Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017
PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

Bank Dukung Pendanaan Proyek BUMN

Farodlilah Muqoddam Kamis, 09/02/2017 11:40 WIB
Ilustrasi

JAKARTA — Bank-bank pelat merah menegaskan komitmennya mendukung pendanaan proyek infrastruktur oleh perusahaan BUMN dengan menyediakan slot khusus untuk pendanaan proyek jangka menengah dan panjang.Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (Bank Mandiri) Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, sepanjang tahun lalu pihaknya menyediakan komitmen pendanaan untuk proyek-proyek infrastruktur senilai
Rp90 triliun.

Sebanyak Rp50 triliun di antaranya telah ditarik untuk membiayai sejumlah proyek seperti pembangunan bandara, pelabuhan, dan jalan tol, baik yang dikerjakan oleh perusahaan milik pemerintah maupun swasta. Adapun, sisanya akan ditarik secara bertahap selama tiga sampai empat tahun sesuai dengan perkembangan proses penyelesaian proyek.

Pada tahun ini, emiten berkode saham BMRI itu menyiapkan dana lebih banyak guna meraih potensi untuk membiayai sejumlah proyek berskala besar seperti LRT Jabodebek, jalur trans Sumatra, dan pembangunan proyek pembangkit listrik dii beberapa wilayah. “Tahun ini akan nambah banyak karena ada beberapa proyek besar seperti LRT Jabodebek yang sedang kita lihat,” ujarnya, Rabu (8/2).

Dalam kesempatan terpisah, Direktur PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. Kuswiyoto mengatakan penyaluran kredit infra struktur pada tahun lalu didominasi oleh proyek-proyek pemerintah. Adapun, bidang lapangan usaha yang dominan adalah kelistrikan, jalan tol, bandara, dan pelabuhan.
Pada tahun ini, proyek infrastruktur yang digarap oleh perusahaan BUMN diproyeksi masih akan mendominasi.

“Yang akan tetap dominan listrik dan tol,” katanya. Sepanjang 2016, realisasi penyaluran kredit BRI ke sektor infrastruktur mencapai Rp45,11 triliun, naik 50% dibanding kan dengan tahun sebelumnya. Penyaluran kredit infrastruktur tersebut terdiri atas proyek kelistrikan senilai Rp28,33 triliun, konstruksi Rp4,63 triliun, dan sisanya transportasi termasuk jalan tol.

SUMBER DANA BARU
Secara umum, Kartika menilai perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor infrastruktur telah mulai bergerak untuk meningkatkan belanja modal sehingga membutuhkan banyak dukungan pendanaan dari perbankan. Guna memenuhi kebutuhan yang terus meningkat, industri perbankan harus terus melakukan inovasi untuk mendapatkan sumber-sumber dana baru yang sesuai dengan jangka waktu investasi proyek infrastruktur.

Dalam jangka panjang, lanjutnya, industri perbankan tidak lagi dapat mengandalkan dana pihak ketiga (DPK) sebagai sumber utama pendanaan. Selain ada posisi mismatch dalam tenor, sumber dana dari DPK juga dinilai tidak memadai untuk mendukung kebutuhan yang terus meningkat.
Di sisi lain, likuiditas dana dalam bentuk rupiah juga diproyeksi akan semakin ketat di masa mendatang karena banyaknya instrumen investasi seperti surat utang negara maupun obligasi korporasi.

“Kalau ada proyek infrastruktur baru yang butuh pendanaan akan mulai stretch, sehingga perlu ada breaktrough,” katanya. Guna mengoptimalkan dukungan terhadap proyek infrastruktur, Bank Mandiri tengah menyiapkan sejumlah opsi baru sebagai sumber pendanaan yang sesuai, seperti pinjaman luar negeri dan sekuritisasi aset.

Menurut Kartika, pinjaman luar negeri saat ini menjadi opsi menarik karena posisi Indonesia dinilai cukup baik oleh kreditur. Namun demikian, tantangan yang perlu dihadapi adalah terkait risiko mismatch nilai tukar, sehingga diperlukan instrumen swap yang sesuai. Pilihan lainnya adalah sekuritisasi aset yang sudah menghasilkan cashfl ow sebagai underlying untuk mendapatkan investasi dari penerbitan surat utang berbasis aset.

Direktur Bisnis Bank I BNI Herry Sidharta menyebutkan, sepanjang tahun ini PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. bakal
ekspansi kredit ke sektor infrastruktur sebesar Rp25 triliun. “ Untuk sindikasi. Dan betul, sindikasi bagus untuk sharing risiko,” ucapnya kepada Bisnis, Rabu (8/2). Pada tahun ini, proyek yang akan imasuki emiten bersandi saham BBNI  tersebut sedikitnya ada 10. Rerata adalah proyek BUMN. Perinciannya a.l. LRT Palembang, LRT Jabodetabek, Tol Pejagan— Pemalang, Tol Pemalang—Batang, Tol Pandaan—Malang, Tol JORR II ruas Serpong—Kunciran—Cengkarang, Palapa Ring Tengah dan Timur, Tol Gempol— Pasuruan, Pelabuhan Kuala Tanjung, dan Kereta Bandara Soekarno—Hatta.

Sementara itu, dua bank swasta terbesar di Indonesia, yakni PT Bank Central Asia (BCA) dan PT Bank Cimb Niaga Tbk. tidak secara eksplisit menyatakan alokasi yang disiapkan untuk masuk dalam pembiayaan infrastruktur. Saat ditanya tentang infrastruktur besar yang akan didanai oleh BCA pada tahun ini, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, menyatakan tidak ada kelompok yang spesifi k. Menurutnya, sebelum masuk ke pembiayaan infrastruktur, pihaknyaakan melakukan evaluasi terlebih dulu.

“Saya punya kriteria kalau masuk infrastruktur itu harus ke proyek yang sudah  bisa feasible secara bisnis artinya mesti lihat dalam 7-10 tahun sudah mulai bisa self survive dan ada exit window-nya. Karena kami bukan bank infrastruktur, dan funding kami relatif jangka pendek,” katanya.
Direktur Strategi dan Keuangan CIMB Niaga Wan Razly Abdullah mengatakan hal senada. Menurutnya, bisnis infrastruk tur bukan segmen pihaknya sebagai bank swasta. “Kalau bank-bank BUMN itu lebih ke infrastruktur karena itu kan memang segmen bisnisnya mereka, sedangkan kami
kan bank swasta jadi lebih ke korporasi dan privat,” tutur Wan Razly.

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More