Navigasi Bisnis Terpercaya

Rabu 25 Januari 2017
EFEK TRUMP

Kebingungan Pasar Hanya Sementara

Veronika Yasinta Jum'at, 02/12/2016 10:39 WIB

JAKARTA--Bank Indonesia memprediksi perilaku pasar yang bingung terhadap ‘efek Trump’ akan berakhir pada Januari 2017 setelah kabinet bentukan Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump terbentuk.

Selain itu, Otoritas Moneter juga masih mempunyai ruang yang cukup untuk melonggarkan suku bunga sebagai langkah antisipatif potensi resesi ekonomi di AS.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan setelah pasar melewati volatilitas yang diprediksi berakhir pada Januari 2017, maka ekonomi memasuki masa normal. Dia menuturkan ekonomi domestik juga harus memiliki kondisi makro yang sehat dengan inflasi kisaran 3%.

Dengan inflasi yang tak mencapai 4% pada tahun depan, dia meyakini periode kebijakan moneter yang longgar sepanjang tahun ini dapat terus berlangsung.  Hingga akhir tahun ini, inflasi masih ada di kisaran 3%-3,2%.

"Penting untuk pemerintah seperti Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan pada waktu memformulasikan pengurangan subsidi listrik pada 2017 berapa besarannya itu yang kita hitung dampaknya ke inflasi 2017," katanya, di Jakarta, Kamis (1/12).

Selain itu, ekonomi China juga akan menentukan harga komoditas sehingga denyut bisnis di Sumatra dan Kalimantan akan terpengaruh secara langsung.  Namun, BI meyakini pemulihan ekonomi China masih akan berlanjut pada 2017.

Tahun depan, China juga menggelar sidang Partai Komunis sehingga dipastikan Negeri Panda itu akan menjaga perekonomian. Pemulihan pertumbuhan ekonomi China diperkirakan masih berlanjut di level 6,5%-6,7% pada 2017.

Perbaikan harga komoditas itu lantas dapat memperbaiki defisit transaksi berjalan yang diproyeksikan di kisaran 2%-2,5% pada tahun depan. Selain itu, Mirza juga menyebutkan masuknya portofolio dan repatriasi dana dari amnesti pajak membuat neraca pembayaran surplus US$10 miliar pada tahun ini.

"Portofolio inflow sudah mulai kembali, plus repatriasi. Overall balance of payment ya bisa jauh lebih baik dibandingkan 2015. Waktu itu full year defisit US$1 miliar," ucap Mirza.

 

Kebijakan AS

Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih menjelaskan hingga akhir tahun Bank Sentral masih memiliki peluang melonggarkan kebijakan moneter sambil menunggu keputusan kebijakan ekonomi AS. BI 7-day Reverse Repo Rate bisa diturunkan hingga ke level 4,5% atau turun lagi 25 basis poin.

Dia menyebutkan suku bunga acuan juga dapat dipangkas hingga 4% hingga semester pertama 2017. Pelonggaran kebijakan moneter diyakini dapat meredam efek resesi ekonomi di AS yang secara historis terjadi saat Partai Republik menguasai pemerintahan.

"Mumpung mood dari pelaku usaha membaik. Konsumen juga membaik, kita harus andalkan ekonomi dalam negeri," ujarnya.

Lana melihat dari delapan resesi AS sejak 50 tahun terakhir, tujuh di antaranya berasal dari Partai Republik. Kebijakan partai tersebut condong ke penurunan tarif pajak, menambah belanja militer sehingga harga minyak naik serta mengerek inflasi tinggi.

Kebijakan itu bisa menyebabkan penurunan ekonomi lebih tajam. Secara siklus, dia meyakini resesi di AS bisa terjadi pada 2-3 tahun ke depan sehingga kewaspadaan pengelolaan kebijakan ekonomi domestik harus dilakukan.

"Jadi ketika ekonomi kita tumbuh artinya semacam menabung, sehingga ketika AS resesi kita punya kekuatan ekonomi," katanya. 

More From Makro Ekonomi

  • OJK Rancang Instrumen Investasi Baru

    07:28 WIB

    Besarnya kebutuhan dana untuk mendorong pembangunan infrastruktur nasional mendorong Otoritas Jasa Keuangan menyusun produk investasi khusus yang diterbitkan oleh manajer investasi untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur publik.

  • Beban Emiten Properti Berpotensi Naik

    07:14 WIB

    Wacana pemerintah menerapkan kebijakan pajak progresif untuk objek lahan diperkirakan dapat mengerek beban emiten properti. Emiten menilai, penerapan pajak progresif bakal membuat biaya pengembangan menjadi lebih tinggi sehingga mengerek harga jual.

  • Reksa Dana Terproteksi Kian Seksi

    07:06 WIB

    Reksa dana terproteksi diproyeksi semakin menarik seiring dengan lampu hijau penggunaan surat utang jangka pendek (medium term notes/MTN) sebagai aset dasar produk investasi tersebut.

  • Jurus Menceker & Mematuk Cuan

    06:58 WIB

    Tahun Monyet Api segera berlalu dan berganti menjadi tahun Ayam Api. Kendati bisnis yang bakal diuntungkan tidak akan jauh berbeda, tetapi ayam merupakan elemen logam sehingga kewaspadaan juga harus ditingkatkan. Pasalnya, elemen logam dan api sering kali tidak harmonis.

News Feed

  • Jangan Cuma Bicara SARA Melulu

    Selasa, 24 Januari 2017 - 11:25 WIB

    Komisi Pemilihan Umum Daerah DKI Jakarta perlu memperdalam materi debat calon gubernur dan calon wakil gubernur sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pembelajaran politik bagi masyarakat.

  • Kreditur Minta Daftar Aset Perusahaan

    Selasa, 24 Januari 2017 - 11:20 WIB

    PT Bank CIMB Niaga Tbk. dan sejumlah kreditur lain meminta PT Kembang Delapan Delapan Multifinance segera menyerahkan daftar aset agar diketahui prospek perusahaan yang tengah dalam PKPU tersebut.

  • Mengawinkan Investasi & Kearifan Lokal

    Selasa, 24 Januari 2017 - 10:55 WIB

    Kala penguasa di negeri ini mulai agresif memetakan pulau-pulau kecil terluar sebagai komoditas penerimaan negara, masyarakat pesisir justru kian tersingkir.

  • Pengusaha Bisa Ajukan Judicial Review

    Selasa, 24 Januari 2017 - 10:42 WIB

    Pemprov DKI mempersilakan pelaku usaha di Jakarta untuk mengajukan judicial review terhadap UU No.26/2007 tentang Penataan Ruang bila keberatan dengan minimnya jangka penyesuaian lokasi industri kepada Mahkamah Konstitusi.

  • BUMD Dituntut Proaktif

    Selasa, 24 Januari 2017 - 10:24 WIB

    Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia meminta Badan Usaha Milik Daerah proaktif untuk menyertakan laporan keuangan sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas dalam mengelola keuangan.

Load More