Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017

SPEKTRUM: Kisah Orang-orang Tepi Bumi

M. Syahran W. Lubis Kamis, 17/03/2016 06:16 WIB
M Syahran W Lubis

Bertemu kawan lama selalu menyenangkan. Begitu pun saya. Jumpa rekan kuliah yang berpisah lebih dari 26 tahun, tapi tetap memelihara hubungan dengan jasa media sosial.

Selepas kuliah di daerah, dia berkarya di Pulau Bengkalis, Riau, sedangkan saya menguji kekuatan bertahan hidup di Jakarta. Lama tak jumpa dan dia kini pindah ke ibu kota, kami pun bertemu bersama keluarga di salah satu pantai wisata di Jakarta.

Dia pun berkisah tentang tempat mukimnya di Riau. Salah satunya tentang kekagetannya saat baru tiba, pada petang air laut naik menggenangi sebagian wilayah pulau dan itu rupanya hal biasa. Lambat laun dia pun lazim dengan kehidupan begitu.

Merespons ceritanya, saya pun ingat saat 3 tahun lalu, di kawasan wisata tempat kami berbincang, saya sekeluarga harus segera meninggalkan lokasi akibat air laut mulai sedikit naik ke darat. Oleh karena naik mobil kecil, cemas air laut mematikan mesin, kami pun ‘lari’ ke jalan tol.

Tapi, kata kawan tadi, itu hal beda dengan di Bengkalis yang memang sudah berlangsung sejak lama. Menurut dia, yang saya alami adalah dari naiknya muka air laut, bukan kesalahan pengelola kawasan wisata itu.

Dia pun menyatakan sebagai “orang-orang tepi Bumi”, mestinya masyarakat Indonesia harus lebih waspada dengan pemanasan global akibat perilaku buruk kita.

Maksud dari “orang-orang tepi Bumi”, dia menunjuk kehidupan masyarakat kita yang perekonomiannya bermula dari pesisir. Itu pun merujuk pada letak geografis Indonesia yang tanpa disadari sesungguhnya sebagian wilayah kita, terutama bagian barat, berada di ‘pinggir Bumi’ bagian selatan.

“Di selatan kita tak ada lagi kontinen kecuali dua pulau kecil bernama Cocos (Keeling) dan Christmas milik Australia, selebihnya perairan raksasa! Jadi, kita ini ada di tepi Bumi, ancaman tenggelam itu bukan jauh di sana. Beda dengan wilayah utara Bumi yang didominasi kontinen,” paparnya.

Saya pun ingat laporan National Aeronautics and Space Administration (NASA), badan AS, yang melaporkan betapa penduduk Bumi sudah dihadapkan dengan kondisi kritis di mana kita berada di titik suhu tertinggi sepanjang sejarah.

Seperti ditulis Sputniknews, rata-rata suku permukaan global Bumi pada Februari 2016 mencapai 1,35 derajat Celcius lebih tinggi daripada rata-rata beberapa tahun sebelumnya.

Menurut Bob Henson dan Jeff Masters, meteorolog Weather Underground, kondisi yang dilaporkan NASA menunjukkan seluruh penduduk Bumi memasuki fase kritis.

Postdam Institute, lembaga riset perubahan iklim milik Jerman, melalui pakar kelautan dan klimatolog Stefan Rahmstorf, menyebut laporan NASA itu “bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Memang kita ‘orang-orang tepi Bumi’, dalam arti ‘bersisian dengan laut’, dan itu mendorong saya mengingat laporan jurnalistik Reuters betapa Jakarta berpotensi ‘tenggelam’.

Laporan pada Desember 2014 berjudul Special Report: In Jakarta, That Sinking Feeling is All Too Real bukan hanya menyoroti naiknya muka laut akibat pemanasan global, tapi juga menguak sikap jorok kita terhadap sungai-sungai.

Sungguh, kata “Jakarta tenggelam” itu harus diwaspadai. Tengoklah Kiribati, negara di Samudera Pasifik yang oleh berbagai laporan ilmiah diprediksi tenggelam 50 tahun lagi.

“Perubahan iklim ancaman yang pasti ke Kiribati, tak ada keraguan tentang itu," kata Simon Donner, ilmuwan University of British Columbia, Kanada.

Apa yang akan terjadi terhadap Kiribati ialah jika mereka tak mengubah sikap buruk terhadap alam yang merusak lingkungan, yang memicu pemanasan global sehingga berpotensi menenggelamkan mereka.

Kita juga seperti mereka, “orang-orang tepi Bumi”. Maka, kata kawan tadi, tak ada jalan kecuali memulai dari diri kita sendiri mencegah pemanasan global demi ‘menganulir’ laporan NASA.

Untuk itu, hal sederhana bisa kita buat seperti mengurangi pemakaian kendaraan bermotor, AC, mesin cuci; gunakanlah lampu hemat energi; daurlah sampah terutama yang berbahan aluminium; serta perbanyak menanam pohon dan tentu sebaliknya: hentikan penebangan hutan secara berlebihan, legal apalagi ilegal.

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More