Navigasi Bisnis Terpercaya

Kamis 30 Maret 2017
INVESTASI REKSA DANA

Pilih-pilih Produk Baru

Ana Noviani Selasa, 10/01/2017 07:22 WIB
/Bisnis

JAKARTA — Awal tahun menjadi momentum bagi para manajer investasi merancang produk-produk baru untuk menarik investor. Hingga Senin (9/1), sebanyak 10 produk reksa dana baru dicatat oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia.

Berdasarkan data KSEI, reksa dana terproteksi menjadi jenis produk yang paling banyak diluncurkan oleh sejumlah manajer investasi. Produk tersebut, yakni reksa dana terproteksi Bahana Core Protected Fund 132, Bahana Premium Protected Fund 134, Bahana Premium Protected Fund 135, reksa dana terproteksi RHB Capital Protected Fund 36, reksa dana terproteksi Aberdeen Proteksi Pendapatan Berkala USD, dan reksa dana terproteksi Aberdeen Proteksi Pendapatan Berkala.

Direktur Utama Aberdeen Asset Management Indonesia Sigit Pratama Wiryadi menuturkan, sejak merampungkan akuisisi NISP Asset Management pada 2014, Aberdeen tidak menerbitkan reksa dana terproteksi. Pasalnya, reksa dana terproteksi merupakan produk khas pasar modal Indonesia dan tidak masuk dalam klasifikasi produk investasi MI global yang bermarkas di Inggris itu.

"Sebenarnya kami kalau ditanya apakah regional dan global sudah memberikan approval untuk produk terproteksi, jawabannya antara yes and no. Produk terproteksi sifatnya case by case. Kami bikin karena ada permintaan dari nasabah institusi yang sudah lama berbisnis dengan Aberdeen," kata Sigit kepada Bisnis, Senin (9/1).

Aberdeen AM, lanjutnya, tetap fokus untuk mengembangkan produk open end dan tidak secara eksplisit terbuka untuk mengembangkan produk reksa dana terproteksi. Kendati berpotensi mendongkrak dana kelolaan, Aberdeen tetap mengandalkan produk-produk open end untuk mengembangkan asset under management.

"Reksa dana terproteksi bisa meningkatkan dana kelolaan, karena batas minimal yang kami ajukan sebesar Rp100 miliar. Tapi kami tidak terus menerus menerbitkan terproteksi," imbuhnya.

Reksa dana  terproteksi Aberdeen Proteksi Pendapatan Berkala USD dan reksa dana terproteksi Aberdeen Proteksi Pendapatan Berkala berbasis instrumen fixed income dengan tenor sampai 10 tahun. "Dalam pipeline, kami rencana tambah 2-3 produk open end baru tahun ini," pungkas Sigit.

Selain itu, RHB Asset Management juga merancang produk reksa dana RHB TM Indo-Asia Equity Fund. Adapun, Yuanta Asset Management meracik reksa dana pendapatan tetap Yuanta USD Fixed Income dan Indopremier Asset management segera meluncurkan reksa dana Premier Pasar Uang III.

 

RDPT

Tak hanya reksa dana konvensional, awal tahun juga menjadi momentum untuk meluncurkan produk reksa dana tersetruktur. Salah satunya, reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) Mandiri Infrastruktur Ekuitas.

Director of Sales & Product Mandiri Manajemen Investasi Endang Astharanti menuturkan, RDPT tersebut berinvestasi pada proyek pembangkit listrik energi baru terbarukan. Menurut Endang, dana kelolaan RDPT tersebut ditargetkan mencapai Rp350 miliar-Rp400 miliar.

"Fokusnya investasi pada 10 proyek minihidro berkapasitas sekitar 30 MW dengan akuisisi 60% saham perusahaan sasaran sehingga RDPT ini menjadi majority shareholder," ungkapnya ketika dihubungi Bisnis, Senin (9/1).

Pada tahun bershio Ayam Api ini, Mandiri Manajemen Investasi berencana untuk menerbitkan sekitar sepuluh produk reksa dana baru. Produk tersebut terdiri dari satu produk reksa dana open ended, dua produk RDPT, dan tujuh produk reksa dana terproteksi. "Kalau ada permintaan dari investor, kami bisa tambah produk baru lagi," imbuhnya.

