Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017

Oleh-oleh Khas Kekinian

Redaksi Sabtu, 18/02/2017 14:09 WIB
Oleh-oleh

Siapapun tentu sudah tidak asing lagi dengan kue-kue khas daerah seperti dodol Garut, bika ambon Medan, bakpia Yogyakarta, lumpia Semarang, lapis Surabaya, klappertaart Manado, dan masih banyak lainnya

Belakangan ini muncul tren baru di dunia kuliner daerah. Semakin banyak bermunculan kue-kue jenis baru yang diklaim sebagai jajanan ‘khas’, yang wajib dijadikan oleholeh kekinian dari daerah tersebut. Menariknya, kue-kue tersebut sebenarnya bukanlah makanan tradisional asli dan justru merupakan penganan serapan dengan nama kebarat-baratan yang diadopsi dari resep-resep modern.

Hanya saja, kue-kue tersebut dipasarkan dengan embelembel nama kota tertentu, yang dikenal dengan istilah geo tagging. Geo tagging dalam hal ini merupakan suatu proses yang memberikan sebuah identitas metadata terhadap makanan dengan menyisipkan lokasi atau tempat tertentu.

Beberapa contoh penggunaan geo tagging pada kuekue serapan yang sedang populer di antaranya beklave Makassar, Surabaya snow cake, almond crispy cheese Surabaya, Medan napoleon, Malang strudel, Jogja scrummy, dan lain sebagainya. Tidak hanya menarik minat konsumen dari berbagai daerah, bisnis kue oleholeh ‘khas’ kekinian tersebut rupanya juga menggiurkan bagi banyak kalangan; termasuk selebritas.

Saat ini, mulai banyak selebritas yang ikut-ikutan tren mendirikan usaha oleh-oleh ‘khas’ kekinian. Sebut saja Irfan Hakim dengan beklave Makassar, Dude Harlino dengan Jogja scrummy, Teuku Wisnu dengan Malang strudel, Irwansyah dengan Medan napoleon, Zaskia Sungkar dengan Surabaya snow cake.

Selain Jogja scrummy, di Yogyakarta juga ada Mochi Sakura Jogja yang didirikan sejak 2012. Kendati selama ini Jogja identik dengan bakpia sebagai makanan khasnya, Aditya berharap mochi miliknya juga setara dengan makanan tersebut. “Sebenarnya mochi sakura adalah mochi khas Jepang. Kami beri nama Jogja supaya kalau orang ke Jogjakarta ingat dengan kue mochi kami,” tuturnya.

Di Surabaya, Zaskia Sungkar belum lama ini juga membuka gerai oleh-oleh ‘khas’ kekinian. Meskipun bukan orang asli Surabaya, perempuan yang akrab disapa Kia itu melabeli produknya dengan merek Surabaya Snow Cake. Bagi kakak Shireen Sungkar ini, mencantumkan embelembel nama kota pada produknya juga adalah strategi untuk memenetrasi pasar Surabaya dan sekitarnya.

“ karena Surabaya adalah pasar terbesar di Indonesia, kedua setelah Jakarta. Jadi, ini juga tantangan tersendiri bagi saya,” jelasnya. Selain memberi embel-embel nama kota pada merek dagang sebagai strategi pendekatan ke pasar Kota Pahlawan, Kia juga melengkapi promosinya dengan membuat jargon dengan bahasa daerah yang terdengar ‘Surabaya banget’.

“Iki sing anyar lho rek, oleh-oleh spikoe Surabaya kekinian ben Surabaya makin hits rek (Ini yang baru loh, oleh-oleh spiku Surabaya kekinian agar Surabaya semakin gaul)”. Terkait ide nama dari Surabaya Snow Cake sendiri, Kia mengaku terinspirasi dari kondisi di Kota Pahlawan.

“Hawa di Surabaya kan panas, jadi harapannya dengan membuka Surabaya Snow Cake, hawanya jadi adem seperti bersalju.” Ide dasar Snow Cake sendiri, lanjutnya, adalah dari kue lapis Surabaya alias spiku. “ inspirasinya memang dari Kota Surabaya yang terkenal dengan lapis Surabaya. Aku ingin membuat lapis Surabaya menjadi sesuatu yang baru, yang kekinian, dan lebih enak.”

Namun, dia memodifikasinya dengan lapisan puff pastry yang garing dan renyah agar lebih kekinian. Adapun, isian rasa yang ditawarkan a.l. caramel, cheese, choco-banana,vanilla, dan choco green tea. Masing-masing dijual dengan harga antara Rp55.000— Rp59.000 per boks. Selanjutnya, di Sidoarjo, terdapat juga oleh-oleh kekinian dengan merek dagang Raja Spikoe.

