Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017

KEMBALI ke PANGAN LOKAL

Rezza Aji Pratama & Ramdha Mawaddha Sabtu, 28/01/2017 06:46 WIB
Singkong

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan hasil buminya. Beragam jenis bahan pangan tersedia di seluruh penjuru negeri ini.

Sayangnya, masih banyak bahan pangan lokal yang sejatinya bisa diolah menjadi produk bernilai tambah, bahkan tidak dikenal masyarakat luas.

Peringatan Hari Gizi dan Makanan Nasional tahun ini yang diperingati pada 25 Januari, tentunya bisa menjadi momentum bagi kita semua untuk kembali mencintai dan mengonsumsi pangan lokal.

Apalagi, belakangan ini gerakan untuk memperkenalkan kembali makanan lokal semakin masif dilakukan, tidak hanya oleh pemerintah tetapi juga kelompok masyarakat yang kian sadar akan pentingnya mengonsumsi makanan sehat dan bergizi.

Beberapa kelompok masyarakat di Yogyakarta, misalnya, mulai memperkenalkan jenis makanan berbahan sorgum yang diolah dengan sentuhan modern. Di Semarang, juga ada sebuah perusahaan yang membuat nasi jagung instan sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat luas.

Soal pembeli, mereka tidak perlu khawatir karena sejumlah komunitas atau kelompok masyarakat semakin berlomba-lomba untuk mempromosikan sekaligus memasarkan makanan berbahan dasar pangan lokal tersebut.

Di Yogyakarta ada Letusee, sebuah café yang terkenal dengan komitmennya dalam menggunakan bahan pangan lokal untuk menu yang disajikan kepada pengunjungnya.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan lokal tersebut, mereka bahkan bekerja sama dengan gabungan beberapa kelompok tani (Gapoktan).

“Kami berkreasi membuat menumenu yang berasal dari pangan-pangan lokal yang tidak banyak dikenal. Menu tersebut berbeda-beda setiap harinya karena bergantung pada stok dan suplai dari petani,” ujar Dadang Anggartama dari divisi riset dan pengembangan Letusee.

Dari petani di Wonogiri, misalnya, mereka mengolah sorgum merah yang akhirnya dikreasikan dengan kacang-kacangan lain. Menu yang dihasilkan berupa mix grain.

Untuk konsumen, variasi menu ini tentunya menguntungkan karena mempunyai banyak sumber karbohidrat. Soal rasa, mereka juga menyesuaikannya dengan lidah masyarakat.

“Kami sering berkunjung ke daerah-daerah terpencil untuk bertanya resep-resep pangan lokal kepada mbah-mbah. Mereka biasanya lebih berpengalaman dengan pangan-pangan lokal tersebut dan tahu bagaimana mengolahnya.”

Di sisi lain, petani juga diuntungkan karena bisa mendapatkan harga dua kali lipat dari harga pasaran.

Selain Letusee, juga ada perusahaan Oriflakes, yang sejak 2007 menghasilkan produk sereal dari bahan umbi garut. Produk pangan lokal olahan yang sudah dikemas dengan citra modern ini bahkan memikat banyak importir dari Asia Timur, Amerika, dan Eropa.

“Saat saya kuliah dulu, saya pernah membahas tentang umbi garut. Sayangnya, kebanyakan produk olahan umbi garut yang ada hanyalah emping atau keripik. Dari sana, saya coba meneliti apakah umbi garut bisa dijadikan produk sereal,” ujar Suko Triyono, pendiri perusahaan tersebut.

Dia menjelaskan dari semua umbi di Indonesia, yang paling bersahabat dengan pencernaan dan lambung adalah umbi garut.

Umbi garut juga jenis umbi yang paling sehat, karena indeks glisemiknya hanya 14. Itu sebabnya umbi garut sangat baik bagi penderita diabetes karena menjaga stabilitas gula darah.

