Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017

Yang Tua Yang Mendaki

Redaksi Sabtu, 11/02/2017 10:51 WIB
Pendaki tengah menuju Carstensz Pyramid

Mendaki gunung bukan monopoli kawula muda. Aktivitas itu juga digemari usia paruh baya dan mereka yang mulai beranjak tua Beda kategori usia, beda pula tujuan dan asa. Bagi mereka yang muda, mendaki bukan sekadar olahraga.

Gunung tidak hanya sebagai wahana mendaki, tetapi Giri juga menjadi sarana untuk berkompetisi. Mereka cepat ingin sampai puncak, foto-foto, dan selesai. Sebaliknya, aktivitas itu juga dinilai cocok bagi mereka yang mulai berumur. Kegiatan yang banyak dilakukan secara berkelompok ini menawarkan interaksi dan pengetahuan. Mendaki gunung menguras banyak energi, tetapi semakin tinggi memberi ketenangan rohani.

Saat mendaki, sang Ardi menawarkan panorama dan udara yang tiada tara, jauh berbeda dari kota. Di beberapa negara, kegiatan mendaki ini banyak dilakukan oleh kelompok warga yang sudah berumur. Akan tetapi, agar tetap aman, penting untuk mengukur kemampuan dengan tujuan yang hendak ditempuh.

SETIAP BULAN

Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault, salah satu penyuka pendakian gunung, mengungkapkan hampir setiap bulan naik gunung.

Sudah banyak gunung yang didaki, seperti Lawu, Slamet, Rinjani, Semeru, Sindoro Sumbing, serta Kinabalu, Malaysia dan Mont Blanc, Prancis. Adapun, Gunung Gede, sudah tidak terhitung, sudah menjadi ajang latihan. Bahkan, Adhyaksa suka mengajak anak lelakinya ke Rinjani, Kinabalu, dan Slamet.

“Dengan mendaki Alhamdulillah pikiran saya menjadi jernih dan persoalan menjadi hilang. Selain itu dengan mendaki saya dapat menikmati ciptaan Allah. Semakin kita mencintai alam, makin cinta pula kepada sang penciptanya,” ungkapnya.

Sejauh ini pendakian paling berkesan itu di Mont Blanc karena suasananya indah. Kemudian Kinabalu, terkesan dengan pengelolaan gunung di sana. Menurut Adhyaksa, tantangan terberat saat mendaki itu melawan diri sendiri, melawan ego. Ketika naik gunung, sambungnya, bukan menaklukkan tetapi berusaha menikmati keindahan. Jika lelah, jangan dipaksakan.

“Saya di umur 53, kalau naik gunung menggunakan alat pengukur detak jantung heart rate monitor. Bila jantung saya berdetak 140 per menit maka saya harus berhenti. Setelah normal di angka 100 detak per menit baru saya lanjutkan lagi. Kami yang tua-tua ingin punya generasi muda yang semangat sebagaimana kami dahulu.” Dia menjelaskan, kegiatan alam seluruhnya senang, terutama mendaki gunung. Aktivitas itu sudah sejak SMP.

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka ini, membeli rumah penduduk di desa sekitar Gunung Gede untuk tempat berkumpul sebelum berangkat mendaki. Dahulu rumah itu milik penduduk yang biasa digunakan untuk tempat berkum pul melakukan persiapan pendakian.

Kemudian, saat SMA aktif di komunitas Vanaprastha. Organisasi itu sudah ada sejak 1970-an. Dia pernah menjadi ketua umum dan aktif hingga sekarang. Diah Bisono, praktisi komunikasi dan direktur Saji Indonesia yang kini berusia 52 tahun, mengungkapkan meskipun menguras banyak energi, tetapi mendaki mampu memberi ketenangan dan kesehatan jiwa.

“Dari aktivitas ini saya belajar kemandirian. Kita yang berada di tengah alam, tanpa boleh bergantung dengan orang, menuntut kita untuk mandiri. Dari aktivitas ini, saya banyak mendapat pengetahuan sehingga lebih percaya diri. Saya juga merasa lebih sehat dan tenang. Serasa paru-paru bersih setiap hari.” Menurutnya, jika dihitung, dia melakukan pendakian dua kali hingga tiga kali per tahun.