Perusahaan ini sangat terkenal dengan modifikasi resepnya yang menggunakan durian sebagai bahan baku utama. Raja Spikoe adalah produsen spiku durian kekinian pertama di Indonesia. Selain spiku durian, Raja Spikoe banyak diburu karena salah satu produknya yang bernama Spikoe Salju. Kue ini sepintas menyerupai bolu spiku, tetapi dilapisi pastry renyah, serta taburan gula halus yang menyerupai salju di atasnya. Pilihan isian yang ditawarkan pun sangat kekinian dan menyesuaikan tren rasa di kalangan anak muda.

Di antaranya adalah durian original, durian choco, durian cheese, durian green tea, choco banana, choco cheese, dan milo cheese. Menurut Ayu Pusparini, pemilik Raja Spikoe, produknya sebenarnya adalah kue spiku. Namun, menyasar segmen pasar yang lebih kekinian, yakni anak muda atau karyawan usia antara 20–35 tahun cenderung menyukai inovasi di dunia kuliner. Harga jualnya sendiri untuk label Spikoe Duren sekitar Rp80.000–Rp85.000, dan untuk Spikoe Salju sekitar Rp50.000– Rp60.000. Bahan baku duriannya pun dikombinasikan antara lokal dan impor, mengingat durian lokal cenderung memiliki rasa yang tidak stabil; terkadang manis, terkadang agak kepahit-pahitan.

Terkait pengaruh geo tagging terhadap penjualan produknya, Ayu melihat strategi ini sebagai tren positif untuk memacu inovasi dan bersaing secara sehat dalam mencari pangsa pasar. “Geo tagging hanyalah salah satu strategi saja. Namun, yang lebih penting dalam menjalankan bisnis ini adalah kreativitas dan mengetahui cara main; tahu demografisnya, tahu segmen pasarnya, dan tahu distribusinya,” tuturnya. Di Indonesia timur, tepatnya di Makassar juga ada Irfan Hakim dengan Makassar Beklave.

Berbeda dengan rasa aslinya yang merupakan jajanan asli Turki, Irfan mengurangi rasa manisnya untuk menyesuaikannya dengan lidah orang Makassar. “Walaupun bukan asli banget dari Makassar, tapi akan menjadi oleh-oleh khas Makassar itu sendiri. Saya berharap Makassar Baklave menjadi khas Makassar. Jadi orang kalau ke Makassar rasanya enggak lengkap kalau tidak bawa baklave dan karena bakal cuma di Makassar saja,” katanya.

Agar bisa bersaing dengan bisnis serupa, Irfan juga mengombinasikannya dengan makanan daerah, misalnya pisang untuk menjadi salah satu varian rasanya.

FENOMENA BIASA

Pakar kuliner William Wongso menganggap tren oleh-oleh kekinian tersebut merupakan fenomena yang biasa terjadi seiring dengan perkembangan zaman. Menurut dia, dinamika pasar kuliner memang harus ditanggapi dengan berbagai kreativitas bagi orang-orang yang ingin nyemplung ke bisnis ini. Apalagi, brand makanan juga tidak bisa dipatenkan karena bukan milik perorangan. “Ini kan fenomena saja, tidak tahu bisa bertahan lama atau tidak. Bisa juga latah dan euforia karena orang punya nama. Saat ini market makanan tradisional masih dominan, sehingga dia harus berkreasi dengan kejutan,” tuturnya.

Itu sebabnya, untuk bisa bersaing dengan oleh-oleh khas tradisional, menurut William, harus selalu ada kebaruan termasuk dari segi kemasannya. Bagaimanapun, konsumen belum tentu langsung tertarik untuk mencicipi makanan khas baru tersebut.

Seperti yang diungkapkan Elsa, warga asli Makassar yang pernah mencicipi makanan kekinian tersebut, oleh-oleh khas kekinian masih sulit menggeser popularitas makanan khas tradisional.

“Misalnya, soal baklave kan bukan makanan tradisional Makassar dan orang lokal ataupun wisatawan yang ke Makassar pasti cukup tahu makanan tradisional Makassar yang mana saja,” katanya. Begitu juga yang dirasakan Aldi yang pernah mencicipi oleh-oleh kekinian dari daerah lain. “ tidak bakal terganti, malah bisnis oleh-oleh kekinian bisa jadi sesaat saj

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More