Navigasi Bisnis Terpercaya

Minggu 11 Desember 2016
SEKTOR E-COMMERCE

Peluang Besar, Pasar Masih Terpusat

Annisa Margrit Rabu, 30/11/2016 10:03 WIB
Ecommerce
JAKARTA — Penetrasi e-commerce di Indonesia masih jauh dari potensinya. Kendati terus tumbuh, para pelaku usaha di sektor ini masih enggan menyasar pasar kota-kota besar lain- nya, selain Jakarta.
 
CFO PT KinerjaPay Indonesia Frans Budi Pranata mengungkapkan saat ini nilai transaksi e-commerce Tanah Air masih sekitar 1% dari total transaksi ritel yang terjadi.
Kecilnya nilai transaksi e-commerce disektor ritel ini dipengaruhi oleh cakupan pasar yang digarap oleh pelaku usaha di sektor tersebut. Para pelaku usaha e-commerce
sejauh ini masih fokus menggarap pasar Jakarta.
 
“Kalau mereka hanya fokus di Jakarta, itu sangat sulit. Mereka harus masuk ke Papua, Malang, Bali, atau Medan. ini yang so far
sangat tersentralisasi dan belum ada upaya yang masif di kota-kota besar lain, masih di Jakarta,” ujar dia, Selasa (29/11). Di sisi lain, transaksi e-commerce di Tanah Air
di targetkan mencapai US$130 miliar pada 2020. “Untuk mencapai target itu, penetrasi harus ditingkatkan.”
 
Berdasarkan perhitungan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), total omzet ritel modern sepanjang 2015 mencapai Rp181 triliun. Jika digabungkan dengan penjualan makanan dan minuman (mamin), angka trans- aksi mencapai Rp1.300 triliun.
 
Menurut Ketua Umum Aprindo Roy Nicholas Mandey, transaksi e-commerce
di negara lain sudah menyentuh kisaran 8%–12%. Infrastruktur yang belum maksimal menjadi salah satu kendala pengembangan e-commerce didalam negeri, ditambah dengan umur ketentuan mengenai transaksi dagang elektronik yang masih belia karena baru diluncurkan.Seperti diketahui, pemerintah baru menerbitkan peta jalan e-commerce dan paket kebijakan khusus sektor ini pada awal November 2016.
 
Untuk mempercepat pertumbuhan, lanjut Roy, pemerintah harus segera menelurkan petunjuk pelaksana serta petunjuk teknisnya. Hal ini juga penting untuk menggencarkan penetrasi sektor tersebut. Adapun, pelaku usaha ritel telah melakukan konvergensi sendiri dengan membuka lini bisnis e-commerce agar tidak kehilangan
pasar.
 
“Persaingan harga, peraturan, culture shock ,lifestyle memang jadi tantangan. Akan tetapi, pangsa pasar fisik dan online akan berbeda,” tuturnya. Aprindo menekankan pentingnya memberikan perlindungan kepada e-commerce lokal agar dapat tetap berjalan meski menghadapi persaingan dari e-commerce yang berbasis di luar negeri. Di sisi lain, peta jalan e-commerce mencantumkan tujuh isu yang mesti diselesaikan agar tidak lagi menjadi hambatan.
 
Ketujuh isu tersebut adalah pendidikan dan sumber daya manusia, logistik,perpajakan, perlindungan konsumen, pendanaan, infrastruktur komunikasi, serta keamanan
siber.
 
PENDANAAN ASING
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Keanggotan Organisasi Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Jusuf Adimarta mengatakan revisi Daftar Negatif Investasi (DNI) efektif mendorong perkembangan sektor ini karena banyak pendanaan dari investor asing yang masuk ke Indonesia. Dalam revisi tersebut, porsi kepemilikan asing di sektor ini bervariasi antara 49% hingga 85%.
 
Porsi 49% diperbolehkan antara lain untuk sektor pendukung seperti penyelenggaraan pos dan sektor transportasi yang melibatkan on demand service . Sementara itu, untuk modal ventura diizinkan sampai 85%. Sembari mendorong penetrasi, perlindungan terhadap konsu- men juga perlu diperhatikan. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang mesti dipatuhi oleh e-commerce , seperti tidak menjual barang dari black market (BM), harus menyertakan buku panduan berbahasa Indonesia ketika menjual barang kepada konsumen, serta menjual barang yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

More From Makro Ekonomi

  • Galang Dana Abadi Via Reksa Dana

    09:42 WIB

    Reksa dana semakin dilirik untuk menggalang dana abadi institusi sosial, kesehatan, keagamaan, hingga pendidikan. Sepanjang tahun ini saja, setidaknya ada empat produk endowment fund baru yang diluncurkan

  • Atraksi yang Belum Kelar

    01:00 WIB

    PT Bumi Resources Tbk. tak pernah berhenti menjadi buah bibir. Ibarat kereta halilintar di Dunia Fantasy Ancol, mungkin begitu gambaran pergerakan harga saham BUMI sejak go public.

  • Emiten Masih Konservatif

    08:30 WIB

    Meski harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) mulai rebound, sejumlah emiten masih memasang target konservatif pada 2017

  • Trump Effect Hanya Sementara

    08:45 WIB

    Bursa Efek Indonesia yakin kondisi tertekannya indeks harga saham gabungan akibat Trump Effect tidak akan berlangsung lama

News Feed

  • Data China Terus Membaik

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 05:47 WIB

    China kembali membukukan perbaikan dalam data ekonomi terbarunya. Kondisi itu meredakan kekhawatiran terjadinya penurunan ekonomi negara tersebut.

  • Tak Ragu Kejar WP Kakap

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 03:42 WIB

    Pemerintah tidak ragu mengejar wajib pajak besar yang belum memanfaatkan program pengampunan pajak. Para wajib pajak kelas kakap atau prominen yang belum mengikuti tax amnesty diminta untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebe lum berakhir pada Maret 2017.

  • Mendambakan Industri Kreatif Kian Kinclong

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 01:01 WIB

    Data perkembangan industri kreatif yang dirilis Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Badan Pusat Statistik, pekan ini, semakin memberi keyakinan bahwa industri ini layak dijadikan sebagai salah satu penyokong perekonomian nasional.

  • Indonesia Menang Atas Churchill

    Jum'at, 09 Desember 2016 - 11:00 WIB

    Pemerintah berhasil menyelamatkan uang negara senilai US$1,31 miliar setelah International Centre for Settlement of Investments Disputes (ICSID) menolak gugatan arbitrase Churchill Mining Plc. dan Planet Mining Pty Ltd.

  • CPGT Cari Suntikan Dana Segar

    Jum'at, 09 Desember 2016 - 10:53 WIB

    PT Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk. memasukkan klausul investor baru dalam rencana perdamaian sebagai sumber pembiayaan dalam proses restrukturisasi utang.

Load More