Rabu, 23 Juli 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

PERKEBUNAN: Ketika Semua Berlomba ke Sawit

Martin Sihombing   -   Selasa, 21 Mei 2013, 16:36 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA--Dalam laporan resmi Oil World, yang berbasis di Hamburg, Jerman, pada tahun lalu permintaan minyak sawit global diprediksi bakal meningkat, double. Pasok berlimpah. Harga tetap menarik dibanding minyak nabati lain seperti minyak kedelai, minyak sayur.

Dari  Oktober 2012-September 2013, impor minyak sawit cenderung meningkat menjadi 43,19 juta ton dari 40, 31 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Permintaan global pada periode Oktober 2012-September 2013, impor minyak palm kernel –turunan lain dari CPO-- akan naik menjadi 3,39 juta ton dari 3,05 juta ton pada tahun sebelumnya.

"Konsumsi fundamental untuk minyak kelapa sawit dan palm kernel akan sangat menguntungkan pada paruh kedua 2012-13 karena memiliki pasokan minyak dan lemak yang cukup serta masih luasnya diskon harga  dari produk kelapa sawit dari minyak lainnya," kata Oil World.

Oil World memperkirakan pasokan minyak sawit dan minyak inti sawit akan mencapai total 42,80 juta ton pada April-September 2013, naik 3,5 juta ton dari  periode yang sama pada tahun lalu. China dan India cenderung masih menjadi salah satu importir utama dalam beberapa bulan mendatang, katanya. Indonesia dan Malaysia adalah eksportir terbesar minyak sawit dunia.

Ditambah lagi pertumbuhan pemakaian minyak sawit mentah di berbagai industri dan terus membesarnya nafsu makan manusia menggenjot permintaan  global untuk minyak dan lemak, makanan olahan. Termasuk untuk kosmetik, dan bio-diesel. Ini mendorong investor terus mendirikan pabrik kelapa sawit dan kilang di Asia Tenggara.

Devisa negara dari ekspor CPO  ke  China, Uni Erofa, Amerika, India,  pada 2011 volumenya 16.5 juta ton,  2012 prediksi naik 8% menjadi 17,5 juta hingga 18 juta ton. Pada periode 2010-2014 Indonesia akan mendapatkan devisa US$80,9 miliar dari ekspor  crude palm oil. Penghasilan dari industri kelapa sawit nasional dalam kurun 2010-2014 diproyeksikan mencapai US$80,9 miliar.

Data BPS mencatat, devisa atau penerimaan negara dari hasil ekspor produk sawit sekitar US$11 miliar  pada  2009 dan meningkat pada 2010 menjadi US$15 miliar  (sekitar Rp150 triliun) atau sekitar 10%  dari total APBN.

Dari data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), negara tujuan ekspor CPO dan turunannya masih didominasi oleh India dengan volume mencapai 779.000  ton atau 38% dari total keseluruhan ekspor CPO Indonesia pada  Januari 2013. Pada  Februari, permintaan CPO India  653.000  ton, atau sekitar 34% dari total volume ekspor.

Sementara pada Maret ekspor ke negara Bollywood ini mencapai 416.000  ton atau 24,4% dari keseluruhan ekspor CPO Indonesia. Seperti yang dicatat Gapki total volume ekspor CPO dan turunannya ke India selama triwulan pertama 2013 adalah 1,85 juta ton atau naik 22,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 1,43juta ton. India masih tetap menjadi pengimpor terbesar CPO dari Indonesia.

Sementara itu, ekspor  CPO dan turunan ke China  naik dari 487.000  ton menjadi 639.000 pada tahun ini. Pergerakan harga CPO yang relatif rendah ini diperkirakan masih akan berlangsung pada  April  hingga Mei.

Gapki  memperkirakan harga CPO pada   Mei  akan bergerak di kisaran harga US$830-US$870  per  ton. Harga CPO Rotterdam diperkirakan berada pada rata-rata sekitar US$850  dengan Harga Patokan Ekspor sekitar US$778  dan bea keluar  10,5%.

