Navigasi Bisnis Terpercaya

Minggu 11 Desember 2016
HARGA CPO

2017 Masih Diadang Ketidakpastian

Dara Aziliya Jum'at, 02/12/2016 12:00 WIB
/Bisnis

Seluruh pemangku kepentingan sawit tampaknya tak sabar menunggu 2017. Berbagai ramalan mengungkapkan harga komoditas itu diyakini mulai memulih. Apalagi, negara-negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC baru saja mencapai kata sepakat untuk segera memangkas produksi mereka.

Kita belum lupa saat 2015 produksi minyak dunia melimpah. Produksi energi Amerika Serikat mencapai level tertingginya dalam 30 tahun. Tak ayal, harga komoditas perkebunan yang sebagian besar diekspor Indonesia, ikut tergelincir tajam.

Data menunjukkan, harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) jatuh hingga US$526 per ton pada November 2015. Untunglah, el nino yang mengakibatkan penurunan produksi, terakumulasi dengan isu moratorium perluasan lahan sawit, ikut mengerek harga komoditas itu ke rata-rata US$670 ton sepanjang 2016 ini.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyampaikan, el nino memukul produksi CPO nasional tahun ini. Dia memprediksi penurunan produksi berkisar 20%-25% dari capaian tahun lalu sebesar 32,5 juta ton.

“Sehingga Indonesia kemungkinan akan memproduksi 30 juta ton CPO pada tahun ini. Untuk ekspor, kami memprediksi akan berada di level 22,5 juta ton tahun depan atau turun 15%,” ungkap Joko saat membuka Indonesia Palm Oil COnferencer (IPOC) 2017 di Nusa Dua, Kamis pekan lalu.

Joko menyebut di tengah perlemahan harga minyak dunia, industri sawit menghadapi sejumlah tantangan berat seperti kampanye negatif yang kian masif, kebijakan moratorium yang cenderung belum jelas, hingga menjadi sektor utama tertuduh sebagai pelaku kebakaran hutan besar pada 2015 lalu.

Kendati demikian, dia menyebut industri sawit nasional berkomitmen terus memperbaiki diri dengan praktik-praktik berkelanjutan sesuai tuntutan pasar global. Dia pun menyebut pemerintah turut mendukung industri ini dengan menyusun program dana perkebunan dan melakukan peremajaan di kebun-kebun milik rakyat.

Merujuk pada proyeksi produksi tersebut, analis yang merupakan co-editor Oil World, Siegfried Falk menyebut harga CPO pada 2017 berpotensi menyentuh US$800 per ton. Hal ini terutama terkerek oleh stok penutup tahun ini yang berada di level rendah.

“Dari analisis fundamental terhadap pasokan, perubahan yang terjadi di minyak sawit tidak akan begitu besar. Secara temporary bisa menuju US$800. Di kuatral kedua, penurunan tidak hanya karena sudah dekat masa panen,” kata Siegfried.

Siegfried menyebut pada kuartal kedua 2017, AS melangsungkan panen kedelai mereka sehingga volume minyak nabati di pasar global akan meningkat. Selain itu, Siegfried menyebut negara lain seperti Argentina dan Brasil terpantau tengah mengalami peningkatan produksi kedelai namun permintaan di negara itu ternyata tidak besar.

Meski produksi CPO diprediksi naik, dia menyebut secara umum stok tidak akan terlalu berbeda jauh dari tahun ini. Artinya, di samping berbagai faktor yang memang sangat fundamental, harga CPO tahun depan diyakini tidak akan merosot dalam seperti yang terjadi pada 2015 saat harga komoditas itu menyentuh titik terendahnya dalam satu dekade.

Berbeda dengan Siegfried yang terbilang amat optimistis, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan memasang target yang disebutnya rasional. Dia memperhitungkan berbagai sentimen negatif dan memprediksi harga CPO tahun depan rata-rata hanya US$680 atau naik tipis dari rerata tahun ini yang US$670 per ton.

“Di 2017 saya perkirakan itu US$680 per ton, itu rata-ratanya naik dari tahun ini. Faktornya harga crude oil kan meningkat, kita ikuti harga itu. Semester pertama mungkin stabil, kemudian semester kedua turun karena masuk harvest season,” kata Fadhil.

