Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 28 Mei 2016

Pandangan Ekonomi Capres 2014

Editor Jum'at, 31/05/2013 07:04 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA -- Pemilihan presiden masih sekitar 1,5 tahun lagi tetapi perhatian terhadap hal ini sudah sangat
besar dari pelaku serta analis ekonomi dalam dan luar negeri.Mereka pada umumnya bertanya apa yang  menjadi pandangan para Capres (Calon Presiden) me ngenai kebijakan ekonomi mereka.

Apakah akan terjadi perubahan signifikan dalam kebijakan ekonomi nan tinya dan bagai mana prospek ekonomi ke depan.

Dari survei yang dilakukan CSIS, Capres yang berada pada posisi atas adalah Joko Widodo, Megawati dan Prabowo. Kemudian disusul oleh Abu rizal Bakrie, Jusuf Kalla, Mahfud MD dan Hatta Rajasa.

Sedangkan Capres yang kemungkinan akan diorbitkan dalam konvensi Partai Demokrat antara lain adalah Dahlan Iskan,
Gita Wir ja wan, Pramono Edie dan Chaerul Tanjung.

Pandangan ekonomi Jokowi sangat menekankan pada mengangkat perekonomian dan kesejahteraan golongan bawah (melalui kesehatan dan pendidikan) dan menekankan pada pembangunan prasarana umum, seperti transportasi massal.
Pandangan ekonomi Megawati kita ketahui ketika ia menjadi Presiden.

Sekali pun pada dasarnya adalah nasionalisme ekonomi tetapi dalam prakteknya lebih pragmatis.

Tentu saja perhatian yang besar dibe rikan kepada peningkatan kesejahteraan wong cilik.

Pandangan ekonomi Prabowo adalah kental dengan semangat nasional isme, melihat ke dalam kepentingan nasional, dan cenderung antiasing.

Retorikanya adalah juga pada memperkuat peran petani.

Pandangan ekonomi Aburizal Bakrie sebagaimana kita ketahui dari platform Golkar adalah membangun negara kesejahteraan dalam jangka panjang, dengan mendorong pertumbuhan tinggi melalui kekuatan SDM dan tekno logi.

Perhatian juga diberikan pada pembangunan desa dan kewiraswastaan.

Jusuf Kalla memberikan penekanan pada kekuatan ekonomi nasi onal, pengusaha nasional, khususnya pribumi, dan pemerataan wilayah (khususnya kawasan timur).

Hatta Rajasa sebagaimana kiprahnya sebagai Menko Perekonomian jelas memberikan penekanan pada pertumbuhan
tinggi, mengurangi pengangguran dan kemiskinan secara drastis melalui kebijak an aktif pemerintah, serta mengintegrasikan perekonomian nasional melalui pembangunan koridor di daerah-daerah.

Pandangan ekonomi Mahfud be lum banyak kita ketahui, tetapi pada saat ia menjadi Ketua MK maka nuansa kepentingan
nasional sangat kuat. Tentu saja pemihakannya pada golongan bawah juga kuat.

Dahlan Iskan pandangan ekonominya kita ketahui terutama dalam perannya sebagai Menteri BUMN. Ia mengutamakan pada kekuatan ekonomi nasional dengan BUMN di depan serta mendorong perkembangan ekonomi golongan bawah.

Menarik untuk disimak Capres yang semakin banyak disebut yaitu Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dan Ketua KEN (Komite Ekonomi Nasional) Chaerul Tanjung.

KEKUATAN PRODUKSI

Gita Wirjawan semakin jelas pandangan ekonominya dengan me nye imbangkan kekuatan dalam negeri dan modal asing (serta impor). Ia semakin gencar mengarahkan pada kekuatan produksi dan distribusi dalam negeri, dengan sikap realistis terhadap investor asing yang harus tunduk pada aturan Indonesia.

