Navigasi Bisnis Terpercaya

Minggu 26 Februari 2017
INDUSTRI TELEKOMUNIKASI

Pembangunan Jaringan di RI Tidak Sehat

Agnes Savithri Jum'at, 02/12/2016 11:08 WIB
Pemeliharaan jaringan 4G

JAKARTA— Infrastruktur jaringan dinilai jadi komponen utama dalam keberlangsungan industri telekomunikasi, namun keberadaan jaringan di negara ini dinilai paling tidak sehat pembangunannya.

CEO Smartfren Merza Fachys mengemukan kondisi pembangunan jaringan oleh para operator saat ini sering terbentur dengan beberapa hal krusial sehingga menjadikannya menjadi komponen ekonomi biaya tinggi.

“Padahal ketersediaan jaringan di suatu wilayah menjadi hal utama untuk operator selular menggelar layanan agar masyarakat dapat terhubung. Banyak hal yang harus dilakukan untuk menyehatkan jaringan. Pasalnya, saat ini pembangunan jaringan menjadi ekonomi biaya tinggi karena ada hal-hal yang sebenarnya bisa dipangkas," ujarnya kepada Bisnis, di Jakarta, Kamis (1/12).

Merza yang juga Ketua ATSI (Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia) menambahkan pentingnya pemerintah mensosialisasikan infrastruktur telekomunikasi sebagai salah satu infrastruktur strategis layaknya listrik, air, jalan dan perumahan.

Dia melihat infrastruktur telekomunikasi diperlakukan berbeda dengan pembangunan infrastruktur lainnya seperti pembangunan kabel listrik. Padahal, saat ini telekomunikasi menjadi salah satu hal krusial yang dibutuhkan oleh banyak orang.

Lebih lanjut, Merza mengungkapkan otoritas daerah mengenakan terlalu banyak pungutan biaya. "Di beberapa daerah bahkan IMB harus dibayarkan secara berkala ada yang dua tahun sekali, ada yang satu tahun sekali," tambahnya.

Melihat pembangunan jaringan yang termasuk ke dalam ekonomi biaya tinggi ini, infrastruktur berbagi yang terdapat di revisi PP 52/2000 dinilai sebagai salah satu solusi.

Merza mengungkapkan, apabila ada operator yang ingin jalan sendiri, tidak apa-apa. Namun, jika ada yang mau bergabung untuk membangun bersama pun jangan dihalangi. "Semua tujuannya sama yakni menyediakan jaringan di wilayah yang saat ini belum tersedia agar semua dapat terhubung. Spiritnya adalah kebersamaan, tetapi saat ini mindset orang-orang adalah sharing infrastruktur dengan nebeng," tuturnya.

Merza juga mengakui pembiayaan operator memiliki kemampuan yang berbeda-beda sehingga tidak bisa dipaksakan dan untuk wilayah-wilayah yang saat ini belum terbangun.

Namun, ketua ATSI itu mengharapkan pelaku usaha (operator) dapat membangun bersama. “Tentunya sepanjang regulasinya akan diperbolehkan.”

Seperti yang diketahui, masalah pembangunan jaringan di wilayah-wilayah yang belum tersedia jaringan dan revisi PP menjadi isu ramai akhir-akhir ini. Saat ini pemerintah telah sepakat terhadap poin revisi tersebut.

Kabiro Hukum dan Humas Kemenko Perekonomian Elen Setiadi mengungkapkan ketiga kementerian ini telah duduk bersama untuk menyepakati revisi kedua Peraturan Pemerintah yang akhir-akhir ini tengah mendapatkan sorotan publik.

"Dalam revisi PP No. 52, network sharing dibagi ke dalam lima pengaturan yakni penyewaan, penggunaan, kemitraan, pemanfaatan dan dalam keadaan tertentu. Seperti yang diketahui, dalam keadaan tertentu tersebut yang selama ini menjadi persoalan," ujarnya, Selasa (29/11).

Elen menambahkan keadaan tertentu tersebut pemerintah bisa meminta kesediaan para operator untuk membuka jaringannya. 

More From Makro Ekonomi

  • Tren Cost of Fund Turun

    07:49 WIB

    Tren penurunan yield surat utang global yang terjadi saat ini dinilai menjadi momentum yang tepat untuk merilis surat utang berdenominasi valas. Penurunan yield tersebut akan berdampak pada penurunan biaya dana alias cost of fund emisi global bond.

  • Pendapatan Berulang Jadi Penopang

    07:35 WIB

    Sejumlah emiten properti berupaya menggenjot porsi pendapatan berulang sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas pendapatan di tengah penjualan yang cenderung fluktuatif.

  • Asing Tak Gubris Polemik Freeport

    07:53 WIB

    Meski terjadi gesekan antara pemerintah dan Freeport McMoran, faktor politik dalam negeri dinilai lebih dominan menjadi sentimen negatif di mata investor asing dalam berinvestasi di pasar modal Tanah Air.

  • DMAS Jual Lahan 28 Hektare

    07:41 WIB

    Pengelola lahan industri di bawah Grup Sinarmas, PT Puradeltas Lestari Tbk., telah menjual 28 hektare lahan pada awal tahun ini sehingga target penjualan yang ditetapkan pada tahun ini kian realistis.

News Feed

  • Rasa dan Estetika Kudapan Sehat

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 14:22 WIB

    Beberapa tahun belakangan, semakin banyak kaum urban yang mengalihkan kebiasaan makan mereka ke diet sehat dari bahanbahan nabati organik atau yang lebih ngetren disebut sebagai metode clean eating.

  • Menikmati Fuji dari Kawaguchi

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 14:21 WIB

    Gunung Fuji atau Fujiyama merupakan salah satu simbol dan ikon Jepang, selain bunga Sakura.

  • Mengukir Waktu dari Jam Tangan Kayu

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 13:34 WIB

    Aplikasi kayu-kayuan kini tak lagi terbatas pada furnitur rumah tangga. Di tangan orang-orang kreatif, material kayu bisa dimodifikasi menjadi jam tangan unik dengan tetap memberikan kesan eksklusif.

  • Napas Romantis Busana Pengantin Retro

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 13:27 WIB

    Dari masa ke masa, busana pengantin bergaya internasional terus mengalami evolusi tren, mulai dari potongan yang megar dan penuh detail rumit ala putri negeri dongeng, hingga siluet press body nan simpel dan minim aksen.

  • Penularan Demam Kuning

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 12:50 WIB

    Nyamuk yang terinfeksi dapat menularkan virus dari manusia ke manusiaNyamuk boleh jadi merupakan salah satu musuh utama manusia di bidang kesehatan.

Load More