Navigasi Bisnis Terpercaya

Kamis 23 Februari 2017

Nasib UKM di Era Ekonomi Digital

Firman Hidranto Kamis, 20/10/2016 05:09 WIB
Firman Hidranto.

Mimpi Indonesia untuk mewujudkan industri ecommerce ala Indonesia yang kuat terus digenjot, setelah sebelumnya berhasil membuat  sebuah  road map (peta jalan) e-commerce. Jalan berliku nampaknya masih harus ditempuh untuk mewujudkan mimpi itu. Kini pemerintah masih punya pekerjaan rumah menyiapkan rancanganperaturan pemerintah (RPP).

Cakupan RPP itu yang melingkupi usaha e-commerce ada tiga. Pertama, kategori usaha kecil menengah (UKM), perusahaan e-commerce yang  sudah mapan, dan start up yang bergerak di bidang teknologi. Road map tersebut juga menjabarkan soal pendanaan dan investasi, logistik, perpajakan, infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan perlindungan konsumen. Semua diharapkan tuntas sebelum akhir tahun ini.

Khusus RPP, Kementerian Perdagangan juga telah menegaskan pelaku UKM akan diberlakukan setara dengan pemain besar dalam aturan main RPP e-commerce yang tengah disiapkan. Selain itu, RPP itu akan mengatur peran dari masing-masing entitas yang masuk dalam rantai perdagangan ecommerce termasuk para bisnis agregator dan pelaku usaha. RPP itu juga menekankan pentingnya pembentukan badan hukum di Indonesia bagi parabisnis agregatorasing. Hal itumenjadiprioritas agar konsumen tetapt erlindungi.

Terlepas dari semua itu, upaya pemerintah menyiapkan regulasi ecommerce patut diapresiasi.Harapannya, regulasi itu bisa segeradiwujudkan, sehingga pelaku industri ekonomi digital bisa memiliki panduan, tidak berjalan tanpa arahseperti saat ini. Dalam konteks ekonomi berbasis digital,tidakdipungkiri sudah menjadi keniscayaan.Transformasi dagang dari semula yang bersifat konvensional ke berbasis digital sudah tidak terbendung lagi.

Indonesia sebagai pemilik pasar terbesar di dunia harus jadi pemain di industry itu,tidak hanyajadi penonton di negeri sendiri di tengah peluang besar itu. Sebagai gambaran,manisnyabisnise-commerce bisa terlihat dari aliran investasi yangmengalir kesektor ini. Menurut catatan Kadin, nilai investasi yang masuk ke start up Indonesia mencapai US$1,5 miliar. Dana tersebut masuk ke entitas start up dalam skala berkisar US$200.000 hingga US$10 juta.

Kadin juga mencatat pasar ekonomi digital hingga Januari 2016, ada 88,1 juta pengguna Internet aktif di Indonesia.  Kemudian, sebanyak 79 juta di antaranya merupakan pengguna aktif media sosial. Data menarik lainnya, di tengah populasi masyarakat Indonesia yang sebesar 259,1 juta, pengguna telepon seluler malah mencapai 326,3 juta.

Lalu, 66 juta orang di antaranya aktif menggunakan media sosial dari ponsel. Bila melihat data-data itu, pasar ecommerce Indonesiabisa dikatakansangat gurih dan menjanjikan.

Wajar bila pemerintah melalui Menteri Komunikasi dan Informatika pernah menyebut angka nilai pasar ekonomi berbasis digital itu akan mencapai US$130 miliar pada 2020. Namun, sebelum benar-benar masuk ke kancah Ekonomi digital, banyak pekerjaan rumah. Yang harus disiapkan, apalagi bila berbicara soal platform berbasis digital sudah tidak lagi ada batas teritori negara.

Misalnya soal nasib UKM di RPP itu. Kenapa sektor UKM itu diperlakukan setara dengan usaha besar di RPP itu? Bila ini benar, tentu sangat bertentangan dengan cita-cita Presiden Joko Widodo yang berencana membawa UKM negara ini besar melalui platform bernama ekonomi berbasis digital.

