Navigasi Bisnis Terpercaya

Minggu 26 Februari 2017
REKOMENDASI SAHAM

BUMN Konstruksi Menarik

Yodie Hardiyan Senin, 09/01/2017 07:20 WIB
Pekerja mengerjakan proses pemindahan balok beton milik PT Wika Beton (Wika) ke kapal pengangkut di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (11/1).

JAKARTA — Saham emiten BUMN sektor konstruksi dianggap menjadi salah satu pilihan investasi pada 2017 mengingat perusahaan konstruksi diperkirakan masih mendapatkan keuntungan dari kebijakan pemerintah dalam peningkatan pembangunan infrastruktur.

BUMN tersebut antara lain PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (kode saham WSKT), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), PT PP (Persero) Tbk., (PTPP), dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI).

Sepanjang 2016, saham WSKT meningkat sebesar 52% menjadi Rp2.550 pada penutupan hari terakhir perdagangan BEI dibandingkan dengan Rp1.670 per 30 Desember 2015. Peningkatan tersebut tertinggi dibandingkan dengan tiga emiten konstruksi lainnya.

Heldy Arifien, analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengatakan saham-saham perusahaan yang berkaitan dengan sektor infrastruktur seperti perusahaan konstruksi masih diharapkan memberikan hasil yang positif.

Menurutnya, berbagai kontrak proyek yang diperoleh perusahaan konstruksi milik negara menjadi salah satu katalis positif bagi saham tersebut. “Beberapa BUMN juga sudah melakukan rights issue, itu juga katalis positif,” katanya ketika dihubungi, akhir pekan lalu.

Sebagai pengingat, empat BUMN konstruksi tersebut telah melakukan penambahan modal dengan cara rights issue dalam kurun 2015-2016 setelah masing-masing mendapatkan Penyertaan Modal Negara (PMN) yang dianggarkan dalam APBN.

Adhi Karya dan Waskita Karya melakukan rights issue pada 2015 dan Wijaya Karya serta PTPP melakukan rights issue pada 2016. Penambahan modal itu memungkinkan perusahaan melakukan perluasan usaha.

BUMN konstruksi itu juga menggarap berbagai proyek skala besar. Selain sebagai kontraktor, BUMN tersebut juga bertindak sebagai investor dalam berbagai proyek seperti jalan tol, moda transportasi massal, pembangkit listrik, dan sebagainya.

Dihubungi terpisah, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, setiap sektor perusahaan memiliki ceritanya masing-masing. Menurutnya, sektor saham perusahaan yang terkait dengan infrastruktur layak untuk dicermati oleh trader. “Saham-saham konstruksi sepertinya akan bergerak,” katanya, ketika dihubungi.

SEKTOR PERBANKAN

Sementara itu, sektor lain yang perlu diperhatikan adalah perbankan. Heldy mengatakan, kebijakan Presiden AS Donald Trump, terkait suku bunga juga ditunggu oleh investor karena akan berpengaruh terhadap perbankan Indonesia.

Berdasarkan data Bloomberg, saham BUMN yang mengalami peningkatan tertinggi sepanjang 2016 adalah saham PT Indofarma (Persero) Tbk. (INAF) sebesar 2.865% menjadi Rp4.680 per 30 Desember 2016 dibandingkan dengan Rp168 pada periode yang sama 2015.

Setelah INAF, saham BUMN lain yang mengalami peningkatan tertinggi adalah PT Semen Baturaja (Persero) Tbk. (SMBR) sebesar 858,76% menjadi Rp2.790 pada 30 Desember 2016 dibandingkan dengan Rp291 pada 30 Desember 2015.

Belum dapat diketahui secara pasti katalis yang mendorong peningkatan harga saham INAF dan SMBR yang jauh mengungguli saham-saham BUMN lain. Secara kinerja keuangan, sampai kuartal III/2016, Indofarma masih mengalami rugi bersih.

More From Makro Ekonomi

  • Tren Cost of Fund Turun

    07:49 WIB

    Tren penurunan yield surat utang global yang terjadi saat ini dinilai menjadi momentum yang tepat untuk merilis surat utang berdenominasi valas. Penurunan yield tersebut akan berdampak pada penurunan biaya dana alias cost of fund emisi global bond.

  • Pendapatan Berulang Jadi Penopang

    07:35 WIB

    Sejumlah emiten properti berupaya menggenjot porsi pendapatan berulang sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas pendapatan di tengah penjualan yang cenderung fluktuatif.

  • Asing Tak Gubris Polemik Freeport

    07:53 WIB

    Meski terjadi gesekan antara pemerintah dan Freeport McMoran, faktor politik dalam negeri dinilai lebih dominan menjadi sentimen negatif di mata investor asing dalam berinvestasi di pasar modal Tanah Air.

  • DMAS Jual Lahan 28 Hektare

    07:41 WIB

    Pengelola lahan industri di bawah Grup Sinarmas, PT Puradeltas Lestari Tbk., telah menjual 28 hektare lahan pada awal tahun ini sehingga target penjualan yang ditetapkan pada tahun ini kian realistis.

News Feed

  • Rasa dan Estetika Kudapan Sehat

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 14:22 WIB

    Beberapa tahun belakangan, semakin banyak kaum urban yang mengalihkan kebiasaan makan mereka ke diet sehat dari bahanbahan nabati organik atau yang lebih ngetren disebut sebagai metode clean eating.

  • Menikmati Fuji dari Kawaguchi

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 14:21 WIB

    Gunung Fuji atau Fujiyama merupakan salah satu simbol dan ikon Jepang, selain bunga Sakura.

  • Mengukir Waktu dari Jam Tangan Kayu

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 13:34 WIB

    Aplikasi kayu-kayuan kini tak lagi terbatas pada furnitur rumah tangga. Di tangan orang-orang kreatif, material kayu bisa dimodifikasi menjadi jam tangan unik dengan tetap memberikan kesan eksklusif.

  • Napas Romantis Busana Pengantin Retro

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 13:27 WIB

    Dari masa ke masa, busana pengantin bergaya internasional terus mengalami evolusi tren, mulai dari potongan yang megar dan penuh detail rumit ala putri negeri dongeng, hingga siluet press body nan simpel dan minim aksen.

  • Penularan Demam Kuning

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 12:50 WIB

    Nyamuk yang terinfeksi dapat menularkan virus dari manusia ke manusiaNyamuk boleh jadi merupakan salah satu musuh utama manusia di bidang kesehatan.

Load More