Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017
TRANSAKSI BURSA

Investor Asing Berburu Saham Lapis Pertama

Lukas Hendra TM Kamis, 09/03/2017 09:05 WIB
Karyawan berdiri di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

JAKARTA — Saham lapis pertama masih menjadi incaran investor asing untuk bertransaksi di Bursa Efek Indonesia sepanjang tahun berjalan.

Meskipun demikian, pergerakan pasar sejak awal tahun hingga saat ini didominasi oleh saham-saham dengan kategori mid dan small cap.

Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. menjadi saham yang paling banyak dibeli oleh investor asing dengan mencatatkan net buy Rp3,06 triliun sepanjang tahun berjalan. Asing membeli saham emiten berkode BBNI tersebut Rp5,02 triliun dan menjual sebesar Rp1,95 triliun.

Kemudian diikuti oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dengan mencatatkan net buy Rp1,56 triliun sepanjang tahun berjalan. Asing membeli saham emiten berkode BMRI tersebut Rp6,39 triliun dan menjual sebesar Rp4,84 triliun. Di posisi berikutnya ada PT Astra International Tbk. (ASII) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR) dengan net buy masing-masing Rp1,22 triliun dan Rp1,11 triliun.

Sebanyak 10 besar saham yang jadi incaran asing masih merupakan saham lapis pertama atau first liner yang diperdagangkan di atas Rp1.000 per lembar saham.

LAPIS KEDUA

Namun, pada 10 besar urutan berikutnya, saham-saham second liner atau yang diperdagangkan di bawah Rp1.000 per lembar sudah banyak yang menghuni yakni PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. (BJTM), dan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. (BEST).

Senior analyst PT Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada mengungkapkan, hingga saat ini penggerak pasar saham justru lebih banyak dari saham-saham lapis kedua yang rata-rata memiliki kapitalisasi pasar lebih rendah.

Secara historis, lanjutnya, pergerakan pasar sejak awal tahun hingga saat ini didominasi oleh saham-saham yang berada dalam kategori mid dan small cap. Bahkan saham-saham tersebut mencetak perolehan imbal hasil yang fantastis. Oleh karena itu, dia menilai tidak mengherankan jika saham-saham tersebut kian menjadi pilihan investor dari berbagai kelas.

“Bahkan bagi investor maupun pelaku pasar skala besar pun kemungkinan melihat saham-saham ini akan memberikan peluang untuk menggenggam jumlah lot yang lebih besar dengan kemampuan dana yang dimilikinya,” katanya saat dihubungi, Rabu (8/3).

Dia menambahkan, pergerakan saham dalam 2 bulan terakhir tidak jauh berbeda di mana lebih banyak saham-saham lapis kedua yang mendominasi perolehan top gainer. Reza mencontohkan, hingga akhir Februari 2017, saham-saham yang memperoleh gain bulanan tertinggi antara lain PT Destinasi Tirta Nusantara Tbk. (PDES), PT Steady Safe Tbk. (SAFE), PT Asuransi Jasa Tania Tbk. (ASJT), dan PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO).

Bahkan, lanjutnya, secara year to date (ytd) pun juga tidak jauh berbeda di mana hingga akhir Februari masih saham-saham lapis kedua, antara lain ASJT, SAFE, PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk. (DGIK), AGRO, dan PT Bank China Construction Bank Indonesia Tbk. (MCOR).

Reza menilai jika investor fundamentalis tentu akan memilih saham yang memiliki rasio fundamental yang jauh lebih baik. Namun, jika investor tersebut sebagai trader aktif tentu tidak salah juga jika lebih memilih saham yang memberikan potensi keuntungan jauh lebih tinggi.

“Tidak ada yang salah dalam pemilihan tersebut sepanjang pelaku pasar paham akan batasan risikonya,” katanya.

Menurutnya, pergerakan saham-saham lapis kedua lebih atraktif dan mungkin juga akan lebih menarik dibandingkan dengan saham big caps meski juga perlu diwaspadai potensi pelemahannya akibat aksi ambil untung.

“Saham-saham small cap tersebut cenderung memiliki peningkatan harga yang lebih signifikan tetapi juga memiliki potensi risiko pembalikan arah melemah. Biasanya pergerakan saham-saham small cap lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen atau pemberitaan sesaat meski tidak jarang juga yang disertai membaiknya kondisi fundamental kinerjanya,” ujarnya.

Namun, dia mengingatkan bagi para investor yang berminat terhadap saham second liner untuk memilih yang memiliki fundamental baik, serta mencermati aksi-aksi korporasi yang direncanakan.

Sementara itu, analis PT Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo mengatakan, indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (8/3) ditutup pada level Rp5.393,76. Angka tersebut mendekati level tertinggi sepanjang sejarah yakni sebesar Rp5.400.

“Apa artinya, dengan IHSG setinggi itu menunjukkan saham first liner sudah cukup mahal sehingga investor mencari alternatif di second liner,” katanya.

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More