Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017
REKSA DANA SAHAM

MI Tetap Agresif

Ana Noviani Selasa, 14/03/2017 07:36 WIB
/Bisnis.com

JAKARTA — Pasar saham yang belum bergairah tidak menyurutkan minat sejumlah manajer investasi untuk menerbitkan produk reksa dana saham baru.

Sepanjang tahun berjalan, tercatat sebanyak 10 produk telah mengantongi izin efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), ada 10 produk reksa dana saham baru sejak awal Januari hingga awal Maret 2017. Ke-10 produk tersebut, yakni Kharisma Ekuitas Bersama, BNI-AM Dana Saham Pasopati, Star Equity, Pacific Equity Growth Fund VI, RHB TM Indo-Asia Equity Fund, Victoria Prime Equity Fund, Recapital Equity 2, Capital Optimal Equity, dan Capital Sharia Equity.

Produk tersebut akan segera meramaikan pasar reksa dana saham konvensional. Hingga akhir Februari 2017, total produk reksa dana saham yang beredar mencapai 227 dengan total dana kelolaan sebesar Rp109,42 triliun. Nilai tersebut susut dari posisi akhir 2016 sebesar Rp113,1 triliun.

Dari sisi kinerja, rerata produk reksa dana saham membukukan return 0,11% sepanjang Januari-Februari 2017. Return tersebut lebih rendah dibandingkan dengan rerata produk reksa dana pendapatan tetap 1,73% dan reksa dana campuran 1,35%.

Wisnu Karto, analis BNI Asset Management, menuturkan pergerakan IHSG masih dibayangi oleh ketidakpastian. Merujuk data Bloomberg, IHSG telah naik 2,13% dari level 5.296,71 pada akhir 2016 ke level 5.409,37 pada penutupan perdagangan Senin (13/3).

"Memang uncertainty masih cukup tinggi, terutama dari sisi eksternal karena The Fed Rate akan naik, kebijakan proteksionisme Trump, dan uncertainty Uni Eropa," ujarnya ketika dihubungi Bisnis, Senin (13/3).

IHSG diperkirakan naik ke level 5.970 pada akhir tahun ini atau mencetak return 12,71% sepanjang tahun ini. Kendati dibayangi oleh ketidakpastian eksternal, Wisnu berharap faktor internal dapat menjadi penopang pergerakan IHSG.

Katalis domestik yang berpotensi membawa angin segar di pasar saham, antara lain dampak pemangkasan BI Rate secara agresif pada tahun lalu, menguatnya konsumsi domestik dan pertumbuhan ekonomi, serta laba emiten yang berpotensi naik 10%-15%.

Dengan begitu, Wisnu optimistis produk reksa dana saham masih menarik bagi investor. Potensi return yang dapat dikantongi berpotensi sejalan dengan kinerja IHSG atau sekitar 12%.

"Reksa dana BNI-AM Dana Saham Pasopati masih kami godok di internal, kemungkinan akan launching kuartal II/2017," imbuhnya.

Menurut Wisnu, perusahaan aset manajemen yang mengantongi dana kelolaan Rp17,9 triliun hingga 22 Februari 2017 ini melirik saham-saham emiten berbasis domestik. Misalnya, emiten barang konsumsi, konstruksi, kesehatan, dan tambang batu bara.

Desmon Silitonga, Head Investment Capital Asset Management, menuturkan dua produk reksa dana saham diluncurkan bersamaan pada 6 Februari 2017, yakni reksa dana Capital Optimal Equity dan Capital Sharia Equity. Hingga akhir bulan lalu, dua reksa dana saham tersebut masing-masing mengantongi dana kelolaan sebesar Rp115,39 miliar dan Rp111,27 miliar.

Dua produk reksa dana saham tersebut memiliki alokasi saham yang serupa. Top allocation dalam portofolio reksa dana Capital AM tersebut, yakni saham PT Adaro Energy Tbk., PT Astra International Tbk., PT Indofood Sukses Makmur Tbk., PT Tambang Baru Bara Bukit Asam (Persero) Tbk., dan PT PP (Persero) Tbk.

