Navigasi Bisnis Terpercaya

Kamis 23 Februari 2017
EMITEN INDUSTRI BARANG KONSUMSI

Adu Gurih di Mi Instan Premium

Novita Sari Simamora Kamis, 20/10/2016 07:44 WIB
Mi kuah.

Modifikasi produk mi instan untuk mengincar pangsa pasar kelas menengah ke atas semakin gencar dilakukan. Pasalnya, dalam dua tahun terakhir penjualan industri mi instan sempat terkontraksi.

Adalah produk Bakmi Mewah dari PT Mayora Indah Tbk. dan Indomie Premium Real Meat dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk., yang tengah “menggurihkan” pasar.

Kawula muda yang selama ini doyan mi instan kini gencar membincangkan dua produk yang dijajakan di pasar de ngan kisaran harga Rp6.500-Rp8.000 per bungkus tersebut.

Dalam beberapa bulan terakhir, ekspansi kedua produk tersebut begitu masif di jaringan-jaringan toko peritel eceran hingga warung-warung areal perumahan. Strategi pemasaran dan penjualan pun saling beradu.

Teknik penjualan yang dilakukan juga ber variasi, misalnya saja di beberapa gerai toko produk Indomie Real Meat menawarkan harga Rp7.500 per bungkus, akan tetapi harga akan turun bila membeli dua bungkus menjadi Rp12.000. Diskon menjadi daya tarik konsumen untuk mencicipi produk premium itu.

Perkembangan bisnis mi instan sebe nar nya begitu-begitu saja. Minat tetap ada tetapi belum bisa dikatakan meningkat.

Analis PT Daewoo Securities Indonesia Dang Maulida memaparkan yang terjadi di beberapa negara saat ini adalah fenomena produk mi instan mulai ditinggalkan.

Hal itu seiring dengan pendapatan masyarakatnya yang kian meningkat sehingga pilihan selera makan pun semakin bervariasi.

Faktanya, Indofood saat ini mencatatkan penjualan mi instan dengan kisaran harga Rp2.000-an per kemasan mulai stagnan bahkan penjualan secara industri pun membukukan data yang terkontraksi.

Namun, kehadiran mi instan premium dengan harga hampir empat kali lipat secara perlahan menjadi mulai menguasai daftar menu makanan instan di keluarga keluarga, terutama kalangan muda.

"Fenomena menarik. Saat ini, pasar kelas menengah ingin menikmati mi dengan cara yang unik,” tutur Dang Maulida, baru-baru ini.

Sebelum hadirnya dua produk premium ter sebut, katanya, pasar kelas menengah yang sering disebut dengan generasi produktif lebih doyan mengonsumsi produk mi yang unik seperti Bakmi GM dan mi gerobak yang dijajakan di pinggir jalan.

Selera memang dinamis dan akan terus berubah. Penggemar mi kini ingin menikmati produk mi yang unik tersebut de ngan cara yang mudah, bikin sendiri, hemat tetapi berkelas, instan tentunya.

Menurut Dang Maulida, baik Mayora yang berkode saham MYOR dan Indofood CBP (ICBP) memahami perubahan konstelasi selera publik dan langsung ingin mengambil ceruk pasar tersebut.

Pembeli produk Bakmi Mewah atau Indomie Real Meat pun bisa menikmati makanan dengan rasa yang konsisten dan disimpan untuk jangka panjang. Dang Maulida menilai kondisi ‘hemat yang berkelas’ itu pun menjadi peluang bagi produsen.

Dia mengamati penjualan mi cup dengan kisaran harga Rp4.000 dan mi premium direspons secara positif oleh pasar. Kondisi tersebut membuat Buana Ca pital dalam riset mereka baru-baru ini memproyeksikan pertumbuhan volume mi instan premium produksi ICBP bakal bisa mencapai 12% hingga akhir tahun ini.

DUA DIGIT

Analis Buana Capital Andre Suntono memperkirakan penjualan mi instan dan konsolidasi ICBP hingga akhir tahun bisa tumbuh 14,2% (year on year) menjadi Rp24 triliun.

Secara korporasi, penjualan mi instan berkontribusi 64,3% dari penjualan bersih ICBP. Buana Capital pun memproyeksikan pertumbuhan total penjualan bersih ICBP mencapai 17% hingga akhir tahun atau akan berkisar Rp37,3 triliun.