Keuntungan bisnis CPO, turun ke industri ikutannya. Di mana  menciptakan pasar yang menguntungkan untuk bisnis solusi air dan pengolahan air limbah (W& WWT)  di wilayah (perkebunan) tersebut.  Analisis terbaru dari Frost & Sullivan (http://www.environmental.frost.com) bertajuk Solusi Pasar Air dan Pengolahan Air Limbah di Industri Minyak Sawit di Asia Tenggara, memperlihatkan   pasar meraup pendapatan  US$106,30 juta   pada  2012 dan diperkirakan akan mencapai US$145,0 juta pada 2016.

Hasil riset Rabobank International memproyeksikan konsumsi minyak nabati dunia terus meningkat dan akan mencapai 180 juta ton pada  2020, dimana 68 juta ton atau 38% dari jumlah itu adalah minyak sawit.

Permintaan minyak sawit terutama didorong oleh ekonomi-ekonomi besar China dan India yang pada 2020 akan mengonsumsi 40% dari minyak nabati dunia. Dalam riset tersebut menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Asia yang semakin berkembang dalam 10 tahun mendatang mendorong ekspansi perkebunan sawit secara umum, meski demikian peluang ini akan terbatasi oleh ketersediaan lahan.

Tak ayal, Malaysia pun kepincut. Ekspansi besar-besaran dilakukan. Termasuk di Indonesia. Lion Forest Industries Berhad (LFIB), melalui anak perusahaannya LFIB Plantations Sdn Bhd,  mengakuisisi perusahaan perkebunan sawit Indonesia PT Varita Majutama senilai US$63,75 juta.

PT Varita Majutama, di Teluk Bintuni, Papua Barat, menguasai hak guna usaha utuk perkebunan sawit seluas 17.270 hektare selama 35 tahun. Bahkan mendapat izin dari Kementerian Kehutanan untuk mengubah hutan di wilayah yang sama seluas 35.371 hektar untuk menjadi perkebunan kelapa sawit.

LFIB juga mengakuisisi 100% kepemilikan PT Varita Majutama di dua perusahaan yang ada di bawah perusahaan ini, yaitu 70% dari PT Karya Tekhnik Utama dengan nilai sekitar US$44,62 juta  dan 30% sisanya dari perusahaan Singapura Kyosen Transport senilai US$19,13 juta.

Kemudian Fima Corp Bhd,  memiliki sekitar 19.000 hektare. Sime Darby Grup, melalui anak usahanya,  PT Minamas Gemilang, memiliki 23 pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia dengan kapasitas 20.500 ton TBS per hari. Total kapasitas pabrik kelapa sawit sebesar 1.025 ton per jam untuk 20 jam setiap hari.

Mereka  pun  membuka pabrik baru pengolahan minyak kelapa sawit (refinery) pada kuartal III/2012. Investasi pendirian pabrik refinery itu sekitar Rp936 miliar. 

Minamas  memiliki landbank di Indonesia seluas 288.057 hektare. Lahan yang sudah ditanami  205.000 ha di antaranya 105.000 ha  telah menghasilkan minyak kelapa sawit. Produksi tandan buah segar  pada Juni 2011-Juli 2012 sekitar 1 juta ton TBS. Perusahaan ini, akan menanami lagi lahan yang belum dimanfaatkan sekitar 75.000 hektar.

Luas perkebunan kelapa sawit milik perusahaan asal Malaysia di Indonesia diperkirakan mencapai 1,5-2,0 juta hektare atau 18,5%-24,7% dari total perkebunan sawit di Tanah Air 8,1 juta ha.

