Navigasi Bisnis Terpercaya

Minggu 11 Desember 2016
EFEK TRUMP

Kebingungan Pasar Hanya Sementara

Veronika Yasinta Jum'at, 02/12/2016 10:39 WIB

JAKARTA--Bank Indonesia memprediksi perilaku pasar yang bingung terhadap ‘efek Trump’ akan berakhir pada Januari 2017 setelah kabinet bentukan Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump terbentuk.

Selain itu, Otoritas Moneter juga masih mempunyai ruang yang cukup untuk melonggarkan suku bunga sebagai langkah antisipatif potensi resesi ekonomi di AS.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan setelah pasar melewati volatilitas yang diprediksi berakhir pada Januari 2017, maka ekonomi memasuki masa normal. Dia menuturkan ekonomi domestik juga harus memiliki kondisi makro yang sehat dengan inflasi kisaran 3%.

Dengan inflasi yang tak mencapai 4% pada tahun depan, dia meyakini periode kebijakan moneter yang longgar sepanjang tahun ini dapat terus berlangsung.  Hingga akhir tahun ini, inflasi masih ada di kisaran 3%-3,2%.

"Penting untuk pemerintah seperti Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan pada waktu memformulasikan pengurangan subsidi listrik pada 2017 berapa besarannya itu yang kita hitung dampaknya ke inflasi 2017," katanya, di Jakarta, Kamis (1/12).

Selain itu, ekonomi China juga akan menentukan harga komoditas sehingga denyut bisnis di Sumatra dan Kalimantan akan terpengaruh secara langsung.  Namun, BI meyakini pemulihan ekonomi China masih akan berlanjut pada 2017.

Tahun depan, China juga menggelar sidang Partai Komunis sehingga dipastikan Negeri Panda itu akan menjaga perekonomian. Pemulihan pertumbuhan ekonomi China diperkirakan masih berlanjut di level 6,5%-6,7% pada 2017.

Perbaikan harga komoditas itu lantas dapat memperbaiki defisit transaksi berjalan yang diproyeksikan di kisaran 2%-2,5% pada tahun depan. Selain itu, Mirza juga menyebutkan masuknya portofolio dan repatriasi dana dari amnesti pajak membuat neraca pembayaran surplus US$10 miliar pada tahun ini.

"Portofolio inflow sudah mulai kembali, plus repatriasi. Overall balance of payment ya bisa jauh lebih baik dibandingkan 2015. Waktu itu full year defisit US$1 miliar," ucap Mirza.

 

Kebijakan AS

Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih menjelaskan hingga akhir tahun Bank Sentral masih memiliki peluang melonggarkan kebijakan moneter sambil menunggu keputusan kebijakan ekonomi AS. BI 7-day Reverse Repo Rate bisa diturunkan hingga ke level 4,5% atau turun lagi 25 basis poin.

Dia menyebutkan suku bunga acuan juga dapat dipangkas hingga 4% hingga semester pertama 2017. Pelonggaran kebijakan moneter diyakini dapat meredam efek resesi ekonomi di AS yang secara historis terjadi saat Partai Republik menguasai pemerintahan.

"Mumpung mood dari pelaku usaha membaik. Konsumen juga membaik, kita harus andalkan ekonomi dalam negeri," ujarnya.

Lana melihat dari delapan resesi AS sejak 50 tahun terakhir, tujuh di antaranya berasal dari Partai Republik. Kebijakan partai tersebut condong ke penurunan tarif pajak, menambah belanja militer sehingga harga minyak naik serta mengerek inflasi tinggi.

Kebijakan itu bisa menyebabkan penurunan ekonomi lebih tajam. Secara siklus, dia meyakini resesi di AS bisa terjadi pada 2-3 tahun ke depan sehingga kewaspadaan pengelolaan kebijakan ekonomi domestik harus dilakukan.

"Jadi ketika ekonomi kita tumbuh artinya semacam menabung, sehingga ketika AS resesi kita punya kekuatan ekonomi," katanya. 

More From Makro Ekonomi

  • Galang Dana Abadi Via Reksa Dana

    09:42 WIB

    Reksa dana semakin dilirik untuk menggalang dana abadi institusi sosial, kesehatan, keagamaan, hingga pendidikan. Sepanjang tahun ini saja, setidaknya ada empat produk endowment fund baru yang diluncurkan

  • Atraksi yang Belum Kelar

    01:00 WIB

    PT Bumi Resources Tbk. tak pernah berhenti menjadi buah bibir. Ibarat kereta halilintar di Dunia Fantasy Ancol, mungkin begitu gambaran pergerakan harga saham BUMI sejak go public.

  • Emiten Masih Konservatif

    08:30 WIB

    Meski harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) mulai rebound, sejumlah emiten masih memasang target konservatif pada 2017

  • Trump Effect Hanya Sementara

    08:45 WIB

    Bursa Efek Indonesia yakin kondisi tertekannya indeks harga saham gabungan akibat Trump Effect tidak akan berlangsung lama

News Feed

  • Data China Terus Membaik

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 05:47 WIB

    China kembali membukukan perbaikan dalam data ekonomi terbarunya. Kondisi itu meredakan kekhawatiran terjadinya penurunan ekonomi negara tersebut.

  • Tak Ragu Kejar WP Kakap

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 03:42 WIB

    Pemerintah tidak ragu mengejar wajib pajak besar yang belum memanfaatkan program pengampunan pajak. Para wajib pajak kelas kakap atau prominen yang belum mengikuti tax amnesty diminta untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebe lum berakhir pada Maret 2017.

  • Mendambakan Industri Kreatif Kian Kinclong

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 01:01 WIB

    Data perkembangan industri kreatif yang dirilis Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Badan Pusat Statistik, pekan ini, semakin memberi keyakinan bahwa industri ini layak dijadikan sebagai salah satu penyokong perekonomian nasional.

  • Indonesia Menang Atas Churchill

    Jum'at, 09 Desember 2016 - 11:00 WIB

    Pemerintah berhasil menyelamatkan uang negara senilai US$1,31 miliar setelah International Centre for Settlement of Investments Disputes (ICSID) menolak gugatan arbitrase Churchill Mining Plc. dan Planet Mining Pty Ltd.

  • CPGT Cari Suntikan Dana Segar

    Jum'at, 09 Desember 2016 - 10:53 WIB

    PT Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk. memasukkan klausul investor baru dalam rencana perdamaian sebagai sumber pembiayaan dalam proses restrukturisasi utang.

Load More