Navigasi Bisnis Terpercaya

Kamis 30 Maret 2017
PENAMBAHAN GERAI RITEL

Emiten Kebut Ekspansi

Novita S. Simamora & Lingga S. Wiangga Rabu, 11/01/2017 07:06 WIB
Gerai KFC di Bandara Sepinggan yang pembukaannya berlangsung pada Kamis (8/12/2016).

JAKARTA — Meningkatkan jumlah gerai menjadi tema utama ekspansi dua emiten pada tahun ini, seiring dengan upaya perluasan jaringan distribusi untuk memacu kinerja usaha.

Kedua emiten tersebut berasa dari dua sektor berbeda, yaitu PT Fast Food Indonesia Tbk. yang bermain di bisnis makanan cepat saji dan PT Kimia Farma (Persero) Tbk. di sektor farmasi.

Fast Food Indonesia yang merupakan pemegang lisensi makanan cepat saji asal Amerikat Serikat, yaitu Kentucky Fried Chicken (KFC), mengalokasikan belanja modal senilai Rp350 miliar untuk ekspansi 30 gerai baru pada 2017.

Direktur Fast food Indonesia J.D Juwono mengungkapkan belanja modal pada tahun ini lebih tinggi dibandingkan dengan 2016. Selain untuk ekspansi gerai, katanya, capital expenditure (capex) akan digunakan untuk memperluas jaringan distribusi.

“Kami akan menambah 30 cabang baru, menambah armada angkutan dan merenovasi gerai yang sudah beroperasi sekitar 5 tahun-6 tahun," ungkapnya baru-baru ini.

Dia mengungkapkan belanja modal emiten berkode saham FAST tersebut pada tahun ini berasal dari kas internal perusahaan. Sepanjang 2016, pihaknya telah berhasil membuka 35 gerai baru dan merenovasi 45 gerai.

Pada tahun ini, pihaknya juga akan membuka 20 KFC box. Menurutnya, skema KFC box akan menciptakan efisiensi dalam pembukaan gerai baru.

“Investasi di KFC Box akan jauh lebih murah, jumlah karyawan lebih sedikit. KFC Box akan berada di sekitar area perkantoran, stasiun kereta,” katanya.

Pada 2017, FAST mematok target pertumbuhan penjualan sekitar 8%-10% menjadi Rp5,4 triliun. Adapun, pendapatan bersih FAST per Oktober 2016 mencapai Rp3,99 triliun, tumbuh 9,3% secara tahunan.

Sementara itu, laba kotor perseroan per Oktober 2016 tercatat mencapai Rp2,49 triliun, tumbuh 12,16% dibandingkan dengan posisi sama pada tahun lalu senilai Rp2,22 triliun.

Hingga Oktober 2016, FAST berhasil membukukan laba bersih Rp156,9 miliar, melejit hingga 96,8% dari posisi Rp79,7 miliar pada periode sama pada tahun sebelumnya.

Sepanjang 10 bulan pertama tahun ini, pihaknya telah membuka 195 gerai di Jabodetabek, 140 di Jawa, 26 gerai di Bali, NTB dan NTT, 108 gerai di Sumatra, 42 gerai di Sulawesi, 35 gerai di Kalimantan, 6 gerai di Maluku, dan 7 gerai di Papua.

TAMBAH APOTEK

Secara terpisah, BUMN farmasi Kimia Farma akan menambah minimal 100 apotek pada tahun ini dengan investasi sekitar Rp200 miliar. Pada tahun lalu, emiten bersandi saham KAEF itu melalui anak usahanya di bidang jaringan penjualan ritel yaitu PT Kimia Farma Apotek (KFA) telah menambah sekitar 175 apotek di seluruh Indonesia.

Hingga akhir 2016, apotek yang dimiliki KAEF mencapai 900 unit. “Itu minimal, dan harapan kami jumlah apotek tahun ini mencapai 1.000 unit,” kata Pujianto, Direktur Pengembangan Kimia Farma, belum lama ini

Dia mengatakan, dana untuk perluasan jaringan ritel berada di luar belanja modal perseroan pada 2017. Sebelumnya, KAEF menganggarkan belanja modal sekitar Rp1,2 triliun pada tahun ini.

Pujianto menyebut, anak usaha tersebut sudah mapan sehingga tidak membutuhkan suntikan dana dari KAEF. Bahkan, lanjut dia, bukan hal mustahil jika ke depan anak usaha KAEF tersebut akan go public.