Perhatiannya juga semakin kuat pada pemberdayaan pelaku ekonomi UMKM dalam menciptakan kesempatan kerja dan kebijakan aktif pemerintah dalam mengurangi kemiskinan.

Chaerul Tanjung melihat prospek perekonomian Indonesia yang baik dalam jangka panjang yang memberikan
peluang besar bagi ekonomi Indonesia untuk berkembang dan maju.

Dia juga menekankan pada mengatasi ketimpangan, dan pengurangan signifikan pengang guran dan kemiskinan
dengan kebijakan aktif pemerintah.

Melihat secara garis besar pandangan ekonomi para capres, tampaknya mereka mempunyai komitmen kuat bagi kelanjutan pembangunan dengan pertumbuhan yang lebih tinggi dan peran serta yang lebih besar dari kekuatan ekonomi
nasional serta masyarakat luas.

Perbedaan mereka adalah pada penekanan dan pilihan kebijakan dan nantinya adalah kemampuan dalam implementasi.

 

Penulis: Umar Juoro

Peneliti senior Cides & Habibie Centre

More From Makro Ekonomi

  • Emiten Tetap Ekspansif

    07:55 WIB

    Alokasi belanja modal dari sejumlah emiten pada tahun ini terlihat cukup ekspansif seiring dengan ekspektasi membaiknya perekonomian Tanah Air.

  • Consumer Goods Jadi Primadona

    07:50 WIB

    Momentum puasa dan lebaran diproyeksi membuat sektor consumer goods bakal menjadi primadona saat Indeks harga saham gabungan menghadapi kemungkinan tekanan kenaikan suku bunga Federal Reserve.

  • Investor Belum Antusias

    06:12 WIB

    Meski otoritas gencar menyosialisasikan dan memberikan insentif investasi di instrumen syariah, investor masih belum antusias berinvestasi dalam instrumen reksa dana syariah.

  • Obligasi BUMN Siap Banjiri Pasar

    06:01 WIB

    Sejumlah badan usaha milik negara mulai menyiapkan aksi korporasi mencari dana alternatif dari penerbitan obligasi selain pola lama mengandalkan pinjaman dari perbankan.

News Feed

  • Wanita pun Jadi 'Pedator' di Dunia Maya

    Sabtu, 28 Mei 2016 - 02:24 WIB

    Tren pelecehan wanita di dunia maya tampaknya perlu dicermati. Apalagi, batasan etika dan norma di media sosial kian.

  • Kedekatan Khusus Indonesia-Jepang

    Sabtu, 28 Mei 2016 - 01:42 WIB

    Syahdan, saat bertemu dalam KTT Asean November 2015 di Kuala Lumpur, Malaysia, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe secara terus terang mengungkapkan kekecewaannya kepada Presiden Joko Widodo karena Indonesia lebih memilih China untuk menggarap proyek kereta api super cepat Jakarta-Bandung.

  • Leadership Minus Followership?

    Jum'at, 27 Mei 2016 - 13:57 WIB

    Kepemimpinan mendapat perhatian besar dalam kajian manajemen, organisasi, dan demokrasi. Sebaliknya, kepengikutan jarang dibahas. Kalaupun dibahas, sering hanya merupakan bagian atau chapter dari bahasan mengenai kepemimpinan.

  • UMKM Kian Menjamur

    Jum'at, 27 Mei 2016 - 10:16 WIB

    UMKM baru di Kabupaten Kediri terus bermunculan, terlihat dari realisasi investasi nonfasilitas pada kuartal I/2016 yang mencapai Rp60,9 miliar atau tumbuh 33,2% dari pencapaian periode sama tahun lalu.

  • Mengurai Benang Kusut Kemacetan DKI

    Jum'at, 27 Mei 2016 - 09:58 WIB

    Upaya memecah kemacetan di daerah padat penduduk seperti Jabodetabek memang seperti mengurai benang kusut. Permasalahannya kompleks. Sulit dipecahkan, tetapi harus segera dilakukan atas nama pelayanan publik.

Load More