Navigasi Bisnis Terpercaya

Rabu 25 Mei 2016

HASIL SEMENTARA PILEG: PDI-P Tidak Dominan, Pasar Merespons Negatif

Editor Jum'at, 11/04/2014 07:41 WIB
 Bursa Efek Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks Harga Saham Gabungan dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kompak melemah akibat raihan suara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) versi hitung cepat dalam pemilu legislatif yang di bawah ekspektasi pasar dan memicu ketidakpastian.

Kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) turun 3,16% atau sebesar 155,68 poin ke level 4.765,73.Sementara itu, rupiah melemah 0,61% ke level 11.357,5 per dolar AS di Bloomberg Dollar Index, sedangkan Bank Indonesia menetapkan kurs tengah di angka 11.342.

Di bursa regional, indeks Nikkei Jepang menguat 0,43 poin menjadi 14.300,12, indeks Hang Seng Hong Kong naik 1,51% menjadi 23.186,96, dan indeks Straits Times Singapura turun 0,2% menuju 3.203,58.

Edwin Sebayang, analis PT MNC Securities, mengatakan secara umum IHSG terpuruk karena ekspektasi pelaku pasar PDIP dapat meraih suara besar di atas 20% tidak tercapai, sehingga mereka melakukan aksi jual.

Dengan kurang maksimalnya raihan suara PDIP, lanjutnya, jalan calon presiden dari partai berlambang banteng tersebut yaitu Joko Widodo untuk melenggang ke tampuk kekuasaan nomor satu di negeri ini diperkirakan akan sedikit terjal.

“Sekarang pasar mempertanyakan bagaimana langkah PDIP nanti. Bagaimana bentuk koalisinya dan apakah Jokowi mampu memenangkan pemilihan presiden,” ujarnya, seperti dikutip Harian Bisnis Indonesia, Jumat (11/4/2014).

Hal senada juga diamini oleh Dini Agmivia, analis PT Maybank Kim Eng Securities, Moleonoto, Managing Director PT Indo Premier Securities, dan Satrio Utomo, analis Universal Broker Indonesia.

"Pasar modal regional sebenarnya positif, tetapi sentimen pemilu saat ini memang menjadi faktor dominan yang menyebabkan indeks jatuh," kata Satrio.

Dia menuturkan dana asing di pasar modal dalam negeri pun ikut berkurang seiring dengan munculnya ketidakpastian hasil sejumlah penghitungan cepat pemilu. Saat ini, pasar modal tinggal menunggu proses koalisi yang akan dilakukan partai politik.

10 Saham Penyumbang Penurunan Indeks Terbesar

Kode

Perubahan Harga

Poin Indeks

ASII

-500

-21,95

BBRI

-750

-19,87

BMRI

-600

-15,03

INTP

-2.225

-8,88

TLKM

-70

-7,65

SMGR

-1.125

-7,23

BBNI

-290

-5,8

GGRM

-1.550

-3,23

BSDE

-145

-2,75

CPIN

-140

-2,49

Sumber: Bloomberg

Menurutnya, perekonomian Indonesia yang mem baik masih memberikan kepercayaan diri bagi pelaku pasar untuk menanamkan modalnya di di bursa saham. "Untungnya neraca perdagangan dalam negeri surplus, sehingga perbaikan ekonomi masih bisa bertahan selama satu bulan," ujarnya.

Lebih jauh, Kiswoyo Adi Joe, Managing Partner Investa Saran Mandiri, mengatakan secara teknikal IHSG saat ini memang harus terkoreksi. Pasalnya, selama ini indeks telah mengalami penguatan yang cukup tinggi.

Sementara itu, pasar obligasi tidak terlalu merespons hasil hitung cepat sementara pemilu legistlatif yang ditandai tidak berubahnya imbal hasil obligasi negara bertenor 10 tahun yang berada di level 7,82%. Hanya imbal obligasi bertenor 20 tahun yang naik tipis 2 basis poin.

PROPERTI & INFRASTRUKTUR

Pada perdagangan kemarin, semua sektor di IHSG jeblok. Adapun, sektor properti turun paling dalam sebesar 6,47% dan disusul industri dasar sebesar 5,55%.

Edwin Sebayang mengatakan ada dua penyebab sektor properti dan infrastruktur terpuruk. Pertama, lanjutnya, secara valuasi, harga saham-saham di kedua sektor tersebut terbilang sudah terlalu mahal sehingga pelaku pasar mulai menjualnya.

“Penyebab kedua karena ekspektasi jika Jokowi menjadi presiden, maka sektor ini yang paling akan diuntungkan karena Jokowi diyakini akan meningkatkan pembangunan infrastruktur."

Selengkapnya baca di Harian Bisnis Indonesia edisi Jumat (11/4/2014) atau di http://epaper.bisnis.com/epaper/detail/view/79/edisi-harian

More From Makro Ekonomi

  • PPh Final Agar Diterapkan

    09:33 WIB

    Asosiasi Manajer Investasi Indonesia meminta pemerintah dapat menerapkan pajak penghasilan (PPh) final atas keuntungan investasi melalui instrumen reksa dana.

  • Emiten Perikanan Berpotensi Melejit

    09:26 WIB

    Fokus pemerintah Indonesia untuk mendorong sektor maritim dan membasmi illegal fishing diproyeksikan membawa angin segar bagi emiten sektor perikanan di Bursa Efek Indonesia.

  • Dibayangi Sentimen The Fed

    12:22 WIB

    Kinerja reksa dana berdenominasi dolar Amerika Serikat diyakini masih akan memberikan return positif hingga akhir tahun ini, walaupun dibayangi oleh spekulasi penaikan suku bunga The Fed yang menekan nilai tukar rupiah

  • Permintaan Mulai Menguat

    12:03 WIB

    Sejumlah emiten kawasan industri tengah gencar melakukan negosiasi dengan calon investor untuk penjajakan penjualan lahan

News Feed

  • Pelaku Optimistis Premi Masih Tinggi

    Selasa, 24 Mei 2016 - 10:06 WIB

    Sejumlah pelaku industri asuransi umum optimistis perolehan premi tahun ini masih mampu tumbuh signifikan kendati kondisi ekonomi diprediksi masih tertekan.

  • Target Transaksi Multilateral Dinaikkan

    Selasa, 24 Mei 2016 - 09:57 WIB

    Setelah mencatatkan kenaikan transaksi multilateral pada periode Januari-April 2016 sebesar 24,22%, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Kementerian Perdagangan membidik volume transaksi multilateral sepanjang tahun tumbuh di atas persentase tersebut.

  • Jalan Panjang Restrukturisasi BUMI

    Selasa, 24 Mei 2016 - 09:36 WIB

    Kisah perusahaan tambang batu bara PT Bumi Resources Tbk., walaupun terlalu panjang dan rumit, masih layak untuk diikuti. Kini, emiten dengan kode saham BUMI ini tengah bergelut dengan restrukturisasi utang. Bagaimana kabar terakhirnya?

  • PPh Final Agar Diterapkan

    Selasa, 24 Mei 2016 - 09:33 WIB

    Asosiasi Manajer Investasi Indonesia meminta pemerintah dapat menerapkan pajak penghasilan (PPh) final atas keuntungan investasi melalui instrumen reksa dana.

  • Emiten Perikanan Berpotensi Melejit

    Selasa, 24 Mei 2016 - 09:26 WIB

    Fokus pemerintah Indonesia untuk mendorong sektor maritim dan membasmi illegal fishing diproyeksikan membawa angin segar bagi emiten sektor perikanan di Bursa Efek Indonesia.

Load More