Senin, 24 November 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

'Selalu Ada Pilihan'

Arief Budisusilo   -   Kamis, 21 November 2013, 12:42 WIB

BERITA TERKAIT

KALIMAT di atas meminjam judul buku yang disiapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang akan terbit dalam waktu dekat, seperti yang ramai diperbincangkan di masyarakat media sosial pekan ini. Buku yang direncanakan terbit awal Desember 2013 itu akan berisi pengalaman dan pandangan Presiden SBY tentang berbagai hal selama menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia sejak 2004.

“Berbagi cerita selalu menyenangkan, apalagi di balik kegiatan saya sebagai Presiden. Banyak dugaan dan kejutan,” begitu kata Presiden yang dalam bahasa gaul Twitter, berkicau melalui akun @SBYudhoyono, Senin (11/11) lalu.

“Saya menulisnya sendiri, termasuk judulnya, “Selalu Ada Pilihan”. #SAP,” tulis Presiden SBY dalam akun tersebut. “Seperti sebuah batik, buku #SAP berisi banyak titik yang dikumpulkan waktu senggang, saat subuh, menjelang tidur dan di tengah perjalanan udara,” kata Presiden Yudhoyono dalam twit-nya.

Pak SBY mengatakan ingin berbagi pengalaman dengan presiden-presiden Indonesia pada masa mendatang tentang tantangan, ujian dan cobaan selama memimpin negara yang majemuk. “Saya ingin berbagi pengalaman mengikuti dua kali pemilu, baik pemilu legislatif maupun pemilu presiden yaitu Pemilu 2004 dan Pemilu 2009.”

Maka, saya menduga, buku #SAP ini bakal ditunggu-tunggu dan akan menjadi best seller. Bukan karena semata yang menulis seorang Presiden, melainkan banyak isu yang coba hendak dijelaskan Presiden SBY, yang disebutnya sebagai “hak jawab” atas berbagai kritik publik selama ini.

Jauh hari sebelum ini, Presiden SBY memang telah berkalikali mengungkapkan rencananya menerbitkan buku tentang pengalamannya memimpin Indonesia dengan segala persoalan domestik yang harus diatasi, serta pergaulan internasional yang harus dijalani.

Hal yang paling pelik, menurut dugaan saya, Presiden SBY akan bercerita pula tentang proses pengambilan keputusan di tengah kompleksitas masalah yang dihadapi Indonesia dewasa ini. Tidakkah mudah mengarungi kehidupan berbangsa di era early stage of democracy dan keterbuka an media yang begitu dinamis bahkan cenderung agresif.

***

Saya tertarik dengan pilihan judul buku yang diambil Presiden Yudhoyono, karena ada pemeo yang berlaku selama ini, life is a matter of choice. Hidup adalah persoalan memilih. Tidak hanya dalam kehidupan, memilih juga merupakan proses terpenting dalam pengambilan keputusan, dengan segala konsekuensinya.

Pilihan yang Anda ambil akan menentukan Anda berhasil atau gagal. Rumusan ini berlaku di mana-mana, dalam kehidupan sehari-hari, dalam organisasi politik maupun organisasi bisnis. Misalnya saja, untuk sekadar contoh, dalam kehidupan politik yang saat ini sedang hot, barangkali Anas Urbaningrum tidak akan mengalami situasi seperti saat ini, andai saja ia memilih orang yang tepat di posisi bendahara umum Partai Demokrat beberapa tahun silam.

Dalam kehidupan bisnis pun begitu rupa. Memilih mitra bisnis, menentukan produk dan jasa yang hendak ditawarkan ke pasar, maupun memilih model bisnis yang tepat, akan menentukan bisnis Anda berhasil atau gagal. Proses memilih bisa melalui intuisi, atau bisa juga melalui riset. Ada kalanya, dan ini sering, orang menentukan pilihan dengan memasang berbagai asumsi. Membuat anggaran perusahaan atau menyusun APBN, misalnya, asumsi yang dipakai banyak sekali. Sebut saja tingkat pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, suku bunga, nilai tukar rupiah dan seterusnya.

