancapkan kaki dalam industri pariwisata dunia. Bukan tidak mungkin, jika dilakukan dengan upaya yang sungguh-sungguh, restoran Indonesia akan mampu menjadi alternatif tujuan singgah bagi turis Indonesia atau Asia, yang sedang bepergian ke Eropa atau Amerika; bukan hanya restoran China, Jepang atau Thailand.

Dan tentu saja sebaliknya, keunggulan itu juga menjadi daya tarik di pasar turisme domestik, yang juga sangat menjanjikan. Kekhasan kuliner dan keunggulan citarasa masakan Indonesia itu dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan mancanegara, untuk berkunjung ke Indonesia.

Maka, dengan cara tersebut, kuliner Indonesia dapat dikapitalisasi lebih jauh, dan memberi benefit luas bagi perekonomian nasional. Tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru yang lebih luas, tetapi juga menambah pundi-pundi devisa bagi negara.

More From Makro Ekonomi

  • OJK Rancang Instrumen Investasi Baru

    07:28 WIB

    Besarnya kebutuhan dana untuk mendorong pembangunan infrastruktur nasional mendorong Otoritas Jasa Keuangan menyusun produk investasi khusus yang diterbitkan oleh manajer investasi untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur publik.

  • Beban Emiten Properti Berpotensi Naik

    07:14 WIB

    Wacana pemerintah menerapkan kebijakan pajak progresif untuk objek lahan diperkirakan dapat mengerek beban emiten properti. Emiten menilai, penerapan pajak progresif bakal membuat biaya pengembangan menjadi lebih tinggi sehingga mengerek harga jual.

  • Reksa Dana Terproteksi Kian Seksi

    07:06 WIB

    Reksa dana terproteksi diproyeksi semakin menarik seiring dengan lampu hijau penggunaan surat utang jangka pendek (medium term notes/MTN) sebagai aset dasar produk investasi tersebut.

  • Jurus Menceker & Mematuk Cuan

    06:58 WIB

    Tahun Monyet Api segera berlalu dan berganti menjadi tahun Ayam Api. Kendati bisnis yang bakal diuntungkan tidak akan jauh berbeda, tetapi ayam merupakan elemen logam sehingga kewaspadaan juga harus ditingkatkan. Pasalnya, elemen logam dan api sering kali tidak harmonis.

News Feed

  • Mengejar Target 392 Kilometer

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:52 WIB

    Tahun lalu, realisasi pengoperasian jalan tol baru tergolong sangat rendah. Dari 136 kilometer jalan tol yang ditargetkan beroperasi, hanya sepanjang 44 kilometer yang terealisasi atau 32%. Itu pun semuanya berasal dari jalan tol yang dibangun swasta.

  • Infrastruktur Jadi Kunci

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:44 WIB

    Produsen semen berusaha menekan selisih harga lewat pembangunan pabrik-pabrik pengepakan baru. Namun, wacana semen satu harga hanya bisa terealisasi lewat pembangunan infrastruktur

  • Penjualan Turun 0,3%

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:34 WIB

    Penurunan pasar sepeda motor di dalam negeri menekan capaian di level regional. Penjualan roda dua di Asean sepanjang JanuariNovember 2016 menurun 0,3%.

  • Pelat Merah Turut Berkontribusi

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:25 WIB

    Sejumlah perusahaan pelat merah yang menjalankan bisnis logistik digandeng pemerintah untuk ikut mengembangkan sentra-sentra kelautan dan perikanan terpadu atau SKPT yang akan dibangun di 12 pulau terluar tahun ini.

  • Investasi Makin Tak Menarik

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:14 WIB

    Tarif listrik berbasis energi baru dan terbarukan di Tanah Air bakal turun signifikan setelah pemerintah dalam waktu dekat menetapkan harga listrik energi hijau itu maksimal 85% dari biaya pokok produksi atau BPP listrik regional PLN.

Load More