Navigasi Bisnis Terpercaya

Minggu 26 Februari 2017
PASAR OBLIGASI RUPIAH

Semester I/2017 Cenderung Volatil

Gloria Natalia Dolorosa Selasa, 10/01/2017 07:09 WIB
Ilustrasi

JAKARTA — Pasar obligasi rupiah diperkirakan volatil pada semester I/2017, seiring dengan perkiraan meningkatnya imbal hasil US Treasury dan menguatnya dolar AS.

Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian bagi para perusahaan yang akan menerbitkan obligasi pada enam bulan pertama tahun ini, agar tetap bisa mendapatkan hasil maksimal.

Baru-baru ini, Standard Chartered merevisi prospek obligasi rupiah untuk waktu tiga bulan menjadi netral dari sebelumnya negatif. Adapun, prospek obligasi rupiah selama 12 bulan dipertahankan di level netral. 

Nagaraj Kulkarni, senior Asia Rates Strategist Standard Chartered Bank, cabang Singapura, mengatakan kunci positif dari obligasi rupiah yakni kebijakan yang stabil, valuasi yang menarik, dan twin deficits yang mampu dikelola. Sementara itu, kunci negatif atas pasar obligasi rupiah yakni ekspektasi terhadap penaikan imbal hasil US Treasury (UST) dan penguatan dolar AS.

“Kami menilai posisi investor saat ini mendekati netral. Keseimbangan antara permintaan dan penawaran pada 2017 tidak menguntungkan seperti pada 2016,” tulis Kulkarni dalam riset yang terbit pada Jumat (6/1).

Tidak seperti pada semester I/2016, saat reli pasar obligasi terjadi, dia memperkirakan pasar obligasi rupiah pada semester I/2017 volatil. Prediksi volatilnya obligasi rupiah ini didasarkan pada ekspektasi pasar terhadap penaikan imbal hasil UST. Standard Charterd memperkirakan yield UST 10 tahun pada kuartal III/2017 menyentuh angka 3%.

“Estimasi kami, investor telah memangkas posisi mereka, tapi risiko sell off yang tajam terbatas. Kami memprediksi kurva imbal hasil cukup tajam,” jelas Kulkarni.

Dari perspektif real yield, Kulkarni menilai valuasi obligasi rupiah menarik. Perkiraannya, real yield 10 tahun mendekati 330 bps pada akhir semester I/2017.

Saat ini, real yield 10 tahun sekitar 490 bps. Angka ini masih lebih tinggi dari rerata lima tahun ke belakang sekitar 200 bps. Real yield obligasi rupiah pun merupakan salah satu real yield tinggi dari sejumlah indeks obligasi pemerintah di pasar berkembang.

Selain itu, spread imbal hasil obligasi rupiah 10 tahun terhadap imbal hasil US Treasury 10 tahun sebesar 550 bps, lebih lebar dari rerata lima tahun sebesar 520 bps. Karena kepemilikan asing di surat utang negara (SUN) rupiah besar, Kulkarni mengatakan sentimen terhadap obligasi rupiah tergantung dari prospek investor asing terhadap obligasi pasar negara-negara berkembang.

IKNB

Dari sisi permintaan dan penawaran, Kulkarni menilai industri keuangan non-bank (IKNB) akan menjadi penopang pembelian SUN rupiah. Estimasinya, IKNB menyerap sekitar 21% sampai 29% dari penawaran bersih SBN rupiah tahun ini yang sebesar Rp394,4 triliun. Pada 2016, IKNB menyerap sekitar 33%.

Permintaan dari IKNB ini didorong oleh Peraturan OJK tentang Investasi Surat Berharga Negara bagi Lembaga Jasa Keuangan non-Bank yang terbit pada Januari 2016. IKNB yang dimaksud yakni perusahaan asuransi jiwa dan dana pensiun pemberi kerja.

