Navigasi Bisnis Terpercaya

Selasa 28 Maret 2017
KINERJA REKSA DANA

Produk Syariah Mengembang

Ana Noviani Jum'at, 06/01/2017 07:45 WIB
Ilustrasi.

JAKARTA— Reksa dana syariah tumbuh di atas industri reksa dana nasional pada 2016. Dana kelolaan reksa dana ini meningkat 35,29% year on year menjadi Rp14,91 triliun dan jumlah produk bertambah 43 produk menjadi 136 reksa dana syariah.

Sepanjang tahun lalu, dana kelolaan reksa dana syariah meningkat Rp3,89 triliun dari Rp11,02 triliun menjadi Rp14,91 triliun. Komposisi dana kelolaan reksa dana syariah didominasi oleh reksa dana syariah saham sebesar Rp7,27 triliun, reksa dana syariah terproteksi Rp2,31 triliun, dan reksa dana syariah pendapatan tetap Rp1,71 triliun.

Kenaikan dana kelolaan reksa dana syariah sebesar 35,29% lebih tinggi dibandingkan dengan total industri reksa dana yang naik 24,7% menjadi Rp339,17 triliun pada akhir 2016. 

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan Nurhaida mengatakan, otoritas terus mendorong berkembangnya pasar modal syariah di Indonesia. Regulasi anyar yang berlaku efektif pada tahun ini, antara lain aturan tentang produk dana investasi real estat (DIRE) syariah dan pembentukan unit usaha manajer investasi syariah.

"DIRE syariah kami dorong, MI syariah juga. Kemudian kami lihat juga pengembangan produk syariah yang terkait dengan insentif perpajakan. Tetapi ini harus dibicarakan dengan Kementerian Keuangan melalui Ditjen Pajak," ujarnya baru-baru ini.

Direktur Utama Maybank Asset Management Indonesia Denny R. Thaher mengatakan, sepanjang tahun lalu, reksa dana syariah yang dikelola berkembang dengan pesat. Perkembangan itu mendorong peningkatan dana kelolaan Maybank AM dari sekitar Rp500 miliar pada Agustus 2016 menjadi Rp3 triliun pada akhir tahun lalu.

Produk reksa dana syariah MI yang terafiliasi dengan Grup Maybank asal Malaysia ini, antara lain pasar uang Maybank GMT Syariah Money Market Fund Rp17,45 miliar, Maybank Syariah Equity Fund Rp513,27 miliar, dan Maybank Sukuk Syariah sebesar Rp52,16 miliar. Sepanjang tahun lalu, Maybank AM meluncurkan tiga produk reksa dana syariah baru, termasuk Maybank Asiapac Equity Syariah Fund.

"Bicara pengelolaan syariah, kami sekarang sudah nomor dua terbesar. Targetnya menjadi market leader reksa dana syariah di Indonesia. Sekarang ini dana kelolaan syariah baru sekitar 35%, ke depan kami ingin syariah mendominasi," kata Denny kepada Bisnis, Kamis (5/1).

PRODUK ANYAR

Pada 2016, pasar reksa dana syariah diramaikan oleh produk anyar berupa reksa dana saham syariah offshore. Setidaknya ada delapan produk yang telah diluncurkan oleh Manajer Investasi, yakni Aberdeen Syariah Asia Pasific Equity USD Fund, Manulife Saham Syariah Asia Pasific Dolar AS, Mandiri Global Sharia Equity Dolar, CIMB-Principal Islamic Asia Pasific Equity Syariah, Schroders Global Sharia Equity Fund, Eastspring Syariah Equity Asia Pacific USD, BNP Paribas Cakra Syariah, dan Bahana Sharia Global Emerging USD.

Legowo Kusumonegoro, Presiden Direktur Manulife Asset Management Indonesia, menuturkan produk Manulife Saham Syariah Asia Pasific Dollar AS (Mansyaf) dapat menjadi solusi bagi investor yang membutuhkan diversifikasi produk investasi dolar yang aman dan bertumbuh.

Hingga akhir November 2016, lanjutnya, produk Mansyaf telah dimanfaatkan oleh 169 investor individu dengan jumlah dana kelolaan sebesar US$14,74 juta.

”Reksa dana Mansyaf diluncurkan oleh MAMI pada 15 Februari 2016 dan mencatatkan kinerja sebesar 8,10% sejak masa peluncurannya yang belum genap satu tahun," ujarnya.

Menurut Legowo, Mansyaf mengalokasikan 80%-100% dari aset yang dikelola untuk diinvestasikan dalam instrumen saham syariah di kawasan Asia Pasifik kecuali Jepang dan 0%-20% dalam instrumen pendapatan tetap, sukuk, atau pasar uang yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

"Fleksibilitas alokasi aset ini memungkinkan reksa dana Mansyaf untuk merespons secara aktif segala perubahan kondisi pasar," imbuhnya.

