Navigasi Bisnis Terpercaya

Selasa 24 Januari 2017
EKSPOR KENDARAAN

Neraca Dagang Otomotif Surplus US$80 Juta

Tegar Arief Rabu, 19/10/2016 14:43 WIB
Ilustrasi: Proses produksi mobil di Karawang Assembly Plant (KAP) milik Astra Daihatsu Motor (ADM).

JAKARTA — Kinerja ekspor impor kendaraan dan bagiannya pada September 2016 tercatat surplus US$80,84 juta. Dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik, nilai ekspor pada bulan lalu mencapai US$542,50 juta dan impor senilai US$461,66 juta.

Jika dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun lalu, surplus pada September tahun ini menurun.

Pada September 2015, neraca perdagangan sektor otomotif surplus US$129,64 juta. Saat itu, ekspor mencapai US559,40 juta dan impor senilai US$429,76 juta.

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara menilai penurunan surplus neraca perdagangan di sektor otomotif memang telah diprediksi, mengingat kondisi ekonomi global masih belum mengalami perbaikan.

“Ekonomi global belum seperti yang diharapkan. Banyak pihak sudah memprediksi dan sedang berhati-hati,” katanya kepada Bisnis, Selasa (18/10).

Mengacu pada data BPS, kinerja ekspor sebenarnya terbilang mengecewakan. Pada bulan lalu, nilai ekspor mengalami penurunan sebesar 1,83% dibandingkan dengan capaian pada September tahun lalu. Adapun kinerja impor mengalami kenaikan sebesar 7,42% pada periode yang sama. (lihat tabel)

Meskipun demikian, surplus perdagangan sektor kendaraan dan bagiannya ini cukup melegakan pelaku industri. Menurut Kukuh, yang menjadi tantangan adalah stabilitas ekonomi global yang sangat mempengaruhi distribusi produk ke luar negeri.

“Surplus memang baik, tapi kalau hanya di bulan lalu saja percuma. Perlu juga diamati indikator-indikator ekonomi di negara tujuan,” ujarnya.

BELUM SIGNIFIKAN

PT Astra Daihatsu Motor, salah satu produsen kendaraan yang juga menguasai pasar global mengakui kinerja ekspor sepanjang bulan lalu terbilang stabil. Alasannya, permintaan dari negara tujuan masih belum menunjukkan pergerakan yang signifikan.

“Untuk September capaiannya ada peningkatan, tapi hanya sedikit. Jadi bisa dibilang relatif sama dengan September tahun lalu,” kata Head Corporate Planning Division PT Astra Daihatsu Motor Rudy Ardiman tanpa menyebut volume ekspor selama bulan lalu.

Perusahaan di Indonesia memang tidak bisa serta-merta meningkatkan volume ekspor atau menambah destinasi baru. Sebab kebijakan untuk menentukan volume dan strategi di pasar global ada pada pihak prinsipal.

Gaikindo sebagai asosiasi tidak bisa memaksa prinsipal untuk meningkatkan volume ekspor. Namun pelaku industri meyakini, jika pemerintah segera mengeksekusi penerapan Euro 4, maka secara otomatis laju ekspor akan terdongkrak.

Pemerintah sendiri telah menargetkan peningkatan ekspor mobil pada tahun depan naik 10%. Iklim investasi yang kondusif diyakini akan mampu meyakinkan pihak prinsipal untuk menambah volume ekspor kendaraan produksi dalam negeri.

Secara volume, kinerja ekspor kendaraan utuh atau completely build up (CBU) mengalami penurunan pada tahun ini. Pada semester I/2016, volume ekspor CBU hanya mencapai 93.998 unit, turun dari capaian pada semester I/2015 yang sebanyak 107.831 unit.

Namun demikian, volume ekspor kendaraan terurai atau completely knocked down (CKD) meningkat dari sebanyak 50.488 set pada semester pertama tahun lalu menjadi sebanyak 91.194 set pada periode yang sama tahun ini.

More From Makro Ekonomi

  • OJK Rancang Instrumen Investasi Baru

    07:28 WIB

    Besarnya kebutuhan dana untuk mendorong pembangunan infrastruktur nasional mendorong Otoritas Jasa Keuangan menyusun produk investasi khusus yang diterbitkan oleh manajer investasi untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur publik.

  • Beban Emiten Properti Berpotensi Naik

    07:14 WIB

    Wacana pemerintah menerapkan kebijakan pajak progresif untuk objek lahan diperkirakan dapat mengerek beban emiten properti. Emiten menilai, penerapan pajak progresif bakal membuat biaya pengembangan menjadi lebih tinggi sehingga mengerek harga jual.

  • Reksa Dana Terproteksi Kian Seksi

    07:06 WIB

    Reksa dana terproteksi diproyeksi semakin menarik seiring dengan lampu hijau penggunaan surat utang jangka pendek (medium term notes/MTN) sebagai aset dasar produk investasi tersebut.

  • Jurus Menceker & Mematuk Cuan

    06:58 WIB

    Tahun Monyet Api segera berlalu dan berganti menjadi tahun Ayam Api. Kendati bisnis yang bakal diuntungkan tidak akan jauh berbeda, tetapi ayam merupakan elemen logam sehingga kewaspadaan juga harus ditingkatkan. Pasalnya, elemen logam dan api sering kali tidak harmonis.

News Feed

  • Mengejar Target 392 Kilometer

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:52 WIB

    Tahun lalu, realisasi pengoperasian jalan tol baru tergolong sangat rendah. Dari 136 kilometer jalan tol yang ditargetkan beroperasi, hanya sepanjang 44 kilometer yang terealisasi atau 32%. Itu pun semuanya berasal dari jalan tol yang dibangun swasta.

  • Infrastruktur Jadi Kunci

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:44 WIB

    Produsen semen berusaha menekan selisih harga lewat pembangunan pabrik-pabrik pengepakan baru. Namun, wacana semen satu harga hanya bisa terealisasi lewat pembangunan infrastruktur

  • Penjualan Turun 0,3%

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:34 WIB

    Penurunan pasar sepeda motor di dalam negeri menekan capaian di level regional. Penjualan roda dua di Asean sepanjang JanuariNovember 2016 menurun 0,3%.

  • Pelat Merah Turut Berkontribusi

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:25 WIB

    Sejumlah perusahaan pelat merah yang menjalankan bisnis logistik digandeng pemerintah untuk ikut mengembangkan sentra-sentra kelautan dan perikanan terpadu atau SKPT yang akan dibangun di 12 pulau terluar tahun ini.

  • Investasi Makin Tak Menarik

    Selasa, 24 Januari 2017 - 09:14 WIB

    Tarif listrik berbasis energi baru dan terbarukan di Tanah Air bakal turun signifikan setelah pemerintah dalam waktu dekat menetapkan harga listrik energi hijau itu maksimal 85% dari biaya pokok produksi atau BPP listrik regional PLN.

Load More