Pertumbuhan penjualan bisa mencapai dua digit karena Grup Salim itu telah merilis 32 produk baru dengan pertumbuhan ratarata penjualan mencapai 5%
year on year. Menurut Andre, ICBP masih akan terus menjadi pemimpin pasar karena adanya inovasi produk yang berkelanjutan, dan strategi harga.

“Sejak 2 tahun yang lalu, mi ICBP menghadapi perampingan atau bahkan pertumbuhan volume datar, karena penetrasi pasar yang sudah luas hingga 75% dari pangsa pasar. ICBP melalui inovasi produk dengan meluncurkan produk-produk baru, membantu perusahaan untuk menghasilkan volume penjualan baru yang meningkatkan volume secara keseluruhan,” tulisnya dalan riset.

Tahun ini, Buana Capital memproyeksikan penjualan mi premium akan menembus pasar yang lebih jauh yakni kelas menengah ke atas. Menurutnya,
meskipun ada peningkatan average selling price (ASP), produk premium masih tetap dijangkau oleh masyarakat.

So, dengan sejumlah proyeksi positif tersebut, ICBP juga mau tak mau harus mengakui kehadiran MYOR, dan mungkin pula emiten produsen makanan lainnya yang ingin berebut kegurihan pasar mi instan.

More From Makro Ekonomi

  • The Magnificent Seven Kini Terdiskon

    11:05 WIB

    Tujuh saham yang membukukan return fantastis (magnificent) pada tahun lalu, kini terjerembab ke zona merah sepanjang tahun berjalan (year to date)

  • Berharap Properti Bangkit Lagi

    11:00 WIB

    Pertumbuhan pasar properti yang melempem dalam dua tahun terakhir menjadi salah satu faktor penekan kinerja produsen semen. Apakah tren ini akan terus berlanjut pada tahun ini?

  • Reksa Dana Syariah Offshore Layak Dilirik

    14:16 WIB

    Mayoritas bursa global sepanjang tahun berjalan membukukan kinerja yang lebih kinclong dibandingkan dengan kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG). Produk reksa dana syariah offshore pun layak untuk dilirik.

  • Satu Hela Nafas Lega UNSP

    14:13 WIB

    Setelah mengantongi izin pemegang saham untuk menggelar reverse stock, emiten perkebunan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. segera menggelar restrukturisasi utang yang ditargetkan mampu mencapai titik temu dengan para kreditur pada semester I/2017.

News Feed

  • MA Memilih Tak Berfatwa

    Rabu, 22 Februari 2017 - 12:10 WIB

    Mahkamah Agung memilih sikap netral dan enggan mengeluarkan fatwa terkait dengan pandangan hukum atas status Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang dimohonkan pemerintah melalui Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.

  • TLKM Terganjal KPPU

    Rabu, 22 Februari 2017 - 11:45 WIB

    Investigator KPPU mengklaim telah menemukan bukti kuat bahwa PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. melakukan pelanggaran monopoli, dengan mengambil keuntungan posisi dominan hingga menerapkan perjanjian tertutup.

  • Bank Menengah Tergiur Infrastruktur

    Rabu, 22 Februari 2017 - 11:45 WIB

    Bank papan tengah tertarik untuk menyalurkan kredit ke sektor infrastruktur yang saat ini gencar dijalankan pemerintah. Terlebih lagi ketersediaan likuiditas mereka dinilai berlebih setelah kredit tahun lalu melambat

  • Berlomba-Lomba Tawarkan KTA

    Rabu, 22 Februari 2017 - 11:40 WIB

    Kredit tanpa agunan menjadi primadona tersendiri saat kebutuhan dana jangka pendek mendekat. Merespons kebutuhan itu, beberapa bank menjadikan salah satu produk konsumer tersebut sebagai penyokong kinerja kredit konsumsi

  • Kebutuhan Dana Tunai Jadi Pemicu

    Rabu, 22 Februari 2017 - 11:36 WIB

    Setelah sempat menurun 2,8% pada akhir 2015, nilai klaim dan manfaat yang dibayar indusri asuransi jiwa melonjak 32,4% pada akhir tahun lalu yang diperkirakan sejalan dengan meningkatnya kebutuhan uang tunai oleh masyarakat

Load More