Navigasi Bisnis Terpercaya

Sabtu 25 Maret 2017
BISNIS FARMASI

RI Potensial Jadi Basis Produksi

Demis Rizky Gosta Kamis, 16/03/2017 10:13 WIB
Industri farmasi

JAKARTA — Kekuatan pasar domestik membuat Indonesia potensial menjadi basis produksi industri farmasi regional Ketua International Pharmaceu tical Manufacturers Group
(IPMG) Lutfi Mardiansyah menjelaskan perusahaan farmasi nasional dan perusahaan farmasi asing sama-sama meng ekspor sebagian produksi me reka ke luar negeri.

Perusahaan farmasi nasional meng ekspor produksi mereka un tuk mengembangkan pasar ke luar Indonesia. Adapun per usahaan farmasi asing men jadikan Indonesia sebagai basis produksi regional di dalam ran tai pasok global mereka. “Macam-macam kombinasinya. Ada obat produksi  per usahaan Indonesia yang diedarkan di luar negeri, ada juga perusahaan asing yang men jadikan Indonesia hub regional,” kata Lutfi, Rabu (15/3/2017).

Dia mengatakan tujuan ekspor utama Indonesia adalah ne gara-negara di Asia Tenggara, terutama negara yang belum me miliki pabrik obat-obatan. Komoditas yang diekspor terdiri dari produk farmasi over the counter dan obat-obatan herbal. Lutfi mengatakan ukuran pa sar domestik yang besar dengan pertumbuhan yang pesat menjadikan Indonesia potensial sebagai basis produksi farmasi.

Namun, perkembangan ekspor farmasi juga bergantung pada permintaan regional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai eks por produk farmasi Indonesia mencapai US$457,68 juta pada 2016, naik 2% di - bandingkan dengan ekspor ta hun sebelumnya senilai US$448,57 juta. Indo nesia juga mengekspor bahan farmasi senilai US$185,98 juta dan produk obat tradisional se nilai US$0,16 juta pada 2016.

Namun, neraca perdagagan far masi Indonesia masih defisit. Industri farmasi masih mengimpor bahan farmasi senilai US$637,23 juta dan produk far masi senilai US$633,05 juta pa da 2016.

EKSPOR KALBE FARMA

Sementara itu, perusahaan farmasi PT Kalbe Farma Tbk berenca untuk meningkatkan kon tribusi ekspor terhadap pen da patan perusahaan. Sekretaris Perusahaan PT Kalbe
Farma Tbk Vidjongtius, pada kunjungan ke redaksi Bisnis, mengatakan nilai ekspor perusahaan pada ta hun lalu mencapai Rp950 mi liar atau sekitar 5% dari to tal penjualan perusahaan. Ta hun ini, kontribusi ekspor di targetkan naik mencapai 6%.

“Pertumbuhan ekspor harus lebih cepat daripada domestik. Tahun ini kami menargetkan penjualan domestik akan naik sebesar 8% hingga 10%,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur Irawati Setiady mengatakan perusahaan akan tetap fokus ke sejumlah pasar di luar negeri yang selama ini telah menjadi target pasar. Kalbe Farma telah memasarkan produk ke berbagai negara di Asia Tenggara, Afrika Selatan, Sri Lanka, dan Nigeria.

“Kami akan memperkuat  penjualan di pasar yang sudah ada. Karena ekspor produk farmasi itu juga tidak mudah. Ini berbeda dengan produk lain, perizinannya misalnya
lebih panjang dan harus ada inspeksi dari negara tersebut ke fasilitas produksi,” kata Irawati. Di sejumlah negara, produk Kalbe Farma telah memimpin pasar. Irawati mencontohkan produk obat flu Mixagrip menjadi produk nomor satu di Myanmar. Adapun di Filipina, per usahaan berkibar dengan  pro duk Diabetasol.

Obat batuk Woods’ Syrup juga berjaya di Malaysia dan Singapura. Di negara tujuan lain, Sri Lanka, Kalbe Farma masuk ke jajaran 10 besar.

More From Makro Ekonomi

  • Berlomba Rilis Produk Anyar

    08:52 WIB

    Industri reksa dana yang bergairah membuat sejumlah manajer investasi percaya diri menerbitkan produk anyar. Sepanjang pekan ini saja, ada tiga produk reksa dana terbuka yang meluncur ke pasar

  • Penawaran Oversubscribe 4 Kali

    08:46 WIB

    Pemerintah Indonesia dikabarkan mendapatkan respons positif dari para investor terhadap rencana penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) global senilai US$3 miliar

  • Kontrak Baru Melaju di Awal Tahun

    08:23 WIB

    Realisasi kontrak baru yang dibukukan oleh sejumlah BUMN konstruksi relatif tinggi pada akhir Februari hingga pertengahan Maret 2017 setelah mendapatkan kontrak proyek yang sempat tertunda sejak 2016.

  • PTBA Incar 5 Perusahaan

    08:10 WIB

    PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mengincar tiga hingga lima perusahaan yang berasal dari beberapa sektor untuk dimasukkan dalam program merger dan akuisisi.

News Feed

  • MENYAMBUT HARI RAYA NYEPI: Mari Belajar Berhenti Sejenak

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 08:30 WIB

    Polda Bali sampai mengerahkan sebanyak 5.600 personil untuk mengamankan setiap jengkal pulau yang baru saja dinobatkan sebagai Destinasi Terbaik Dunia versi Tripadvisor ini. Tujuannya, agar selama proses penyepian yang akan berlangsung sejak Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita hingga Rabu (29/3) pukul 05.00 Wita berlangsung aman

  • Hary Tanoe Makin Gencar Main Properti

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:48 WIB

    Taipan Hary Tanoesoedibjo melalui kelompok usaha Grup MNC makin gencar bermain di sektor properti setelah bisnis utamanya di media massa

  • Pertanian Masih Jadi 'Anak Tiri'

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 07:36 WIB

    Sektor pertanian masih seperti anak tiri apabila dibandingkan dengan sektor lain di mata industri perbankan. Hal itu terlihat dari alokasi kredit ke sektor pertanian yang baru berkisar 6,75% dari total kredit perbankan

  • OPINI BISNIS INDONESIA: RCEP dan Kesepakatan Akses Pasar

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 06:05 WIB

    Pembahasan kesepakatan kerja sama RCEP sampai saat ini terus berlanjut dan cukup alot. RCEP sebagai upaya Asean mengharmonisasi sejumlah aturan perdagangan dengan enam mitra dagang Asean ditantang dapat menghasilkan nilai ekspektasi tinggi kedua belah pihak, terutama bagi Indonesia

  • EDITORIAL BISNIS INDONESIA: Berharap dari Komitmen Kedaulatan Pangan

    Sabtu, 25 Maret 2017 - 05:54 WIB

    Dalam sebuah orasinya di tengah ratusan petani, seorang gubernur di Pulau Jawa pernah berujar bahwa pada masa yang akan datang peperangan bukanlah kontak fisik dan angkat senjata, melainkan perang pangan

Load More