Navigasi Bisnis Terpercaya

Minggu 11 Desember 2016
SISTEM BUKA TUTUP

Ekspor Kepiting Bertelur Berpeluang Dibuka

Sri Mas Sari Rabu, 30/11/2016 11:16 WIB
Hasil tangkapan nelayan Teluk Jakarta berupa aneka ikan laut dan kepiting rajungan.
JAKARTA — Peluang ekspor kepiting betina bertelur dibuka setelah muncul desakan dari pelaku usaha pada periode tertentu  Pemerintah akan memperbolehkan penangkapan kepiting bertelur itu pada musim tertentu, saat komoditas bernomor pos tarif 0306.24.10.00 itu memiliki nilai ekonomi tinggi. Draf perubahan Peraturan
Menteri Kelautan dan Perikanan No. 1/2015 menyebutkan penangkapan atau pengeluaran kepiting dalam kondisi bertelur diperbolehkan pada awal Desember 2016 hingga akhir Februari 2017 dengan lebar karapas di atas 15 cm.
 
Penangkapan dan pengeluaran (ekspor) kepiting bertelur dilarang kembali pada Maret—November 2017. Pada periode tersebut, hanya kepiting tidak bertelur dengan lebar karapas di atas 15 cm atau berat di atas 350 gram per ekor. Pelaksana Tugas Dirjen Perikanan Tangkap KKP Zulficar Mochtar menjelaskan, sistem buka tutup (open-close season) dari aspek manajemen sumber daya dapat dilakukan.
 
“Namun, sementara di-review lagi berdasarkan input scientific dan dilihat manfaatnya. Belum final,” jelasnya, Selasa (29/11). Sehari sebelumnya, KKP mengadakan konsultasi publik penyusunan rancangan Permen KP tentang Penangkapan dan Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan, yang menghadirkan para pemang ku kepentingan, mulai dari nelayan, pengepul, eksportir, produsen kepiting kaleng, hingga pemerintah daerah.
 
Dalam pertemuan itu, sebagian besar pelaku usaha menyampaikan agar aturan tersebut mempertimbangkan karakteristik unik setiap daerah. Pelaku usaha juga meminta
pemerintah agar menerapkan sistem buka tutup ketimbang melarang sama sekali. Saat ditanya waktu yang dibutuhkan oleh KKP untuk meninjau dan mempertimbangkan usulan pemangku kepentingan, Zulficar menegaskan, mak simal beberapa pekan lagi keluar.
 
Berbeda dengan kepiting, draf revisi aturan penangkapan dan ekspor lobster dan rajungan masih sama dengan regulasi saat ini. Lobster yang boleh ditangkap dan diekspor harus dalam kondisi tidak bertelur, memiliki panjang karapas di atas 8 cm atau berat di atas 300 gram per ekor. Sementara itu, rajungan yang boleh ditangkap dan diekspor harus dalam kondisi tidak ber telur, memiliki lebar karapas di atas 10 cm atau berat di atas 55 gram per ekor.
 
Ketentuan itu dikecualikan untuk kepentingan pen didikan, penelitian, dan pengembangan.Setiap orang yang telanjur menangkap lobster, kepiting, dan rajungan bertelur  atau berukuran tidak sesuai dengan ketentuan, wajib melepaskannya jika masih hidup. Jika lobster, kepiting, dan rajungan bertelur itu mati, orang tersebut wajib melaporkannya kepada Dirjen Per ikanan Tangkap melalui kepala pelabuhan pang kalan yang tercantum dalam surat izin penangkapan ikan (SIPI).
 
PEMIJAHAN
Peneliti pada Balai Riset Perikanan Perairan Umum Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) KKP Ngurah N. Wiadnyana menjelaskan, penetapan lebar karapas  minimal 15 cm sesungguhnya untuk memberikan kesempatan kepiting bakau untuk melakukan paling tidak sekali pemijahan. Induk betina yang siap memijah yang selama ini tertangkap mempunyai rentanglebar karapas 9,1—17,1 cm dengan berat 170—870 gram per ekor.
 