Asumsi-asumsi itu dipakai untuk menentukan potensi penerimaan maupun besarnya aneka pengeluaran termasuk subsidi. Maka, penentuan asumsi yang tepat akan menentukan presisi dari hasil akhir atau tujuan yang hendak dicapai. Ini tidak hanya berlaku bagi negara, tetapi juga terjadi pada lingkup perusahaan. Begitu pula, hal yang sama berlaku bagi partai politik yang hendak bertarung dalam pemilu tahun depan, maupun untuk kepentingan yang lain.

***

Nah, persoalan pilih memilih inilah yang kini menjadi urusan pelik. Bukan lantaran menjelang tahun pemilu, lantas Anda dibuat bingung memilih calon anggota DPR maupun calon presiden mendatang, tetapi juga ihwal pilihan-pilihan kebijakan yang bakal menentukan arah perekonomian Indonesia ke depan. Maka, apabila saat ini kita melihat otoritas penentu kebijakan ekonomi Indonesia memilih untuk mengerem laju pertumbuhan ekonomi, tentu juga ada alasannya.

Entah demi stabilitas dalam jangka panjang, demi keseimbangan fundamental, demi pertumbuhan yang lebih berkesinambungan dan sederet tujuan lainnya yang mendasari kebijakan tersebut. Maka, manakala tingkat bunga acuan dari bank sentral tiba-tiba naik secara tak terduga, misalnya, jangan gampang kagetan atau gumunan, meski rasanya rem yang diinjak terlalu dalam.

“Ini karena pemerintah tidak melakukan apa-apa, sehingga bank sentral yang harus mengambil pilihan yang tidak mengenakkan,” begitu kata seorang pejabat. Jadi, kalau di sini terkesan kita sering gamang memilih kebijakan yang pas dan efektif untuk tujuan yang seimbang, jangka pendek maupun jangka panjang, ya harap maklum saja.

Memilih resep kebijakan memang bukan perkara mudah. Selalu ada trade-off, atau pertukaran yang diperoleh dari beberapa pilihan yang tersedia. Namun, selalu ada racikan yang tepat supaya resep kebijakan mengena ke lebih banyak sasaran. Itu pula yang menjelaskan mengapa pemerintah selalu gamang terhadap isu subsidi BBM. Padahal, jelas subsidi BBM yang bengkak dalam beberapa tahun terakhir telah mengikis ruang gerak anggaran dalam memaksimalkan benefit yang diterima seluruh rakyat.

Contohnya adalah pembangunan infrastruktur yang ngadat. Cukup menyebut satu ini saja, dampaknya sangat luas: kemacetan di mana-mana, konektivitas yang terhambat, dan ujungnya adalah ekonomi biaya tinggi yang bermuara pada daya tarik bisnis di Indonesia.

Meski pasar Indonesia gemuk, lingkungan bisnis menjadi tidak seksi lagi. Karena itu, sulit mengubah Indonesia menjadi basis produksi, melainkan sekadar basis pasar. Akibatnya, makin banyak barang yang dikonsumsi rakyat Indonesia harus dipenuhi dari impor.  Maka, neraca transaksi berjalan pun defisit. Dan, lebih dari itu, semua worry karena merasa tidak siap dengan pasar tunggal Asean 2015.

Pemerintah memang bukan entrepreneur. Tetapi pengambilan keputusan dalam pembuatan kebijakan tak jauh beda dengan para entrepreneur dalam mengambil keputusan bisnis: meminimalkan risiko, memaksimalkan benefit. Tentu, tujuannya adalah meminimalkan risiko bagi negara dan jutaan rakyatnya, begitu pula memaksimalkan benefit bagi jutaan rakyat dan negara. Itulah sejatinya tujuan akhir dari pilihan yang perlu diambil untuk meningkatkan kapasitas domestik untuk meningkatkan daya tahan dan daya saing di pasar global.

Maka, ujung-ujungnya saya harus sepakat dengan twit yang ditulis Pak SBY dalam akunnya @SBYudhoyono. Selalu Ada Pilihan. Soal benar atau tidak, tepat atau tidak, pada akhirnya bergantung tujuan masing-masing. Bagaimana menurut Anda?


Editor : Yusran Yunus

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

 

POPULER