Navigasi Bisnis Terpercaya

Minggu 11 Desember 2016
INDUSTRI TELEKOMUNIKASI

Pembangunan Jaringan di RI Tidak Sehat

Agnes Savithri Jum'at, 02/12/2016 11:08 WIB
Pemeliharaan jaringan 4G

JAKARTA— Infrastruktur jaringan dinilai jadi komponen utama dalam keberlangsungan industri telekomunikasi, namun keberadaan jaringan di negara ini dinilai paling tidak sehat pembangunannya.

CEO Smartfren Merza Fachys mengemukan kondisi pembangunan jaringan oleh para operator saat ini sering terbentur dengan beberapa hal krusial sehingga menjadikannya menjadi komponen ekonomi biaya tinggi.

“Padahal ketersediaan jaringan di suatu wilayah menjadi hal utama untuk operator selular menggelar layanan agar masyarakat dapat terhubung. Banyak hal yang harus dilakukan untuk menyehatkan jaringan. Pasalnya, saat ini pembangunan jaringan menjadi ekonomi biaya tinggi karena ada hal-hal yang sebenarnya bisa dipangkas," ujarnya kepada Bisnis, di Jakarta, Kamis (1/12).

Merza yang juga Ketua ATSI (Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia) menambahkan pentingnya pemerintah mensosialisasikan infrastruktur telekomunikasi sebagai salah satu infrastruktur strategis layaknya listrik, air, jalan dan perumahan.

Dia melihat infrastruktur telekomunikasi diperlakukan berbeda dengan pembangunan infrastruktur lainnya seperti pembangunan kabel listrik. Padahal, saat ini telekomunikasi menjadi salah satu hal krusial yang dibutuhkan oleh banyak orang.

Lebih lanjut, Merza mengungkapkan otoritas daerah mengenakan terlalu banyak pungutan biaya. "Di beberapa daerah bahkan IMB harus dibayarkan secara berkala ada yang dua tahun sekali, ada yang satu tahun sekali," tambahnya.

Melihat pembangunan jaringan yang termasuk ke dalam ekonomi biaya tinggi ini, infrastruktur berbagi yang terdapat di revisi PP 52/2000 dinilai sebagai salah satu solusi.

Merza mengungkapkan, apabila ada operator yang ingin jalan sendiri, tidak apa-apa. Namun, jika ada yang mau bergabung untuk membangun bersama pun jangan dihalangi. "Semua tujuannya sama yakni menyediakan jaringan di wilayah yang saat ini belum tersedia agar semua dapat terhubung. Spiritnya adalah kebersamaan, tetapi saat ini mindset orang-orang adalah sharing infrastruktur dengan nebeng," tuturnya.

Merza juga mengakui pembiayaan operator memiliki kemampuan yang berbeda-beda sehingga tidak bisa dipaksakan dan untuk wilayah-wilayah yang saat ini belum terbangun.

Namun, ketua ATSI itu mengharapkan pelaku usaha (operator) dapat membangun bersama. “Tentunya sepanjang regulasinya akan diperbolehkan.”

Seperti yang diketahui, masalah pembangunan jaringan di wilayah-wilayah yang belum tersedia jaringan dan revisi PP menjadi isu ramai akhir-akhir ini. Saat ini pemerintah telah sepakat terhadap poin revisi tersebut.

Kabiro Hukum dan Humas Kemenko Perekonomian Elen Setiadi mengungkapkan ketiga kementerian ini telah duduk bersama untuk menyepakati revisi kedua Peraturan Pemerintah yang akhir-akhir ini tengah mendapatkan sorotan publik.

"Dalam revisi PP No. 52, network sharing dibagi ke dalam lima pengaturan yakni penyewaan, penggunaan, kemitraan, pemanfaatan dan dalam keadaan tertentu. Seperti yang diketahui, dalam keadaan tertentu tersebut yang selama ini menjadi persoalan," ujarnya, Selasa (29/11).

Elen menambahkan keadaan tertentu tersebut pemerintah bisa meminta kesediaan para operator untuk membuka jaringannya. 

More From Makro Ekonomi

  • Galang Dana Abadi Via Reksa Dana

    09:42 WIB

    Reksa dana semakin dilirik untuk menggalang dana abadi institusi sosial, kesehatan, keagamaan, hingga pendidikan. Sepanjang tahun ini saja, setidaknya ada empat produk endowment fund baru yang diluncurkan

  • Atraksi yang Belum Kelar

    01:00 WIB

    PT Bumi Resources Tbk. tak pernah berhenti menjadi buah bibir. Ibarat kereta halilintar di Dunia Fantasy Ancol, mungkin begitu gambaran pergerakan harga saham BUMI sejak go public.

  • Emiten Masih Konservatif

    08:30 WIB

    Meski harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) mulai rebound, sejumlah emiten masih memasang target konservatif pada 2017

  • Trump Effect Hanya Sementara

    08:45 WIB

    Bursa Efek Indonesia yakin kondisi tertekannya indeks harga saham gabungan akibat Trump Effect tidak akan berlangsung lama

News Feed

  • Data China Terus Membaik

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 05:47 WIB

    China kembali membukukan perbaikan dalam data ekonomi terbarunya. Kondisi itu meredakan kekhawatiran terjadinya penurunan ekonomi negara tersebut.

  • Tak Ragu Kejar WP Kakap

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 03:42 WIB

    Pemerintah tidak ragu mengejar wajib pajak besar yang belum memanfaatkan program pengampunan pajak. Para wajib pajak kelas kakap atau prominen yang belum mengikuti tax amnesty diminta untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebe lum berakhir pada Maret 2017.

  • Mendambakan Industri Kreatif Kian Kinclong

    Sabtu, 10 Desember 2016 - 01:01 WIB

    Data perkembangan industri kreatif yang dirilis Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Badan Pusat Statistik, pekan ini, semakin memberi keyakinan bahwa industri ini layak dijadikan sebagai salah satu penyokong perekonomian nasional.

  • Indonesia Menang Atas Churchill

    Jum'at, 09 Desember 2016 - 11:00 WIB

    Pemerintah berhasil menyelamatkan uang negara senilai US$1,31 miliar setelah International Centre for Settlement of Investments Disputes (ICSID) menolak gugatan arbitrase Churchill Mining Plc. dan Planet Mining Pty Ltd.

  • CPGT Cari Suntikan Dana Segar

    Jum'at, 09 Desember 2016 - 10:53 WIB

    PT Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk. memasukkan klausul investor baru dalam rencana perdamaian sebagai sumber pembiayaan dalam proses restrukturisasi utang.

Load More