Fadil menjelaskan perbaikan harga CPO akan ditopang oleh program biodiesel B20 yang akan menyerap produksi CPO lebih banyak untuk pasar dalam negeri. dia memprediksi saat panen berlangsung di semester II/2017, harga CPO dapat menyentuh USS600 per ton.

 

BIODIESEL

“Saya bertanya-tanya apa yang membuat Indonesia membutuhkan waktu lama untuk menerapkan kebijakan ini?” ungkap Dorab Mistry dari Godrej International Ltd, perusahaan yang bergerak di perdagangan (ekspor-impor) yang berbasis di Mumbai, India.

Dorab menjawab pertanyaan soal bagaimana dampak dari program biodiesel yang telah diimplementasikan Indonesia sejak tahun lalu pada pergerakan harga CPO dunia. Sebagai pemain CPO terbesar, kebijakan ini jelas berdampak.

Menurutnya, harga CPO global perlahan menunjukkan pemulihan setelah Indonesia memutuskan kebijakan pungutan ekspor pada CPO dan turunannya mulai Agustus tahun lalu.

Konsensus para ahli yang menjadi pembicara IPOC sesungguhnya menuju ke satu kesimpulan, bahwa biodiesel akan menopang harga CPO tahun depan di tengah ketidakpasitan situasi ekonomi politik dunia.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) Bayu Krisnamurthi menyebut, meski dana untuk peremajaan kebun petani terserap sangat sedikit, sepanjang tahun ini petani telah menikmati pemulihan harga tandan buah segar (TBS) yang mereka jual ke pabrik kelapa sawit.

“Perbaikan harganya mulai dari TBS petani yang naik, dari sempat Rp800 menjadi Rp1.800  per kilogram belakangan ini,” kata Bayu.

Bisnis mencatat harga TBS sempat menyentuh Rp700 per kilogram di Riau, salah satu produsen terbesar CPO Indonesia.

Program biodiesel diluncurkan berdasarkan amanah PP No. 24/2015 tentang Penghimpunan Dana Perkebunan, Perpres No. 61/2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit, dan secara teknis aktivitas pungutannya diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 133/2015 tentang Pengutan Ekspor.

Data BPDP menunjukkan selama periode Januari-Oktober tahun ini, Badan Layanan Umum (BLU) yang berada di bawah Kementerian Keuangan itu telah menyalurkan dana untuk subsidi 2,14 juta kiloliter biodiesel. Belum lama ini, BPDP dan sejumlah perusahaan produsen telah menandatangani kontrak untuk November 2016 – April 2017 sebesar 1,53 juta kiloliter.

Dengan asumsi sepanjang 2016 total biodiesel yang disubsidi yaitu 2,5 juta kiloliter dan biaya subsidi per liter sebesar Rp4.000, maka BPDP diprediksi akan menyalurkan sedikitnya Rp10 triliun untuk program tersebut.

Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan menggarisbawahi peran besar biodiesel untuk menjaga harga CPO dunia tetap stabil. Menurutnya, dengan target produksi biodiesel sebesar 5,5 juta kiloliter tahun depan, program B20 Indonesia akan menjadi faktor terbesar stabilitas harga CPO tahun depan.

“Saat pertama kali dana ini dikutip, harga CPO pada bulan Juli 2015 itu USS535 per ton. Meski fluktuatif, harga CPO setelahnya menunjukkan tren kenaikan. Per Oktober 2016, harganya mencapai USS664 per ton,” jelas Ekonom INDEF itu.

Tahun depan, Bayu menargetkan pungutan CPO dapat mencapai Rp10,5 triliun, naik tipis dari tahun ini yang berkisar Rp10 triliun. Meski produksi diprediksi naik, Bayu memprediksi ekspor tahun depan tidak akan berbeda jauh dari tahun ini.

“Sampai 31 Oktober kemarin kami sudah bukukan Rp9 triliun dan tahun depan itu kurang lebih angka setahunnya sama dengan tahun ini, karena yang diekspor didominasi produk hilir,” terang Bayu pada Bisnis, akhir pekan lalu.

Bayu menyampaikan untuk tahun depan, ekspor memang diyakini akan meningkat dari tahun ini. Kendati demikian, komposisi ekspor akan didominasi oleh produk hilir CPO. Dalam aturan pungutan ekspor, nilai yang dikenakan untuk produk hilir memang lebih kecil dari yang dikenakan pada CPO mentah.