Muhammad Hanif, Direktur Utama Mandiri Manajemen Investasi, mengungkapkan reksa dana Mandiri Global Sharia Equity Dolar 100% berinvestasi di pasar saham luar negeri, seperti di Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang. Sejumlah saham yang masuk dalam portofolio produk ini, antara lain perusahaan IT global, seperti Alphabet Inc. dan Apple Inc. Produk tersebut diestimasi mampu membukukan return di atas bunga deposito dolar AS.

"Target dana kelolaannya sekitar US$20 juta-US$25 juta dalam enam bulan. Kami konservatif sambil melihat kinerja dan timing, karena volatilitas pasar sedang tinggi, jadi jangan terlalu agresif," imbuhnya.

Analis Pasardana Beben Feri Wibowo menuturkan, pemahaman investor terhadap reksa dana syariah masih relatif minim. Selama ini, lanjutnya, reksa dana syariah dinilai sebagai produk tematik yang kinerjanya dibatasi oleh prinsip syariah di pasar modal, seperti daftar efek syariah (DES). Batasan tersebut disinyalir menghambat return produk-produk reksa dana syariah.

Akibatnya, porsi dana kelolaan reksa dana syariah hanya 4,35% dari total dana kelolaan industri reksa dana yang mencapai Rp339,17 triliun.

"Pola pikir investor perlu diubah. Kuncinya, sosialisasi dan edukasi," ujar Beben ketika dihubungi Bisnis, Kamis (5/1).

Dari sisi kinerja, Beben memproyeksi return reksa dana syariah pada 2017 tidak secemerlang tahun lalu. Portofolio produk reksa dana syariah saham, misalnya, banyak dihuni oleh saham lapis kedua yang memiliki volatilitas relatif tinggi dibandingkan dengan saham bluechip.

Tekanan terhadap kinerja reksa dana saham syariah juga berasal dari kinerja indeks harga saham gabungan pada tahun ini yang diproyeksi tidak tumbuh setinggi tahun lalu yang mencapai 15,32%. Pada 2017, IHSG diproyeksi bergerak menuju level 5.820 atau naik 9,88%.

"Saat market bagus, reksa dana saham syariah punya upside yang lebih tinggi. Tapi kalau pasar tertekan, potensi kinerjanya lebih rendah dibandingkan reksa dana konvensional," tuturnya.

Beben menambahkan produk reksa dana syariah offshore cukup menarik karena MI memiliki fleksibilitas dalam memilih efek saham syariah di berbagai negara. Apabila kebijakan Donald Trump mampu mengangkat ekonomi AS, lanjutnya, reksa dana syariah offshore berpotensi membukukan kinerja yang lebih tinggi sejalan dengan bursa AS yang menghijau.

 

More From Makro Ekonomi

  • Ambisi Tito Lampaui Aset Perbankan

    13:34 WIB

    "Hidup itu harus ada target. Setelah tembus Rp6.000 triliun, kami harap market cap bisa melampaui aset perbankan," ucap Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Kamis (23/3).

  • PPRO Garap Kertajati

    13:28 WIB

    PT PP Properti Tbk. melalui kerja sama dengan PT BIJB Aerocity Development akan mengembangkan kawasan bisnis seluas 300 hektare di kawasan Bandar Udara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat

  • Bisnis Indonesia Edisi Cetak Senin, 27 Maret 2017 Seksi Market

    01:48 WIB

    Berikut ini adalah ringkasan headlines BISNIS INDONESIA edisi cetak Senin, 27 Maret 2017. Untuk menyimak lebih lanjut, silahkan kunjungi http://epaper.bisnis.com/

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

News Feed

  • Asuransi Pelat Merah Makin Pede

    Senin, 27 Maret 2017 - 14:59 WIB

    Sejumlah BUMN di sektor jasa keuangan nonbank mematok target pertumbuhan laba bersih signifikan pada tahun ini lantaran disokong strategi ekspansi yang agresif

  • Harga Tembaga Sulit Naik

    Senin, 27 Maret 2017 - 14:01 WIB

    Harga tembaga diperkirakan sulit terdorong untuk menembus level US$6.000 per ton seiring dengan proyeksi bertumbuhnya suplai dari tambang terbesar di dunia

  • Memprediksi Pundi -Pundi AALI

    Senin, 27 Maret 2017 - 13:54 WIB

    Sebagai emiten pemasok minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia, pemasukan PT Astra Agro Lestari Tbk. diprediksi semakin menggemuk seiring dengan membaiknya produksi perkebunan.

  • Ambisi Tito Lampaui Aset Perbankan

    Senin, 27 Maret 2017 - 13:34 WIB

    "Hidup itu harus ada target. Setelah tembus Rp6.000 triliun, kami harap market cap bisa melampaui aset perbankan," ucap Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Kamis (23/3).

  • PPRO Garap Kertajati

    Senin, 27 Maret 2017 - 13:28 WIB

    PT PP Properti Tbk. melalui kerja sama dengan PT BIJB Aerocity Development akan mengembangkan kawasan bisnis seluas 300 hektare di kawasan Bandar Udara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat

Load More