Saat ini, investor besar di sektor ini bersaing dalam mengamankan tanah lebih untuk ekspansi. Sejauh ini investor terutama asing sudah menguasai sekitar 2 juta hektare lahan untuk perkebunan kelapa sawit. Berdasarkan data Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), pada  2010, investor Malaysia telah mengakuisisi 230 perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Para investor asing adalah kelompok perusahaan besar seperti Golden Hope dan Syme Darbi dari Malaysia, dan Wilmar Group dari Singapura dengan konsesi di Kalimantan dan Sumatra.

Bahkan masih  banyak investor asing yang mengincar konsesi untuk perkebunan di negara di mana setidaknya ada 30 juta hektare lahan hutan rusak yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kelapa sawit, minyak karet dan perkebunan tebu.

Bahkan, dari  hasil penelitian Jan Willem van Gelder & Barbara Kueppe berjudul “Investments by Japanese Bank in the Malaysian and Indonesian Palm Oil” yang dipublikasikan 18 Jul 2012, ada 15  lembaga keuangan Jepang telah ditemukan  terlibat dalam pembiayaan 19 perusahaan  di sektor kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia.

Beberapa lembaga keuangan  yang diidentifikasi dalam penelitian ini adalah usaha patungan dari beberapa perusahaan.  Beberapa juga memiliki hubungan yang  kuat dengan konglomerat Jepang Sumitomo Mitsui.

• DIAM: perusahaan patungan antara Mizuho Financial Group (50%) dan Dai-Ichi Life Insurance (50%).

• Daiwa SB Investments: Daiwa Securities Group dan Sumitomo Mitsui Financial Group masing-masing  44%.

• Sumitomo Mitsui Asset Management: Sumitomo Life Insurance memegang 40%, MS & AD dan Sumitomo Mitsui Financial Group masing-masing memegang 27,5%. 

Berdasarkan hasil ini, tiga lembaga keuangan muncul sebagai yang paling aktif dalam minyak sawit  sektor di Indonesia dan Malaysia:

• Mitsubishi UFJ Financial Group: Dikelola oleh Investment funds Mitsubishi UFJ Financial Grup memiliki saham di 11 perusahaan. Bank ini berpartisipasi dalam satu penerbitan obligasi sejak Juli 2007 dan memberikan pinjaman kepada delapan perusahaan.

• Mizuho Financial Group: Dikelola oleh investment funds Mizuho Financial Group memiliki saham di delapan perusahaan dan obligasi di satu perusahaan. Mizuho terlibat dalam pinjaman kepada empat perusahaan.

• Sumitomo Mitsui Financial Group: Sumitomo Mitsui Financial Group juga muncul. Dikelola oleh investment funds, memiliki saham di delapan perusahaan. Juga  memberikan pinjaman kepada empat  perusahaan.

• Sumitomo Mitsui Trust Holdings: Dikelola oleh Investment funds  Sumitomo Mitsui Trust Holdings memiliki saham di sepuluh perusahaan dan bertindak sebagai penjamin emisi di salah satu penerbitan obligasi.

•Lembaga keuangan Jepang lainnya yang investment funds-nya  memiliki saham di perusahaan

aktif di sektor kelapa sawit Indonesia dan Malaysia termasuk Dai-ichi Life Insurance, Daiwa Securities Group, Meiji Yasuda Life Insurance, MS & AD, Nippon Life Insurance,

NKSJ Holdings, Nomura Holdings, Okasan Securities Group, Sumitomo Life Insurance, T & D Holdings dan Tokio Marine Group.

•Lembaga keuangan Jepang juga  terlibat dengan perusahaan  agribisnis internasional  Wilmar International, Bunge, Cargill dan Noble, dan perusahaan perkebunan kelapa sawit  Sime Darby, Astra Agro Lestari dan IOI Group.(msb)

 


Editor : Martin Sihombing

Siapa peraih GRAND PRIZE 1 UNIT MOTOR Tebak Skor & Juara Brasil 2014? Klik DI SINI!.
 

THR dari Bisnis Indonesia: Berlangganan ePaper seumur hidup hanya Rp10 juta. Terbatas hingga 31 Juli, klik DI SINI!.

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.