Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017
INDUSTRI SEMEN

Konsumsi Februari Masih Landai

Demis Rizky Gosta Senin, 13/03/2017 08:03 WIB
Pabrik semen

JAKARTA — Konsumsi semen masih landai pada Februari. Permintaan yang kuat dari proyek tahun jamak di Jawa tidak bisa mengompensasi penurunan tajam di wilayah lain Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso mengatakan pada 2 bulan pertama tahun ini pertumbuhan konsumsi semen nasional masih landai.

Data yang dihimpun ASI menunjukkan konsumsi semen mencapai 4,54 juta ton pada Februari, hanya tumbuh 0,2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Adapun, konsumsi semen pada 2 bulan pertama tahun ini me rosot 1,1% menjadi 9,71 juta ton. “Konsumsi semen belum bergerak. Total nasional masih bergerak naik walaupun tidak sesuai ekspektasi,” kata Widodo kepada Bisnis, Minggu (12/3).

Widodo mengatakan konsumsi semen sebetulnya sudah menunjukkan pertumbuhan signifikan di area Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Penjualan semen di Jawa, wilayah dengan permintaan terbesar secara nasional, tumbuh 4,9% year-on-year menjadi 2,51 juta ton pada Februari. Adapun, konsumsi semen di Bali dan Nusa Tenggara naik 18% menjadi 270.000 ton.

Pertumbuhan yang kuat di tiga wilayah tersebut, jelas Widodo, berasal dari kebutuhan semen proyek-proyek infrastruktur tahun jamak yang telah bergulir sejak
tahun lalu. Permintaan semen dari proyek tahun jamak cenderung stabil sejak awal tahun sewaktu pelaksanaan proyek infrastruktur tahun tunggal harus menanti
pengucuran anggaran. Di sisi lain, konsumsi semen meneruskan tren negatif di Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.

Volume konsumsi semen merosot 5,7% di Sumatra, turun 8,2% di Kalimantan, dan anjlok 12,7% di Sulawesi. “Di samping pengaruh hujan dan banjir, investasi di luar Jawa relatif belum ada yang mulai . Kami berharap Maret mulai ada konstruksi proyek investasi ,” kata Widodo.

KELEBIHAN PASOKAN
Perkembangan konsumsi semen pada 2 bulan pertama kian meresahkan produsen semen atas kelebihan pasok di pasar nasional. Widodo menjelaskan tahun ini  pasokan akan berlebih sejalan dengan operasi perdana beberapa pabrik baru. Pabrik semen milik Conch di Kalimantan Selatan dan Papua Barat dijadwalkan mulai
beroperasi pada awal tahun berbarengan dengan pabrik milik PT Semen Padang di Sumatra Barat.

Pasar juga kian sesak pada pertengahan 2017 sejalan dengan mulai berproduksinya pabrik milik PT Semen Baturaja (Persero) Tbk di Sumatra Selatan.
“Sedangkan kenaikan permintaan nasional belum bergerak naik. Harapan produsen semen tentu dana infrastruktur bisa segera turun ke daerah agar aktivitas pembangunan segera dimulai,” kata Widodo.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Semen Jawa Nantapong Chantrakul memperkirakan kondisi pasar semen tahun ini tidak akan berbeda jauh dengan kondisi pasar
pada tahun lalu. Perkembangan pasar semen nasional, jelasnya, membuat pabrik PT Semen Jawa cuma berproduksi pada level 50%—60% dari total kapasitas produksi 1,8 juta ton. Chantrakul berharap peningkatan laju pertumbuhan permintaan tahun ini bisa meningkatkan utilisasi pabrik yang baru mulai berproduksi pada 2015 tersebut.

Dia memperkirakan konsumsi semen pada 2017 hanya akan 1%—2% lebih banyak dibandingkan dengan 2016. Semen Jawa sendiri memproyeksikan kenaikan
penjualan sebesar 2%—3%. “Kami ini utilisasi lebih besar. Sampai 100% saya rasa sulit, tetapi jelas kami ingin lebih. Namun, jika pasar seperti ini sepertinya
utilisasi tidak akan banyak berbeda dengan tahun lalu,” kata Chantrakul.

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More