Navigasi Bisnis Terpercaya

Minggu 11 Desember 2016

Nasib UKM di Era Ekonomi Digital

Firman Hidranto Kamis, 20/10/2016 05:09 WIB
Firman Hidranto.

Mimpi Indonesia untuk mewujudkan industri ecommerce ala Indonesia yang kuat terus digenjot, setelah sebelumnya berhasil membuat  sebuah  road map (peta jalan) e-commerce. Jalan berliku nampaknya masih harus ditempuh untuk mewujudkan mimpi itu. Kini pemerintah masih punya pekerjaan rumah menyiapkan rancanganperaturan pemerintah (RPP).

Cakupan RPP itu yang melingkupi usaha e-commerce ada tiga. Pertama, kategori usaha kecil menengah (UKM), perusahaan e-commerce yang  sudah mapan, dan start up yang bergerak di bidang teknologi. Road map tersebut juga menjabarkan soal pendanaan dan investasi, logistik, perpajakan, infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan perlindungan konsumen. Semua diharapkan tuntas sebelum akhir tahun ini.

Khusus RPP, Kementerian Perdagangan juga telah menegaskan pelaku UKM akan diberlakukan setara dengan pemain besar dalam aturan main RPP e-commerce yang tengah disiapkan. Selain itu, RPP itu akan mengatur peran dari masing-masing entitas yang masuk dalam rantai perdagangan ecommerce termasuk para bisnis agregator dan pelaku usaha. RPP itu juga menekankan pentingnya pembentukan badan hukum di Indonesia bagi parabisnis agregatorasing. Hal itumenjadiprioritas agar konsumen tetapt erlindungi.

Terlepas dari semua itu, upaya pemerintah menyiapkan regulasi ecommerce patut diapresiasi.Harapannya, regulasi itu bisa segeradiwujudkan, sehingga pelaku industri ekonomi digital bisa memiliki panduan, tidak berjalan tanpa arahseperti saat ini. Dalam konteks ekonomi berbasis digital,tidakdipungkiri sudah menjadi keniscayaan.Transformasi dagang dari semula yang bersifat konvensional ke berbasis digital sudah tidak terbendung lagi.

Indonesia sebagai pemilik pasar terbesar di dunia harus jadi pemain di industry itu,tidak hanyajadi penonton di negeri sendiri di tengah peluang besar itu. Sebagai gambaran,manisnyabisnise-commerce bisa terlihat dari aliran investasi yangmengalir kesektor ini. Menurut catatan Kadin, nilai investasi yang masuk ke start up Indonesia mencapai US$1,5 miliar. Dana tersebut masuk ke entitas start up dalam skala berkisar US$200.000 hingga US$10 juta.

Kadin juga mencatat pasar ekonomi digital hingga Januari 2016, ada 88,1 juta pengguna Internet aktif di Indonesia.  Kemudian, sebanyak 79 juta di antaranya merupakan pengguna aktif media sosial. Data menarik lainnya, di tengah populasi masyarakat Indonesia yang sebesar 259,1 juta, pengguna telepon seluler malah mencapai 326,3 juta.

Lalu, 66 juta orang di antaranya aktif menggunakan media sosial dari ponsel. Bila melihat data-data itu, pasar ecommerce Indonesiabisa dikatakansangat gurih dan menjanjikan.

Wajar bila pemerintah melalui Menteri Komunikasi dan Informatika pernah menyebut angka nilai pasar ekonomi berbasis digital itu akan mencapai US$130 miliar pada 2020. Namun, sebelum benar-benar masuk ke kancah Ekonomi digital, banyak pekerjaan rumah. Yang harus disiapkan, apalagi bila berbicara soal platform berbasis digital sudah tidak lagi ada batas teritori negara.

Misalnya soal nasib UKM di RPP itu. Kenapa sektor UKM itu diperlakukan setara dengan usaha besar di RPP itu? Bila ini benar, tentu sangat bertentangan dengan cita-cita Presiden Joko Widodo yang berencana membawa UKM negara ini besar melalui platform bernama ekonomi berbasis digital.

Berbicara soal sektor itu, tentu sangat banyak titik lemah dari bisnis sektor kelas bawah ini. UKM Indonesia pada umumnya ada dua kondisi, pertama, moda bisnisnya bukan bakar uang, dan bikin heboh karena trafik tumbuh gila-gilaan. Selain itu, karakter UKM negara ini juga tidak memikirkan margin tidak lebih penting dari ‘value’, melainkan UKM harus berjalan disiplin dengan moda ‘old school’ yaitu laba rugi, dan arus kas dan neraca tanpa sensasi.

Jenis kedua, UKM mulai beroperasi tanpa punya pengetahuan tentang manajemen bisnis sama sekali. Tak kenal laba-rugi, arus kas, manajemen SDM, perpajakan, laporan keuangan,dan banyak lagi prinsip dasar manajemen bisnis. Akhirnya, yang menjadi pertanyaan, akankah UKM akan naik kelas di era ekonomi digital atau tetap menjadiUKM-perjuangan atau mati cepat karena dicaplok e-commerce kelas kakap yang senang bakar uang?

More From Makro Ekonomi

  • Galang Dana Abadi Via Reksa Dana

    09:42 WIB

    Reksa dana semakin dilirik untuk menggalang dana abadi institusi sosial, kesehatan, keagamaan, hingga pendidikan. Sepanjang tahun ini saja, setidaknya ada empat produk endowment fund baru yang diluncurkan

  • Atraksi yang Belum Kelar

    01:00 WIB

    PT Bumi Resources Tbk. tak pernah berhenti menjadi buah bibir. Ibarat kereta halilintar di Dunia Fantasy Ancol, mungkin begitu gambaran pergerakan harga saham BUMI sejak go public.

  • Emiten Masih Konservatif

    08:30 WIB

    Meski harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) mulai rebound, sejumlah emiten masih memasang target konservatif pada 2017

  • Trump Effect Hanya Sementara

    08:45 WIB

    Bursa Efek Indonesia yakin kondisi tertekannya indeks harga saham gabungan akibat Trump Effect tidak akan berlangsung lama

News Feed

  • Data China Terus Membaik

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 05:47 WIB

    China kembali membukukan perbaikan dalam data ekonomi terbarunya. Kondisi itu meredakan kekhawatiran terjadinya penurunan ekonomi negara tersebut.

  • Tak Ragu Kejar WP Kakap

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 03:42 WIB

    Pemerintah tidak ragu mengejar wajib pajak besar yang belum memanfaatkan program pengampunan pajak. Para wajib pajak kelas kakap atau prominen yang belum mengikuti tax amnesty diminta untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebe lum berakhir pada Maret 2017.

  • Mendambakan Industri Kreatif Kian Kinclong

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 01:01 WIB

    Data perkembangan industri kreatif yang dirilis Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Badan Pusat Statistik, pekan ini, semakin memberi keyakinan bahwa industri ini layak dijadikan sebagai salah satu penyokong perekonomian nasional.

  • Indonesia Menang Atas Churchill

    Jum'at, 09 Desember 2016 - 11:00 WIB

    Pemerintah berhasil menyelamatkan uang negara senilai US$1,31 miliar setelah International Centre for Settlement of Investments Disputes (ICSID) menolak gugatan arbitrase Churchill Mining Plc. dan Planet Mining Pty Ltd.

  • CPGT Cari Suntikan Dana Segar

    Jum'at, 09 Desember 2016 - 10:53 WIB

    PT Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk. memasukkan klausul investor baru dalam rencana perdamaian sebagai sumber pembiayaan dalam proses restrukturisasi utang.

Load More