Sejak awal diluncurkan, Capital Optimal Equity mencetak return 1,23% atau di atas indeks acuan Indeks Reksa Dana Saham Infovesta -1,79%, sedangkan Capital Sharia Equity 1,16% atau di atas Indeks Reksa Dana Syariah Infovesta -0,26%.

Hingga akhir Februari 2017, Capital Asset Management mengelola tujuh produk reksa dana dengan total dana kelolaan sebesar Rp726,07 miliar.

RETURN TERTINGGI

Berdasarkan data Infovesta Utama, lima produk reksa dana saham yang membukukan return year to date paling tinggi sejak awal tahun hingga Jumat (10/3), yakni HPAM Investa Ekuitas Strategis dengan return 11,37%, Sucorinvest Maxi Fund 11,33%, Sucorinvest Equity Fund 10,12%, Syailendra Midcap Alpha Fund 5,7%, dan OSO Borneo Equity Fund 5,26%.

Berdasarkan data KSEI, jumlah produk reksa dana baru yang tercatat sepanjang tahun berjalan hingga 10 Maret 2017 mencapai 77 produk. Mayoritas didominasi oleh reksa dana terproteksi sebanyak 35 produk, reksa dana saham 10 produk, reksa dana pendapatan tetap 14 produk, reksa dana campuran dan reksa dana pasar uang masing-masing empat produk, reksa dana penyertaan terbatas tujuh produk, serta masing-masing satu produk reksa dana syariah, DIRE, dan ETF.

Direktur Utama Victoria Manajemen Investasi Juntrihary M. Fairly mengatakan, reksa dana Victoria Prime Equity Fund merupakan reksa dana saham pertama yang dikelola oleh Victoria Manajemen Investasi. Kehadiran produk tersebut diyakini bakal melengkapi ragam produk yang dimiliki.

"Reksa dana ini ditujukan bagi investor yang memiliki horison investasi jangka panjang. Kami yakin reksa dana berbasis saham akan memberikan imbal hasil yang lebih optimal dalam jangka panjang," ujarnya kepada Bisnis.

Produk Victoria Prime Equity Fund akan berinvestasi pada saham-saham yang masuk dalam indeks IDX30 dengan porsi minimal 80% dari portofolio saham.

"Dari studi yang kami lakukan, selain faktor likuiditas, IDX30 memiliki performa relatif baik dibandingkan dengan  LQ45 dan IHSG," ucapnya.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, pada 2016, kinerja IHSG tercatat sebesar 15,32%, LQ45 11,69%, dan IDX30 14,97%. Adapun sepanjang tahun berjalan IDX30 naik 2,2% saat IHSG dan LQ45 masing-masing mencetak return 2,13% dan 1,32%.

Juntrihary menambahkan, pada semester pertama secara historis market masih bergerak positif mengantisipasi earning season dan pembagian dividen. Dalam jangka menengah dan panjang, lanjutnya, program akselerasi pembangunan infrastruktur mulai menunjukkan hasil dan berpotensi mendorong laju pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi.

Selain itu, kendati pasar saham mengantisipasi tekanan akibat potensi kenaikan Fed Fund Rate, tetapi Indonesia memiliki potensi rating upgrade dari S&P yang dapat menjadi katalis positif baik di pasar obligasi maupun saham.

Pada bagian lain, di tengah menguatnya sentimen penaikan Fed Fund Rate yang berimbas pada peningkatan US treasury, diprediksikan tidak membuat pasar obligasi berguncang.

I Made Adi Saputra, analis fixed-income MNC Securities, menilai meskipun US treasury meningkat, yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun berpotensi turun. Menurutnya, peminat obligasi Indonesia tetap akan ramai, walaupun spread antara US treasury dan yield obligasi bakal mengecil.

Kondisi tersebut, katanya, akan terjadi dengan catatan bila nilai tukar rupiah stabil, laju inflasi terkendali, perbaikan pada ekspor dan adanya akselerasi peringkat dari lembaga pemeringkat S&P.

Kemarin, yield surat utang negara (SUN) bertenor 10 tahun bertengger di posisi 7,4%. Made memproyeksikan bila Fed Fund Rate (FFR) naik tiga kali, US treasury berpotensi terkerek menjadi 2,75%, sehingga yield SUN berpotensi berada di sekitar 7,25%. 

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More