Navigasi Bisnis Terpercaya

Rabu 25 Januari 2017
KAWASAN PESISIR TERPADU JAKARTA

Tanggul Laut Terkendala Lahan

Asteria Desi Kartika Sari Jum'at, 02/12/2016 11:24 WIB
Ilustrasi.ncicd.com

JAKARTA— Proyek pembangunan tanggul laut raksasa pada Kawasan Pesisir Terpadu Ibu Kota Nasional atau NCICD Fase A yang dibangun oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bakal tersendat oleh pembebasan lahan.

Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta, Teguh Hendarwan mengatakan meskipun terkendala, pembangunan NCICD Fase A tetap dapat dipercepat.

“Kalau bicara percepatan ya memang harus segera percepatan. Artinya, tahun ini harus tuntas, tetapi belum bisa diprediksi secara detail. Hal ini karena di lapangan ada kendala pembebasan lahan,” ujar Teguh kepada Bisnis, Kamis (1/12).

Pembebasan lahan yang dimaksud itu adalah kasus yang terjadi di Kamal Muara. Dia mengatakan pembebasan lahan di daerah itu tersendat akibat tidak jelasnya surat-surat untuk pembebasan.

Adapun tanggul raksasa yang dibangun di bagian utara Teluk Jakarta ini bertujuan untuk melindungi Jakarta dari banjir. Pada tanggul ini akan dibangun laguna-laguna besar yang menampung aliran dari 13 sungai di Jakarta.

Menurutnya, masih ada beberapa titik pematokan beberapa bidang tanah yang masih menjadi kewajiban pihak lain yang belum diserahkan kepada Pemprov DKI.

“Jadi kami tidak bisa bayar makanya ini yang akan kami jadikan bahan evaluasi untuk 2017,” tuturnya.

Lebih jauh, pemerintah provinsi memiliki kewajiban untuk menyelesaikan tiga aliran  sungai dan pantai wilayah sistem aliran barat, tengah dan timur.

Secara rinci, bidang sungai dan pantai wilayah sistem aliran barat mencakup pembangunan tanggul pantai pada lokasi Kamal Muara dengan panjang 740 meter. Sementara itu, sistem aliran tengah mencakup pembangunan tanggul pantai pada Muara Baru hingga Luar Batang dengan panjang 1,8 km. Adapun untuk wilayah sistem aliran timur antara lain pembangunan tanggul pantai pada Muara Kali Blencong dengan panjang 1,2 km.

Selain kendala ini, pembangunan tanggul laut juga sempat tertunda akibat lamanya proses pengumuman pemenang lelang kontraktor oleh Badan Pengelola Barang dan Jasa (BPPBJ).

"Kami menargetkan tahun ini, aliran tengah di atas 90%, aliran barat 30%, dan aliran timur bisa 50%," katanya.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai dan Pantai Ciliwung Cisadane (BBWSCC), Teuku Iskandar mengatakan pekerjaan proyek NCICD Fase A tersebut lambat.

PENGUATAN TANGGUL

Dia mengatakan pada proyek tanggul laut sepanjang 62 kilometer tersebut, pihak BBWSCC hanya akan memperkuat 4,5 kilometer tanggul pada tahap pertama yang telah dimulai November 2015 hingga April 2018.

“2,2 kilometer di pantai Muara Baru, sementara 2,3 kilometer di pesisir Kali Baru, semua di Jakarta Utara sudah dikerjakan,” kata Iskandar.

Di Kali Baru telah dipasang pipa di 60 titik dengan panjang sekitar 78 meter. Sementara itu, di Muara Baru, sudah terdapat 34 titik dengan pipa panjang 40 meter.

Dia belum dapat memprediksi kapan pekerjaan keseluruhan NCICD dapat dirampungkan lantaran proyek tersebut melibatkan pengembang.

Secara keseluruhan NCICD Fase A membutuhkan dana sekitar Rp900 miliar. Dana tersebut akan disalurkan dari pemerintah pusat, pemerintah kota, bahkan juga perusahaan swasta yang menerima izin pembangunan 17 pulau reklamasi di Teluk Jakarta.

“25% oleh pemerintah pusat dan Pemprov DKI Jakarta, sementara 75% selebihnya akan didukung oleh para pengembang di sepanjang pantai," tambah Iskandar.

More From Makro Ekonomi

  • OJK Rancang Instrumen Investasi Baru

    07:28 WIB

    Besarnya kebutuhan dana untuk mendorong pembangunan infrastruktur nasional mendorong Otoritas Jasa Keuangan menyusun produk investasi khusus yang diterbitkan oleh manajer investasi untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur publik.

  • Beban Emiten Properti Berpotensi Naik

    07:14 WIB

    Wacana pemerintah menerapkan kebijakan pajak progresif untuk objek lahan diperkirakan dapat mengerek beban emiten properti. Emiten menilai, penerapan pajak progresif bakal membuat biaya pengembangan menjadi lebih tinggi sehingga mengerek harga jual.

  • Reksa Dana Terproteksi Kian Seksi

    07:06 WIB

    Reksa dana terproteksi diproyeksi semakin menarik seiring dengan lampu hijau penggunaan surat utang jangka pendek (medium term notes/MTN) sebagai aset dasar produk investasi tersebut.

  • Jurus Menceker & Mematuk Cuan

    06:58 WIB

    Tahun Monyet Api segera berlalu dan berganti menjadi tahun Ayam Api. Kendati bisnis yang bakal diuntungkan tidak akan jauh berbeda, tetapi ayam merupakan elemen logam sehingga kewaspadaan juga harus ditingkatkan. Pasalnya, elemen logam dan api sering kali tidak harmonis.

News Feed

  • Jangan Cuma Bicara SARA Melulu

    Selasa, 24 Januari 2017 - 11:25 WIB

    Komisi Pemilihan Umum Daerah DKI Jakarta perlu memperdalam materi debat calon gubernur dan calon wakil gubernur sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pembelajaran politik bagi masyarakat.

  • Kreditur Minta Daftar Aset Perusahaan

    Selasa, 24 Januari 2017 - 11:20 WIB

    PT Bank CIMB Niaga Tbk. dan sejumlah kreditur lain meminta PT Kembang Delapan Delapan Multifinance segera menyerahkan daftar aset agar diketahui prospek perusahaan yang tengah dalam PKPU tersebut.

  • Mengawinkan Investasi & Kearifan Lokal

    Selasa, 24 Januari 2017 - 10:55 WIB

    Kala penguasa di negeri ini mulai agresif memetakan pulau-pulau kecil terluar sebagai komoditas penerimaan negara, masyarakat pesisir justru kian tersingkir.

  • Pengusaha Bisa Ajukan Judicial Review

    Selasa, 24 Januari 2017 - 10:42 WIB

    Pemprov DKI mempersilakan pelaku usaha di Jakarta untuk mengajukan judicial review terhadap UU No.26/2007 tentang Penataan Ruang bila keberatan dengan minimnya jangka penyesuaian lokasi industri kepada Mahkamah Konstitusi.

  • BUMD Dituntut Proaktif

    Selasa, 24 Januari 2017 - 10:24 WIB

    Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia meminta Badan Usaha Milik Daerah proaktif untuk menyertakan laporan keuangan sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas dalam mengelola keuangan.

Load More