Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017

Lenggang Model Bule

Redaksi Sabtu, 07/01/2017 20:47 WIB
Koleksi busana Anna Sui di New York Fashion Week Spring-Summer 2016

Industri fesyen di Indonesia semakin bertumbuh pesat dan telah bertransformasi menjadi tulang punggung sektor ekonomi kreatif di Tanah Air.

Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mencatat bahwa pertumbuhan industri kreatif terus meningkat sepanjang lima tahun terakhir.

Fesyen menjadi lini penopang utamanya. Pada 2015, nilai industri kreatif mencapai US$19,3 miliar dengan kontribuasi fesyen sebesar 56,27% dari total transaksi, terbesar dari 16 subsektor ekonomi kreatif.

Hal itu men jadi pertanda masa depan yang cerah bagi dunia mode Tanah Air. Pertumbuhan pesat pada industri fesyen juga ditandai dengan semakin maraknya sejumlah hajatan peragaan busana bergengsi di berbagai kota besar Indonesia.

Sudah pasti itu semua membutuhkan banyak jasa model. Namun, jika diperhatikan, beberapa tahun belakangan model-model asing semakin mendominasi proyek fesyen bergengsi di dalam negeri. Banjir model asing itu semakin menggerus peluang model lokal untuk mendapatkan manisya kue proyek tersebut. Wajah rupawan dengan kaki jenjang serta rahang tinggi terlihat sempurna dalam jepretan kamera.

Keberadaan mereka dikhawatirkan mengancam eksistensi model lokal. Model profesional Jena Sarita mengungkapkan lenggak lenggok model asing semakin lentur hingga ke luar Jakarta, seperti Surabaya. Jena yang bernaung di bawah Ardi Management menjelaskan bahwa model asing yang bekerja di Indonesia kebanyakan bule (ras Kaukasia).

“Jangan terlalu banyak bulenya. Pekan-pekan fesyen seperti Jakarta Fashion Week masih didominasi oleh model asing. Padahal, model bule tarifnya jauh lebih mahal ketimbang model lokal,” ujarnya.

Apalagi, kalau sudah melenggang ke luar Jakarta. Di Surabaya, misalnya tarif model bule bisa tiga kali lipat lebih mahal. Dia tidak habis mengerti mengapa para desainer dan banyak brand lokal beranggapan jika menggunakan model asing, image produk mereka akan lebih menjual, lebih internasional. Mereka berpendapat model bule lebih bagus sebagai peraga, apalagi kalau untuk pemotretan.

“Meskipun yang dipasarkan adalah produk hijab atau batik, mereka tetap lebih memilih model asing yang lebih mahal. Sekali pemotretan, minimal bisa Rp8 juta,” ungkap Jena yang mulai menekuni mode sejak 2003. Jena berpendapat, jika pemerintah mau mengangkat fesyen lokal melalui berbagai acara pekan fesyen dan menjadikan Indonesia sebagai fashion hub dunia pada 2025, harus ada upaya untuk menaikkan proporsi model lokal di pentas bergengsi.

Arzety Bilbina, pendiri Zema School of Modelling and Acting, prihatin dengan semakin banyaknya model asing yang aktif di Indonesia. “Ini sangat memprihatinkan. Saya khawatir tidak ada regenerasi model lokal,” tegasnya.

Padahal, sambungnya, model lokal sangat sempurna. Semua perancang busana mengakui keunggulan model lokal, yakni memiliki cara berjalan yang sangat luwes dan berlenggak-lenggok di atas panggung. Para perancang busana banyak menghasilkan karya berupa kebaya, busana muslim, batik, dan lain lain yang khas Indonesia.

Nah, yang paling pas memperagakan busana tersebut adalah model lokal. Meskipun banyak model asing masuk ke Indonesia, tetap saja saat di panggung mereka tidak sesempurna seperti model lokal yang memperagakannya.

“Bagaimana pun model asing tidak pernah menggunakan kebaya. Sebaliknya, bagi model lokal, kebaya adalah busana sehari-hari.” Zema School pun menyiasati persaingan model asing dengan materi khusus untuk menggunakan kebaya, busana malam, dan busana tradisional lainnya. Hal itu menjadi keunggulan bersaing.

POSITIF NEGATIF

Namun, Creative Advisor Jakarta Fashion Week Ai Syarif menilai bahwa keberadaan model lokal ataupun model impor sama-sama menunjang. Model Indonesia dari segi kemampuan jalan, ekspresi, dan penjiwaan lebih bagus dibandingkan dengan model impor. Banyak desainer Minggu, 8 Januari 2017 No. 526 Tahun XXXII/No. 10690 Terbit 16 Halaman

Sepuluh karya hasil kolaborasi seniman asal Indonesia dan Malaysia kompak memandang isu keseharian. Semua dapat disimak dalam pameran Rising of Light TRIP & EAT 13 Gunung, bukit, danau, sungai, hingga pantai merupakan sejumlah pesona alam yang memukau di Sumatra Barat yang kini menarik banyak wisatawan.

