Minggu, 21 September 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

DAFTAR CALEG 2014: Pemilih Pemula Engga Tertarik

Martin Sihombing   -   Sabtu, 22 Juni 2013, 16:49 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA--Daftar Calon Sementara bakal calon anggota legislatif untuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 belum menjadi layaknya halaman mode pada majalah remaja bagi sebagian besar pemilih pemula aktif di Tanah Air.

Padahal, pemilih pemula aktif yang jumlahnya tergolong besar di Indonesia idealnya memantau figur yang terpampang dalam Daftar Calon Sementara (DCS) sebelum menyalurkan suaranya.

Hal ini penting bagi mereka, agar suara yang tersalurkan kelak tidak terbuang sia-sia hanya karena salah pilih sebab mencoblos wakil rakyat bukan seperti memilih kucing dalam karung.

Apalagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah memublikasikan nama-nama bakal Caleg yang termuat dalam DCS yang telah diserahkan oleh 12 partai politik yang ikut serta dalam Pemilu 2014.

Sebanyak 6.576 nama yang masuk dalam DCS tersebut diumumkan KPU melalui website resmi KPU, www.kpu.go.id.

"KPU mempublikasikan nama-nama tersebut supaya diketahui oleh publik, parpol dan masing-masing bakal calon. Dan kami memuat dalam web resmi KPU www.kpu.go.id," kata Ketua KPU Husni Kamil Manik.

Sebanyak 6.576 berkas bakal caleg DPR RI telah diterima oleh KPU dari 12 partai politik yang akan bertarung pada pemilu 2014 mendatang. Dari jumlah tersebut, 2.434 adalah bakal caleg perempuan dan 4.142 adalah bakal caleg laki-laki.

Melalui website dan tempat-tempat tertentu itulah, idealnya pemilih pemula juga aktif mencari tahu siapa calon-calon yang akan dijagokannya untuk duduk di kursi dewan perwakilan.

Pilih Kualitas DCS menjadi ajang yang baik bagi pemilih pemula aktif untuk mengetahui siapa bacaleg yang akan bertarung memperebutkan kursi menuju dewan perwakilan.

Sebab DCS setidaknya memuat berbagai informasi singkat tentang bacaleg yang akan mengikuti bursa pemilihan anggota dewan.

Pemilih pemula diharapkan mampu membedakan calon-calon yang memang berkualitas dan kompeten di bidangnya.

Sekadar populer dengan nama yang begitu beken bukan jaminan seseorang mampu menjadi penyambung lidah rakyat yang baik.

Pakar Politik dari Universitas Andalas, Syaiful Wahab, mengatakan pendidikan politik (civic education) yang terstruktur dan kontinyu bagi kaum muda perlu digelar untuk meningkatkan partisipasi pemilih pemula dalam pelaksanaan pemilu.

"Kebijakan ini penting untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pemilu khususnya kaum muda dengan menggunakan hak suaranya. Berdasarkan data 2009 tingkat pertisipasi masyarakat baru 71 persen pada 2014 diharapkan meningkat 72 persen," katanya.

Menurut Syaiful, selama ini pendidikan politik untuk pemilih pemula sebagian besar diperoleh dari informasi media massa yang sebagian besar justru menampilkan sisi buruk dari perilaku elite politik, dan hal itu sangat mudah mempengaruhi minat pemilih pemula.

Syaiful Wahab yang juga Ketua Jurusan Ilmu Politik FI-SIP Unand itu mengatakan, sisi buruk perilaku elite politik yang sering diekspos media masa juga termasuk kecurangan dalam proses pemilihan, dan lainnya yang dianggap berita hangat dan menarik.

“Hal ini, tentu saja mengakibatkan pendidikan politik kepada para pemilih menjadi tidak optimal,” katanya.

Pemilih pemula cenderung menjadi kecewa, bahkan apatis terhadap pemilihan. Karena itu pendidikan politik yang sehat, terstruktur dan kontinyu perlu dilakukan sejak dini.