Sementara itu, investor asing diperkirakan menyerap sekitar US$5,2 miliar hingga US$5,9 miliar pada 2017. Nilai penyerapan ini terendah sejak 2014.

“Meski permintaan dari IKNB kuat, investor asing akan tetap penting dalam menentukan keseimbangan permintaan dan penawaran,” kata Kulkarni.

Adapun, permintaan SUN dari bank diperkirakan turun, tetapi permintaan kuat di T-bills atau surat utang jangka pendek.

Senada, PT Mandiri Sekuritas memperkirakan perusahaan asuransi dan dana pensiun tetap menjadi penopang pembelian SUN di kalangan investor domestik.

Handy Yunianto, Head of fixed-income Research Mandiri Sekuritas, memperkirakan total dana masuk dari dana pensiun dan perusahaan asuransi ke pasar SBN mencapai Rp80 triliun pada tahun ini. Khusus dana pensiun, total investasi ke pasar SBN pada 2017 diprediksi meningkat 10% dari tahun lalu.

Handy memperkirakan, imbal hasil SUN pada 2017 secara moderat di level 7,01% dan total return mencapai 8,7%. Asumsi yang dipakai yakni BI Rate 12 bulan di level 6%, inflasi inti 4,20%, imbal hasil US Treasury 10 tahun di level 2,75%, dan rupiah di posisi Rp13.400. 

More From Makro Ekonomi

  • Tren Cost of Fund Turun

    07:49 WIB

    Tren penurunan yield surat utang global yang terjadi saat ini dinilai menjadi momentum yang tepat untuk merilis surat utang berdenominasi valas. Penurunan yield tersebut akan berdampak pada penurunan biaya dana alias cost of fund emisi global bond.

  • Pendapatan Berulang Jadi Penopang

    07:35 WIB

    Sejumlah emiten properti berupaya menggenjot porsi pendapatan berulang sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas pendapatan di tengah penjualan yang cenderung fluktuatif.

  • Asing Tak Gubris Polemik Freeport

    07:53 WIB

    Meski terjadi gesekan antara pemerintah dan Freeport McMoran, faktor politik dalam negeri dinilai lebih dominan menjadi sentimen negatif di mata investor asing dalam berinvestasi di pasar modal Tanah Air.

  • DMAS Jual Lahan 28 Hektare

    07:41 WIB

    Pengelola lahan industri di bawah Grup Sinarmas, PT Puradeltas Lestari Tbk., telah menjual 28 hektare lahan pada awal tahun ini sehingga target penjualan yang ditetapkan pada tahun ini kian realistis.

News Feed

  • Rasa dan Estetika Kudapan Sehat

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 14:22 WIB

    Beberapa tahun belakangan, semakin banyak kaum urban yang mengalihkan kebiasaan makan mereka ke diet sehat dari bahanbahan nabati organik atau yang lebih ngetren disebut sebagai metode clean eating.

  • Menikmati Fuji dari Kawaguchi

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 14:21 WIB

    Gunung Fuji atau Fujiyama merupakan salah satu simbol dan ikon Jepang, selain bunga Sakura.

  • Mengukir Waktu dari Jam Tangan Kayu

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 13:34 WIB

    Aplikasi kayu-kayuan kini tak lagi terbatas pada furnitur rumah tangga. Di tangan orang-orang kreatif, material kayu bisa dimodifikasi menjadi jam tangan unik dengan tetap memberikan kesan eksklusif.

  • Napas Romantis Busana Pengantin Retro

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 13:27 WIB

    Dari masa ke masa, busana pengantin bergaya internasional terus mengalami evolusi tren, mulai dari potongan yang megar dan penuh detail rumit ala putri negeri dongeng, hingga siluet press body nan simpel dan minim aksen.

  • Penularan Demam Kuning

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 12:50 WIB

    Nyamuk yang terinfeksi dapat menularkan virus dari manusia ke manusiaNyamuk boleh jadi merupakan salah satu musuh utama manusia di bidang kesehatan.

Load More