Navigasi Bisnis Terpercaya

Minggu 11 Desember 2016
DEWAN SAWIT

Banyak Faktor Pengaruhi Harga CPO

Dara Aziliya Jum'at, 02/12/2016 13:48 WIB

Para analis menyebut 2016 merupakan tahun di mana mereka sangat sering mengubah proyeksi harga CPO. Berbagai faktor, terutama ketidakpastian yang kerap timbul dari negara-negara OPEC membuat harga CPO sangat fluktuatif. Lalu faktor apa aja yang mungkin mempengaruhi harga minyak nabati itu pada tahun depan? Berikut paparan wawancara Bisnis dengan Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia, Derom Bangun.

 

Bagaimana Anda melihat dampak dari keputusan OPEC untuk memangkas produksi minyak mentah?

Setelah keputusan itu kemarin, harga crude oil (CO) Brent sudah naik 0,6%, kalau WTI sudah sampai US$49 lebih. Dari pengumuman itu sah, sudah ada reaksi pasar. Dampak sebenarnya akan terlihat jelas saat keputusan pemangkasan produksinya dilaksanakan.

Biasanya kalau harga CO naik, harga CPO juga ikut naik. Akibatnya mungkin subsidi yang diperlukan untuk biodiesel dengan asumsi harga CPO kita naik sedikit, dana B20 akan dapat menyubsidi lebih banyak. Itu bisa berarti penyerapan CPO untuk biodiesel akan lebih banyak.

Nah itu akan mendorong harga CPO. Tapi tetap kita harus menunggu 1-2 minggu untuk melihat dampak keputusan OPEC. Harus diperhatikan juga negara produsen lain yang tidak tergabung OPEC, seperti Rusia. Apakah yakin mereka akan pangkas produksinya?

 

Kalau harga CO terkerek, bagaimana dampaknya pada perdagangan CPO di pasar global?

Saat IPOC kita mendengar harga semester I/2017 akan lebih baik dari semester II tahun ini. Di semester II saat panen memang akan ada penurunan, tapi itu pola yang biasa terjadi. Yang jelas, sampai Desemper ini harga CPO masih cukup kuat.

Kalau benar harga CO naik, tidak hanya biodiesel Indonesia yang terpengaruh. Di Eropa, mereka menggunakan minyak rapeseed untuk biodieselnya. Kalau selisih harga dengan CO menyempit, mereka akan serap lebih banyak rapeseed untuk biodiesel, di sana kebutuhan biodieselnya sampai 6 juta kiloliter per tahun.

Dampaknya, minyak rapeseed yang digunakan untuk industri mamin akan turun sehingga mereka akan membutuhkan lebih banyak CPO untuk subsitusinya. Nanti mereka bisa memasukkan lebih banyak CPO. Biasanya mekanismenya seperti itu.

 

Bagaimana dengan pasar besar yang lain?

Nah harus kita perhatikan juga faktor-faktor lain. Di Amerika Serikat misalnya, di 2016 ini, penanaman kedelai agak sedikit menurun arealnya. Tahun lalu, petani di AS itu mikir-mikir untuk menanam areal mereka dengan kedelai atau jagung karena faktor harganya yang lebih baik.

Petani di sana lalu sebagian besar menanam jagung karena harganya lebih menarik. Memang di posisi tahun lalu, harga jagung lebih bagus. Hal itu menyebabkan produksi kedelai turun. Kebutuhan CPO di AS mungkin akan naik.

Lalu Tiongkok itu pasar besar kita. Kalau lihat laporannya, mereka akan menambah stok CPO yang sekarang semakin menipis. Di Tiongkok, mereka menyimpan stok CPO dalam jumlah besar. Di sana bisa mencapai 900.000 ton yang harus dijadikan cadangan.

Tiongkok sempat membeli cukup banyak pada September kemarin, tapi sekarang stoknya sudah menurun sekali sehingga harus beli lagi untuk berjaga-jaga. Hal-hal seperti ini juga ikut memengaruhi harga CPO global.

 

Dengan asumsi produksi CPO di pangkas, bisa di level berapa harga CPO tahun depan?

Harga CPO sekarang sudah cukup baik, di level US$767 per hari ini . Saya rasa harganya bisa US$790 di Januari saat panen di tingkat terkecilnya. Kalau mempertimbangkan harga di semester II, masih cukup jauh ya.

Yang jelas saat musim panen memang harga menurun. Harga sekarang sudah cukup bagus. Kami tidak berharap harga CPO bisa sampai US$1.000 per ton seperti yang pernah kita alami pada 2010 kemarin.

More From Makro Ekonomi

  • Galang Dana Abadi Via Reksa Dana

    09:42 WIB

    Reksa dana semakin dilirik untuk menggalang dana abadi institusi sosial, kesehatan, keagamaan, hingga pendidikan. Sepanjang tahun ini saja, setidaknya ada empat produk endowment fund baru yang diluncurkan

  • Atraksi yang Belum Kelar

    01:00 WIB

    PT Bumi Resources Tbk. tak pernah berhenti menjadi buah bibir. Ibarat kereta halilintar di Dunia Fantasy Ancol, mungkin begitu gambaran pergerakan harga saham BUMI sejak go public.

  • Emiten Masih Konservatif

    08:30 WIB

    Meski harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) mulai rebound, sejumlah emiten masih memasang target konservatif pada 2017

  • Trump Effect Hanya Sementara

    08:45 WIB

    Bursa Efek Indonesia yakin kondisi tertekannya indeks harga saham gabungan akibat Trump Effect tidak akan berlangsung lama

News Feed

  • Data China Terus Membaik

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 05:47 WIB

    China kembali membukukan perbaikan dalam data ekonomi terbarunya. Kondisi itu meredakan kekhawatiran terjadinya penurunan ekonomi negara tersebut.

  • Tak Ragu Kejar WP Kakap

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 03:42 WIB

    Pemerintah tidak ragu mengejar wajib pajak besar yang belum memanfaatkan program pengampunan pajak. Para wajib pajak kelas kakap atau prominen yang belum mengikuti tax amnesty diminta untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebe lum berakhir pada Maret 2017.

  • Mendambakan Industri Kreatif Kian Kinclong

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 01:01 WIB

    Data perkembangan industri kreatif yang dirilis Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Badan Pusat Statistik, pekan ini, semakin memberi keyakinan bahwa industri ini layak dijadikan sebagai salah satu penyokong perekonomian nasional.

  • Indonesia Menang Atas Churchill

    Jum'at, 09 Desember 2016 - 11:00 WIB

    Pemerintah berhasil menyelamatkan uang negara senilai US$1,31 miliar setelah International Centre for Settlement of Investments Disputes (ICSID) menolak gugatan arbitrase Churchill Mining Plc. dan Planet Mining Pty Ltd.

  • CPGT Cari Suntikan Dana Segar

    Jum'at, 09 Desember 2016 - 10:53 WIB

    PT Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk. memasukkan klausul investor baru dalam rencana perdamaian sebagai sumber pembiayaan dalam proses restrukturisasi utang.

Load More