Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017

Nasionalisme dalam Musik

Redaksi Minggu, 05/03/2017 08:58 WIB
Ilustrasi musik

Menerima kemajuan dan terus menjaga cinta negara membuat Indonesia semakin besar sebagai bangsa. Konsep nasionalisme itulah yang diusung grup band Cokelat.

Harus benar-benar cinta bangsa dan cinta sejarah. Itu syarat paling penting menghasilkan karya tentang nasionalisme yang baik, sekaligus indah. Akan tetapi, lagu nasional dan daerah kini semakin kurang diminati oleh pemusik dan musisi masa kini.

Generasi millennial sudah pasti menyukai lagu-lagu pop yang dibawakan oleh Raisa, misalnya. Pencipta lagu pun semakin ogah menggubah lagu baru bertema nasionalisme. Lagu-lagu nasional dan daerah hanya muncul untuk proyek pada masa tertentu saja.

Namun, menurut pengamat musik Bens Leo, lagu-lagu bertema nasionalisme masih potensial merebut hati para pendengar musik Indonesia. Boleh saja lagu bertema nasionalisme dianggap tidak komersial, tetapi nyatanya sudah banyak lagu karya musisi Indonesia yang menjadi hits.

“Kalau kita ingat dahulu kan ada Netral dengan Garuda di Dadaku, Pewe Gaskin dengan Dari Mata Sang Garuda, Kotak dengan Tendangan Dari Langit, Cokelat dengan Bendera, hingga Sheila on Seven,” ungkapnya.

Tema itu, menurutnya, menjadi hits ketika dilempar ke pasaran. Bahkan sebagian lagu bertema nasional mendapat penghargaan dari pemerintah. Kebanyakan lagu bertema nasional dirilis dalam bentuk single, bukan dalam satu album. Hanya Cokelat yang pernah bikin penuh satu album lagu-lagu bertema nasional karena dianggap ada pangsa pasarnya. PUNYA PASAR Edwin Syarif, gitaris grup band Cokelat, mengatakan merilis album bertema nasionalisme bukan tanpa alasan bagi Cokelat.

Menurutnya, lagu bertema nasionalisme dapat membangkitkan ingatan terhadap perjuangan keras bangsa ini meraih kemerdekaan. Cokelat pun terus berkomitmen akan memasukkan nilai-nilai nasionalisme dalam setiap lagu yang dibuatnya. Grup musik asal Bandung, Cokelat berdiri pada 25 Juni 1996, muncul dengan album pertama bertajuk Untukmu Bintang.

Nama Cokelat kian melambung saat merilis album Untukmu Indonesia dengan mengangkat lagu bertema nasionalisme.

Bahkan lagu berjudul Bendera juga dinobatkan sebagai salah satu dari 150 lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa oleh majalah Rolling Stone. Edwin menjelaskan, mayoritas musisi berpikir bahwa berkarya hanya untuk mengejar pasar komersil. Ditambah lagi, media-media yang memutarkan karya musik juga berkonsep rating tinggi semata. Konsep untuk mengedukasi sudah ditinggalkan.

“Namun, ketika Cokelat merilis lagu Bendera, dan berhasil menjuarai tangga lagu nasional dan berhasil membuat daya ledak komersil dengan tema nasionalisme. Semenjak itu banyak yang mengikuti Cokelat, seperti Netral, Pee Wee Gaskin. Lagu mereka juga berhasil diterima pendengar dengan baik.”

Dia menjelaskan bahwa Cokelat tidak banyak pertimbangan bisnis. Bahkan, labelnya pada saat itu juga tidak terlalu yakin dengan Bendera, mengigat tema ‘pertempuran’ pasar saat itu adalah lagu pop cinta. Namun, mereka menyukai lagu Bendera dari musik dan notasinya sehingga merilisnya.

Musisi Addie MS mengungkapkan bahwa karya seni itu refleksi dari sejarah. Selalu ada peristiwanya. Ketika di tempat itu dan di saat itu tidak ada yang diperjuangkan, dan tidak ada gejolak akan berbeda seperti saat lagu perjuangan yang diciptakan pada saat bergejolak. Dia menjelaskan, kerinduan terhadap perdamain dan kebebasan yang tidak bisa begitu saja dicapai secara mudah akhirnya melamun dan mengkhayal.

