Navigasi Bisnis Terpercaya

Minggu 26 Februari 2017
DEWAN SAWIT

Banyak Faktor Pengaruhi Harga CPO

Dara Aziliya Jum'at, 02/12/2016 13:48 WIB

Para analis menyebut 2016 merupakan tahun di mana mereka sangat sering mengubah proyeksi harga CPO. Berbagai faktor, terutama ketidakpastian yang kerap timbul dari negara-negara OPEC membuat harga CPO sangat fluktuatif. Lalu faktor apa aja yang mungkin mempengaruhi harga minyak nabati itu pada tahun depan? Berikut paparan wawancara Bisnis dengan Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia, Derom Bangun.

 

Bagaimana Anda melihat dampak dari keputusan OPEC untuk memangkas produksi minyak mentah?

Setelah keputusan itu kemarin, harga crude oil (CO) Brent sudah naik 0,6%, kalau WTI sudah sampai US$49 lebih. Dari pengumuman itu sah, sudah ada reaksi pasar. Dampak sebenarnya akan terlihat jelas saat keputusan pemangkasan produksinya dilaksanakan.

Biasanya kalau harga CO naik, harga CPO juga ikut naik. Akibatnya mungkin subsidi yang diperlukan untuk biodiesel dengan asumsi harga CPO kita naik sedikit, dana B20 akan dapat menyubsidi lebih banyak. Itu bisa berarti penyerapan CPO untuk biodiesel akan lebih banyak.

Nah itu akan mendorong harga CPO. Tapi tetap kita harus menunggu 1-2 minggu untuk melihat dampak keputusan OPEC. Harus diperhatikan juga negara produsen lain yang tidak tergabung OPEC, seperti Rusia. Apakah yakin mereka akan pangkas produksinya?

 

Kalau harga CO terkerek, bagaimana dampaknya pada perdagangan CPO di pasar global?

Saat IPOC kita mendengar harga semester I/2017 akan lebih baik dari semester II tahun ini. Di semester II saat panen memang akan ada penurunan, tapi itu pola yang biasa terjadi. Yang jelas, sampai Desemper ini harga CPO masih cukup kuat.

Kalau benar harga CO naik, tidak hanya biodiesel Indonesia yang terpengaruh. Di Eropa, mereka menggunakan minyak rapeseed untuk biodieselnya. Kalau selisih harga dengan CO menyempit, mereka akan serap lebih banyak rapeseed untuk biodiesel, di sana kebutuhan biodieselnya sampai 6 juta kiloliter per tahun.

Dampaknya, minyak rapeseed yang digunakan untuk industri mamin akan turun sehingga mereka akan membutuhkan lebih banyak CPO untuk subsitusinya. Nanti mereka bisa memasukkan lebih banyak CPO. Biasanya mekanismenya seperti itu.

 

Bagaimana dengan pasar besar yang lain?

Nah harus kita perhatikan juga faktor-faktor lain. Di Amerika Serikat misalnya, di 2016 ini, penanaman kedelai agak sedikit menurun arealnya. Tahun lalu, petani di AS itu mikir-mikir untuk menanam areal mereka dengan kedelai atau jagung karena faktor harganya yang lebih baik.

Petani di sana lalu sebagian besar menanam jagung karena harganya lebih menarik. Memang di posisi tahun lalu, harga jagung lebih bagus. Hal itu menyebabkan produksi kedelai turun. Kebutuhan CPO di AS mungkin akan naik.

Lalu Tiongkok itu pasar besar kita. Kalau lihat laporannya, mereka akan menambah stok CPO yang sekarang semakin menipis. Di Tiongkok, mereka menyimpan stok CPO dalam jumlah besar. Di sana bisa mencapai 900.000 ton yang harus dijadikan cadangan.

Tiongkok sempat membeli cukup banyak pada September kemarin, tapi sekarang stoknya sudah menurun sekali sehingga harus beli lagi untuk berjaga-jaga. Hal-hal seperti ini juga ikut memengaruhi harga CPO global.

 

Dengan asumsi produksi CPO di pangkas, bisa di level berapa harga CPO tahun depan?

Harga CPO sekarang sudah cukup baik, di level US$767 per hari ini . Saya rasa harganya bisa US$790 di Januari saat panen di tingkat terkecilnya. Kalau mempertimbangkan harga di semester II, masih cukup jauh ya.

Yang jelas saat musim panen memang harga menurun. Harga sekarang sudah cukup bagus. Kami tidak berharap harga CPO bisa sampai US$1.000 per ton seperti yang pernah kita alami pada 2010 kemarin.

More From Makro Ekonomi

  • Tren Cost of Fund Turun

    07:49 WIB

    Tren penurunan yield surat utang global yang terjadi saat ini dinilai menjadi momentum yang tepat untuk merilis surat utang berdenominasi valas. Penurunan yield tersebut akan berdampak pada penurunan biaya dana alias cost of fund emisi global bond.

  • Pendapatan Berulang Jadi Penopang

    07:35 WIB

    Sejumlah emiten properti berupaya menggenjot porsi pendapatan berulang sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas pendapatan di tengah penjualan yang cenderung fluktuatif.

  • Asing Tak Gubris Polemik Freeport

    07:53 WIB

    Meski terjadi gesekan antara pemerintah dan Freeport McMoran, faktor politik dalam negeri dinilai lebih dominan menjadi sentimen negatif di mata investor asing dalam berinvestasi di pasar modal Tanah Air.

  • DMAS Jual Lahan 28 Hektare

    07:41 WIB

    Pengelola lahan industri di bawah Grup Sinarmas, PT Puradeltas Lestari Tbk., telah menjual 28 hektare lahan pada awal tahun ini sehingga target penjualan yang ditetapkan pada tahun ini kian realistis.

News Feed

  • Rasa dan Estetika Kudapan Sehat

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 14:22 WIB

    Beberapa tahun belakangan, semakin banyak kaum urban yang mengalihkan kebiasaan makan mereka ke diet sehat dari bahanbahan nabati organik atau yang lebih ngetren disebut sebagai metode clean eating.

  • Menikmati Fuji dari Kawaguchi

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 14:21 WIB

    Gunung Fuji atau Fujiyama merupakan salah satu simbol dan ikon Jepang, selain bunga Sakura.

  • Mengukir Waktu dari Jam Tangan Kayu

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 13:34 WIB

    Aplikasi kayu-kayuan kini tak lagi terbatas pada furnitur rumah tangga. Di tangan orang-orang kreatif, material kayu bisa dimodifikasi menjadi jam tangan unik dengan tetap memberikan kesan eksklusif.

  • Napas Romantis Busana Pengantin Retro

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 13:27 WIB

    Dari masa ke masa, busana pengantin bergaya internasional terus mengalami evolusi tren, mulai dari potongan yang megar dan penuh detail rumit ala putri negeri dongeng, hingga siluet press body nan simpel dan minim aksen.

  • Penularan Demam Kuning

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 12:50 WIB

    Nyamuk yang terinfeksi dapat menularkan virus dari manusia ke manusiaNyamuk boleh jadi merupakan salah satu musuh utama manusia di bidang kesehatan.

Load More