Navigasi Bisnis Terpercaya

Kamis 30 Maret 2017
EKSPANSI RNI

Dukung Kinerja, Ekspor Produk Teh Diperbesar

Annisa Margrit Rabu, 15/03/2017 08:35 WIB
Kebun teh.

JAKARTA — PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) berniat memperbesar ekspor produk teh pada tahun ini seiring dengan besarnya permintaan dan harga
di pasar global. Direktur Pengendalian Usaha dan Manajemen Risiko Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Elka Wahyudi mengatakan, selama ini perseroan menjual teh ke pasar domestik. Namun, ada pe dagang yang membeli teh RNI dan memasarkannya ke luar negeri.

Perseroan baru mulai mengekspor sendiri pada 2016, dengan jumlah sekitar 40 ton. “Kami harapkan kira-kira nanti dari produksi 4.700 ton tahun ini, kira-kira 10% kami ekspor sendiri. Yang 90% lainnya masih kami jual lokal,” tutur dia, Selasa (14/3). Taiwan dan Prancis disebut se bagai pasar utama. Adapun teh yang diproduksi RNI adalah teh hitam, teh hijau, dan white tea.

Elka melanjutkan pihaknya ingin meningkatkan produksi white tea lantaran harga jualnya di pasar sangat tinggi. Jika teh hitam atau teh hijau dijual dengan harga sekitar US$2,5 per kilogram, maka white tea dapat dihargai hingga Rp4 juta per kilogram. Menurut dia, dengan harga jual teh hitam dan teh hijau dikisaran US$2,5 per kilogram itu RNI sudah bisa mengantongi untung hampir 70%. Dengan demikian, perseroan me nargetkan kontribusi teh ter hadap total laba menjadi Rp7,5 miliar tahun ini atau lebih tinggi dari realisasi 2016 yang sebesar Rp5 miliar.

Tahun ini, RNI menyasar per tumbuhan laba setinggi 6% secara year-on-year (yoy) menjadi Rp263 miliar dari pencapaian 2016 yang senilai Rp247 miliar. Di sisi
pen dapatan, perusahaan pelat merah itu menargetkan kenaikan 25% menjadi Rp6,31 tri liun dari tahun sebelumnya yang sekitar Rp5,06 triliun. RNI mengklaim produktivitas ke bun teh milik per usa haan me rupakan yang tertinggi secara nasional, yakni 3,5 ton per hektare.

Adapun produktivitas nasional, baik perusahaan swasta maupun BUMN lain, rata-rata 2,5 ton. Tahun lalu, perseroan menghasilkan 4.300 ton teh.
Untuk meningkatkan kinerja, baik di sisi produksi maupun pendapatan, RNI akan menambah 450 hektare kebun teh di Liki, Solok Selatan, Sumatra Barat. Dengan
demikian, pada akhir 2017 luas kebun menjadi 1.900 hektare.

Lahan hasil perluasan itu rencananya akan ditanami white tea. “Tetapi, pengembangan yang lain sebenarnya banyak. Mi salnya kami mau kerja sama dengan pabrik teh lain yang kurang efisien, kami akan kelola. Yang tidak kalah penting adalah pemasaran, jadi kami sudah online dan kerja sama dengan beberapa vendor lain,” ungkap Elka.

Di sisi lain, Badan Pusat Sta tistik (BPS) mencatat ekspor teh nasional pada Januari 2017 hanya US$234 juta atau ter - pangkas 11,29% dari periode
yang sama tahun sebelumnya yang sekitar US$264 juta.

FARMASI DAN ALKES

Direktur Utama RNI Didiek Prasetyo menuturkan, tahun ini pihaknya juga akan mendorong pengembangan lini farmasi dan alat kesehatan (alkes). Stra tegi tersebut dipilih ka - rena saat ini banyak program pe merintah yang terkait dengan kemandirian bahan baku obat dan adanya Inpres 6/2016 tentang Per cepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, yang menyatakan impor alkes tidak lagi diperbolehkan mulai 2019.

“Dari capex total yang sebesar Rp1,13 triliun, kalau tidak salah sekitar Rp300 miliar [untuk farmasi dan alkes. Total pengembangan, termasuk
investasi baru untuk alat-alat.

More From Makro Ekonomi

  • Ambisi Tito Lampaui Aset Perbankan

    13:34 WIB

    "Hidup itu harus ada target. Setelah tembus Rp6.000 triliun, kami harap market cap bisa melampaui aset perbankan," ucap Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Kamis (23/3).

  • PPRO Garap Kertajati

    13:28 WIB

    PT PP Properti Tbk. melalui kerja sama dengan PT BIJB Aerocity Development akan mengembangkan kawasan bisnis seluas 300 hektare di kawasan Bandar Udara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat

  • Bisnis Indonesia Edisi Cetak Senin, 27 Maret 2017 Seksi Market

    01:48 WIB

    Berikut ini adalah ringkasan headlines BISNIS INDONESIA edisi cetak Senin, 27 Maret 2017. Untuk menyimak lebih lanjut, silahkan kunjungi http://epaper.bisnis.com/

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

News Feed

  • Gubernur BI Siap Bersaksi

    Rabu, 29 Maret 2017 - 16:42 WIB

    Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardoo dijadwalkan hadir dalam persidangan kasus korupsi pengadaan KTP elektronik, Kamis (30/3), dalam kapasitasnya sebagai saksi terhadap terdakwa Irman dan Sugoharto, mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri.

  • Asia Paper Diberi Tenggat 45 Hari

    Rabu, 29 Maret 2017 - 14:05 WIB

    Masa penundaan kewajiban pembayaran utang PT Asia Paper Mills akhirnya disepakati selama 45 hari, jauh dari harapan perseroan selaku debitur, yang mengajukan perpanjangan waktu 180 hari.

  • RI Bersiap Hadapi AS

    Rabu, 29 Maret 2017 - 12:11 WIB

    Indonesia bersiap menghadapi tudingan dumping dan subsidi dari Amerika Serikat atas produk biodiesel Tanah Air, setelah sebelumnya Uni Eropa menyampaikan tuduhan serupa

  • “Koperasi Bisa Menjadi Kekuatan Dahsyat”

    Rabu, 29 Maret 2017 - 11:52 WIB

    Pemerintah sejak awal sepakat menjadikan koperasi dan usaha kecil menengah (UKM) sebagai salah satu tulang punggung pertumbuhan ekonomi, dan berupaya terus menumbuhkan pelaku usahanya dengan berbagai kebijakan. Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Menteri Koperasi dan UKM menjelaskan upaya yang selama ini dilakukan pemerintah untuk koperasi dan UKM. Berikut ini petikan wawancaranya.

  • KKP Bidik Pemilik Kapal Jumbo

    Rabu, 29 Maret 2017 - 10:02 WIB

    Kementerian Kelautan dan Perikanan membidik perusahaan-perusahaan yang menjadi pemilik 16.000 kapal perikanan di atas 30 gros ton lulus sertifikasi hak asasi manusia sebagai parameter penilaian perpanjangan izin usaha.

Load More