Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Juni 2016

Pandangan Ekonomi Capres 2014

Editor Jum'at, 31/05/2013 07:04 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA -- Pemilihan presiden masih sekitar 1,5 tahun lagi tetapi perhatian terhadap hal ini sudah sangat
besar dari pelaku serta analis ekonomi dalam dan luar negeri.Mereka pada umumnya bertanya apa yang  menjadi pandangan para Capres (Calon Presiden) me ngenai kebijakan ekonomi mereka.

Apakah akan terjadi perubahan signifikan dalam kebijakan ekonomi nan tinya dan bagai mana prospek ekonomi ke depan.

Dari survei yang dilakukan CSIS, Capres yang berada pada posisi atas adalah Joko Widodo, Megawati dan Prabowo. Kemudian disusul oleh Abu rizal Bakrie, Jusuf Kalla, Mahfud MD dan Hatta Rajasa.

Sedangkan Capres yang kemungkinan akan diorbitkan dalam konvensi Partai Demokrat antara lain adalah Dahlan Iskan,
Gita Wir ja wan, Pramono Edie dan Chaerul Tanjung.

Pandangan ekonomi Jokowi sangat menekankan pada mengangkat perekonomian dan kesejahteraan golongan bawah (melalui kesehatan dan pendidikan) dan menekankan pada pembangunan prasarana umum, seperti transportasi massal.
Pandangan ekonomi Megawati kita ketahui ketika ia menjadi Presiden.

Sekali pun pada dasarnya adalah nasionalisme ekonomi tetapi dalam prakteknya lebih pragmatis.

Tentu saja perhatian yang besar dibe rikan kepada peningkatan kesejahteraan wong cilik.

Pandangan ekonomi Prabowo adalah kental dengan semangat nasional isme, melihat ke dalam kepentingan nasional, dan cenderung antiasing.

Retorikanya adalah juga pada memperkuat peran petani.

Pandangan ekonomi Aburizal Bakrie sebagaimana kita ketahui dari platform Golkar adalah membangun negara kesejahteraan dalam jangka panjang, dengan mendorong pertumbuhan tinggi melalui kekuatan SDM dan tekno logi.

Perhatian juga diberikan pada pembangunan desa dan kewiraswastaan.

Jusuf Kalla memberikan penekanan pada kekuatan ekonomi nasi onal, pengusaha nasional, khususnya pribumi, dan pemerataan wilayah (khususnya kawasan timur).

Hatta Rajasa sebagaimana kiprahnya sebagai Menko Perekonomian jelas memberikan penekanan pada pertumbuhan
tinggi, mengurangi pengangguran dan kemiskinan secara drastis melalui kebijak an aktif pemerintah, serta mengintegrasikan perekonomian nasional melalui pembangunan koridor di daerah-daerah.

Pandangan ekonomi Mahfud be lum banyak kita ketahui, tetapi pada saat ia menjadi Ketua MK maka nuansa kepentingan
nasional sangat kuat. Tentu saja pemihakannya pada golongan bawah juga kuat.

Dahlan Iskan pandangan ekonominya kita ketahui terutama dalam perannya sebagai Menteri BUMN. Ia mengutamakan pada kekuatan ekonomi nasional dengan BUMN di depan serta mendorong perkembangan ekonomi golongan bawah.

Menarik untuk disimak Capres yang semakin banyak disebut yaitu Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dan Ketua KEN (Komite Ekonomi Nasional) Chaerul Tanjung.

KEKUATAN PRODUKSI

Gita Wirjawan semakin jelas pandangan ekonominya dengan me nye imbangkan kekuatan dalam negeri dan modal asing (serta impor). Ia semakin gencar mengarahkan pada kekuatan produksi dan distribusi dalam negeri, dengan sikap realistis terhadap investor asing yang harus tunduk pada aturan Indonesia.

Perhatiannya juga semakin kuat pada pemberdayaan pelaku ekonomi UMKM dalam menciptakan kesempatan kerja dan kebijakan aktif pemerintah dalam mengurangi kemiskinan.

Chaerul Tanjung melihat prospek perekonomian Indonesia yang baik dalam jangka panjang yang memberikan
peluang besar bagi ekonomi Indonesia untuk berkembang dan maju.

Dia juga menekankan pada mengatasi ketimpangan, dan pengurangan signifikan pengang guran dan kemiskinan
dengan kebijakan aktif pemerintah.

Melihat secara garis besar pandangan ekonomi para capres, tampaknya mereka mempunyai komitmen kuat bagi kelanjutan pembangunan dengan pertumbuhan yang lebih tinggi dan peran serta yang lebih besar dari kekuatan ekonomi
nasional serta masyarakat luas.

Perbedaan mereka adalah pada penekanan dan pilihan kebijakan dan nantinya adalah kemampuan dalam implementasi.

 

Penulis: Umar Juoro

Peneliti senior Cides & Habibie Centre

More From Makro Ekonomi

  • Yield Turun Lebih Dalam

    09:49 WIB

    Harga surat utang negara diprediksi naik dan menekan pergerakan imbal hasilnya pada semester II/2016 akibat pasokan obligasi negara yang terbatas.

  • Emiten Naikkan Harga Lahan

    09:41 WIB

    Sejumlah emiten pengembang kawasan industri mulai menaikkan harga jual untuk mengimbangi tren penjualan lahan yang melandai.

  • MKBD Baru Segera Berlaku

    09:28 WIB

    Mengadaptasi klasifikasi perbankan berdasarkan modal inti, Bursa Efek Indonesia segera membagi anggota bursa ke dalam dua kategori, yakni modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) Rp250 miliar dan MKBD di bawah Rp250 miliar.

  • Pelindo I Jajaki Investasi Rp4 Triliun

    09:22 WIB

    Pengelola jasa pelabuhan Indonesia bagian barat, PT Pelabuhan Indonesia I (Persero), berencana membangun pembangkit listrik tenaga gas di Pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatra Utara, dengan estimasi nilai investasi Rp4 triliun.

News Feed

  • Modal dan Teknologi Jadi Kunci

    Jum'at, 24 Juni 2016 - 10:26 WIB

    PT Fitch Ratings Indonesia menyatakan industri asuransi dapat terus tumbuh positif di Indonesia asal memiliki sumber daya besar yang meliputi modal, sumber daya manusia, dan teknologi.

  • Dampak pada KPR Syariah Terasa Tahun Depan

    Jum'at, 24 Juni 2016 - 10:17 WIB

    Penyaluran pembiayaan perumahan bank syariah diproyeksikan bisa naik signifikan pada tahun depan setelah ada pelonggaran rasio pembiayaan terhadap nilai agunan (financing to value/FTV) oleh Bank Indonesia.

  • OJK Siap Longgarkan LTV

    Jum'at, 24 Juni 2016 - 10:09 WIB

    Otoritas Jasa Keuangan kembali menjajaki penyesuaian besaran loan to value bagi pembiayaan kendaraan bermotor guna menggairahkan penyaluran pembiayaan.

  • Premi Tambahan Bebani Bank

    Jum'at, 24 Juni 2016 - 10:01 WIB

    Rencana Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menambah premi bagi bank berdampak sistemik bakal menambah beban perbankan dari aneka pungutan yang selama ini dikenakan kepada industri tersebut

  • Harga Minyak Memanas Lagi

    Jum'at, 24 Juni 2016 - 10:00 WIB

    Harga minyak menguat seiring dengan menurunnya produksi minyak mentah Amerika Serikat dan kecenderungan Inggris menetap di Uni Eropa. Meskipun demikian, kenaikan harga masih terbatas karena suplai global masih membayangi.

Load More