Navigasi Bisnis Terpercaya

Minggu 26 Februari 2017
SNI WAJIB KENDARAAN

Alat Penunjang Keselamatan Jadi Prioritas

Tegar Arief Rabu, 30/11/2016 11:20 WIB
Aktivitas manufaktur otomotif di AS.
JAKARTA — Kementerian Perindustrian akan memprioritaskan penerapan standar nasional Indonesia (SNI) wajib terhadap perlengkapan yang menunjang keselamatan ken-
daraan bermotor. Perlengkapan yang dimaksud antara lain komponen pengereman, speedometer , dankomponen spion. Ini merupakan tindaklajut dari permintaan Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) yang meminta cakupan SNI diperluas. Namun Kementerian Perindustrian menilai wajib SNI ini akan dilakukan secara bertahap.
 
“Tidak mungkin langsung tiba-tiba diwajibkan. Karena harus berhitung, bisa atau tidak barang itu diproduksi lokal? Kalau bisa bagaimana kualitasnya, maka harus bertahap,” kata Direktur Industri Maritim, Alat Trans portasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian Yan Sibarang kepada Bisnis , Selasa (29/11).
 
Saat ini, sejumlah komponen dan peralatan yang menempel dalam kendaraan bermotor memang telah memiliki SNI. Namun ada banyak komponen yang masih belum  menggunakan standardisasi, termasuk komponen yang menunjang keselamatan. Dia menambahkan, speedometer memang menjadi salah satu komponen yang terabaikan. Banyak pihak menilai alat ini tidak penting dan tidak perlu dilakukan penerapan SNI wajib. Namun menurutnya, speedometer merupakan salah satu kunci  penting dalam penggunaan kendaraan.
 
Dari data yang dirilis Badan Standardisasi Nasional (BSN), penerapan SNI untuk sektor keamanan berkendara memang masih minim. Sejauh ini, SNI wajib untuk sepeda  motor hanya diterapkan untuk helm, jaket, sarung tangan, aki, minyak pelumas, ban, pelek, karet pegangan stang, dan kaca spion. Adapun SNI untuk mobil adalah  penghapus kaca, aki, kaca pengaman, kaca spion, ban, dan lampu utama. “Kami akan susun, intinya faktor keselamatan ini akan menjadi prioritas untuk diatur,” imbuhnya.
 
Pemerintah akan melakukan inventarisasi dan pengukuran kualitas komponen yang di- produksi oleh industri lokal. Artinya, jika memang industri dalam negeri mampu menghasilkan produk yang berkua- litas maka penerapan SNI akan dilakukan secara wajib.
 
PENGENDALIAN IMPORTASI
Pasalnya, penerapan SNI wajib akan mampu mengendalikan importasi produk, terutama peralatan yang bisa diproduksi di dalam negeri. Selama ini, salah satu penyebab maraknya komponen impor adalah minimnya penggunaan label SNI. “Komponen yang menyangkut keselamatan ini, industrinya sudah ada dan memang wajib untuk dilindungi.” Di sisi lain, Yan mengakui minimnya peng- awasan menjadi penyebab maraknya produk impor – baik legal maupun illegal – yang tidak menggunakan label SNI. 
 
Menurutnya, kewenangan untuk mengendalikan ini ada pada Kementerian Perdagangan dan Ditjen Bea Cukai Kementerian Keuangan. Ketua Umum GIAMM Hamdani  Dzulkarnaen sebelumnya meminta kepada pemerintah untuk menambah cakupan penerapan SNI untuk komponen penunjang keselamatan, ter-uta ma kendaraan roda dua.
 
Dia menjelaskan, ada dua faktor yang menjadi alasan pelaku industri meminta adanya pemberlakuan SNI di komponen pengereman ini. Pertama alasan keselamatan, dan kedua karena banyaknya produk rem asal China dengan standar rendah yang masuk ke pasar domestik. “Kami dari industri komponen menilai SNI untuk kendaraan perlu dilakukan pembaruan, terutama yang mencakup faktor keselamatan,” kata dia.

More From Makro Ekonomi

  • Tren Cost of Fund Turun

    07:49 WIB

    Tren penurunan yield surat utang global yang terjadi saat ini dinilai menjadi momentum yang tepat untuk merilis surat utang berdenominasi valas. Penurunan yield tersebut akan berdampak pada penurunan biaya dana alias cost of fund emisi global bond.

  • Pendapatan Berulang Jadi Penopang

    07:35 WIB

    Sejumlah emiten properti berupaya menggenjot porsi pendapatan berulang sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas pendapatan di tengah penjualan yang cenderung fluktuatif.

  • Asing Tak Gubris Polemik Freeport

    07:53 WIB

    Meski terjadi gesekan antara pemerintah dan Freeport McMoran, faktor politik dalam negeri dinilai lebih dominan menjadi sentimen negatif di mata investor asing dalam berinvestasi di pasar modal Tanah Air.

  • DMAS Jual Lahan 28 Hektare

    07:41 WIB

    Pengelola lahan industri di bawah Grup Sinarmas, PT Puradeltas Lestari Tbk., telah menjual 28 hektare lahan pada awal tahun ini sehingga target penjualan yang ditetapkan pada tahun ini kian realistis.

News Feed

  • Rasa dan Estetika Kudapan Sehat

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 14:22 WIB

    Beberapa tahun belakangan, semakin banyak kaum urban yang mengalihkan kebiasaan makan mereka ke diet sehat dari bahanbahan nabati organik atau yang lebih ngetren disebut sebagai metode clean eating.

  • Menikmati Fuji dari Kawaguchi

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 14:21 WIB

    Gunung Fuji atau Fujiyama merupakan salah satu simbol dan ikon Jepang, selain bunga Sakura.

  • Mengukir Waktu dari Jam Tangan Kayu

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 13:34 WIB

    Aplikasi kayu-kayuan kini tak lagi terbatas pada furnitur rumah tangga. Di tangan orang-orang kreatif, material kayu bisa dimodifikasi menjadi jam tangan unik dengan tetap memberikan kesan eksklusif.

  • Napas Romantis Busana Pengantin Retro

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 13:27 WIB

    Dari masa ke masa, busana pengantin bergaya internasional terus mengalami evolusi tren, mulai dari potongan yang megar dan penuh detail rumit ala putri negeri dongeng, hingga siluet press body nan simpel dan minim aksen.

  • Penularan Demam Kuning

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 12:50 WIB

    Nyamuk yang terinfeksi dapat menularkan virus dari manusia ke manusiaNyamuk boleh jadi merupakan salah satu musuh utama manusia di bidang kesehatan.

Load More