Metafora Polah Manusia Hampir semua orang percaya bahwa memiliki rambut yang indah dan trendi akan mendongkrak rasa percaya diri mereka dalam berpenampilan. Industri fesyen di Indonesia semakin bertumbuh pesat dan telah bertransformasi menjadi tulang punggung sektor ekonomi kreatif di Tanah Air.

ART15 Indonesia menggunakan model impor karena tampilan mereka terlihat lebih internasional. Sebaliknya, di Eropa ada kecenderungan untuk menggunakan model berparas oriental atau Asia.

Satu contohnya, Giorgio Armani saat menggelar pagelaran busana di Beijing, China, tidak membawa model bule. Di JFW sendiri komposisi modelnya didominasi lokal. Hitungannya, 30%—40% model asing, selebihnya model lokal. Untuk menggunakan model bule, selain karena bayarannya terbilang mahal, harus pandai-pandai mencari peragawati yang bagus dan izin kerjanya harus jelas.

“Saya mengamati keberadaan model asing di Indonesia sudah cukup lama lebih dari delapan tahun. Bahkan sebelumnya majalah lokal kerap menggunakan model bule. Akhirnya diperingatkan agar jangan terlalu banyak gunakan model bule.

Sekarang itu soal model bule lebih selektif terutama berkaitan izin kerja,” ujar Ai Syarif. Namun, kini model Indonesia sudah banyak punya ciri khas dan karakter kuat, mereka tidak kalah dengan model bule. Menurutnya, model asing memberikan dampak positif bagi JFW karena, dengan begitu, festival ini semakin dikenal di Asia Tenggara.

“Yang bisa ikut audisi kami tidak hanya bule, tetapi model-model Asia lainnya. Walaupun demikian kami tetap prioritaskan model lokal.” Dia melihat justru tidak ada dampak negatif tetapi justru menjadi acuan bagi model lokal agar lebih meningkatkan perawatan kondisi tubuh. Model bule memang menang di kulitnya putih, struktur wajahnya bagus, dan tinggi.

“Hal ini bukan soal untung rugi, antara model lokal dan model bule saling melengkapi atau menunjang.” Desainer dan praktisi mode senior, Didi Budiardjo, berpendapat model asing memiliki beberapa keunggulan. Salah satunya adalah wajah mereka cenderung lebih berkarakter, sehingga mampu memberi impresi yang kuat ketika difoto atau melenggang di catwalk.

Namun, dia menilai kebanyakan model kaukasia yang bekerja di Indonesia kurang matang dan tidak terbiasa memeragakan karya adibusana. “Model lokal banyak yang terbiasa membawakan adibusana, yang jauh lebih susah. Ini adalah keunggulan mereka.” Dia menambahkan kehadiran model-model asing di industri fesyen nasional sebenarnya merupakan strategi untuk memberikan citra internasional pada sebuah koleksi. Toh, menurut Didi, penggunaan model asing di Indonesia tidak seintens di Thailand atau Singapura.

Dari sekian banyak perancang busana yang lebih suka menggunakan model asing untuk memeragakan koleksi mereka, masih ada beberapa perancang yang hanya mau menggunakan model lokal. Mungkin, tujuannya adalah sebagai bentuk proteksi. Salah satu desainer kenamaan yang pantang menggunakan jasa model asing adalah Adjie Notonegoro.

Paman Ivan Gunawan itu berpendapat model lokal jauh lebih luwes, khususnya ketika membawakan wastra Nusantara maupun kebaya. “Saya tidak pernah memakai model , karena menurut saya model Indonesia memiliki kharisma yang luar biasa dan lebih ekspresif,” ujarnya. Bahkan, dia mengatakan justru seharusnya model lokal harus lebih diperkenalkan di kancah fesyen internasional. Pengamat mode Sonny Muchlison menilai semakin maraknya model asing di dunia fesyen disebabkan sejumlah hal.

Pertama, adanya demand. Terkesan desainer kita sebagian masih merasa bahwa model pribumi itu atau lokal belum bisa mengangkat value koleksi bajunya. Kedua, masalah offering atau tawaran. Biasanya model-model lokal yang sudah populer harganya lebih mahal sehingga para desainer memilih model-model luar yang harganya jatuh lebih murah.

Ada pendapat yang menyatakan model luar itu tidak usah gaya macam-macam saja sudah bagus karena secara fisik lebih proporsional. Mereka memiliki hidung mancung, tinggi, dan mata biru.

Sementara itu, tidak semua model-model lokal memiliki fisik seperti itu. Ketiga, biasanya untuk promosikan seorang model baru dari luar negeri para agen model membuat semacam bonus. Misalnya, desainer sudah pesan delapan model lokal, kemudian agen memberi bonus satu model luar negeri yang baru itu dengan harga setengah. Sebaliknya, desainer juga ingin mengangkat koleksi-koleksinya melalui model-model bule tersebut. Jadi keduanya merasa saling diuntungkan.

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More