Hingga akhir 2016, Mandiri Manajemen Investasi mengelola reksa dana berdenominasi dengan total dana kelolaan sebesar Rp31,23 triliun dan reksa dana berdenominasi dolar AS sebesar US$47,79 juta.

Sementara itu, PG Asset Management sedang meracik produk reksa dana campuran dan Panin Asset Management berencana untuk menerbitkan reksa dana indeks pada 2017. "Kami juga dalam tahapan kerja sama dengan beberapa perusahaan asuransi untuk membuat produk baru," kata Direktur Panin AM Rudiyanto.

Direktur Utama Syailendra Capital Fajar R. Hidajat mengatakan, pada 2017 manajer investasi lokal ini akan menerbitkan 5-10 produk reksa dana baru, yang terdiri dari tiga reksa dana saham, satu reksa dana fixed income, dan RDPT.

"RDPT kami fokus infrastruktur. Ada beberapa produk dalam pipeline, yang berbasis equity non-listed juga ada. AUM kami harap tumbuh 30% jadi sekitar Rp9,5 triliun," kata Fajar.

Sepanjang tahun lalu, Otoritas Jasa Keuangan menerbitkan pernyataan efektif untuk 437 produk reksa dana baru. Dengan begitu jumlah reksa dana yang beredar di pasar mencapai 1.425 produk hingga 29 Desember 2016. 

More From Makro Ekonomi

  • Ambisi Tito Lampaui Aset Perbankan

    13:34 WIB

    "Hidup itu harus ada target. Setelah tembus Rp6.000 triliun, kami harap market cap bisa melampaui aset perbankan," ucap Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Kamis (23/3).

  • PPRO Garap Kertajati

    13:28 WIB

    PT PP Properti Tbk. melalui kerja sama dengan PT BIJB Aerocity Development akan mengembangkan kawasan bisnis seluas 300 hektare di kawasan Bandar Udara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat

  • Bisnis Indonesia Edisi Cetak Senin, 27 Maret 2017 Seksi Market

    01:48 WIB

    Berikut ini adalah ringkasan headlines BISNIS INDONESIA edisi cetak Senin, 27 Maret 2017. Untuk menyimak lebih lanjut, silahkan kunjungi http://epaper.bisnis.com/

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

News Feed

  • Gubernur BI Siap Bersaksi

    Rabu, 29 Maret 2017 - 16:42 WIB

    Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardoo dijadwalkan hadir dalam persidangan kasus korupsi pengadaan KTP elektronik, Kamis (30/3), dalam kapasitasnya sebagai saksi terhadap terdakwa Irman dan Sugoharto, mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri.

  • Asia Paper Diberi Tenggat 45 Hari

    Rabu, 29 Maret 2017 - 14:05 WIB

    Masa penundaan kewajiban pembayaran utang PT Asia Paper Mills akhirnya disepakati selama 45 hari, jauh dari harapan perseroan selaku debitur, yang mengajukan perpanjangan waktu 180 hari.

  • RI Bersiap Hadapi AS

    Rabu, 29 Maret 2017 - 12:11 WIB

    Indonesia bersiap menghadapi tudingan dumping dan subsidi dari Amerika Serikat atas produk biodiesel Tanah Air, setelah sebelumnya Uni Eropa menyampaikan tuduhan serupa

  • “Koperasi Bisa Menjadi Kekuatan Dahsyat”

    Rabu, 29 Maret 2017 - 11:52 WIB

    Pemerintah sejak awal sepakat menjadikan koperasi dan usaha kecil menengah (UKM) sebagai salah satu tulang punggung pertumbuhan ekonomi, dan berupaya terus menumbuhkan pelaku usahanya dengan berbagai kebijakan. Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Menteri Koperasi dan UKM menjelaskan upaya yang selama ini dilakukan pemerintah untuk koperasi dan UKM. Berikut ini petikan wawancaranya.

  • KKP Bidik Pemilik Kapal Jumbo

    Rabu, 29 Maret 2017 - 10:02 WIB

    Kementerian Kelautan dan Perikanan membidik perusahaan-perusahaan yang menjadi pemilik 16.000 kapal perikanan di atas 30 gros ton lulus sertifikasi hak asasi manusia sebagai parameter penilaian perpanjangan izin usaha.

Load More