“Mungkin nanti jika holding perusahaan farmasi BUMN sudah dilakukan kami akan pikirkan agar KFA bisa go public,” katanya.

Di sisi lain, dengan perluasan jaringan, target penjualan dari apotek diharapkan bisa naik 21% hingga 22% pada tahun ini. Pada 2016 penjualan KFA mencapai Rp3,1 triliun, atau sesuai target yang dipatok KAEF sebesar Rp3 triliun.

Sebelumnya, pendapatan konsolidasian KAEF diperkirakan lebih dari Rp6,2 triliun pada 2016. Adapun target penjualan KAEF pada 2017 mencapai Rp7 triliun.

Rencana KAEF menambah jaringan melalui anak usahanya itu bukan tanpa alasan. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa lebih dan wilayah yang luas, setidaknya dibutuhkan sekitar 26.000 apotek baru. Terlebih pemerintah memacu program jaminan kesehatan nasional (JKN) ke depan.

Sementara itu, terkait JKN, pihaknya pun berharap meraup penaikan penjualan dari program kesehatan pemerintah tersebut. Pada tahun lalu, program tersebut berkontribusi sekitar 30% terhadap pendapatan perseroan.

Selain itu, pihaknya juga akan gencar menerbitkan produk baru. Pujianto mengatakan setidaknya ada sekitar 12 produk anyar pada tahun ini. Dari jumlah tersebut 50% merupakan produk kosmetik dan sisanya obat generik serta etikal.  

More From Makro Ekonomi

  • Ambisi Tito Lampaui Aset Perbankan

    13:34 WIB

    "Hidup itu harus ada target. Setelah tembus Rp6.000 triliun, kami harap market cap bisa melampaui aset perbankan," ucap Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Kamis (23/3).

  • PPRO Garap Kertajati

    13:28 WIB

    PT PP Properti Tbk. melalui kerja sama dengan PT BIJB Aerocity Development akan mengembangkan kawasan bisnis seluas 300 hektare di kawasan Bandar Udara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat

  • Bisnis Indonesia Edisi Cetak Senin, 27 Maret 2017 Seksi Market

    01:48 WIB

    Berikut ini adalah ringkasan headlines BISNIS INDONESIA edisi cetak Senin, 27 Maret 2017. Untuk menyimak lebih lanjut, silahkan kunjungi http://epaper.bisnis.com/

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

News Feed

  • Gubernur BI Siap Bersaksi

    Rabu, 29 Maret 2017 - 16:42 WIB

    Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardoo dijadwalkan hadir dalam persidangan kasus korupsi pengadaan KTP elektronik, Kamis (30/3), dalam kapasitasnya sebagai saksi terhadap terdakwa Irman dan Sugoharto, mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri.

  • Asia Paper Diberi Tenggat 45 Hari

    Rabu, 29 Maret 2017 - 14:05 WIB

    Masa penundaan kewajiban pembayaran utang PT Asia Paper Mills akhirnya disepakati selama 45 hari, jauh dari harapan perseroan selaku debitur, yang mengajukan perpanjangan waktu 180 hari.

  • RI Bersiap Hadapi AS

    Rabu, 29 Maret 2017 - 12:11 WIB

    Indonesia bersiap menghadapi tudingan dumping dan subsidi dari Amerika Serikat atas produk biodiesel Tanah Air, setelah sebelumnya Uni Eropa menyampaikan tuduhan serupa

  • “Koperasi Bisa Menjadi Kekuatan Dahsyat”

    Rabu, 29 Maret 2017 - 11:52 WIB

    Pemerintah sejak awal sepakat menjadikan koperasi dan usaha kecil menengah (UKM) sebagai salah satu tulang punggung pertumbuhan ekonomi, dan berupaya terus menumbuhkan pelaku usahanya dengan berbagai kebijakan. Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Menteri Koperasi dan UKM menjelaskan upaya yang selama ini dilakukan pemerintah untuk koperasi dan UKM. Berikut ini petikan wawancaranya.

  • KKP Bidik Pemilik Kapal Jumbo

    Rabu, 29 Maret 2017 - 10:02 WIB

    Kementerian Kelautan dan Perikanan membidik perusahaan-perusahaan yang menjadi pemilik 16.000 kapal perikanan di atas 30 gros ton lulus sertifikasi hak asasi manusia sebagai parameter penilaian perpanjangan izin usaha.

Load More