Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017
PRINSIP KEHATI-HATIAN PERBANKAN

Intermediasi Tak Ideal

Ropesta Sitorus & Surya Rianto Selasa, 14/03/2017 07:40 WIB
ilustrasi

JAKARTA — Melembungnya pundi-pundi keuangan sejumlah bank ternyata belum diikuti oleh optimalisasi fungsi intermediasi.

Potensi risiko dari ketidakpastian ekonomi disebut menjadi alasan bank untuk lebih hati-hati dalam optimalisasi fungsi intermediasi. Tak heran, pertumbuhan penyaluran kredit sepanjang 2016 diproyeksikan hanya sebesar 7,9% (year on year), jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 10,1%.

Sepanjang 2016, lima dari sepuluh bank besar mencatatkan pertumbuhan kredit yang kurang agresif, walaupun dari segi laba bersih justru melonjak signifikan. Kelima bank itu antara lain, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA), PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII), PT Bank Pan Indonesia Tbk. (PNBN), dan PT Bank Danamonn Tbk (BDMN). (Lihat ilustrasi)

Presiden Direktur Bank Central Asia Jahja Setiaatmadja mengakui perseroan tidak dapat memenuhi ketentuan loan to funding ratio (LFR) ketentuan baru sebesar 80% karena sampai dengan akhir tahun lalu posisinya berada pada level 77,1%. Alhasil, bank dengan kode emiten BBCA itu pun harus membayar penalti dengan menambah porsi giro wajib minimum (GWM).

Video Infografis: Intermediasi Tak Ideal

LFR yang masih di bawah 80% berarti jumlah dana yang dihimpun lebih banyak dibandingkan dengan penyaluran kredit atau dengan kata lain fungsi intermediasi tidak terlalu optimal.

Jahja mengatakan tidak masalah membayar penalti tambahan GWM karena tidak mampu memenuhi ketentuan LFR.

“Kalau tidak tercapai ya tidak masalah karena jika dipaksakan menyalurkan kredit dan menjadi macet dampaknya berpotensi menjadi lebih besar,” ujarnya saat menyampaikan paparan kinerja, Senin (13/3).

Jahja menambahkan penalti GWM itu tidak terlalu memberikan pengaruh besar kepada kinerja perseroan. Justru, dengan begitu perseroan merasa lebih efisien dalam segi uang tunai sehingga tidak perlu menambah biaya. 

Bila mengacu pada realisasi kinerja tahun lalu, BBCA harus menambah sebesar 0,29% dikalikan total DPK dalam rupiah.

Direktur Keuangan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Iman Nugraha Soeko menuturkan perbankan memang harus cenderung lebih berhati-hati dalam kondisi potensi risiko kredit dan ekonomi yang masih dalam tahap pemulihan,.“Bank harus lebih prudent untuk bisa menjaga kinerja.”

Kepala Ekonom SKHA Institute for Global Competitiveness Eric Sugandi mengatakan, sepanjang tahun lalu fungsi intermediasi perbankan memang masih belum optimal. Perbankan cenderung berhati-hati dalam ekspansi kredit karena masih melihat adanya ketidakpastian ekonomi baik dari domestik maupun global.

“Selain itu, bank juga masih cenderung menempatkan dana pada instrumen alternatif seperti SBN dengan yield atraktif serta risiko kecil,” ujarnya, kemarin.

MARGIN BUNGA BERSIH

Adapun, pertumbuhan laba bersih perbankan—di tengah ekspansi kredit yang terbatas—ditopang oleh kenaikan margin bunga bersih atau NIM.

Sebanyak delapan, dari sepuluh bank besar, mencatatkan kenaikan NIM. Hanya Bank Negara Indonesia dan Bank Permata yang mengalami penurunan.

Di tengah kompaknya kenaikan NIM, dari segi pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII), sembilan dari sepuluh bank mencatatkan kenaikan. Satu-satunya bank yang mencatatkan penurunan NII yakni, Bank Permata.

Eric menjelaskan, tren kenaikan NIM sepanjang tahun lalu adalah proses transisi yang wajar ketika suku bunga acuan diturunkan. Alhasil penurunan bunga kredit pun tidak sederas bunga simpanan.

“Bank cenderung berhati-hati ekspansi kredit baru karena masih fokus menangani kredit bermasalah,” jelasnya.

Bank yang memiliki likuiditas cukup, tambahnya, cenderung menggunakan momentum penurunan suku bunga acuan untuk menyusutkan bunga simpanan. “Jadi, dari segi biaya dana atau cost of fund semakin rendah.”  

Kepala Ekonom PT Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih mengamini momentum penurunan suku bunga acuan menjadi pendukung strategi efisiensi perbankan untuk menjaga pertumbuhan laba bersih.

"Efisiensi memang menjadi salah satu strategi perbankan untuk bisa tetap mencatatkan pertumbuhan laba bersih saat ini," ujarnya.

Direktur Keuangan Bank Rakyat Indonesia mengakui, tren kenaikan NIM menjadi salah satu indikator pendorong laba bersih. Namun, ke depannya, bank harus mengantisipasi potensi penurunan NIM yang berpotensi turun.

“Salah satu antisipasinya dengan mulai mendorong pendapatan komisi,” ujarnya. 

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More