Navigasi Bisnis Terpercaya

Minggu 26 Februari 2017
SURAT UTANG NEGARA

Tenor Pendek Diburu

Gloria Natalia Dolorosa Rabu, 11/01/2017 07:14 WIB
SURAT UTANG NEGARA

JAKARTA — Meski likuiditas masih cukup besar, investor obligasi diprediksi masih memilih surat utang bertenor pendek, seiring dengan masih tingginya ketidakpastian global.

Jika hal ini terus terjadi, pemerintah berpotensi kesulitan membiayai ulang (refinancing) surat utang yang jatuh tempo.

Kecenderungan investor obligasi untuk memilih surat utang bertenor pendek terlihat dari lelang perdana surat utang negara (SUN) dan lelang perdana Sukuk tahun ini.

Pada lelang perdana SUN yang digelar pada Selasa (3/1), penawaran yang masuk ke seri SPN bertenor pendek lebih banyak ketimbang penawaran masuk ke seri FR. Jumlah penawaran masuk ke seri SPN mencapai 60,24% dari total penawaran di lelang senilai Rp36,9 triliun.

Begitu juga yang terjadi pada lelang perdana surat berharga syariah negara (SBSN) yang digelar kemarin, Selasa (10/1). Penawaran masuk ke seri SPN yang jatuh tempo pada 11 Juli 2017 mencapai 74,48% dari total penawaran masuk di lelang SBSN sebesar Rp24,01 triliun.

I Made Adi Saputra, analis fixed income MNC Securities, mengatakan lebih besarnya jumlah penawaran yang masuk ke surat berharga negara (SBN) bertenor pendek menunjukkan investor belum berani mengambil risiko untuk masuk ke SBN tenor panjang.

Investor terlihat masih wait and see menanti pidato presiden baru AS Donald Trump pada 20 Januari mendatang. Investor saat ini menilai janji kampanye yang digencarkan Trump akan dimasukkan ke dalam kebijakan yang diumumkan pada 20 Januari nanti.

"Ketidakpastian masih tinggi. Selain datang dari pidato Trump nanti, ketidakpastian global seperti rencana penaikan Fed Fund Rate tahun ini dan penguatan dolar AS masih menghantui investor," kata Made, Selasa (10/1).

Jika suku bunga acuan AS naik lagi, yield US Treasury meninggi. Kondisi itu membuat investor meminta imbal hasil tinggi di lelang-lelang SBN Indonesia berikutnya. Ditambah lagi, imbal hasil US Treasury yang terus meningkat membuat pelaku pasar lebih berhati-hati berinvestasi. Kemarin, imbal hasil US Treasury 10 tahun di level 2,38%.

SENTIMEN DOMESTIK

Sementara itu, investor domestik masih belum percaya diri mengambil SBN bertenor panjang lantaran dilanda kekhawatiran kian tingginya inflasi dan tanda tanya atas kebijakan Bank Indonesia dalam mempertahankan atau menurunkan suku bunga acuan. Made memprediksi potensi Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan lebih besar ketimbang menurunkan suku bunga.

Made menilai kecenderungan investor untuk memilih tenor pendek dapat membuka peluang kekhawatiran bagi pemerintah dalam refinancing SBN jatuh tempo. Kondisi yang terjadi pada lelang perdana SUN dan SBSN ialah pemerintah nampak kesulitan menggeser penawaran investor untuk masuk ke tenor panjang.

"Risiko refinancing atas SBN jatuh tempo tahun ini terbuka. Kebutuhan pemerintah kian besar," katanya.

Meski investor sangat selektif dalam memilih SBN, Made menilai likuiditas di pasar masih cukup besar. Terbukti, total penawaran di lelang perdana cukup tinggi.

Pada lelang perdana Sukuk kemarin, total penawaran mencapai Rp36,9 triliun atau 3,64 kali dari nilai yang dimenangkan pemerintah. Jumlah penawaran pada lelang Sukuk tahun ini pun jauh lebih tinggi atau 4,65 kali dari jumlah penawaran pada lelang perdana sukuk 2016. Adapun, penawaran pada lelang perdana SUN tahun ini mencapai 2,46 kali dari total yang diserap pemerintah.

Pada 2017, target penerbitan dari sukuk mencapai 29% dari target kotor penerbitan SBN. Penerbitan sukuk ini termasuk lelang, penerbitan sukuk global, dan penjualan sukuk ritel.

More From Makro Ekonomi

  • Tren Cost of Fund Turun

    07:49 WIB

    Tren penurunan yield surat utang global yang terjadi saat ini dinilai menjadi momentum yang tepat untuk merilis surat utang berdenominasi valas. Penurunan yield tersebut akan berdampak pada penurunan biaya dana alias cost of fund emisi global bond.

  • Pendapatan Berulang Jadi Penopang

    07:35 WIB

    Sejumlah emiten properti berupaya menggenjot porsi pendapatan berulang sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas pendapatan di tengah penjualan yang cenderung fluktuatif.

  • Asing Tak Gubris Polemik Freeport

    07:53 WIB

    Meski terjadi gesekan antara pemerintah dan Freeport McMoran, faktor politik dalam negeri dinilai lebih dominan menjadi sentimen negatif di mata investor asing dalam berinvestasi di pasar modal Tanah Air.

  • DMAS Jual Lahan 28 Hektare

    07:41 WIB

    Pengelola lahan industri di bawah Grup Sinarmas, PT Puradeltas Lestari Tbk., telah menjual 28 hektare lahan pada awal tahun ini sehingga target penjualan yang ditetapkan pada tahun ini kian realistis.

News Feed

  • Rasa dan Estetika Kudapan Sehat

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 14:22 WIB

    Beberapa tahun belakangan, semakin banyak kaum urban yang mengalihkan kebiasaan makan mereka ke diet sehat dari bahanbahan nabati organik atau yang lebih ngetren disebut sebagai metode clean eating.

  • Menikmati Fuji dari Kawaguchi

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 14:21 WIB

    Gunung Fuji atau Fujiyama merupakan salah satu simbol dan ikon Jepang, selain bunga Sakura.

  • Mengukir Waktu dari Jam Tangan Kayu

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 13:34 WIB

    Aplikasi kayu-kayuan kini tak lagi terbatas pada furnitur rumah tangga. Di tangan orang-orang kreatif, material kayu bisa dimodifikasi menjadi jam tangan unik dengan tetap memberikan kesan eksklusif.

  • Napas Romantis Busana Pengantin Retro

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 13:27 WIB

    Dari masa ke masa, busana pengantin bergaya internasional terus mengalami evolusi tren, mulai dari potongan yang megar dan penuh detail rumit ala putri negeri dongeng, hingga siluet press body nan simpel dan minim aksen.

  • Penularan Demam Kuning

    Sabtu, 25 Februari 2017 - 12:50 WIB

    Nyamuk yang terinfeksi dapat menularkan virus dari manusia ke manusiaNyamuk boleh jadi merupakan salah satu musuh utama manusia di bidang kesehatan.

Load More