Saat ini dinilai perlu meningkatkan minat pemilih pemula melalui berbagai terobosan kreatif agar partisipasi pemula dalam memilih meningkat.

"Itu bisa dilakukan melaluilomba karya tulis tentang pemilu, lomba membuat poster pemilu atau lomba debat politik yang dilakukan di kalangan pelajar untuk menggali ekspresi mereka tentang pemilu dan politik," katanya.

Pemilih pemula umumnya adalah mereka yang baru berusia 17 tahun, yang untuk pertama kalinya memperoleh hak dan dapat menggunakan hak tersebut untuk memilih.

Para pemilih pemula (kaum muda) biasanya memiliki perilaku yang berbeda dengan mereka yang lebih dewasa yang telah memiliki pengalaman mengikuti proses pemilihan umum (pemilu legislatif ataupun pilkada).

"Cara lainnya untuk meningkatkan partisipasinya juga harus mengetahui perilakunya. Pemilih pemula sebagian besar saat ini gemar menggunakan teknologi informasi, misalnya internet ataupun telepon genggam," katanya.

Sosialisasi melalui media internet atau mengoptimalkan teknologi komunikasi juga dinilai mampu menarik atau memengaruhi kaum muda agar lebih responsif atau proaktif mengikuti proses pemilihan.

Melalui media ini diharapkan para pemilih pemula dapat mengetahui apa, siapa, bagaimana, kapan, dan dimana pemilihan akan dilaksanakan.

Saat ini sudah ada beberapa elite politik atau kandidat yang memanfaatkan jalur tersebut sayangnya masih cenderung bersifat pasif.

Oleh karena itu, akses menuju lokasi TPS harus dipermudah karena pemilih pemula umumnya selalu menginginkan segala sesuatu yang praktis dan mudah.

Berbagai Cara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bertekad untuk meningkatkan partisipasi pemilih pemula guna menjadi bagian pada pesta demokrasi pada 2014.

"Kami saat ini sedang membantu Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam meningkatkan partisipasi pemilih pemula untuk ikut berperan serta dalam pemilu tahun depan," kata Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Freddy H Tulung.

Ia mengatakan, pihaknya mengupayakan berbagai cara untuk meningkatkan partisipasi pemilih pemula dalam pemilu 2014.

Hal itu karena ada dugaan tingkat partisipasi pemilih pemula menurun dari pemilu sebelumnya.

Untuk mengatasi hal itu, pihaknya telah melakukan berbagai upaya sosialisasi yang antara lain bimbingan teknis, dialog, membuat pesan masyarakat (PSA), dan memasang iklan di media-media.

"Kami melakukan sosialisasi di daerah-daerah dengan target adalah mahasiswa dan organisasi kepemudaan supaya mereka dapat menggunakan hak pilihnya tahun depan," katanya.

Merespon hal itu, Anggota Komisi I DPR RI Tantowi Yahya mengatakan, pihaknya siap mendukung berbagai program pemerintah untuk meningkatkan partisipasi pemilih pemula dalam Pemilu 2014.

Pihaknya bahkan siap memperjuangkan penambahan anggaran untuk keperluan sosialisasi pemilu demi meningkatkan partisipasi masyarakat khususnya pemilih pemula aktif.

"Kami merasa anggaran yang diajukan oleh kementerian ini, untuk melakukan sosialisasi masih kurang. Jumlah Rp50 miliar yang diminta tidak akan cukup dalam melakukan kegiatan tersebut di seluruh wilayah Indoensia,"katanya.

Berbagai upaya itu kemudian akan terus dilakukan sampai menjelang pemilu digelar, salah satunya demi membuat para bakal calon anggota dewan sepopuler bintang remaja agar pemilu menjadi sesuatu yang "gaul" bagi mereka. (Antara/msb)


Editor : Other

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Berlangganan ePaper Bisnis dan Indonesia Business Daily bisa dengan PayPal. Klik disini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik disini!

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.