Berbicara soal sektor itu, tentu sangat banyak titik lemah dari bisnis sektor kelas bawah ini. UKM Indonesia pada umumnya ada dua kondisi, pertama, moda bisnisnya bukan bakar uang, dan bikin heboh karena trafik tumbuh gila-gilaan. Selain itu, karakter UKM negara ini juga tidak memikirkan margin tidak lebih penting dari ‘value’, melainkan UKM harus berjalan disiplin dengan moda ‘old school’ yaitu laba rugi, dan arus kas dan neraca tanpa sensasi.

Jenis kedua, UKM mulai beroperasi tanpa punya pengetahuan tentang manajemen bisnis sama sekali. Tak kenal laba-rugi, arus kas, manajemen SDM, perpajakan, laporan keuangan,dan banyak lagi prinsip dasar manajemen bisnis. Akhirnya, yang menjadi pertanyaan, akankah UKM akan naik kelas di era ekonomi digital atau tetap menjadiUKM-perjuangan atau mati cepat karena dicaplok e-commerce kelas kakap yang senang bakar uang?

More From Makro Ekonomi

  • The Magnificent Seven Kini Terdiskon

    11:05 WIB

    Tujuh saham yang membukukan return fantastis (magnificent) pada tahun lalu, kini terjerembab ke zona merah sepanjang tahun berjalan (year to date)

  • Berharap Properti Bangkit Lagi

    11:00 WIB

    Pertumbuhan pasar properti yang melempem dalam dua tahun terakhir menjadi salah satu faktor penekan kinerja produsen semen. Apakah tren ini akan terus berlanjut pada tahun ini?

  • Reksa Dana Syariah Offshore Layak Dilirik

    14:16 WIB

    Mayoritas bursa global sepanjang tahun berjalan membukukan kinerja yang lebih kinclong dibandingkan dengan kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG). Produk reksa dana syariah offshore pun layak untuk dilirik.

  • Satu Hela Nafas Lega UNSP

    14:13 WIB

    Setelah mengantongi izin pemegang saham untuk menggelar reverse stock, emiten perkebunan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. segera menggelar restrukturisasi utang yang ditargetkan mampu mencapai titik temu dengan para kreditur pada semester I/2017.

News Feed

  • MA Memilih Tak Berfatwa

    Rabu, 22 Februari 2017 - 12:10 WIB

    Mahkamah Agung memilih sikap netral dan enggan mengeluarkan fatwa terkait dengan pandangan hukum atas status Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang dimohonkan pemerintah melalui Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.

  • TLKM Terganjal KPPU

    Rabu, 22 Februari 2017 - 11:45 WIB

    Investigator KPPU mengklaim telah menemukan bukti kuat bahwa PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. melakukan pelanggaran monopoli, dengan mengambil keuntungan posisi dominan hingga menerapkan perjanjian tertutup.

  • Bank Menengah Tergiur Infrastruktur

    Rabu, 22 Februari 2017 - 11:45 WIB

    Bank papan tengah tertarik untuk menyalurkan kredit ke sektor infrastruktur yang saat ini gencar dijalankan pemerintah. Terlebih lagi ketersediaan likuiditas mereka dinilai berlebih setelah kredit tahun lalu melambat

  • Berlomba-Lomba Tawarkan KTA

    Rabu, 22 Februari 2017 - 11:40 WIB

    Kredit tanpa agunan menjadi primadona tersendiri saat kebutuhan dana jangka pendek mendekat. Merespons kebutuhan itu, beberapa bank menjadikan salah satu produk konsumer tersebut sebagai penyokong kinerja kredit konsumsi

  • Kebutuhan Dana Tunai Jadi Pemicu

    Rabu, 22 Februari 2017 - 11:36 WIB

    Setelah sempat menurun 2,8% pada akhir 2015, nilai klaim dan manfaat yang dibayar indusri asuransi jiwa melonjak 32,4% pada akhir tahun lalu yang diperkirakan sejalan dengan meningkatnya kebutuhan uang tunai oleh masyarakat

Load More