Akhirnya visi dan khayalan ditumpahkan ke karya lagu. Jadi munculah karya yang hebat. Namun, menurutnya, sekarang konteksnya sudah berubah. “Selain orkes saya sering menerima pesanan lagu misal bikin himne dan mars TNI pada 2003. Itu karena dipesan. Kalau tidak dipesan dan tiba-tiba aku bikin, paling ujung-ujungnya terdengar di rumahku sendiri. Kalau TNI itu menggelorakan. Saya pernah dipesani lagu dari OJK, Garuda Indonesia, dan Pemprov Kalimantan Utara,” ungkapnya.

Awan, basis band Indie Sore, mengatakan musisi tidak dilihat dari menciptakan music saja, tetapi dia terlibat di kegiatan yang sifatnya memperlihatkan kepedulian. Terakhir Giring membuat lagu bukan hanya menciptakan, tetapi dia juga turun ke jalan untuk mengajak musisi lain supaya terlibat. Pada 80-an ada Gombloh dengan lagu Gebyar-Gebyar. Dia menjelaskan, musisi menulis lagu motifnya macam-macam. Ada yang untuk dijual, untuk dipasarkan dan dipromosikan. Ada juga yang hanya buat lagu hanya untuk menulis. “Yang paling banyak menulis lagu seperti itu adalah Ismail Marzuki, belum ada tandingannya.”

DORONG MUSISI

Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf menjelaskan, pemerintah mempunyai program untuk mendorong musisi lokal untuk terus maju, tidak hanya musik bertema nasional. Hanya saja, tantangannya ada pada industri dan cara masyarakat mengkonsumsi musik berubah, seperti streaming. Triawan mengatakan, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) lebih ke monetisasi industri musik. Hal itu bukan berarti tidak ada penghargaan untuk para musisi.

Namun, tugas Bekraf yang utama sekarang adalah menciptakan ekosistem musik di Indonesia. “Kami sediakan fasilitas untuk pelaku industri seperti perlindungan Hak Kekayaan Intelektual untuk mengurangi pembajakan, inisiasi pembentukan inkubator musik dan akses permodalan. Pembajakan yang masih marak menghambat perkembangan industri musik di Indonesia.”

Mahavira Wisnu Wardhana, Manager A&R Sony Music Indonesia, mengatakan label musik itu sedang merencanakan kembali mengangkat tema lagu nasionalisme. Hal itu karena pada era milenium ini banyak sekali anak muda yang tidak mengetahui dan hapal lagu-lagu nasionalisme.

“Sony Music sudah memulainya kembali, dengan merilis Tanah Air yang dibawakan oleh Isyana Sarasvati.” Menurutnya, pada era yang serba digital ini semua bebas untuk menentukan mana yang mereka suka dan tidak. Sebenarnya, bukan kondisi pasar yang membuat lagu nasionalisme menjadi kurang diminati, tetapi kurangnya dukungan dari setiap elemen untuk menyirami masyarakat muda Indonesia dengan lagu-lagu nasionalisme.

Misalnya, di sekolah sudah jarang diajari lagu-lagu kebangsaan, malah yang terjadi lagu-lagu barat yang diperkenalkan. Setiap menonton televisi sudah hampir tidak pernah mendengarkan lagu nasional kecuali menjelang 17 Agustus.

“Menurut saya harus pelan pelan, kita perkenalkan kembali lagu lagu nasional tersebut dengan penyanyi yang di kenal di era sekarang. Dikemas menarik dan indah,” ujar Mahavira. Oleh karena itu, pelajaran seni suara di sekolah punya peranan penting. Lagu nasional dan lagu daerah harus terus dilestarikan dengan cara yang tepat ke generasi muda. Karya kreatif seperti film TV dan layar lebar, sinetron sebaiknya mempunyai porsi untuk mengangkat lagu nasionalisme.

Addie MS pun berpesan, “Sing sabar. Yang penting terus berkreasi bukan hanya untuk uang tapi untuk kesenian itu sendiri.” Ada aspek lain seperti untuk aktualisasi diri, achievement seni, sambil bersama pemerintah terus memikirkan bagaimana menghadapi situasi tersebut

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More