Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017
KAWASAN MRT JAKARTA

NJOP Berpotensi Naik hingga 30%

Redaksi Kamis, 09/03/2017 13:26 WIB

JAKARTA — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memprediksi terjadi peningkatan nilai jual objek pajak hingga 30% di kawasan yang nantinya dilalui oleh jalur mass rapid transit di Ibu Kota.Kepala Badan Pajak dan Retribusi Daerah (BPRD) DKI Jakarta Edi Sumantri mengatakan, pihaknya tengah menghitung besaran kenaikan nilai jual objek pajak (NJOP) khusus untuk tanah-tanah yang dilalui koridor I fase pertama megaproyek moda transportasi tersebut.

“Besaran NJOP bumi di zonazona bisnis dari Lebak Bulus— Bunderan Hotel Indonesia otomatis ikut menyesuaikan ketika MRT Jakarta beroperasi. Besarannya bervariasi, mulai dari 15%--30%,” ujarnya ketika dihubungi Bisnis, Selasa (7/3).

Dia menuturkan, pembangunan proyek transportasi massal pasti berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi, khususnya sektor properti. Menurutnya, pengoperasian
MRT Jakarta pasti akan meningkatkan harga pasar untuk properti-properti yang berada di sekitarnya.

Lebih lanjut, Edi mengatakan, perubahan NJOP bumi di kawasan yang dilalui jalur MRT Jakarta akan dijadikan sebagai dasar untuk menyusun Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah DKI Jakarta untuk 5 tahun ke depan. Adapun, dasar penghitungan perubahan NJOP bumi didapat dari beberapa hal, misalnya, permintaan
pasar, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan, serta masukan penawaran harga properti yang dirilis oleh agen properti maupun situs agregator jual beli properti.

Sebelum memutuskan kenaikan NJOP, BPRD DKI akan menghitung dulu nilai tanah di suatu lokasi. Contohnya, penawaran tanah di Jalan Jenderal Sudirman, nanti
akan ketemu nilai rata-ratanya. Setelah itu, badan tersebut akan mengelompokkannya menjadi zona nilai tanah (ZNT).m“ZNT ini mempunyai nilai NJOPntertentu yang mendekati harga transaksi. Dari situ, kami akan ajukan ke pimpinan untuk dibuat Surat Keputusan Gubernur DKI tentang Tanah dan Bangunan.

Setelah itu, baru bisa dicetak massal dan didistribusikan melalui kelurahan,” jelasnya. Meski demikian, Edi menuturkan, penyesuaian NJOP tersebut diprioritaskan untuk tanah dan bangunan yang berada di kawasan bisnis atau komersial. Perubahan besaran NJOP tidak dilakukan di zona-zona perumahan.


“Zona komersial yang dilalui MRT Jakarta, misalnya, kawasan Blok M, Karet, Setia Budi, Bunderan HI, hingga sebagian Medan Merdeka. Perubahan tersebut akan
ditetapkan setelah proyek MRT Jakarta mulai beroperasi,” katanya.

DUA SISI
Country Director Rumah123.com Ignatius Untung menilai bahwa kenaikan NJOP memiliki dua sisi yakni membuat harga menjadi lebih mahal, tetapi di sisi lain tingginya harga akan menjadi positif karena menunjukkan pergerakan pasar properti.

“Akan tetapi, impaknya apakah akan menyasar ke konsumen yang diharapkan itu masih tanda tanya. Kami belum lihat ya,” ujarnya. Menurutnya, kenaikan NJOP
tak akan membuat penjualan lesu. Pasalnya, saat ini masyarakat memliki pola berpikir yang berbeda. Dibandingkan berlamalama di jalan, masyarakat lebih menginginkan akses transportasi yang mudah meski harga properti cukup tinggi.

“Namun, kenapa harga apartemen di Jakarta masih tinggi karena orang sudah belajar punya rumah lebih gede oke, tapi kalau aksesnya lama di jalan, habis di tol
mending beli di tengah. Sekarang tengahnya sudah enggak kebeli.

Jadi, enggak apa-apa di pinggir yang penting aksesnya transportasi masih gampang,” jelasnya. Sementara itu, Direktur Senior Ciputra Grup Agussurja Widjaja
mengungkapkan, kenaikan NJOP diharapkan tak terlalu ekstrem supaya tak mengganggu pertumbuhan ekonomi.

“Jangan di atas infl asi kalau bisa,” ujarnya. Sebelumnya, PT Mass Rapid Transit Jakarta memacu pembangunan moda transportasi MRT dan menargetkan progres 90%
hingga akhir tahun ini. Direktur Utama PT Mass Rapid Transit Jakarta William P. Sabandar mengatakan, hingga akhir Januari 2017, pembangunan jalur MRT fase
I, yakni dari Bunderan HI menuju Lebak Bulus telah mencapai 65%.

Jalur MRT koridor Selatan— Utara tersebut terdiri atas 13 stasiun dengan tujuh stasiun layang (elevated) sepanjang 10 kilometer dan enam stasiun bawah tanah
sepanjang 6 kilometer.n“Hingga akhir Januari, progres pembangunannya mencapai 65%, layangnya 82%, dan pembangunan bawah tanah itu 47%,” ujarnya,
beberapa waktu lalu.

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More