Gunung Kilimanjaro, Tambora, hingga puncak Carstensz, Papua, pada 2013 pernah didaki. Bahkan, pada 2011, dia termasuk enam orang perempuan mendaki gunung es bertajuk Equatorial Peaks for Lupus. Bagi Diah Bisono, usia boleh menua tetapi semangat mendaki tetap sama. Bahkan, Don Hasman, seorang fotografer yang jauh lebih senior, berusia 77 tahun, masih setia dengan aktivitas mendaki dan menjelajah ke berbagai pelosok negeri.

Om Don, begitu kerap dia disapa, telah mendaki banyak gunung di dunia, menjelajah suku-suku pedalaman. Dia adalah orang Indonesia pertama yang mendaki Himalaya pada 1978. Dia juga melakukan pendakian ke puncak Gunung Kilimanjaro, Tanzania pada 1985. Pendakian ke Gunung Gede Pangra ngo bahkan sudah dilakukan lebih dari 200 kali. Menurutnya, pendakian memberi banyak manfaat, baik untuk diri sendiri karena berhadapan dengan alam, udara yang bersih, dan pemandangan yang indah maupun untuk warga setempat, seperti pemilik penginapan, jasa pemandu.

“Sebaiknya, tidak mencoba mendaki tanpa pemandu. Jika Anda memiliki uang lebih, sebaiknya gunakan pemandu. Daripada hilang, lalu mati,” tegasnya.

Gembong Tawangalun, Ketua Umum Komunitas Pendaki Gunung Vanaprastha, hobi mendaki gunung para pendaki senior tidak bisa hilang begitu saja. Ibarat orang yang sudah hobi bola, sampai tua pun mereka punya keinginan menggiring si kulit bundar. “Kami sering menggelar pendakian bersama-sama untuk ajang reuni.

Tidak jauh-jauh tempatnya, ke Gunung Gede, misalnya kami biasa mendaki ke sana.”

PANDANGAN MEDIS

Pada 2012 silam, Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo meninggal saat melakukan pendakian di Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat. Widjajono yang wafat di usia 60 tahun ini sebenarnya dikenal sudah sering melakukan aktivitas pendakian. Dia diduga mengalami serangan jantung saat mendaki gunung tersebut.

Ario Soeryo Kuncoro, dokter spesialis jantung sekaligus Wakil Sekjen I Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki), menjelaskan bahwa para pendaki yang berusia di atas 50 tahun rentan penyakit jantung atau kardiovaskular yang sifatnya degeneratif dan disebabkan oleh faktor risiko masing-masing individu. “Jadi apabila pada usia yang tergolong tidak muda ini melakukan aktivitas yang tergolong berat tentunya dapat memicu terjadinya serangan jantung,” ujarnya.

Ario Soeryo juga membantah naik gunung selalu dianggap bisa menyehatkan bagi para lanjut usia. “Tidak betul, kecuali memang biasa olahraga mungkin iya. Harus juga dihindari jalur yang terlalu menanjak. Tergan tung model pendakiannya. Kalau pun trekking biasa, efeknya akan sama saja.”

Andi Kurniawan, CEO Indonesia Sports Medicine Centre dan Sport Medicine Specialist, menjelaskan meskipun me - miliki manfaat fisik dan mental, tetapi tentu ada risiko nya. Misalnya, risiko cedera karena melakukan aktivitas di tempat yang menanjak. Kondisi tersebut membutuhkan kekuatan dan kestabilan otot. Oleh karena itu, para pendaki berusia tua perlu memperhatikan ma salah kesehatan. Jangan ambil risiko

Tips naik Gunung

1. Periksa kesehatan Dengarkan nasihat dokter. Itu untuk memastikan saran atau larangan dokter. Jangan memaksakan diri.

2. Persiapkan obat-obatan Obat-obatan terkait dengan penyakit yang diderita, dan obat-obatan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti gangguan binatang ataupun gigitan serangga. Tip Naik Gunung Sumber: dr. Ermita Ilyas, pakar fisiologi FKUI

3. Persiapkan kebugaran Idealnya olah raga dilakukan sejak enam bulan sebelum hari H pendakian. Hal itu untuk mendapat kebugaran yang baik sehingga pendakian berjalan mulus sampai ke puncak.

4. Bawa makanan yang cukup Makanan itu jangan sampai mengganggu kesehatan dan jangan terlalu banyak membawa makanan. Jangan sampai kekurangan. Sedikit tetapi mengenyangkan. 5. Pakaian pendakian yang mendukung dari ujung kepala hingga kaki

6. Perhatikan cuaca, lingkungan, dan medan

7. Siapkan mental

8. Jangan paksakan diri

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More