Selain itu, umbi garut juga mengandung serat yang tinggi dan jika sudah matang teksturnya sangat lembut. Umbi garut juga memberikan efek dingin di lambung, sehingga nilai ekonomis dan manfaatnya sangat tinggi.

Sayangnya, di mata masyarakat, umbi garut masih dianggap kuno. Banyak masyarakat yang belum peka terhadap nilai ekonomis dan manfaatnya.

“Dari sanalah, saya bertekad untuk menghidupkan budidaya umbi garut agar bisa diolah menjadi panganan sehat yang berdaya saing,” tuturnya.

Seperti yang dikatakan Intan Dian Heryani, dia bersama keluarganya sudah merasakan manfaat kesehatan yang luar biasa setelah rutin mengonsumsi pangan lokal.

“Karena yang impor itu prosesnya panjang dan kita tidak tahu asalnya dari mana. Kalau lokal, di tanah sendiri, kita bisa tahu asal usulnya,” jelasnya.

Amaliah, staf peneliti Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada, menilai semakin tingginya keinginan masyarakat mengonsumsi pangan lokal terkait dengan kesadaran kesehatan masyarakat yang semakin tinggi.

“Mulai 1980-an, era fast food mulai membesar dan diminati. Selama puluhan tahun tren tersebut bertahan, tetapi saat ini orang mulai melihat dampak negatifnya untuk kesehatan dan lingkungan,” jelasnya.

Di sisi lain, pangan lokal tak hanya lebih sehat karena biasanya tumbuh secara alami, tetapi juga memiliki jenis yang beragam sehingga mudah didapatkan.  Di Indonesia ada 300 jenis pisang, di Irian ada 300 jenis umbi-umbian, dan di NTT ada 5 jenis sorgum.

“Setiap daerah punya khas masing-masing, ada gembili, sorgum, singkong, dan lainlain. Perlu disesuaikan dengan karakter setiap daerahnya.”

TANTANGAN

Memopulerkan pangan lokal memang tidak semudah fast food karena tidak semua masyarakat mengenal apalagi bisa mengolah bahan-bahan lokal tersebut.

Ketua Komunitas Organik Indonesia Yogyakarta Antonius Agung Saputro mengungkapkan untuk umbi-umbian saja masih banyak konsumen yang kebingungan dengan bahan-bahan tersebut.

“Itu yang menjadi tantangan bagi kita, juga untuk mengedukasi masyarakat atau orang yang sudah tidak kenal lagi dengan produk seperti itu,” katanya.

Sebelum revolusi hijau, jelasnya, kekayaan alam Indonesia sangat kaya dan subur. Kita mengenal berbagai jenis pangan lokal yang murah dan mudah didapatkan, mulai dari sagu, ketela, jagung, keladi, dan banyak lainnya.

Namun, proyek revolusi hijau yang dicanangkan Orde Baru berhasil menggusur berbagai jenis makanan lokal.

“Sebenarnya kebutuhan kita sudah bisa tercukupi dengan apa yang ada di sekitar kita tanpa harus impor.”

Untuk promosi pangan lokal, Badan Ekonomi Kreatif pun ikut andil dengan lebih fokus memopulerkan kulinernya. Dari 16 subsektor yang ada di Bekraf, salah satunya adalah kuliner.

“Tapi kalau kita ingin mempopulerkan satu produk atau satu jenis ke luar negeri, tidak boleh beragam. Kalau ingin memperkenalkan, satu jenis atau satu merek makanan saja sebagai lokomotif untuk mudah diingat dan mudah dipopulerkan,” ujar Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf.

Bekraf sendiri sudah mempromosikan soto di Asean Kuliner Festival sebagai kuliner utama dari Indonesia.

Tahun ini, Bekraf juga akan merancang desain restoran Indonesia di luar negeri, yang nantinya bekerja sama dengan restoran di negara setempat sehingga bisa lebih mudah menjual kuliner Indonesia. Dengan demikian, kuliner Indonesia lebih cepat mendunia.

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More