Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017
PENDANAAN NONKONVENSIONAL

BNI Terbitkan NCD Rp2,7 Triliun

Surya Rianto Senin, 13/03/2017 08:20 WIB
Layanan nasabah di Bank BNI.

JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. menerbitkan sertifikat deposito atau negotiable certificate of deposit senilai Rp2,7 triliun untuk menopang ekspansi kredit pada tahun ini.

Direktur Treasury dan Internasional Bank Negara Indonesia (BNI) Pandji Irawan mengatakan, permintaan negotiable certificate of deposit (NCD) perseroan cukup besar. “Dalam penerbitan NCD rupiah kali ini, kami batasi sekitar Rp2,7 triliun saja sesuai dengan kebutuhan,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (10/3).

Menurut informasi PT Kustodian Sentra Efek Indonesia (KSEI) pada akhir pekan lalu, bank dengan kode emiten BBNI itu menerbitkan tiga seri NCD anyar dengan total nilai Rp2,69 triliun.

Perseroan menerbitkan NCD Seri A senilai Rp2,19 triliun dengan tenor 370 hari dan bunga sebesar 7,55%, Seri B senilai Rp350 miliar dengan tenor 18 bulan dan bunga 7,9%, sedangkan Seri C senilai Rp150 miliar dengan tenor 24 bulan dan bunga 8,05%.

Bank plat merah itu sampai saat ini memiliki outstanding NCD senilai Rp5 triliun dengan tenor 36 bulan dan bunga 8,35%.

Pandji mengatakan perseroan berencana menerbitkan sertifikat deposito kembali pada tahun ini. Adapun terkait dengan potensi nilainya, perseroan akan menyesuaikan sesuai kebutuhan. “Nantinya, penerbitan NCD pun akan dilakukan secara bertahap.”

Sebelumnya, dia memaparkan, pada tahun ini, perseroan berencana memperkuat struktur pendanaan dengan menjajal instrumen nonkonvensional senilai Rp10 triliun. Dana itu akan dicari dari berbagai instrumen seperti, obligasi, NCD, dan lainnya seperti pinjaman bilateral.

Perseroan berencana menerbitkan NCD senilai Rp3 triliun, obligasi senilai Rp5 triliun, dan sisanya diambil dari pinjaman bilateral antar bank di Indonesia.

Sementara itu, Direktur Utama BNI Achmad Baiquni mengatakan pada akhir pekan lalu perseroan menerbitkan NCD demi mendukung ekspansi kredit pada tahun ini. “Kami memilih NCD untuk pendanaan nonkonvensional karena dari segi tenornya bisa lebih panjang,” ujarnya.

Pada 2017, perseroan menargetkan kredit tumbuh 15% sampai 17%. Pada 2016, BNI mencatatkan pertumbuhan kredit 20,6% (yoy) menjadi Rp393,28 triliun.

Dia mengatakan patokan target kredit pada tahun ini memang lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun lalu. Pasalnya, pada tahun lalu kredit bisa melonjak karena didukung banyak debitur lama yang kembali.

Menurutnya, pada tahun ini perseroan tetap mempertimbangkan prinsip kehati-hatian, tetapi optimistis dan terus mendorong penyaluran kredit untuk sektor produktif. Perseroan juga berkomitmen mendorong penyaluran kredit segmen usaha kecil dan menengah. Salah satu strateginya ialah dengan meningkatkan supply chain dari segmen korporasi.

Wakil Direktur Utama BNI Suprajarto sebelumnya mengatakan, pada kuartal I/2017 kredit bergeliat baru saat memasuki Maret, sedangkan pada Januari dan Februari relatif landai. Kondisi ini menjadi tren musiman dari tahun ke tahun.

“Kredit terbilang sudah lumayan bagus tetapi ada beberapa hal yang harus kami sikapi hati-hati, makanya pertumbuhan kuartal pertama juga belum kencang. Baru pada Maret ini mulai panas.”

Menurutnya, BBNI mendorong pertumbuhan kredit pada segmen korporasi, tetapi yang menjadi fokus utama adalah segmen UMKM terutama sektor produktif, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) di sektor perkebunan, pertanian, dan lainnya.

Pada tahun lalu, pertumbuhan kredit untuk debitur BUMN tumbuh paling besar setelah naik 33,3% menjadi Rp78,31 triliun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Adapun untuk kredit segmen korporasi BNI mencatatkan pertumbuhan 21% menjadi Rp95,73 triliun. Lalu, kredit untuk usaha kecil dan menengah masing-masing tumbuh 20,5% dan 19,9% menjadi Rp50,68 triliun dan Rp61,33 triliun.

Pada periode tersebut segmen konsumer mencatatkan kenaikan kredit 13,1% menjadi Rp65,06 triliun. “Pada kuartal pertama ini semua segmen kredit terpacu meskipun belum terlalu bergeliat,” kata Suprajarto.

Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) sepanjang Januari – Februari 2017 diyakini tetap tumbuh di atas 10%. Adapun target sampai pengujung tahun ini DPK tumbuh 15%--17%. Pada tahun lalu, pertumbuhan DPK BBNI mencapai 17,6% (yoy) menjadi Rp435,54 triliun.

“DPK kuartal pertama ini bagus juga. Berbagai hal sudah kami upayakan kami lakukan. Perkiraan saya, kuartal satu DPK tumbuh di atas 10% itu pasti, tetapi di atas 15% belum bisa bicara,” kata Suprajarto.

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More