Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017
ALOKASI PORTOFOLIO

MI Fokus ke Domestik

Ana Noviani Rabu, 15/03/2017 09:25 WIB

JAKARTA — Di tengah risiko ketidakpastian global, para manajer investasi mengarahkan alokasi portofolio inti ke sektor domestik, seperti konsumer dan infrastruktur Direktur Investasi dan Teknologi BNI Asset Management Isbono M.I. Putro mengatakan, perekonomian dunia pada tahun ini masih dibayangi oleh risiko yang tinggi. Utamanya bersumber dari perubahan kebijakan ekonomi Amerika Serikat dan risiko politik di Eropa.

“Itu menjadi faktor utama volatilitas pasar pada 2017. Oleh sebab itu, alokasi portofolio inti akan diarahkan ke sektor domestik guna meminimalisasi efek global seperti ke sektor konsumer dan infrastruktur,” ucapnya Selasa (14/3). Katalis domestik berupa dampak pemangkasan BI Rate secara agresif pada 2016, menguatnya konsumsi domestik dan pertumbuhan ekonomi, serta laba emiten yang berpotensi naik 10%-15% diharapkan menopang kinerja pasar saham pada tahun ini. BNI AM memproyeksi indeks harga saham gabungan dapat naik 12,71% year on year ke level 5.970 pada akhir Desember 2017.

Pada 2017, BNI AM lebih banyak membidik emiten sektor barang konsumsi, konstruksi, kesehatan, dan tambang batu bara untuk diracik dalam portofolio baik reksa dana saham maupun reksa dana campuran. Direktur Investasi Sucorinvest Asset Mangement Jemmy Paul Wawointana mengatakan, pasar saham yang sedang
sideway membuat manajer investasi lokal ini memburu saham-saham emiten dengan kapitalisasi pasar menengah.

Utamanya, saham emiten mid cap yang bergerak di sektor infrastruktur, pertambangan, dan perkebunan. “Kalau kami yakin market bullish, kami akan pindah ke big caps lagi seperti TLKM, ASII, BBRI, dan BBCA,” ucapnya. Sementara itu, volatilitas pasar modal mendorong investor untuk cenderung masuk ke produk reksa dana dengan profi l risiko moderat, yakni reksa dana berbasis pendapatan tetap (fi xed income). Retno Dewi Hendrastuti, Direktur Utama Reliance Manajer Investasi, menuturkan sepanjang tahun ini cukup banyak investor yang masuk ke produk reksa dana pendapatan tetap Reliance Dana Terencana. Hingga akhir Februari 2017, reksa dana ini menggenggam dana kelolaan sebesar Rp35,95 miliar.

“Dana kelolaan yang naik banyak reksa dana pendapatan tetap. Yang kami sasar itu investor ritel, mereka cari aman dulu jadi masuk ke produk berbasis fi xed income,” ujarnya, Selasa (14/3). Selain itu, lanjutnya, volatilitas pasar juga dapat didiversifi kasi melalui produk reksa dana pendapatan tetap (RDPT). Pasalnya, underlying asset produk tersebut merupakan surat utang atau saham yang tidak dicatatkan di Bursa Efek Indonesia. “Kalau memungkinkan kami bisa bentuk RDPT untuk menggalang dana investor untuk membungkus proyek infrastruktur.”

Hingga akhir Februari 2017, Reliance Manajer Investasi mengelola empat produk reksa dana dengan total dana kelolaan senilai Rp98,88 miliar. Pada tahun ini, perusahaan aset manajemen Grup Reliance Capital ini menjajaki peluncuran produk baru berupa reksa dana pasar uang. Produk reksa dana dengan profi l risiko rendah hingga moderat juga menjadi pilihan investor Mandiri Manajemen Investasi. Menurut Director of Sales & Product Mandiri Manajemen Investasi Endang
Astharanti, sepanjang tahun berjalan pertumbuhan dana kelolaan MMI didorong oleh net subscription pada produk reksa dana terproteksi, reksa dana pasar uang, dan reksa dana pendapatan tetap.

Sementara itu, asset under management (AUM) reksa dana saham dan campuran relatif fl at. “Kami banyak menyalurkan reksa dana melalui bank distributor, kebetulan beberapa nasabah basisnya profi l risikonya konservatif. Yang paling sesuai kami provide reksa dana terproteksi dan pasar uang.” Pada akhir bulan lalu, MMI mengantongi dana kelolaan sebesar Rp43 triliun atau tumbuh 11% dari posisi akhir 2016 sebesar Rp38,7 triliun.

Kontribusi dana kelolaan reksa dana terhadap total AUM MMI mencapai Rp34,9 triliun atau lebih dari 80%. Di pihak lain, PT Sucorinvest Asset Management memperkirakan IHSG pada tahun ini mencapai level 6.100, sedangkan yield obligasi negara bertenor 10 tahun di level 6,5%. Jemmy Paul, Direktur Investasi Sucorinvest Asset Management, mengatakan kondisi perekonomian nasional yang kuat dan stabil menyokong optimisme pihaknya terhadap target tersebut. Hal ini merupakan dampak dari meningkatnya harga sejumlah komoditas.

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More