Oleh karena itu, sebagian besar dana yang dikumpulkan BPDP berasal dari ekspor produk CPO yang telah diproses. Pemerintah mengenakan pungutan yang lebih besar pada CPO untuk mendorong hilirisasi produk tersebut.

“Komposisi ekspor mulai berubah sejak ada bea keluar dan dengan adanya pungutan akan memperkuat arah hilirisasi itu. Sekarang dari seluruh yang diekspor, hanya 30% yang CPO, sisanya produk olahan. Tahun depan bisa bergerak ke 25-75 komposisinya,” ujar Bayu.

Begitu banyak faktor menentukan tren harga CPO tahun depan. Tidak hanya produksi minyak mentah, namun ranah politik seperti kebiakan Donald Trump yang baru saja terpilih memimpin AS, dan situasi politik dunia yang tahun lalu didominasi ‘perseteruan’ AS-Rusia, atau isu-isu keluarnya satu negara dari organisasi regional.

Analis komoditas global sepakat soal perlu ada faktor abadi yang menjaga harga CPO global tidak kembali anjlok, apalagi kalau bukan program biodiesel B20 di Indonesia. Dengan terus memperluas pasar B20, Indonesia berperan besar dalam menjaga harga CPO tetap stabil.

Apalagi, dengan adanya moratorium perluasan lahan kelapa sawit, pada 2026 mendatang, CPO yang saat ini menguasai pasar minyak nabati, justru dominasinya akan menjadi yang terkecil. Secara perlahan, jelas akan ada perubahan struktur pasar namun menjaga harga adalah kunci memastikan 4 juta petani sawit tetap sejahtera.

More From Makro Ekonomi

  • Galang Dana Abadi Via Reksa Dana

    09:42 WIB

    Reksa dana semakin dilirik untuk menggalang dana abadi institusi sosial, kesehatan, keagamaan, hingga pendidikan. Sepanjang tahun ini saja, setidaknya ada empat produk endowment fund baru yang diluncurkan

  • Atraksi yang Belum Kelar

    01:00 WIB

    PT Bumi Resources Tbk. tak pernah berhenti menjadi buah bibir. Ibarat kereta halilintar di Dunia Fantasy Ancol, mungkin begitu gambaran pergerakan harga saham BUMI sejak go public.

  • Emiten Masih Konservatif

    08:30 WIB

    Meski harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) mulai rebound, sejumlah emiten masih memasang target konservatif pada 2017

  • Trump Effect Hanya Sementara

    08:45 WIB

    Bursa Efek Indonesia yakin kondisi tertekannya indeks harga saham gabungan akibat Trump Effect tidak akan berlangsung lama

News Feed

  • Data China Terus Membaik

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 05:47 WIB

    China kembali membukukan perbaikan dalam data ekonomi terbarunya. Kondisi itu meredakan kekhawatiran terjadinya penurunan ekonomi negara tersebut.

  • Tak Ragu Kejar WP Kakap

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 03:42 WIB

    Pemerintah tidak ragu mengejar wajib pajak besar yang belum memanfaatkan program pengampunan pajak. Para wajib pajak kelas kakap atau prominen yang belum mengikuti tax amnesty diminta untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebe lum berakhir pada Maret 2017.

  • Mendambakan Industri Kreatif Kian Kinclong

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 01:01 WIB

    Data perkembangan industri kreatif yang dirilis Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Badan Pusat Statistik, pekan ini, semakin memberi keyakinan bahwa industri ini layak dijadikan sebagai salah satu penyokong perekonomian nasional.

  • Indonesia Menang Atas Churchill

    Jum'at, 09 Desember 2016 - 11:00 WIB

    Pemerintah berhasil menyelamatkan uang negara senilai US$1,31 miliar setelah International Centre for Settlement of Investments Disputes (ICSID) menolak gugatan arbitrase Churchill Mining Plc. dan Planet Mining Pty Ltd.

  • CPGT Cari Suntikan Dana Segar

    Jum'at, 09 Desember 2016 - 10:53 WIB

    PT Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk. memasukkan klausul investor baru dalam rencana perdamaian sebagai sumber pembiayaan dalam proses restrukturisasi utang.

Load More