Navigasi Bisnis Terpercaya

Kamis 30 Maret 2017
EFEK TRUMP

Kebingungan Pasar Hanya Sementara

Veronika Yasinta Jum'at, 02/12/2016 10:39 WIB

JAKARTA--Bank Indonesia memprediksi perilaku pasar yang bingung terhadap ‘efek Trump’ akan berakhir pada Januari 2017 setelah kabinet bentukan Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump terbentuk.

Selain itu, Otoritas Moneter juga masih mempunyai ruang yang cukup untuk melonggarkan suku bunga sebagai langkah antisipatif potensi resesi ekonomi di AS.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan setelah pasar melewati volatilitas yang diprediksi berakhir pada Januari 2017, maka ekonomi memasuki masa normal. Dia menuturkan ekonomi domestik juga harus memiliki kondisi makro yang sehat dengan inflasi kisaran 3%.

Dengan inflasi yang tak mencapai 4% pada tahun depan, dia meyakini periode kebijakan moneter yang longgar sepanjang tahun ini dapat terus berlangsung.  Hingga akhir tahun ini, inflasi masih ada di kisaran 3%-3,2%.

"Penting untuk pemerintah seperti Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan pada waktu memformulasikan pengurangan subsidi listrik pada 2017 berapa besarannya itu yang kita hitung dampaknya ke inflasi 2017," katanya, di Jakarta, Kamis (1/12).

Selain itu, ekonomi China juga akan menentukan harga komoditas sehingga denyut bisnis di Sumatra dan Kalimantan akan terpengaruh secara langsung.  Namun, BI meyakini pemulihan ekonomi China masih akan berlanjut pada 2017.

Tahun depan, China juga menggelar sidang Partai Komunis sehingga dipastikan Negeri Panda itu akan menjaga perekonomian. Pemulihan pertumbuhan ekonomi China diperkirakan masih berlanjut di level 6,5%-6,7% pada 2017.

Perbaikan harga komoditas itu lantas dapat memperbaiki defisit transaksi berjalan yang diproyeksikan di kisaran 2%-2,5% pada tahun depan. Selain itu, Mirza juga menyebutkan masuknya portofolio dan repatriasi dana dari amnesti pajak membuat neraca pembayaran surplus US$10 miliar pada tahun ini.

"Portofolio inflow sudah mulai kembali, plus repatriasi. Overall balance of payment ya bisa jauh lebih baik dibandingkan 2015. Waktu itu full year defisit US$1 miliar," ucap Mirza.

 

Kebijakan AS

Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih menjelaskan hingga akhir tahun Bank Sentral masih memiliki peluang melonggarkan kebijakan moneter sambil menunggu keputusan kebijakan ekonomi AS. BI 7-day Reverse Repo Rate bisa diturunkan hingga ke level 4,5% atau turun lagi 25 basis poin.

Dia menyebutkan suku bunga acuan juga dapat dipangkas hingga 4% hingga semester pertama 2017. Pelonggaran kebijakan moneter diyakini dapat meredam efek resesi ekonomi di AS yang secara historis terjadi saat Partai Republik menguasai pemerintahan.

"Mumpung mood dari pelaku usaha membaik. Konsumen juga membaik, kita harus andalkan ekonomi dalam negeri," ujarnya.

Lana melihat dari delapan resesi AS sejak 50 tahun terakhir, tujuh di antaranya berasal dari Partai Republik. Kebijakan partai tersebut condong ke penurunan tarif pajak, menambah belanja militer sehingga harga minyak naik serta mengerek inflasi tinggi.

Kebijakan itu bisa menyebabkan penurunan ekonomi lebih tajam. Secara siklus, dia meyakini resesi di AS bisa terjadi pada 2-3 tahun ke depan sehingga kewaspadaan pengelolaan kebijakan ekonomi domestik harus dilakukan.

"Jadi ketika ekonomi kita tumbuh artinya semacam menabung, sehingga ketika AS resesi kita punya kekuatan ekonomi," katanya. 

More From Makro Ekonomi

  • Ambisi Tito Lampaui Aset Perbankan

    13:34 WIB

    "Hidup itu harus ada target. Setelah tembus Rp6.000 triliun, kami harap market cap bisa melampaui aset perbankan," ucap Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Kamis (23/3).

  • PPRO Garap Kertajati

    13:28 WIB

    PT PP Properti Tbk. melalui kerja sama dengan PT BIJB Aerocity Development akan mengembangkan kawasan bisnis seluas 300 hektare di kawasan Bandar Udara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat

  • Bisnis Indonesia Edisi Cetak Senin, 27 Maret 2017 Seksi Market

    01:48 WIB

    Berikut ini adalah ringkasan headlines BISNIS INDONESIA edisi cetak Senin, 27 Maret 2017. Untuk menyimak lebih lanjut, silahkan kunjungi http://epaper.bisnis.com/

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

News Feed

  • Gubernur BI Siap Bersaksi

    Rabu, 29 Maret 2017 - 16:42 WIB

    Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardoo dijadwalkan hadir dalam persidangan kasus korupsi pengadaan KTP elektronik, Kamis (30/3), dalam kapasitasnya sebagai saksi terhadap terdakwa Irman dan Sugoharto, mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri.

  • Asia Paper Diberi Tenggat 45 Hari

    Rabu, 29 Maret 2017 - 14:05 WIB

    Masa penundaan kewajiban pembayaran utang PT Asia Paper Mills akhirnya disepakati selama 45 hari, jauh dari harapan perseroan selaku debitur, yang mengajukan perpanjangan waktu 180 hari.

  • RI Bersiap Hadapi AS

    Rabu, 29 Maret 2017 - 12:11 WIB

    Indonesia bersiap menghadapi tudingan dumping dan subsidi dari Amerika Serikat atas produk biodiesel Tanah Air, setelah sebelumnya Uni Eropa menyampaikan tuduhan serupa

  • “Koperasi Bisa Menjadi Kekuatan Dahsyat”

    Rabu, 29 Maret 2017 - 11:52 WIB

    Pemerintah sejak awal sepakat menjadikan koperasi dan usaha kecil menengah (UKM) sebagai salah satu tulang punggung pertumbuhan ekonomi, dan berupaya terus menumbuhkan pelaku usahanya dengan berbagai kebijakan. Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Menteri Koperasi dan UKM menjelaskan upaya yang selama ini dilakukan pemerintah untuk koperasi dan UKM. Berikut ini petikan wawancaranya.

  • KKP Bidik Pemilik Kapal Jumbo

    Rabu, 29 Maret 2017 - 10:02 WIB

    Kementerian Kelautan dan Perikanan membidik perusahaan-perusahaan yang menjadi pemilik 16.000 kapal perikanan di atas 30 gros ton lulus sertifikasi hak asasi manusia sebagai parameter penilaian perpanjangan izin usaha.

Load More