Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017
INDUSTRI BAJA

Pembangunan Klaster Libatkan 3 Perusahaan

Demis Rizky Gosta Rabu, 15/03/2017 08:25 WIB
Plat Baja

JAKARTA — Pemba ngun an klaster industri baja 10 juta ton di Cilegon akan melibatkan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Posco, dan Nippon Steel. Menteri  Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah mendorong PT Krakatau Steel (Persero) Tbk bekerja sama dengan Posco dan Nippon Steel untuk merealisasikan peta jalan pengembangan klaster industri baja 10 juta ton di Cilegon, Banten.

Pemerintah meminta Posco dan Krakatau Steel bertindak sebagai pengembang industri baja hulu, yaitu mulai dari tahap peleburan (blast furnace) sampai pemrosesan baja lembaran. Nippon Steel kemudian didorong melanjutkan kerja sama dengan Krakatau Steel dalam pengembangan industri baja hilir. “ bisa terjadi dengan kerja sama Nippon Steel untuk di downstream. Di upstream, sudah ada ada Krakatau Posco mulai dari blast furnace, plate
mill, hingga cold rolling mill,” kata Menperin di sela-sela Indonesia-Korea Business Summit, Selasa (14/3).

Peta jalan pengembangan klaster industri baja 10 juta ton dituangkan dalam nota kesepahaman antara Posco dan Krakatau Steel yang dilaporkan Posco ke Presiden Jokowi pada kunjungan Presiden ke Korea Selatan tahun lalu. Kapasitas produksi industri baja di Cilegon rencananya dikembangkan secara bertahap menjadi 6 juta ton pada 2020, naik ke 8 juta ton pada 2020, dan menjadi 10 juta ton pada 2025.

Kapasitas produksi 10 juta ton terbagi dalam tiga fasilitas produksi yaitu produksi dua pabrik baja lembaran panas (hot strip mill) berkapasitas 4,5 juta ton dan 4 juta ton serta pabrik pelat baja berkapasitas 1,5 juta ton. Bahan baku produksi tiga pabrik di atas akan dipasok pabrik peleburan bijih besi Krakatau Steel yang berkapasitas 3 juta ton dan pabrik Krakatau Posco yang kapasitasnya rencananya ditingkatkan menjadi 6 juta ton, dan sebuah pabrik slab berkapasitas 1 juta ton.
MoU Posco dan Krakatau Steel juga mencantumkan rencana pengembangan tiga pabrik baja canai dingin yang masing-masing berkapasitas 1,3 juta ton, 1,2 juta ton,  dan 1,5 juta ton.

Airlangga menjelaskan Indonesia membutuhkan kapasitas produksi 10 juta ton baja untuk mengimbangi kapasitas produksi semen yang saat ini sudah sekitar 100  juta ton. Saat ini, kapasitas produksi baja di Cilegon sudah mencapai 4 juta ton. Pengembangan untuk mencapai kapasitas produksi 10 juta ton minimal membutuhkan tambahan investasi US$4 miliar.

Menperin mengatakan perwakilan Posco telah menegaskan komitmen mereka merealisasikan peta jalan pengembangan klaster industri baja 10 juta ton di Cilegon dan terbuka untuk bekerja sama dengan Nippon Steel. Posco bahkan mendorong Krakatau Steel bisa bergerak lebih cepat. Pemerintah, lanjutnya, mendukung komitmen Posco dengan meminta rencana pengembangan pabrik baja canai dingin Krakatau Posco dilakukan paralel dengan pembangunan pabrik baja lembaran
panas Krakatau Steel.

“Secara waktu pihak Korea ingin cepat, tetapi kita juga melihat saat ini di hilir juga sedang dibangun. Merekamenginginkan pemerintah memediasi kerja sama tiga pihak,” kata Airlangga.

SEGERA TEREALISASI

Ketua Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) Hidayat Triseputro mengatakan pola kerja sama dalam pengembangan klaster industri baja 10 juta ton adalah urusan internal tiap perusahaan. Dia menyatakan hal yang paling penting bagi industri baja nasional adalah peta jalan tersebut bisa terealisasi dengan cepat untuk mengurangi ketergantungan industri di hilir atas pasokan bahan baku impor.

“Pada dasarnya yang penting adalah bisa menutup keseimbangan dari hulu ke hilir. Seperti diketahui di industri baja hulu masih perlu banyak tambahan kapasitas,” katanya. 

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More