Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017

Giliirannya Sneakers

Redaksi Sabtu, 25/02/2017 10:13 WIB
Produk inovasi Nike terbaru

Sekarang ini, sepatu sneakers tengah mencapai masa jayanya. Jenis alas kaki yang mengadaptasi model sepatu olahraga tersebut menjadi fashion item wajib punya, khususnya di kalangan generasi muda

Di Indonesia, tren sneakers dimulai sejak 2010 dan menjadi booming pada 2013-2014, tepatnya saat Nike mengeluarkan seri Nike Air Yeezy. Banyaknya sneakershead –sebutan kolektor sneakers- yang menjadi penggemar pebasket Michael Jordan, turut mendongkrak citra sepatu ini. Kegilaan para sneakershead dalam berburu sepatu dapat dilihat dalam ajang Jakarta Sneakers Day 2017.

Di situ, sepatu Nike Air Yeezy 2 Red October ditawarkan seharga Rp75 juta. Padahal saat diluncurkan oleh Nike pada Februari 2014, sepatu berwarna serba merah dijual seharga US$245 atau senilai Rp3,3 juta. Harga jual yang tinggi tidak lepas dari produksinya yang hanya 400 pasang. Sepatu ini juga sebagai penanda kolaborasi terakhir antara penyanyi Kanye West dan Nike.

Tidak berhenti di situ, sneakers klasik besutan Nike dari seri Air Jordan yang dibuat eksklusif untuk pebasket Kobe Bryant ditawarkan seharga US$30.000, setara dengan Rp400 juta. Di tengah booming sneakers di tengah generasi muda, ada hal yang patut dicermati, yakni sebagian besar dari merek-merek sneakers yang diburu kolektor Indonesia berlabel asing. Padahal, saat ini mulai bermunculan produsen sneakers lokal dengan mutu yang tidak kalah dari buatan luar negeri.

Salah satu sneakerhead yang tidak tertarik dengan produk nasional adalah penyanyi rap dan hip hop Vellen Roslan. Menjadi sneakerhead membuatnya terpacu untuk mengkoleksi sneakers yang unik.

Dia bahkan tidak segan untuk membeli sepatu seharga puluhan juta. Buatnya, sneakers tidak hanya menjadi hobi tetapi juga sebagai kebutuhan untuk menunjang penampilan, mengingat profesi Vellen sebagai rapper. Dari sederet koleksi yang dimilikinya, terdapat sepatu merk Nike Air Yeezy 2 Platinum. Di situs e-bay, harga jual sepatu tipe ini berkisar antara Rp30 juta hingga Rp40 juta. Harga yang cukup fantastis untuk ukuran sepatu.

Keanggotannya di komunitas North Sneaker Squad membuatnya selalu mendapatkan informasi terbaru tentang budaya pop, termasuk cara membedakan sneakers asli dan palsu. Vellen mengungkapkan dari seluruh koleksinya tidak ada sepatu buatan nasional. Dalam pandangannya, sepatu merek lokal belum memiliki model dan teknologi yang mampu menyaingi produsen sepatu luar negeri. “Meskipun sepatu dari luar negeri itu pabriknya juga ada di Indonesia.

Jadi bisa dibilang saya lebih menyukai sneakers brand luar dan skala internasional,” katanya. Senada, anggota North Sneaker Squad Hengky Ardianto mengungkapkan sneakers lokal agak susah bersaing dengan produsen global. “Susahnya karena para pencinta sneakers ini sangat brand oriented. Misalnya saya yang suka Air Jordan, karena melihat sosok Michael Jordan di belakang produk itu.”

Namun, dia mengakui, merk nasional tetap memiliki pasar tersendiri, tetapi perlu usaha ekstra untuk mengembangkan label. Menurutnya, produsen nasional perlu membangun kesadaran generasi muda mengenai produk sneakers dalam negeri. Hal itu dapat dilakukan dengan bergabung di komunitas pencinta sneakers untuk memperkenalkan produknya. Penggagas Jakarta Sneakers Day Andrey Noelfry Tarigan menyepakati produk sneakers nasional masih kalah bersaing dengan merk global, utamanya dari sisi desain. “Paling setahu saya yang lagi tren itu Piero karena pemiliknya adalah sneakerhead, dan juga terkenal.”

Evriza Anas, pakar sneakers yang juga memiliki toko penyuplai sneakers khusus kolektor, Anas Store ID, menjelaskan beberapa hal yang layak dijadikan perhatian produsen untuk mendongkrak pamor sneakers lokal di mata kolektor. Pertama, menciptakan kepercayaan pasar untuk menciptakan sebuah cult brand. Kedua, belum ada merek lokal yang meluncurkan koleksi edisi khusus yang memang ditujukan untuk membidik segmen kolektor.

Kebanyakan merek lokal diproduksi untuk segmen massal. Ketiga, belum ada brand ambassador yang mampu mendongkrak citra sepatu sneakers lokal sehingga memiliki prestise. “Belum ada brand ambassador di Indonesia yang bisa menciptakan citra ‘limited edition’ pada sebuah seri sepatu, sebagaimana yang dilakukan Yeezy, Pharell, atau Rihanna. Mungkin kalau ada perusahaan lokal yang menggandeng David Beckham, itu baru bisa,” katanya.