Pada kondisi banyak makanan, lebar karapas kepiting bakau dapat mencapai 24 cm dengan berat 3,5 kg. “Dulu tidak ada pengendalian. Makin lama makin menurun ukurannya. Produksi juga menurun,” kata Wiadnyana. Di sisi lain, Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron memandang Permen KP No. 1/2015 hanya menekankan aspek  ekologis.
 
Dampak positifnya, akan terjadi keseimbangan sumber daya perikanan ke depan. Namun, dampak negatifnya akan terjadi gejolak sosial ekonomi nelayan. Di sisi lain, kata dia, program pemerintah tentang konservasi perairan sebagai salah satu upaya pemulihan stok sumber daya ikan kurang berjalan. Padahal, konsep itu sangat jitu memulihkan sumber daya ikan tanpa menimbulkan gejolak sosial ekonomi masyarakat.
 
“Kalau melihat masa lalu, memang seperti mobil tanpa rem, bablas. Kemudian melihat Permen ini, semuanya seperti digembok. Bagaimana kalau lebih baik kita izinkan mobil ini jalan, tetapi kita kasih traffic light,” ungkapnya. Dia mengusulkan, sebaiknya Menteri Kelautan dan Perikanan membuat peraturan yang mempertimbangkan tiga aspek sekaligus, yakni ekologis, ekonomi, dan sosial. Anggota Fraksi Partai Demokrat ini berpendapat sistem buka tutup merupakan gagasan yang baik untuk diterapkan.
 

More From Makro Ekonomi

  • Galang Dana Abadi Via Reksa Dana

    09:42 WIB

    Reksa dana semakin dilirik untuk menggalang dana abadi institusi sosial, kesehatan, keagamaan, hingga pendidikan. Sepanjang tahun ini saja, setidaknya ada empat produk endowment fund baru yang diluncurkan

  • Atraksi yang Belum Kelar

    01:00 WIB

    PT Bumi Resources Tbk. tak pernah berhenti menjadi buah bibir. Ibarat kereta halilintar di Dunia Fantasy Ancol, mungkin begitu gambaran pergerakan harga saham BUMI sejak go public.

  • Emiten Masih Konservatif

    08:30 WIB

    Meski harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) mulai rebound, sejumlah emiten masih memasang target konservatif pada 2017

  • Trump Effect Hanya Sementara

    08:45 WIB

    Bursa Efek Indonesia yakin kondisi tertekannya indeks harga saham gabungan akibat Trump Effect tidak akan berlangsung lama

News Feed

  • Data China Terus Membaik

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 05:47 WIB

    China kembali membukukan perbaikan dalam data ekonomi terbarunya. Kondisi itu meredakan kekhawatiran terjadinya penurunan ekonomi negara tersebut.

  • Tak Ragu Kejar WP Kakap

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 03:42 WIB

    Pemerintah tidak ragu mengejar wajib pajak besar yang belum memanfaatkan program pengampunan pajak. Para wajib pajak kelas kakap atau prominen yang belum mengikuti tax amnesty diminta untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebe lum berakhir pada Maret 2017.

  • Mendambakan Industri Kreatif Kian Kinclong

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 01:01 WIB

    Data perkembangan industri kreatif yang dirilis Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Badan Pusat Statistik, pekan ini, semakin memberi keyakinan bahwa industri ini layak dijadikan sebagai salah satu penyokong perekonomian nasional.

  • Indonesia Menang Atas Churchill

    Jum'at, 09 Desember 2016 - 11:00 WIB

    Pemerintah berhasil menyelamatkan uang negara senilai US$1,31 miliar setelah International Centre for Settlement of Investments Disputes (ICSID) menolak gugatan arbitrase Churchill Mining Plc. dan Planet Mining Pty Ltd.

  • CPGT Cari Suntikan Dana Segar

    Jum'at, 09 Desember 2016 - 10:53 WIB

    PT Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk. memasukkan klausul investor baru dalam rencana perdamaian sebagai sumber pembiayaan dalam proses restrukturisasi utang.

Load More