Keempat, tertinggal dalam hal kualitas bahan dan teknologi. Di Adidas ada yang namanya teknologi Primeknit, sedangkan di Nike ada yang namanya teknologi Flyknit. Keduanya sedang naik daun dan mendominasi persaingan teknologi sepatu olahraga. Senior Brand Manager PT. Panatrade Caraka Niki Sanjaya mengakui, meski belum dapat bersaing dengan merek global tetapi produk nasional mulai mendapatkan tempat di hati konsumen.

Manajemen PT. Panatrade Caraka yang menaungi label Piero mulai giat mengenalkan produknya. Inovasi produk dan menciptakan desain yang khas anak muda menjadi cara untuk memenangkan kompetisi. Upaya lain adalah membeli izin dari Disney dan Star Wars untuk memproduksi produk dengan karakter khas dari studio film itu. “Strategi yang tidak kalah penting adalah memperkuat brand di toko offline. Pemasaran digital sudah 70% dan cukup kuat hingga seluruh Indonesia.” Andrianto Suwandoko Putra, Project Manager Bro.do, menyadari ketatnya persaingan bisnis sneakers, terutama dengan lawan merek asing.

“Sebagai pelaku usaha lokal, yang bisa kami lakukan untuk berkompetisi adalah lebih giat dalam berinovasi dan menguatkan citra produk buatan lokal.” Menurutnya, yang perlu dibenahi dari produk nasional adalah segi desain. Inovasi diperlukan sehingga tidak mencontek produk sepatu merek luar negeri. Selain itu, pemasaran harus didorong maksimal karena banyak IKM sneakers yang lebih suka memasarkan untuk kalangan terbatas, atau antarteman.

Untuk mengatasi masalah ini, branding produk sneakers lokal harus diperkuat sehingga para pemainnya lebih pede untuk memasarkan dalam skala lebih luas. Andrianto mengatakan Bro.do yang berbasis di Bandung sejak 2010 itu tengah naik daun di kalangan millennials. Namun, kesuksesan itu bukan berarti tanpa kendala. Pasokan material dan sol seringkali menjadi kendala karena lini bisnisnya ini belum dapat memproduksi sol sendiri.

Hal ini berbeda dengan perusahaan besar seperti Adidas, Reebok, Nike, atau Puma itu memiliki pabrik sol sendiri. “Kalau kami memaksakan membuat sol sendiri, nanti ongkos produksi dan harga jualnya lebih mahal. Padahal, kualitas sebuah sepatu biasanya dilihat dari bahan dan teknologi sol yang digunakan,” katanya. Dia menambahkan, dukungan yang diberikan pemerintah yakni Bekraf dan Kemeterian Perindustrian, dari Ditjen IKM telah dilakukan. Dukungan itu diberikan saat peluncuran produk, dan juga pendampingan serta pengecekan kualitas.

“Ke depannya, kami berharap pemerintah lebih fokus memperkuat industri dan branding sepatu lokal. Kami juga berharap agar IKM persepatuan memperoleh pendanaan, misalnya untuk produksi sol.” KAMPANYE Melihat fenomena demam koleksi sneakers merek asing di kalangan generasi muda itu, pemerintah tidak tinggal diam. Melalui Kementerian Perindustrian, berbagai kampanye untuk mengangkat derajat produk sepatu lokal terus digalakkan.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah (IKM) Kemenperin, Gati Wibawaningsih, berpendapat salah satu hal yang menyebabkan sneakers buatan lokal kurang dilirik para kolektor adalah branding yang tidak optimal. Oleh karena itu, pemerintah berupaya semaksimal mungkin mendongkrak upaya branding produk lokal agar memiliki citra berkelas dunia. Tujuannya adalah agar produk lokal mampu berkompetisi tidak hanya di pasar nasional, tetapi internasional. Belum lama ini, sambungnya, strategi pemerintah itu sudah dijewantahkan melalui proyek percontohan dengan merek dagang Ekuator.

Dengan mengusung konsep alas kaki premium khusus pria, sepatu Ekuator diharapkan mampu mengerek citra prestisius produk lokal. “Sepatu Ekuator diluncurkan tahun lalu. Itu adalah hasil rintisan Kemenperin dan tim kreatif lainnya di Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia . Sepatu ini diharapkan menjadi pemicu agar produk lokal lainnya bisa menembus pasar global,” ujarnya.

Memang, sepatu Ekuator tidak spesifik membidik pangsa pasar sneakers atau sepatu olah raga. Namun, strategi pemerintah dalam meluncurkan merek tersebut adalah langkah awal untuk membentuk citra prestisius pada sepatu buatan lokal, yang selama ini dipandang remeh. “Saya harap, ke depannya semua IKM alas kaki mampu memproduksi sepatu sesuai dengan standar produk dan kualitas yang sudah ditentukan.

Di samping itu, kami juga memberikan pelatihan kepada IKM yang ingin memproduksi sepatu seperti Ekuator.” Dari segi kualitas, lanjutnya, sepatu tersebut memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 80%, sehingga layak dikategorikan sebagai produk lokal. Lebih lanjut, upaya mendongkrak citra alas kaki buatan nasional akan ditopang dengan bantuan dana dari APBN.

Untuk proyek Ekuator, nantinya lisensi produksinya akan diserahkan kepada beberapa IKM di sejumlah daerah. Seluruh proses produksinya akan distandardisasi sesuai kriteria BPIPI. Untuk itu, BIPIPI tengah melakukan riset dan pengembangan dengan menggunakan dana APBN senilai Rp3 miliar

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More